
Tentu saja putri Vihan Kay"jawab pria itu dengan bangga.
"Sepertinya bukan,anakmu tidak mungkin sebodoh akukan?" lirih Xia.
"Ais keturunanku tidak ada yang bodoh,baiklah ayah mengaku,kamu jangan marah oke"pintanya dengan menunjukan raut bersalah.
" Aku tidak marah,hanya meminta pengertian ayah saja,aku tidak ingin ketahuan"ucap Xia diangguki ayahnya.
"Baiklah,ayah akan menambah pengawal untuk kalian"jawabnya tidak tahu malu.
Xia hanya bisa menghela nafas kasar sebelum sudut bibirnya terangkat.
"Aku akan bertanggung jawab atas kejadian kemarin,itu tidak akan merugikan ayah"ucap Xia memilih membahas hal lain.
"Ayah percayakan sama kamu"jawab Vihan sebari tersenyum.
"Aku ingin minta tolong pada ayah"
"Apa itu?,katakan saja,ayah akan memenuhinya"
Xia terkekeh lalu menjawab"aku hanya meminta tolong agar ayah mengirim seseorang untuk mengantar obat tidur ku"
"Memangnya yang kamu bawa sudah habis?"tanya Vihan sebari menaikan sebelah halisnya.
"Bukannya gadis itu membawa untuk dua bulan kedepan tapi kenapa sekarang minta dikirim,apa sesuatu yang buruk terjadi"pikir Vihan.
"Tidak ayah,obat yang aku bawa terbakar tadi pagi,jadi bisakan ayah mengirimnya untuk ku?"
"Baik princess "jawabnya sebari tersenyum namun beberapa detik kemudian ia teringat sesuatu.
"Tunggu,kau bilang obat nya terbakar?" tanya Vihan di iyakan Xia dengan anggukan kepala.
"Tapi yura bilang tadi siang kamu sedang tidur,apa kamu sedang didekat seseorang?"tanya Vihan penuh selidik.
Sepertinya Xia tidak bisa merahasiakan hal ini,apalagi gadis yang bersamanya selalu ceweret.
"Iya ayah tadi siang aku bersama seseorang,mungkin aku hanya kelelahan saja"jawab Xia menyangkal kemungkinan yang ia dan ayahnya pikirkan.
"Pria atau wanita?"pria itu malah bertanya.
"Kenapa?,apa yang akan ayah lakukan jika mereka pria atau wanita,kita harus memberi hadiah yang pantas bukan?"tanya Xia sekedar iseng terhadap ayahnya tersebut.
"Jika wanita akan ayah jadikan pengawal pribadimu,tidak-tidak ayah akan mengangkatnya menjadi kakak mu"jawab pria tersebut setelah berpikir.
"Lalu jika pria,apa ayah akan menikahkan ku dengannya?"tanya Xia dengan penasaran dengan apa yang akan ayahnya katakan selanjutnya.
Pria itu mengetuk dagunya sebari menganggukan kepala dan sudut bibirnya terangkat.
"Ide bagus"jawabnya setuju namun ekpresi wajahnya dipenuhi keraguan.
Melihat ekpresi yang ayahnya berikan membuat Xia tidak tega"tidak usah dipikirkan ayah,aku akan menutup teleponnya,ayah jaga diri baik-baik oke,aku titip salam kepada semuanya"
Vihan tersenyum baru menjawab"baiklah kalian juga baik-baik disana,saling menjaga dan percaya adalah kunci kesuksesan,selamat malam untumu"
"Terima kasih ayah,ayah juga harus menjaga kesehatan"
Xia mengangguk sebari tersenyum dan selanjutnya suara panjang terdengar disertai telepon yang terputus.
Xia menghela nafas kasar dan menyimpan ponselnya diatas nakas.
Semua pergerakannya tidak lepas dari mata tajam yang afra tunjukan.
Pria itu semakin dingin kala tidak bisa mengetahui,siapa orang yang membuat gadisnya itu tersenyum dan apa yang mereka bicarakan?.
Leher Afra mengeras dengan gigi yang mengantup,tangan mengepal,wajah memerah ia terlihat seperti iblis yang sedang mengamuk.
Setelah melihat Xia menutup panggilannya disertai ia membanting laptopnya sampai hancur.
Ruangan itu kedap suara,sampai keributan apapun tidak akan keluar dari ruangan tersebut.
Xia menatap ke langit-langit kamar sebari merebahkan tubuhnya,lalu ia memiringkan wajahnya kearah meja yang dipenuhi boneka beruang.
__ADS_1
Xia tersenyum lembut menatap deretan boneka yang dari ukuran besar dan kecil terpajang disana.
Entah boneka siapa?.
Mungkin milik mantan pemilik kamar ini sebelumnya atau memang disediakan khusus untunya,entahlah.
Gadis itu menatap boneka itu sedari ia menelepon ia yakin akan sesuatu.
Xia turun dari ranjang menuju meja yang dipenuhi boneka beruang.
Gadis itu menyentuh semua boneka dari yang terbesar dan terkecil.
Saat tangannya menyentuh kepala boneka beruang berukuran paling kecil berwarna coklat,Xia menahan tangannya di sana beberapa menit lalu turun menyentuh area wajah.
Dari dahi,mata,hidung,dan mulut,namun gadis itu tidak berniat mengambilnya.
Saat menyentuh mata,sudut bibir gadis itu menyeringai kecil dengan cepat mengubah ekpresinya seperti awal.
Xia yang tidak akan bisa tidur walau sudah meminum obat tidur dari afra,memilih pergi kebalkon untuk menghirup udara malam.
Gadis itu berdiri dengan tetap sebari memejamkan mata,ia menghirup oksigen begitu dalam lewat hidungnya.
Sampai tidak menyadari ada seseorang yang sedang menatapnya dengan wajah tidak terima.
Xia menghembuskan oksigen dari mulut secara perlahan,baru membuka mata secara perlahan dan mendongkak melihat bintang yang hadir dilangit malam.
Lalu berguman"selamat malam"
Orang yang melihat dan mendengar gumanannya semakin menunjukan wajah tidak sukanya.
"Kamu mengatakan itu pada langit tapi tidak padaku"keluhnya.
Xia melihat kearah suara,ia menaikan sebelah halisnya sebari berpikir"sejak kapan pria itu berada disana?"
"Kamu tidak ingin mengatakannya,selamat malam atau selamat tidur bahkan mengatakan jangan lupa memimpikanku?"ucapnya masih dengan raut wajah tidak suka.
"Tidak"tolak Xia membuat Afra semakin kesal.
Namun pria itu masih menahannya"kenapa?"tanyanya dengan suara penuh penekanan.
"Apa itu alasan?"
"itu sebuah keluhan"
"Kamu masih belum bisa tidur?"tanya Afra mengubah nada suaranya menjadi lembut.
Xia menjawab dengan gerakan kepala lalu mendongkak melihat bintang di langit malam.
"Apa kamu sudah akan tidur?"tanya dia sebari masih menatap langit.
"Tidak,aku belum bisa tidur"jawab Afra menatap lekat wajah cantik Xia.
Entah kenapa kemarahannya hilang saat melihat langsung wajah gadis itu.
"Bagaimana kalo kita mengobrol?"ajak Xia beralih melihat pria itu sampai mereka beradu tatap.
Wajah Afra seketika memancarkan cahaya kebahagiaan,pria itu mengangkuk sebagai jawaban.
Seperti kucing yang dikasih ikan,tidak akan menolak!.
"Aku akan kesana"ucap Cia setelah mendapat jawaban,gadis itu pikir.
"Aku perlu memastikan"
Xia meloncat pagar pembatas yang dipasang disetiap ujung balkon dari kamarnya menuju balkon kamar Afra.
Membuat Afra menjerit saking kagetnya dengan pergerakan cepat Xia.
"Laraaa"
Xia mendarat sempurna disamping Afra.
__ADS_1
Gadis itu mengkerut kan dahinya.
"Apa yang kamu lakukan?"pekik Afra sebari menggoyangkan tubuh Xia.
Mengecek apa ada yang terluka.
Namun Xia bukannya menjawab gadis itu malah bertanya"Lara,kau memanggilku lara?"
Afra menaikan sebelah halisnya"itu namamu kan? xlara zadrianka"
"Kenapa kamu melompat dari sana?,itu berbahaya,kamu bisa melewati pintu,bagaimana kalo kamu jatuh? "sambung Afra kembali cemas.
Xia menghela nafas"aku masih berdiri didepanmu itu artinya aku baik-baik saja,tidak usah lebay"
Afra menatap tajam Xia pria itu kesal dengan tidak langsung gadis itu mengangap rendah nyawanya.
"Kamu meloncat dari sana dan kamu bilang aku lebay?,apa kamu sudah tidak sayang nyawa hah?"
Xia merutuki dirinya yang ceroboh seharusnya ia tidak melompat tadi,Xia jadi menyesal.
Malas sekali mendengar ocehat tidak berfaedah dari pria ini.
Xia hendak menaiki pagar pembatas balkon kamar Afra,untuk kembali ke balkon kamarnya seperti tadi.
Dengan cara melompat, namun belum sempat gadis itu menaikan kedua kakinya tangannya ditarik sampai ia terjatuh.
Dan terbentur sesuatu yang keras.
Kepala gadis itu terbentur besi pegangan tangan yang ada dikursi roda,benturan cukup keras sampai menimbulkan suara.
"Akhh"ringis Xia sebari memegangi bagian belakang kepala.
Saat Afra menarik gadis itu karna kaget,tarikan nya cukup kencang membuat Xia limbung dan terjatuh diatas pangkuan Afra.
Kepalanya terbentur dada bidang pria tersebut,namun karna efek dari tarikan yang cukup keras,benturan tersebut memantul dari dada pegangan tangan kursi roda.
Afra yang panik mendengar suara penturah langsung mengecek keadaan gadisnya,sebari menyesal atas keteledorannya.
"Kamu tidak papa?,apa berdarah?,aku akan memanggil dokter"Afra memegangi tangan Xia yang memegang kepalanya yang sakit.
Xia tidak merespon pertanyaan-pertayaan pria itu,Xia memejamkan mata merasakan kepalanya yang berdenyut.
Wajah Afra pucat saking khawatirnya,ia bergegas memanggil orang untuk memanggilkan dokter.
Namun Xia menahannya"aku baik-baik saja,tidak usah panggil dokter"
"Tidak!,kamu harus diperiksa dokter,bagaimana jika ada luka dalam?"Afra memegangi ponsel dan hendak memencet setiap dial namun sebelum itu.
Xia lebih dulu merebut ponsel Afra dan turun dari pangkuan pria tersebut.
Dengan keadaan limbung Xia memegangi pagar besi untuk menyeimbangkan tubuhnya yang terasa pusing dibagian kepala.
"Kembalikan ponselnya!,aku akan memanggil dokter,lantai ini tidak ada pengawal tidak ada yang bisa di panggil dengan teriakan"
"Diam dulu deh"ucap Xia sebari memegangi kepalanya yang masih saja berdenyut dengan memejamkan mata.
Xia duduk dikursi yang tersedia disana,ia menyandarkan kepalanya"aku sudah baikan"
"Kamu yakin?,aku panggil dokter saja oke?"Afra sangat khawatir.
"Tidak usah,aku hanya ingin merebahkan kepalaku "jawab Xia sebari memejamkan matanya.
"Kita masuk saja kalo begitu" ucap Afra disetujui Xia.
"Tapi jangan panggil dokter"pinta Xia disetujui Afra.
Xia berdiri dari duduknya namun tiba-tiba pandangannya sedikit kabur dan juga kepalanya kembali berdenyut.
Padahal saat ia duduk sakit dikepalanya mereda.
Xia hampir terjatuh jika tidak memegangi kursi yang tadi ia duduki.
__ADS_1
"Ah sial,kenapa sepusing ini"guman Xia lirih.
"Bagaimana mungkin hal sekecil itu bisa membuat aku kesakitan?"pikir Xia kesal.