
Semua media sedang digemparkan dengan vidio pengakuan empat pria dari universitas tertentu sejak semalam,keempat pria itu sedang berbincang satu sama lain,yang menjadika alasan besarnya adalah pembahasan mereka yang membahas perbuatan keji mereka tanpa merasa malu.
Keempatnya bercerita tentang bagaimana mereka menculik seorang gadis dan mengambil kehormatan mereka dengan keji,mereka menceritakan secara detail tanpa tahu malu,vidio tersebut menjadi hal besar disemua kalangan termasuk kalangan negara sebab salah satu dari pria itu adalah anak dari seorang pejabat yang memiliki moral tinggi dibidang perlindungan anak dan wanita.
Banyak cacian dan kutukan dari warganet yang melihat vidio tersebut teruntuk keempat pria itu.
Semakin waktu bergerak semakin banyak cacian dan sumpah serapah yang dilayangkan,bukan hanya itu setiap detiknya kebenaran terungkap satu persatu dari mulai:
-Laporan para korban yang selama ini ditolak dikepolisian
-Para korban yang malah diancam akan dibunuh jika membeberkan berita ini.
-Dua dari korban pelecehan melakukan bunuh diri dan ada juga yang terganggu spikisnya.
-Bukan hanya melecehkan keempat pria itu juga melakukan pembulyan pada beberapa remaja di kampusnya dan juga mengonsumsi obat terlarang.
Bukan hanya kekejian keempat pria itu yang terbongkar,semakin banyak vidio yang tersebar semakin banyak pula kebenaran para orang tua mereka yang ikut terbongkar dari:
-penjabat dibidang anak dan wanita bukannya melindungi malah melakukan pelecehan pada korban pelecehan yang melapor padanya
-ada juga yang melakukan korupsi.
-melakukan transaksi ilegal seperti menjual organ manusia,obat-obat terlarang juga melakukan pembunuhan.
Berita yang tersebar melanglang buana di media sosial beserta bukti vidio yang tidak bisa dielak oleh para pelaku,sebisa apapun mereka mengelak tidak ada yang percaya.
Berita sudah ditayangkan di televisi, saat ini mereka sudah dibawa kekantor polisi untuk dimintai keterangan dan akan diproses lanjuti,kasus ini dipegang langsung oleh pemerintah begitulah kira-kira laporan berita yang sedang menayangkannya.
"Ah kerja keras ku terbayar" guman Yura sebari mengangkat kedua tangannya keatas dengan kedua jemarinya berkaitan.
Gadis itu melirik kesamping dimana ada Azkara dan Rayma dikedua sisinya tengah berdiri melihat dirinya yang terduduk didepan leptop.
"Bisa kau jelaskan secara rinci?,sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? "Tanya Rayma sebari mengusap lehernya.
Yura mendesah sebari melorot kan bahunya,susah payah ia bekerja keras untuk mengeluarkan keahliannya dalam membuat keadaan semakin kacau untuk ia sombongkan pada dua pria itu,ehhh mereka malah tidak mengerti.
"Bukankah keempat pria itu yang sudah mengajak kalian ke penhouse kemarin dan membuatmu menangis meraung?" tanya Azkara memastikan.
"Yap dia adalah Joo jion bersama teman-temannya" jawab Yura sebari tersenyum pogah,"Akan aku jelaskan siapkan mendali emas kalian untuku setelah ini"sambungnya sebari menaik turunkan kedua halisnya.
"Jadi kemarin semua itu hanya sandiwara untuk menjebak mereka"
"Sandiwara?" beo kedua pria itu.
"Iya kami bersandiwara untuk menjebak mereka,siapa suruh mereka mau menjebak kami jadi kami menjebak mereka dalam jebakan mereka sendiri,,,, kami tidak melakukan apapun selain mengikuti permainan para tikus got itu"ujar Yura sebari tersenyum sombong.
"Jadi kenapa kemarin kau menangis apa kalian masuk dalam jebakan mereka?" tanya Rayma membuat aura ruangan menjadi dingin.
Afra dan Azkara menatap para gadis itu dengan sorot tajam,jika benar ketiganya masuk dalam jebakan para pria bi*dab itu maka akan mereka hancur leburkan keempat pria itu beserta keluarganya tanpa sisa!.
"Sudah aku katakan itu semua hanya sandiwara!"jawab Yura sebari menekan kata akhir yang ia ucapkan," Kami memang memakan makanan yang sudah dicampur dengan obat tidur dan juga obat per*ngsang dipenhouse kemarin tapi kami bisa menjaga diri!,kami juga sempat dibawa kedalam satu kamar untuk istirahat"suasana dingin semakin terasa ketika Yura terus menceritakan kejadian kemarin dipenhouse seorang Joo jion.
"Beberapa menit kami didalam kamar mereka menyusul dan masuk" Azkara dan afra yang mendengar itu langsung mengeraskan rahang sebari gigi bergemelatuk menandakan jika mereka sedang marah namun sebisa mungkin mereka tahan agar tidak membuat para gadis itu pergi.
Belum tau saja siapa mereka!.
"Kami bertiga pura-pura tidur jadi tidak melihat tindakan mereka,hanya saja bisa merasakan pergerakan mereka,kau tau tubuh mereka itu sangat bau aku sampai berendam bunga mawar setelah pulang" ujar Yura sebari mendengus kesal saat merasa jijik dengan bau badan pria itu.
Azkara mengepalkan tangannya kuat-kuat masih menahan amarahnya bahkan cairan merah merembes dari telapak tangan yang ia kepalkan dan afra sama marahnya bahkan bisa dikatakan lebih marah!.
__ADS_1
Anna memijat pelipisnya dia duduk diujung meja sebari mendengarkan Yura bercerita,sepertinya gadis dua puluh tahun itu tidak menyadari pria disamping nya tengah menahan emosi ketika dia bercerita dengan nada polos.
Xia yang duduk disamping Afra tidak mendengarkan cerita Yura,bahkan rasanya ia tidak mendengar suara apapun,matanya menyorot kedepan dengan tatapan kosong,dan itu semua disadari Afra itulah alasan kenapa Afra belum juga mengamuk sampai sekarang saat mendengar cerita Yura,ia ingin berada di dekat gadisnya disaat terpuruk sekalipun,mungkin kejadian kemarin membuat trauma pada gadisnya itu'pikirnya.
"Apa kalian melakukan itu bersama -sama?" tanya Rayma dengan menekan kata itu yang ia katakan membuat dua pria yang sedari tadi menahan emosi semakin tersulut.
"Itu?,itu apa magsudmu?" tanya Yura dimode polosnya.
"Mmm"
"Lanjutkan saja cerita mu Yura"sela Anna sebelum Rayma mengatakan hal yang tidak seharusnya.
"Lebih baik begitu,begini setelah mereka berada diatas kami"
Brak
Suara gebrakan meja terdengar dari Azkara yang sudah tidak tahan dengan penjelasan Yura dengan nada biasa saja nya itu seolah Yura hanya sedang menceritakan sebuah liburan bukan tragedi yang membuatnya kehilangan sesuatu yang besar.
"Kau ini kenapa?,kenapa harus memukul meja?,,,hei lihat tanganmu juga terluka!" sentak Yura menatap tangan Azkara yang berdarah.
Yura panik dan segera berdiri dari duduknya untuk mengambil obat tapi sebelum itu pergelangan tangannya dicekal Azkara kedalam pelukan pria itu,"Hei kenapa kau memelukku?"tanya Yura setengah berteriak dan berontak namun suara Azkara membuatnya terdiam.
"Biarkan seperti ini sebentar saja ku mohon" pintanya penuh permohonan membuat hati Yura berdesir.
Rayma memalingkan wajahnya kearah lain sebari berguman,"Kenapa aku harus menyaksikan acara romantis seperti ini sih, si*lan Savion pergi tidak mengajak"
Anna hanya menatap datar sepasang manusia yang tengah berpelukan itu,dalam pikirannya ia akan memisahkan mereka secepatnya!.
Xia yang tersadar dari lamunannya menatap sekitar dengan raut bingung,"Kenapa?"tanyanya sebari menatap Afra yang juga menatap nya mereka beradu tatap.
Xia sempat melihat pancaran kemarahan dari mata pria itu namun ketika beradu tatap dengannya kemarahan itu menghilang menjadi tatapan penuh cinta,pria itu memeluk tubuh Xia sebari berkata, "Aku sudah mendengar semua dari Yura,aku selalu menerimamu apa adanya!" ujarnya penuh keyakinan.
Afra menghela nafas sebari mengeratkan pelukannya,"Aku akan membalas mereka yang sudah melecehkan kalian!"tekannya penuh tekad.
Xia mengerutkan keningnya"siapa yang dilecehkan?"tanyanya membuat Afra mengerutkan keningnya juga sebari menatap Xia,namun tak berselang lama pria itu kembali menghela nafas dan mengeratkan pelukannya pada Xia.
Afra berpikir bahwa gadisnya itu tidak ingin mengingat kejadian kemarin buruk pelecehan kemarin,ia juga tidak akan mengingatkannya.
Merasakan pelukan semakin erat Xia memukul legan pria itu untuk melepaskannya,"Kau ingin sekali membunuhku dengan pelukan!"cibirnya membuat Afra tersadar dan bukannya melepaskan afra hanya melonggarkan pelukannya saja.
"Bisa kau lepaskan aku?" tanya Xia dijawab gelengan kepala oleh Afra,sebagai jawaban ia tidak akan pernah melepaskan gadisnya ini walau usia mereka terpaut jauh.
Xia mendorong pria itu agar melepaskan pelukannya walau beberapa kali gagal tapi akhirnya ia bisa melepaskan diri,gadis itu menatap Afra dengan tatapan tajam sebagai peringatan agar tidak memeluknya lagi setelah ini.
"Jelaskan dengan benar jangan buat orang lain salah paham!" sentak Xia membuat mereka disana menatap gadis itu begitupun Azkara yang masih memeluk Yura.
"Kau tidak ingin melepaskan aku?" tanya Yura dengan tatapan menggoda membuat Azkara tersadar dan segera melepaskan pelukannya setelah itu pria itu mundur dua langkah dari tempatnya.
"Padahal tidak papa jika kau tidak mau melepaskanku,aku sadar diri ko diriku ini sulit untuk dilepaskan" ujar Yura menggoda Azkara sebari tersenyum.
"Khmm aku hanya replek" ujar Azkara kikuk membuat Yura mempertahankan senyumnya.
"Mereka tidak berhasil melecehkan kami,sebelum melakukan apapun keempat pria itu tidak sadarkan diri" ujar Anna dengan nada datarnya.
"Kenapa begitu?,magsudku itu sebuah keberuntungan untuk kalian tidak dilecehkan mereka,tapi jika mereka sudah biasa menjebak para gadis tidak mungkin tiba-tiba mereka pingsan begitu saja" tanya Rayma
"Kau benar itu semua berkat ra" Yura menjeda ucapannya lalu menatap xia,setelah mendapat anggukan barulah ia kembali bersuara, "Racun yang kami berikan pada mereka"
"Racun" beo ketiga pria itu.
__ADS_1
"Iya,pada intinya mata dibalas dengan mata,mereka memberi kita obat per*ngsang maka kami memberi mereka racun,dan obatnya akan bereaksi ketika mereka kembali sadarkan diri,,,dan siapa sangka jika semuanya membawa kebaikan utuk orang lain,,,semua ucapan mereka dividio yang tengah viral saat ini semua itu penyebab dari racun imajinasi yang diberikan pada mereka"
"Racun imajinasi?" beo Rayma.
"Iya Xia menamainya racun imajinasi,kau sudah mengangganti namanya Xia? " tanya Yura menatap Xia.
"Tidak!" jawabnya singkat.
"Magsudnya racun imajinasi itu dibuat oleh Xia?" tanya Afra setelah menyatukan pazel-pazel yang berserakan dikepalanya.
"Benar sekali!" jawab Yura antusias bahkan gadis itu bertepuk tangan dengan heboh,"Adikku memang hebat!"puji nya.
"Kamu bisa meracik racun?" tanya Afra memastikan sebari menatap Xia penuh selidik dan hanya dijawab kedikan bahu membuat pria itu menatap kesal gadisnya.
"Racun imajinasi tapi membuat orang berkata jujur" ujar Yura heboh sebari kembali duduk di kursi yang ia tempati sebelumnya.
"Jika begitu seharusnya diberi nama racun kejujuran" tutur Rayma di angguki yura.
"Benar akupun sudah berkata begitu"
"Tunggu sebentar"sela Azkara dengan wajah bingungnya,"Jadi kalian sebenarnya sudah merencanakan untuk menjebak mereka dengan alibi dijebak?,begitu?"
"Iya begitu,kenapa kau lama sekali tanggap masalah ini" cibir Yura,"kami tidak punya waktu jika benar-benar ingin berteman dengan mereka,,tadinya kami tidak ingin meladeni tingkah para tikus itu,tapi setelah mengetahui rencana busuk mereka dan juga mendengar ada seorang gadis yang bunuh diri dua bulan lalu karna dilecehkan mereka membuat aku geram,,,apa lagi gadis itu berusia delapan belas tahun semakin membuatku geram saja!,,,"ujar Yura menggebu,tadinya mereka tidak akan meladeni tingkah keempat pria itu yang terus mendekati mereka,
namun setelah mendengar berita tentang gadis yang bunuh diri itu membuat mereka geram,,,apalagi umur gadis itu mengingatkan mereka pada gadis bungsu keluarga mereka,,,jika itu keluarganya maka akan mereka pastikan keempat pria berperilaku bejat itu akan dihabisi hingga ke akarnya!.
"Jadi kami merencanakan menjebak mereka dengan cara elegan,,,jika begini mereka seolah mengakui kesalahan mereka dan tidak menyesalinya untuk hasilnya biarkan pemerintah yang berjuang" sambung Yura lalu meneguk jus jeruk miliknya.
"Lalu bagaimana kalian bisa melawan obat per*gsang dalam tubuh kalian waktu itu?" tanya Afra.
"Itu karna,," Yura menghentikan ucapannya ketika tenggorokannya merasa tercekat,tubuhnya terasa panas.
Semua atensi menatapnya menunggu jawaban,Yura memegangi lehernya dengan mata terbelalak ia mengalami sesak napas membuat mereka seketika panik dan menghampiri Yura.
Bugh
Tubuh Yura limbung jika tidak ada Azkara maka tubuhnya akan terjatuh,"Badanya dingin!"ujar Azkara saat bersentuhan dengan kulit tangan Yura.
Xia langsung berlari mengapiri Yura dipelukan Azkara,Xia memegang kulit tubuh saudarinya yang tidak terbungkus baju,"dingin"gumannya datar.
"Bawa Yura kekamar!" sambungnya dengan wajah panik.
"Sebaiknya bawa kerumah sakit saja!" ujar Azkara bersama Rayma.
"Bawa ke kamar sekarang!" bentak Xia tidak ingin dibantah.
Wajah Yura berlahan memucat bahkan sebagian tubuhnya mulai berubah, dari bagian kaki berwarna merah dan bagian tangan ke wajahnya berwarna biru.
Azkara membopong Yura ala bridal sebesamaan dengan keributan terjadi di luar namun mereka tidak menghiraukan itu pokus mereka hanyalah kondisi Yura Arlia.
Azkara bergegas pergi namun langkahnya terhenti kala seorang pengawal berlari menghampiri mereka dengan terburu-buru,"lapor tuan mansion diserang sekumpulan orang bersenjata,dari semua sudut kita sudah terkepung tuan"lapornya membuat mereka terbelalak.
Kenapa harus sekarang?.
Azkara sadar dari keterkejutannya ia lebih dulu melanjutkan langkah untuk membawa Yura ke kamar dan diberi pertolongan pertama,namun lagi-lagi langkahnya terhenti kala suara tembakan terdengar jelas di telinganya.
Dor
Tembakan itu tepat melesat menembus kepala dibagian mata, hingga bagian mata tersebut meledak dan hancur dibarengi cairan merah yang membludak juga tubuhnya yang tumbang kehilangan nyawa.
__ADS_1