
Anna yang hanya duduk sebari memeluk kedua kakinya dengan wajah andalannya 'datar', ditepian pantai sebari memandang laut biru dengan banyaknya orang yang sedang bermain,salah satunya yura dan ansya.
Anna melirik kearah pria yang baru saja duduk di sampingnya tanpa mengatakan apapun lalu kembali menatap laut.
Hening Azkara maupun anna tidak yang memulai pembicaraan mereka menikmati keterdiaman mereka masing-masing,orang-orang yang melihatnya berdecak kagum mereka bahkan berkomentar dua sejoli itu pasangan serasi.
Yura menatap kearah dimana Azkara duduk,gadis itu sedikit memicingkan matanya untuk melihat ekpresi pria itu,atensinya teralihkan saat merasa pundaknya ditepuk.
"Mereka pasangan serasi bukan?" ansya bertanya masih dengan tangannya dipundak yura.
Yura mendelik tajam kearah ansya entah kenapa dirinya merasa tidak rela,"mungkin"jawab yura tidak setuju didalam hati sebari mengedikan bahu.
"Kamu harus bisa mendekatkan mereka,,,itu bagian dari tugas"ujar ansya sebari melangkah meninggalkan yura di air.
Yura menaikan sebelah halisnya tidak mengerti,"tugas?"gumannya lalu sedikit berlari mengejar ansya yang sudah lebih dulu pergi dan menyamakan langkah mereka.
'Magsudmu tugas dari siapa?,bukannya dari paman sudah selesai?"tanya yura beruntun.
"Dari Xia,,,dia memang belum memberitahumu,,,,aku atau dia yang memberi tahu sama saja kan?"ujar ansya.
"Tentu saja berbeda,,,sudahlah,,,kenapa Xia ingin mendekatkan mereka?,,,,apa jangan bilang Xia akan benar-benar bertunangan dengan pria itu,dan untuk mempermudah segalanya Xia juga menjodohkan para pengawal pribadi mereka begitu?"tanya Yura menggebu membuat Ansya yang mendengarnya terkekeh.
"Mungkin"jawab Ansya sebari mengedikan bahunya,jawaban Ansya membuat Yura terdiam sebari memandang anna dan Azkara yang terlihat seperti sedang berbincang,entah kenapa didalam sana ada yang akan segera meledak.
Ansya melirik ke belakang, pantas saja yura tidak ada disampingnya ternyata gadis itu sedang diam di belakangnya sebari menatap kedepan,ansya mengkerut kan dahinya dan mengikuti arah pandang adik sepupunya itu,"Permainan hati akan dimulai"gumannya sebari terkekeh.
Ansya menghampiri Yura, "kenapa berdiri disini?,ck menghalangi pemandangan saja" gerutu Ansya sebari menarik tangan yura agar segera bergerak,gadis itu sedikit terseok ditarik saat melamun.
"Jangan tarik-tarik dong"gerutu Yura sebari menghempaskan tangannya dengan kasar dan berjalan lebih dulu sebari menghentakkan kakinya.
"Ditinggal,,,tidak tahu diri"kesal Ansya masih menyusul Yura.
Yura bergabung bersama dua sejoli yang digadang-gadangkan sebagai pasangan serasi.
"Ada masalah nona?"tanya Anna saat melihat wajah murung Yura.
"Tidak ada"jawabnya lalu menatap kesal kearah Anna"kita sudah sepakat tidak memakai nona saat memanggil,kenapa kakak masih menggunakan panggilan formal itu"
"Maaf no, mmm maaf Yura saya tidak terbiasa"jawab Anna jujur.
"Makanya kakak harus membiasakan mulai sekarang jangan ada kesalahan,,,hanya tidak memanggil menggunakan nona apa susahnya sih"kesal Yura,gadis itu melampiaskan kekesalan dengan membesarkan masalah kecil.
"Hanya menghilangkan empat huruf saat memanggil tidak susah"gerutunga kesal,Ansya yang baru ikut bergabung melirik Yura sebari memutar matanya malas.
Selalu seperti ini jika tidak bisa melampiaskan amarah gadis itu selalu membesarkan masalah kecil.
"Tidak usah marah-marah juga!,otakmu terbakar ayo cari minum"ujar Ansya membuat Yura mendengus kesal.
"Biar saya saja yang carikan minum,kalian ingin minum apa?"tanya Azkara terasa kikuk.
"Es kelapa yang diminum langsung dari buahnya"rikwes Ansya berbinar setengah membayangkan minuman yang harus saja ia sebutkan.
"Baiklah,,,yura?"tanya Azkara
"Apa!"bentak yura padahal Azkara hanya bertanya gadis itu ingin dicarikan minuman apa.
Ansya memukul pelan kepala yura sampai siempunya mendelik tajam kearah gadis itu," Samakan saja kak"ujar Ansya merasa tidak bersalah setelah mendaratkan pukulan dikepala Yura.
"Baik saya carikan"Azkara berdiri dari duduknya dan menepuk-nepuk bokongnya membersihkan pasir dari celana.
"Kak anna bisa pergi bersama kak Azkara dia akan kesusahan membawanya nanti!"ujar Ansya membuat Yura mendengus,dan yang disuruh mengiakan saja,dirinya memang pengawal pribadi Xia namun dirinya juga diwajibkan menuruti kedua gadis itu setelah Xia.
Keduanya pergi beriringan mencari pesanan Ansya.
Sudah beberapa kali terdengar helaan nafas dari Yura dengan gadis itu masih melihat jejak arah perginya Azkara dan Anna.
Ansya mengeluarkan ponselnya"kita tidak bawa kamera,bagaimana jika selfie menggunakan ponsel"Yura hanya mengangguk mengiakan ajakan kakak sepupunya itu,Yura merasa panas namun bukan ulah sinar matahari,keduanya bergantian saling memotret dan perpose mereka juga tidak lupa berselfie berdua.
"Kurang Xia"ujar Ansya saat melihat hasil jepretan mereka disetujui Yura dengan anggukan,gadis itu sesekali melihat kearah kepergian mereka yang mencari air kelapa.
__ADS_1
Masih asik melihat foto keduanya dikagetkan seseorang yang datang menyapa"Hai"kedua gadis itu menaikan sebelah halisnya sebari saling memandang dan bertanya lewat tatapan.
"Hai"balas keduanya serempak.
"Kalian turis disini?"tanya pria itu diangguki kedua gadis itu,"apa kalian hanya berdua?"kedua gadis itu saling tatap lalu tersenyum.
"Iya benar,kenapa?,kamu ingin mengajak kami berkeliling? "Tanya yura antusias.
Pria itu tersenyum smirk mendengar pertanyaan gadis didepannya," memangnya kalian mau jika saya mengajak berkeliling?"tanyanya hati-hati.
"Tentu saja"jawab Yura"benar bukan?"Yura meminta persetujuan Ansya.
"Benar,tentu saja kami akan ikut,kapan lagi bisa berkeliling bersama pria tampan sepertimu"jawaba Ansya dengan nada genit bahkan sangat berani mencolek dagu pria asing itu.
Terlihat dari mata pria itu berbinar,"Memangnya tidak akan ada yang marah jika aku mengajak kalian bersamaku?"
"Siapa?,,,kami hanya berdua,,jika ada yang marah mungkin pihak dirimu"jawab Yura.
Pria itu langsung menjawab,"tidak ada nona saya sendiri disini,jika kalian ingin berkeliling mari saya antar"
"Jika tidak merepotkan"
"Sama sekali tidak merepotkan nona bahkan saya malah senang bisa berkeliling bersama dua nona cantik ini,,mari"ujar sipria sebari mengedipkan sebelah matanya menggoda.
"Masuk prangkap"guman dalam hati salah satu orang itu.
Mereka berjalan beriringan dengan sipria bejalan ditengah antara Yura dan Ansya.
"Anda orang sini tuan?"tanya Yura disela langkah mereka.
"Bukan nona,,saya orang Brazil,,,saya disini hanya beberapa hari saja,,,,mungkin tiga atau dua hari,,,jika nona-nona cantik ini berasal dari mana?"
"Kami juga turis Tuan disini hanya beberapa hari sama seperti Anda"jawab Ansya memasang wajah genitnya seperti tadi dengan sesekali mengedipkan matanya pada pria yang entah siapa itu,dilihat dari pisik pria itu memang terlihat seperti orang luar negri terlihat dari wajahnya.
"Wah kebetulan sekali kalo begitu,,,setelah berkeliling bagaimana jika kalian berkunjung ke hotel yang aku tempati sekarang!"ajak pria itu
"Boleh saja Tuan"jawab yura gadis itu juga sudah bertingkah seperti yang ansya lakukan menggoda pria itu dengan wajahnya.
"Disebelah sini nona"ujarnya mengarahkan kedua gadis itu menuju mobilnya.
Pria itu membukakan pintu untuk akses kedua gadis itu memasuki mobilnya "silahkan nona-nona cantik" disambit baik Yura dan Ansya keduanya duduk di kursi penumpang.
Saat memasang seatbelt tangan keduanya terhenti saat merasakan mocong sebuah senjata di todongkan dikepala keduanya dari arah berlawanan,keduanya melirik siapa yang berani menodongkan senjata di kepala mereka.
"Diam,,,atau peluru akan bersarang dikepala kalian"ancam pria yang entah siapa pria yang berbeda dengan yang mengajak mereka berkeliling.
Kedua gadis itu mengangguk diam lalu kedua orang yang berjenis kelamin laki-laki yang masih menodongkan senjata dikepala mereka duduk disamping keduanya dengan masih menodongkan pistol itu.
Dan pria lain duduk di depan,"wanita bodoh"ejek si pengemudi yang tak lain adalah pria yang mengajak kedua gadis itu berkeliling.
"Kita diculik?"pertanyaan itu lolos dari mulut Yura dengan polosnya diangguki Ansya.
"Jika diculik begini biasanya penculik meminta tebusan,seperti uang"ujar Ansya menebak kejadian selanjutnya akan seperti difilm-film yang sering ia tonton bersama yura.
"Benar,,,berapa yang akan mereka pinta?"Ansya mengerikan bahunya sebagian jawaban tidak tahu.
"Langsung tanya mereka saja"jawab Ansya diangguki Yura,dan gadis itu dengan polosnya menatap orang yang masih menodongkan senjata kearah kepalanya.
"Tuan berapa tebusan yang anda minta untuk menebus kami?"tanya Yura membuat pria yang terlihat seperti orang daerah menaikan sebelah halisnya,biasanya orang yang dia culik selalu menangis dan ini malah terlihat santai bahkan sempat-sempatnya mengobrol.
"Kami tidak akan minta tebusan"jawabnya.
"Kenapa? "Tanya kedua gadis itu serempak membuat atensi ketiga pria sebagai idenstitas penculik menatap heran,seharusnya kedua gadis itu menangis oke!.
" Karna kami akan menjual organ kalian" jawabnya sebari tersenyum ia yakin setelah mendengar jawabannya kedua gadis itu akan menangis dan memohon untuk dilepaskan,dan mereka tidak akan pernah melepaskan.
"Kenapa kalian?,,takut?"terdengar seperti ejekan dari mulut pria itu membuat yura mendengus.
"Apa saja organ yang akan kalian jual?"tanya Yura santainya.
__ADS_1
" Semua organ kalian"
Kedua gadis itu hanya beroh ria sebagai respon membuat para penculik tertantang.
"Kalian tidak takut?"
"Takut"jawab kedua gadis itu membuat para penculik tersenyum bangga.
"Tuan-tuan yang hanya si pengemudi yang tampan"ujar yura terlampau jujur membuat kedua penculik yang tersinggung langsung menatapnya tajam,"kalian bisa turunkan senjata kalian dari kepala kamikan?"
"Kenapa kau takut?"ejek si penculik.
Yura lahi-lagi mendengus namun yang berbicara kini adalah Ansya," Bodoh,,,kalian ini sedang menculik,,,jika menodongkan senjata terang-terangan begini kalian bisa dipergoki bisa saja didepan sana ada polisi yang sedang mengurus lalu lintas"ujar Ansya kesal para penculik ini bodoh sekali bukan.
Ucapan ansya disetujui para penculik mereka menurunkan senjata dari kepala kedua gadis itu.
"Jika ingin menculik,,,,pasang gaya cool dong,,,tampang kalian menurunkan ketidak cocokan menjadi penculik kalian seharusnya menjadi pengemis yang kehilangan sebelah kaki atau kedua kaki kalian"ujar Yura songong.
Diperjalanan entah menuju kemana kedua gadis itu hanya menikmati waktu dengan mengobrol aneh dengan para penculik,seperti memberi pengarahan,lalu hukum karma untuk para penculik ,pengarahan,hukum karma,dan terus begitu sampai para penculik hanya diam lelah mendengarkan ocehan kedua gadis yang tidak punya rasa takut itu.
Jika bukan barang bagus yang berharga tinggi para penculik sudah melempar mereka kepantai mulut mereka tidak bisa diam sekali,jika biasanya terdengar suara tangisan ini malah terdengar suara obrolan tidak bermutu dari kedua gadis itu,selain memeneri arahan dan tentag hukum karma,kedua gadis itu juga bertanya tentang reaksi korban saat diculik tidak bermutu sekali memang.
.
.
Ditempat lain tepatnya disalah satu kafe dekat pantai disanalah Afra dan xia sekarang duduk berdua dengan santai tanpa gangguan.
Afra memandang pemandangan yang sangat indah didepannya,senyuman terus terukir dibibir pria itu,sesekali pria itu menyingkirkan helayan rambut yang menghalangi wajah indah yang sedang ia pandang,pria itu tidak tertarik dengan pemandangan pantai dia lebih tertarik melihat wajar Xia yang duduk didepannya hanya terhalang meja bundar.
Xia sendiri tidak mempermasalahkan dirinya hanya menganggap sedang sendirian dan anteng memakan eskrem seperti anak kecil dimata afra,menggemaskan.
"Kamu akan sakit jika terlalu banyak makan eskrim "ujar Afra memperingati karna gadis didepannya sudah menghabiskan dua mangkuk eskrim dan baru saja memesannya lagi.
"Agar dokter bekerja" jawab Xia
Magsud perkataan xia :jika sakit akan ada dokter yang memberi resep pengobatan,dan jika tidak ada yang sakit didunia ini para dokter akan batingsetir dari pekerjaannya,singkatnya begitu.
Afra menggelengkan kepalanya lirih,"Tapi aku tidak mau melihatmu sakit!"
"Tutup mata!"jawab Xia
:tutup mata jika tidak ingin melihatnya.
Afra mendengus ," Kamu selalu saja menjawab ikuti saja perkataan ku selama itu baik untukmu,jika kamu sakit aku akan sedih"
"Apa urusannya dengan ku"cuek Xia "aku tidak suka diperintah"
Afra menghela nafas mencoba sabar,setelah kebohongannya terbongkar sikap Xia semakin menyebalkan.
"Huhhhh,,,jawab pertanyaan ku!,,,,apa yang terjadi dikantor tempo hari?"tanya Afra masih bingung dengan kejadian itu,ya dia akui selama ini ia tahu tentang trauma yang Xia alami,trauma yang muncul setelah kejadian dua belas tahun itu,namun kenapa?,apa alasan sebenarnya trauma itu?, kenapa Xia selalu ketakutan dan menatapnya benci setiap bertemu,kenapa?,kenapa itu harus terjawab sekarang.
Xia mengedikan bahunya lalu menerima pesanan yang diantar pelayan.
Eskrim rasa vanila,sebelumnya ia memakan eskrim rasa coklat dan rasa
Stowbery
"Aku tau kamu takut saat bertemu dengan ku,kamu selalu menangis saat bertemu denganku,lalu kenapa sekarang tidak katakan!,semua itu ada alasannyakan?"tanya Afra dengan nada lembut ia tidak mau membentak atau meninggikan suaranya didepan gadis yang sedang ia kejar ini.
Mengejar cintanya!.
Xia menghentikan pergerakannya dengan pergerakan elegan Xia meletakan sendok eskrim lalu menyeka bibirnya menggunakan tisu dengan pergerakan lambat,"Semua tentu ada alasannya"Xia lalu mengedikan bahunya dan menatap afra sedikit lama baru ia kembali bersuara.
" Entahlah mungkin sudah sembuh"jawab Xia sebari mengedikan bahunya,"alasan"Xia menganggukan kepalanya beberapa kali,"kamu tidak sejahat itu"ujar Xia sebari menatap afra dan pria itu juga menatapnya tatapan keduanya beradu tanpa berniat berpaling sedikitpun.
Xia berbicara dengan wajah datarnya masih menatap Afra yang tiba-tiba semburan merah diwajahnya terlihat entah penyebabnya apa mungkin sinar matahari Xia tidak tau itu.
Semburan merah disertai detak jantung yang berdetak sangat kencang seolah akan segera meloncat dari tempatnya.
__ADS_1
Akhirnya apa yang diinginkan pria itu terkabul sepertinya Afra akan menandai hari ini,hari dimana Xia memanggilnya dengan sebutan 'kamu' hal yang mengistimewakan.