
Waktu yang mereka habiskan diperjalanan hanya satu jam,kini waktu menunjuk pada angka lima membuat langit sedikit bersemu.
Mobil mereka berhenti di sebuah villa sederhana,villa minimalis warna putih dengan pavilium disamping villa.
"Ikuti saya!"ujar Xia setelah keluar dari mobilnya tanpa menatap siapa tujuan perkataannya dan melegang pergi.
Afra keluar dari mobil setelah dibantu Azkara untuk duduk di kursi rodanya merepotkan memang tapi sudah nasibnya begitu.
Walau begitu tidak ada yang berani macam-macam dengan pria tersebut kecuali orang-orang yang ingin mati.
"Mari saya antar"ujar Anna mempersilahkan afra mengikutinya,dirinya mengerti bahwa nonanya itu ingin berbicara dengan pria tersebut.
Tiga orang lainnya hanya menatap orang-orang yang baru saja melegang masuk kedalam villa.
"Hoammm,,,aku mengantuk"guman Ansya lalu ikut masuk kedalam villa,namun sebelum itu gadis itu menyenggol Yura yang berdiri di sampingnya sampai limbung ketubuh Azkara yang tepat berapa disamping gadis itu.
"Kenapa dorong-dorong?"pekik Yura.
"Gasengaja"jawab Ansya sebari berjalan pergi.
Yura menatap kesal pada kakak sepupunya itu,satu pembalasan harus segera diselesaikan sebelum pembalasan baru dimulai.
Yura tersenyum miring menatap punggung Ansya selepas itu,gadis cantik tersebut sedikit berlari, dan saat ditepat berada disamping Ansya,Yura sengaja menabrakan tubuhnya pada gadis itu.
"Ups,,, gasengaja"ujarnya dengan nada meledek lalu be lanjutkan langkahnya.
Disusul Ansya yang berlari mengejar gadis itu, "Yuraaaa! "
Azkara hanya menggelengkan kepalanya saja sudah dipastikan dirinya akan menderita dengan tingkah kedua gadis itu,Sama-sama ajaib.
Yura duduk disofa over size karna sofa kingsize sudah diisi tubuh ansya yang sedang merebahkan diri disana dengan mata tertutup.
"Pergi kekamar kalo mau tidur"ujar Yura sebari menendang samar kearah tangan Ansya yang terjuntai kelantai.
"Hmm"tidak ada reaksi lain selain deheman itu.
Azkara sampai di ruang utama villa disana sudah ada kedua gadis yang tadi saling membalas,dirinya duduk disamping Yura disofa oversize lainnya.
"Nona anda memiliki p3k?"tanya azkara sebari memandang yura yang tengah mengganggu ansya yang memejamkan mata dengan cara mendendang kecil tangan gadis itu yang terjuntai.
Yura mengedikan bahu "Mana saya tau,saya aja baru bebas gimanasi" ketus yura.
Azkara menaikan halisnya keatas dengan pertanyaan yang terpikir di otaknya,"Kenapa dia menjadi ketus begitu?"
"Tidak ada"jawab Ansya sebari membuka mata dan mengubah posisinya menjadi terduduk.
"Menurutmu apa yang mereka bicarakan?"tanya Ansya
"Siapa?"
Anya tidak menjawab ia hanya melirik kearah lorong dimana ada dua pintu disisi kanan dan kiri,dan seorang gadis tengah berdiri dipintu sisi kiri.
Yura mengikuti arah pandang ansya begitu pula Azkara bukan menguping,hanya saja salah mereka berbicara di depannya,sudah dipastikan ia akan mendengar toh dirinya tidak tuli.
Yura mengedikan bahunya,"Tidak tau,,,,,kalian merencanakan sesuatu?"
"Siapa?"
Kau dan Xia siapa lagi"ujar Yura memperjelas.
"Ya kami merencanakan sesuatu"jawab Ansya membuat Yura memicingkan matanya.
__ADS_1
"Apa? "
"Meninggalkanmu diantah berantah"jawab Ansya membuat Yura mendengus dan Azkara terkekeh,sudah dipastikan tingkah keduanya sama-sama ajaib bukan, bikin repot tentunnya.
"Hoammm"ansya menguap sekali lagi menandakan dirinya mengantuk,sudah melakukan perjalanan panjang,saat sampai belum istirahat tersiksa sudah tubuhnya ini. "Aku akan tidur,,, kamar di villa ini hanya dua kau bisa tidur disofa"
"Dua"beo Yura tak bercaya," Yang benar saja,,,,kenapa kalian menyewa villa sekecil ini,,,,kalian bangkrut?,kenapa tidak meminjam uang ku saja,aku tidak ingin tidur disofa!"
Ansya tidak mendengar penolakan yura gadis itu terus berjalan kearah lorong dimana kamarnya berada dibuntuti Yura dibelakangnya yang terus melakukan penolakan.
"Seharusnya kalian beli rumah saja disini,kenapa repot-repot tinggal di villa sekecil ini,jika kalian bangkrut ya kalian saja akukan tidak, aku bisa membeli salah satu pulau disini,kenapa harus menyiksa diri begini"jiwa sombong Yura sudah on,bisa dipastikan gadis itu tidak akan berhenti bicara sampai keinginannya terkabul.
"Aku yang cantik nan sexy ini tidur disofa,oh no,gimana nantinya tubuh sexy ku ini bisa berakhir sakit-sakit,,,,aku ini anak pebisnis terkenal tidak ada namanya seorang yura tidur disofa,,hmmp"
Ansya sudah kesal mendengar ocehan Yura yang terus membanggakan dirinya sendiri,gadis itu memutar poros menghadap yura,lalu menutup mulut gadis itu dengan tangannya,"Diam cerewet"geramnya.
"Dengarkan ini baik-baik,,,pertama tidak ada yang bangkrut disini,kedua jangan banyak mengeluh,ketiga menurut saja Xia tidak mau rumahnya kembali terbakar, dan satu lagi kau tidak sexy oke!"geram Ansya sebari tersenyum terpaksa.
Kata terbakar yang keluar dari mulut Ansya mengingatkan Azkara tentang kejadian dimana saat sang tuan memerintahkan untuk membakar rumah Xia,hingga dirinya merasa bersalah.
Yura mendengus mendengar perkataan terakhir dari kakak sepupunya itu,"lalu,,,,berapa jumlah opini yang kau buat?"tanya Yura setelah melepaskan tangan Ansya yang menutupi bibirnya.
"Siapa yang membuat opini?"heran Ansya.
"Kau"
"Kapan?"
"Tadi"
"Itu bukan opini,tapi kenyataan apalagi dengan perkataan terakhir ku itu nyata dan benar adanya"jawaban Ansya membuat Yura mendesah kesal.
Setelah masuk kedalam kamar keduanya hanya hening,keduanya tidak tau harus memulai dari mana,seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa pertemuan mereka selalu disebabkan kecelakaan,itu semua bukan opini melainkan kebenaran yang sialnya selalu terjadi.
Pertemuan pertama dan pertemuan kali ini sama saja disebabkan sebuah kecelakaan,apakah harus bersyukur atau menyesali semua itu,tidak ada yang tau tentang masa depan entah semua itu awal bagus atau seperti pertemuannya,semua hanya kecelakaan.
"Saya tidak tau harus mulai dari mana!,,,,yang jelas saya ingin menyelesaikan masalah kita,,,,seseorang pernah berkata kepada saya masalah harus dibicarakan dari titik nol ke titik nol,,,,saya ingin kita melakukannya entah itu bisa membantu atau tidak itu urusan nanti,,,yang jelas kita sudah berusaha "ujar Xia.
Yang selalu dipertemukan karna sebuah kecelakaan adalah xia dan afra keduanya tengah berbicara serius didalam kamar,posisi mereka sekarang dengan Xia didepan jendela menatap nanar kearah luar yang sudah disambut mentari pagi,sedangkan afra pria yang diponis lumpuh sementara itu duduk di kursi rodanya dibelakang tubuh Xia dengan jarak yang cukup jauh,sesuai intruksi Xia yang tidak ingin melihat pria itu.
Ya tidak mau,sama saja dengan tidak ingin bukan,sebabnya sudah dipastikan dirinya akan mengamuk jika melihat wajah pria itu,entahlah disisi lain dirinya sangat nyaman didekat pria penyebab traumanya itu,namun disisi lain ada kemarahan yang muncul setiap mengingat kejadian itu.
Hanya pria itu yang membuatnya bisa merasakan kenyamanan dari sosok asing,bisa merasakan tidur dengan nyaman,merasakan sesuatu yang seperti menggelitik diperut seolah-olah ada kupu-kupu yang sedang berterbangan,sayangnya ternyata kenyataan pahit tengah menantinya,pria itu,pria yang sudah menyebabkan dirinya memiliki trauma,namun pria itu jugalah yang membuatnya ingat dengan kenangan dimasa lalu,entahlah haruskah dirinya bersyukur.
Afra menghela nafas panjang,"Jika menceritakan semuanya bisa menyelesaikan masalah kita,aku akan bicara,namun dengan satu syarat"Afra menjeda ucapannya melihat sejenak reaksi gadis yang membelakangi dirinya itu.
"Kamu tidak akan pergi kemanapun setelah ini"sambungnya membuat Xia terkekeh sinis.
"Apa hak anda melarang saya,,,ingat bukan jika kita tidak memiliki hubungan apapun?"
"Jika hubungan yang bisa membuatmu selalu bersamaku maka akan aku berikan ikatan hubungan itu untukmu,hingga tidak ada yang bisa mengambilmu dari ku"ujar Afra.
"Kau terlalu percaya diri bukan?,,,namun awal yang bagus,lihat saja siapa yang akan mendapatkan keinginan terkabul itu,anda atau saya"ujar Xia tanpa melirik sedikitpun kearah belakang.
" Jangan terlalu melantur,,,kembali ke topik saja,,cepat ceritakan! "Ujar Xia dingin.
Afra lagi-lagi menghela nafas,mengingat kejadian itu membuat dirinya merasa bersalah,marah kepada dirinya sendiri juga kesal menjadi satu.
Semua menjadi Dejavu
Pria itu dipaksa mengingat kejadian duabelas tahun lalu saat usianya tigabelas tahun,dimana dirinya disesatkan di sebuah hutan yang masih dipenuhi hewan buas.
__ADS_1
FLASHBACK
Dua belas tahun lalu.
Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun dituntun keluar oleh wanita dewasa dari mobil,sebuah taxsi bukan mobil pribadi.
Wanita itu mencengkram lengan anak perempuan tersebut,dengan menarik sang anak untuk memasuki hutan.
Ya sang wanita dewasa meminta pada sopir taxsi untuk pergi ke sebuah hutan yang jauh dari kota.
Wanita itu menarik sang anak dengan tak berperasaan sampai anak itu terseok-seok mengikuti langkah sang ibu,anak itu terus merengek ingin pulang.
"Bu,kita mau kemana?,Lara mau pulang"
"takut,Lara pengen ayah"
"Bu Lara pengen pulang,Lara takut"rengekan terus keluar dari bibir mungil anak perempuan tersebut masih terus mengikuti langkah sang ibu dengan terseok,bagaimanapun anak perempuan tersebut menahan langkahnya namun tetap kalah dengan kekuatan sang ibu yang terus menyeretnya dengan kasar.
"Bu Lara pengen ayah"rengek terus-menerus Xia kecil saat dirinya masih dipanggil Lara,sambil menahan langkah mencoba menghentikan langkah sang ibu yang terus menyeretnya masuk kehutan.
"Diam kamu!,cepat ikutin langkah saya!"teriak sang ibu dengan geram.
"Gamau bu!,ibukan bilang mau anterin Lara beli eskrim "tolak Xia kecil sebari mencoba menahan langkah,dirinya ingat jelas beberapa jam lalu sebelum membawanya pergi sang ibu yang selalu bertingkah jahat tiba-tiba mengajaknya membeli eskrim,Xia kecil tidak pernah berpikir curiga pada apapun dan siapapun ia ikuti saja sang ibu yang memang saat itu ia tergiur dengan ajakan untuk membeli eskrim.
Langkah mereka berhasil terhenti karna Xia berhasil menahan langkah sekuat tenanganya,sang ibu penuh dengan amarah yang sejak tadi meledak-ledak, ia lampiaskan dengan menyeret Xia kecil.
Dengan geram wanita itu menatap penuh marah pada sang anak lalu.
Plak
Tanparan keras menggema dihutan sudah diketahui bagaimana kerasnya tamparan tersebut,sambil memegangi pipinya yang panas disertai air mata yang bercucuran.
"Ibu marah sama Lara,Lara ga nakal ko bu" ujar gadis itu serak disertai tangisannya.
Pipinya sangat panas sekaligus sakit, sakitnya bukan hanya diraga juga dijiwa,namun Xia kecil sudah terbiasa dengan semua kekerasan sang ibu,ia sedikit bebal dengan semua itu namun air matanya tidak bisa membohongi jika dirinya kesakitan.
"Diam kamu si*l*n!,kamu itu perusak rumah tangga,sejak kedatangan kalian rumah tangga saya hancur,gara-gara kamu dan kakak sialan mu itu semua hancur"teriak sang ibu sebari mencekik leher Xia kecil menggunakan kedua tangannya hingga dirinya terengah-engah tidak bisa bernapas.
"Seharusnya kamu tidak ada bersama kehidupan saya dengan suami saya,semua hancur gara-gara kalian sialan!"sang wanita yang dipanggil ibu terus teriak mengeluarkan cacian dan makian dengan emosi hingga urat-urat lehernya terlihat.
"Bi*d*b,mati kalian,kalian harus mati"wanita dewasa ibu tertawa sarkas lalu melanjutkan perkataannya tanpa peduli dengan xia kecil yang masih dicekik dengan wajahnya sedikit membiru,"Kau akan mati, setelah itu kakak mu akan menyusul bick"membayangkan itu sudah membuat sang wanita dewasa senang.
"Sa,,, kit"rintih Xia dengan leher masih dicekik bahkan kini tubuhnya tidak menyentuh lantai,sebab sang ibu mengangkatnya dengan tangan yang mencengkram lehernya keras.
Xia memukul tangan sang ibu mencoba untuk lepas,ia tidak bisa bernapas.
"Kau dan kakak mu seharusnya sadar!,orang tua kandung kalian saja membuang kalian dijalanan bagaimana mungkin ada yang mau menerima kalian si*l*n,hanya orang bodoh yang menerima sampah seperti kalian"geram wanita itu semakin marah.
"Sialnya orang bodoh itu adalah suami saya sendiri,saya tidak akan membiarkan kalian hidup enak bersama suami saya,kalian akan mati!"wanita itu semakin mencekik leher Xia kecil hingga kuku-kuku wanita itu menancap pada lehernya dan mengeluarkan darah segar.
Darah merembes dengan rasa perih mengiringi diri Xia kecil,Xia kecil menangis dengan masih mencoba melepas lilitan tangan sang ibu dari lehernya,hanya memperdulikan untuk bernapas dan bertemu sang ayah.
Satu cara yang mungkin akan menyelamatkan dirinya saat ini"arghh"pekik sang ibu,saat gigi kecil Xia menancap pada kulit tangannya bersamaan dengan darah keluar ulah gigitan itu.
Wanita dewasa itu langsung melepas cekikannya dari leher Xia kecil,dengan cepat mengecek tangannya yang sudah ada bekas gigitan dari Xia kecil.
Sedangkan Xia kecil,gadis itu meraup rakus udara sebisa mungkin sebari memegang lehernya yang sakit dengan rembesan darah,wajahnya masih membiru dengan air mata yang terus mengalir deras.
Takut tentu saja,siapa yang tidak takut mati apalagi dengan cara dibunuh oleh wanita yang sudah entahlah,Xia kecil berlari untuk menyelamatkan dirinya dari wanita yang ia panggil ibu,wanita yang seharusnya tidak hadir dihidupnya.
__ADS_1