MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Hamil?


__ADS_3

Dikamar bernuansa black sekumpulan gadis duduk dengan cara melingkar disofa,,,hanya hening tidak ada yang memulai pembicaraan sampai-sampai Yura merasa jengan dengan semua ini.


"Ck yang benar saja apa kita akan terus diam begini?,jika kau tidak ingin memulainya biar aku yang bicara"


"Ck sabar"dengus Xia merespon kekesalan Yura,"Aku yang akan bicara"


"Begitu dong,,,sudah satu jam kita duduk saja sudah seperti patung!" cibir Yura.


"Diam biar aku yang bicara" sela Xia membuat Yura mencebikan bibirnya.


"Baiklah nyonya muda Amlias silahkan dimulai" goda Yura membuat Xia menatap tajam saudarinya itu.


"Oke-oke aku diam" ujar Yura melihat tatapan tajam Xia,jika tidak ada pembahasan serius Yura akan terus menggoda saudarinya itu.


"Aku tau yang kau sembunyikan nona Cean"ujar Xia membuat sepupu Afra itu tersentak.


"A-apa magsud anda nona?,saya tidak mengerti"ujar Cean tanpa bisa menutupi raut ketakutannya.


"Jika kau terus menyembunyikan nya kakakmu sendiri akan menghukummu,,mungkin juga keluarga mu akan ikut menghukummu"


"Kau pasti mengenal kakak mu Afra itukan?,,walau kalian tidak dekat kau pasti sudah mendengar banyak desas-desus kekejaman kakak mu itu,,kau pasti tau apa yang dia lakukan pada penghianat" sambung Xia dengan raut datar.


"Menurut mu apa yang akan dia lakukan saat tau anggota keluarganya menjadi penghianat?,,,langsung membunuh penghianat adalah hukuman termudah bagi musuhnya,,tapi yang aku tau kak Afra tidak pernah melakukan itu,,,pria itu akan membuat musuhnya menderita hingga mati adalah hukuman teringan untuknya"


"Aaapa magsud dari perkataan anda nona?,,kau menuduh ku sebagai penghianat?" tanya Cean dengan tatapan menunduk,"Aaaku tidak mungkin melakukan itu pada keluarga ku"sambungnya semakin menunduk dengan suara serak yang terdengar menggigil.


"Jika terdesak seseorang bisa melakukan apapun" ujar Xia tidak mengubah raut datarnya sama sekali tapi dari tatapan nya ada jejak kemarahan disana.


Yura menggelengkan kepalanya,,bagaimana pun suasananya jika disana ada Xia semua akan terlihat canggung apalagi raut datarnya yang tidak mudah lepas dari gadis sembilan belas tahun itu.


"Kau terlalu blak-blakan"cibir Yura.


"Aku tidak suka bertele-tele"jawabnya sarkas disana Anna hanya menyimak karna tidak dibutuhkan untuk bicara namun keberadaannya sangat penting karna menjadi tokoh utama dalam novel ini.


Akan ada waktunya dia bicara tapi bukan sekarang


"Kenapa anda berpikir saya berhianat nona? " tanya Cean takut.


"Kau ingin mengaku atau terus tertele-tele begini?"


"Sebaiknya kau mengaku saja,kami sudah tau apa yang terjadi padamu belakangan ini,jika kau mengatakannya pada kami mungkin akan kami bantu" ujar Yura menimpali perkataan Xia.


Cean yang mendengar itu semakin menunduk dengan raut wajah ketakutan keringan bercucuran mewakili rasa takutnya.


"Jika tidak kau akan merasa dalam neraka dunia,,,kakak mu tidak akan membiarkanmu begitu saja setelah melakukan kesalahan besar apalagi kau sudah membocorkan informasi tentang kakak mu pada orang asing" sambung Yura santai.


"Apa magsud kalian nona?,saya tidak mengerti" ujar Cean dengan lelehan bening dari mata gadis itu.


"Terlalu bertele-tele,,berikan " ujar Xia menatap anna.


Anna yang mengerti mengangguk lirih sebari mengambil tab dimeja dan mengutak atiknya sebentar barulah ia memberikannya pada Cean yang terus menunduk.


Cean yang menunduk samar melihat tab,ia melihat bergantian tiga wanita yang mengelilingi nya tanpa berniat mengambil tab itu.


"Ambil!" ujar Xia.


Cean dengan gerakan lirih dan gemetar mengambil tab yang disodorkan,aura diruangan itu terasa sangat dingin dan mencengkam apalagi beberapa hari ini Cean mengalami stress dan tekanan dalam mentalnya.


Cean melihat vidio yang berputar ditab hingga gadis itu berteriak histeris,"AAAAAA"


Cean berteriak histeris sebari menutup telinganya dengan tangan,tab yang ia pegang sudah terjatuh di marmer dingin,bukan hanya berteriak Cean juga menangis histeris.


Dari ketiga gadis yang melihat itu tidak ada yang berniatan untuk menenangkan gadis tujuh belas tahun itu,mereka hanya menatap dalam diam.


"Tidakkkk tolong hiks" racau gadis itu sebari berteriak dan menangis histeris.


Cean mengingat bayang-bayang yang mengancamnya beberapa hari ini,gadis itu meringsut ke pojokan sofa lalu memeluk tubuhnya dengan kedua kaki ditekuk naik ke atas dan kepala ditenggekamkan dalam lipatan paha sebari menutup telinga,gadis itu semakin meracau dan berteriak jika ruangannya tidak kedap suara maka teriakan gadis itu akan terdengar hingga lantai bawah.


"Seperti perkiraan,kau tidak akan menenangkannya?" tanya Yura tanpa melepas pandangan iba dari gadis tujuh belas tahun.


"Tenang dengan sendirinya akan lebih baik,,,kita hanya perlu memperhatikannya agar tidak melakukan hal bodoh" jawab Xia.


"Tenang dengan sendirinya apa mungkin?" ujar Yura lagi.


"Benar nona saya tidak yakin nona Cean akan tenang dengan sendirinya,,dengan apa yang terjadi padanya ini nona" ujar Anna membenarkan perkataan Yura.


"Jika lelah dia akan diam" ujar Xia.


"Kau memang tak berperasaan!" cibir Yura.


"Aku memang begitu" bukannya marah Xia malah membenarkannya.

__ADS_1


Anna dan Yura saling pandang sesaat lalu menghela nafas.


"Jika kalian ingin menenangkannya silahkan,aku masih ada urusan lain" ujar Xia sebari beranjak pergi.


"Hei kau mau kemana?" tanya Yura.


"Aku orang sibuk" jawab Xia sebari melegang pergi menghilang setelah pintu kamar tertutup.


"Anak itu,,,lalu dia bagaimana?" tanya Yura pada Anna.


"Biarkan nona" jawab Anna membuat Yura mendengus.


"Kalian memang sama-sama tak punya hati"Yura kembali menatap Cean yang masih histeris ketakutan.


Disisi Xia gadis itu menuruni tangga menemui Afra yang sedang berdebat dengan kakek Wiz di ruang tengah disana tentu ada Rayma dan Azkara yang menonton.


Mereka saja tidak menyangka kedua pria arogan itu terus bertengkar sejak mengurus keracunan,sebelumnya mereka tidak ada masalah bahkan kakek Wiz selalu menawarkan perjodohan antara Afra dengan cucunya yang tanpa identitas.


Dan sampai saat ini pria tua itu masih menawarkan perjodohan itu yang selalu afra tolak dengan kasar.


"Khmm"Xia berdehem keras mengalihkan atensi mereka.


" Hai cantik urusanmu sudah selesai?,bagaimana kalo kau menerima tawaran kakek untuk pergi dengan kakek,,aku tau kau memiliki potensi tentang racun kau bisa berguru dengan ku,ini kesempatan sekali seumur hidup cantik"tawar Wiz Asland.


Tidak ada yang tau bahwa mereka adalah seorang kakek dan cucu kandung kecuali orang-orang yang Xia bawa.


"Jangan didengar pria tua itu sayang" sela Afra,"Mmm urusan mu sudah selesai?,,memangnya apa yang kalian bahas?"


Rayma berbisik pada Azkara,"Kau tau mereka terlihat seperti seorang kakek yang sedang tidak merestui hubungan cucunya"Azkara mengangguk membenarkan.


"Urusanku belum selesai,bisa kita bicara?" ujar Xia menatap Afra.


"Tentu saja mari" ajak Afra,pria itu sudah tidak memakai kursi rodanya lagi,karna sudah terbongkar bahwa dirinya sudah sembuh dari kelumpuhan sementara dan jika masih menggunakan kursi roda hanya akan menghambat pekerjaannya karna musuh juga pasti sudah tau.


Afra tidak ingin munafik ia yakin di kediamannya pasti ada penghianat yang memberi informasi pada musuhnya.


Kedua sepasang anak manusia berbeda jenis kelamin berjalan berdampingan,bahkan Afra tidak segan memeluk pinggang Xia disampingnya.


"Kau ingin mati?!" ancam gadis itu tak dihiraukan Afra malah semakin merapatkan tubuh mereka.


"Jika kau tidak bergeser aku akan menendangmu!" ancam Xia malah membuat Afra terkekeh.


"Kau menyebalkan!" cibir Xia.


Melihat interaksi mereka yang semakin dekat membuat Rayma dan Azkara merasa lega setidaknya pria itu tidak lagi uring-uringan yang membuat mereka tersiksa setelah ini,dan Wiz sendiri malah mendengus kesal dengan kedekatan mereka.


Mereka sudah disalam kamar Afra dikamar tamu,pria tidak tahu diri itu menempatkan dirinya sendiri dimanapun dia inginkan.


"Ada yang menganggumu?,apa ini masalah penyerangan itu?,,atau ada hubungannya dengan kau ingin bicara dengan Cean?" tanya beruntung Afra membuat Xia mendengus.


"Cerewet!" Afra terkekeh mendengarnya lalu mengusap pucuk kepala gadis nya.


"Apa yang kau tanyakan semua berhubungan,,dan semua ini juga masih berhubungan dengan ku,,bukan lebih tepatnya karna keberadaanku semua masalah ini terjadi"


"Hei kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri,tidak ada hal seperti itu,jika ada yang mencari masalah dengan mu itu artinya dia juga mencari masalah padaku,,kita itu satu mengerti" ujar Afra menatap lekat wajah Xia.


"Terserah kau saja,,aku tidak tau kau akan merespon bagaimana setelah melihat ini" ujar Xia sebari memberikan tab yang ia bawa dari kamarnya tadi.


"Apa? " tanya pria itu sebari mengambil alih tab.


"Masalah" jawab Xia.


Afra mengeraskan rahangnya diseratai gemelatuk giginya bahkan wajahnya sudah memerah karna marah,"Kamu tidak sedang becanda bukan?"


Xia menghela nafas,"Semuanya falid "


Mendengar itu Afra melempar tab ditangannya sembarang arah hingga membentur tembok,"Beraninya dia!"


Tab yang terbentur tembok tentu saja hancur Xia hanya bisa menatap nanar saja pada benda mati miliknya itu,"Tenangkan dirimu dulu setelah itu aku ingin kau menemui nya"


Afra mengatur nafasnya untuk menenangkan dari kemarahan dalam dirinya saat ini ingin meledak-ledak,rasanya pria itu ingin menyiksa atau bahkan meledakan tubuh seseorang untuk meredam kemarahannya,jika disekitarnya tidak ada Xia ia pasti sudah melakukan itu pada orang sekitar.


Namun harus ia tahan agar gadisnya tidak pergi.


"Aku ingin memelukmu,bolehkah?" tanya Afra ia rasa pelukan dari gadisnya yang bisa menenangkannya saat ini.


"Hmm" jawab Xia membuat Afra langsung menubruk tubuh Xia dengan erat namun sebisa mungkin tidak membuat gadis itu merasa sesak.


Walau biasanya akan lancang langsung memeluk.


Sekitar satu jam keduanya terdiam dengan berpelukan hingga suara Xia memecah semuanya.

__ADS_1


"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!" tegur gadis itu dengan suara serak.


Ia tidak sadar sudah tertidur dalam pelukan pria arogan itu, pria yang menjadi obat tidurnya selama ini.


"Kamu yang tertidur aku yang disalahkan" ujar pria itu dengan memejamkan mata masih memeluk gadisnya.


"Sudahlah cepat temui sepupumu!" ujar Xia sebari berontak agar lepas dari pelukan pria arogan itu.


"Temani aku" pinta Afra disetujui Xia.


"Tahan emosimu,dia belum tau jalan yang ia pilih" ujar Xia memperingatkan agar pria itu tidak gegabah untuk membunuh sepupunya sendiri.


.


.


.


Keduanya beralih dikamar Xia dimana ada Cean yang sudah tertidur disofa masih ditemani Anna dan Yura.


"Kemana saja kau?,,menghilang begitu lama?" gerutu Yura.


"Biarkan dia tidur sebaiknya kalian keluar dulu"ujar Xia membuat Yura mendengus sebab pertanyaannya tidak di jawab.


"Seenaknya saja kau mengusir kami!" cibir Yura sebari melangkah pergi disusul Anna.


Setelah kedua gadis itu keluar menyisakan Cean yang tertidur sebab lelah menangis bersama Afra dan Xia.


"Apa dia akan hamil? " tanya Afra memecah keheningan.


"Belum bisa dipastikan,jika ingin memeriksanya bisa dilakukan beberapa hari ke depan setelah sel telur kemungkinan bekerja" jawab Xia.


Afra menghela nafas,"Bisa kau jelaskan apa hubungan mu dengan keluarga Grogio?"tanyanya dengan nada lembut namun tersirat kemarahan dimatanya setelah melihat vidio sepupunya dilecehkan seseorang.


Xia menghela nafas sudah pasti gadis itu tidak akan jujur,"Aku penyebab sepupunya kembali,,jika aku bukan anggota Eagles sudah dipastikan aku akan masuk anggota mafia Kay setelah membawa putri yang hilang kembali kekerajaan"


"Itu juga yang mengakibatkan pria tua itu terus membujukmu untuk ikut dengannya?" tanya Afra.


"Mungkin"


Afra menghela nafas,"Bagaimana kau bisa bertemu putri dari keluarga mafia itu?"


"Takdir" jawab Xia acuh.


"Dimana kau bertemu dengannya?" tanya Afra lagi.


"Dijalan takdir" jawab Xia lagi.


"Mengapa Gerald Grogio memanggilmu sepupu?"


"Kami pernah bertukar peran untuk menutupi identitas,,sebagian orang mengetahui aku sebagai putri satu-satunya mafia Kay begitupun keluarga Grogio" jawabnya.


"Kenapa mereka sangat menutupi identitas asli putri keluarga itu?"


"Masalah keluarga aku tidak punya jawaban untuk itu" jawab Xia.


"Kau benar,,lalu apa kau akan menyetujui ajakan tuan Wiz Asland tua itu?" tanya Afra dengan nada kesal.


"Aku masih memikirkannya" jawab Xia membuat pria itu memeluk nya.


"Tidak perlu dipikirkan lagi,untuk apa hidup dengan kumpulan mafia maniac itu,,lebih baik kamu bersamaku saja,lebih amankan!"


Xia berontak dari pelukan pria arogan itu dan menatap garang pria itu,"Terserah aku"


"Ayolah sayang tidak mungkin kamu meninggalkan kekasih tampan mu ini" rengek Afra narsis.


"Hidup dengan mu atau dengan tuan Wiz Asland itu sama saja keamanan ku tidak terjamin,,jangan pikir aku tidak tau kalau kau pemimpin anggota bayaran seperti Eagles,,,bisa ku katakan kau musuh kelompok Eagles" ujar Xia membuat Afra tersentak.


"Kau tau?"tanyanya dengan wajah syok.


Xia mengangguk saja.


Wajah Afra yang tadinya suram menjadi sumringah mendengar penuturan Xia"Kau memang hebat"puji pria itu.


Xia menaikan sebelah halisnya,"Apa magsudmu?,kau tidak marah"


"Untuk apa aku marah,,aku bahkan senang kamu bisa mengetahui identitas rahasiaku tanpa diberitahu,,itu mengartikan kamu bukan gadis biasa,,jangan pikir aku tidak tau bahwa sejak tadi kau sengaja masuk perangkap pertanyaanku,,seolah-olah kamu terpancing menjawab pertanyaan ku dan memberitahu identitas aslimu tanpa sengaja"


Xia menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya,"Kau tau dan malah mengatakannya?"ujar Xia tak habis pikir,hanya raut pria arogan ini yang tidak bisa Xia baca gerakannya terkadang membuat Xia harus gegabah dalam bertindak.


Afra menganggu dengan pasti"Yap aku sedang menunjukan kecerdasanku"

__ADS_1


__ADS_2