
Mendapat jawaban dari pertanyaan membuat yura menganggukan kepalanya beberapa kali.
"Ya,apa yang kau katakan itu ada benarnya"ujar Yura membenarkan,"Sekarang apa?"sambungnya membuat Xia menatap gadis disampingnya itu dengan mengerutkan dahinya.
"Apa?"
"Kau malah balik bertanya?,magsud ku sekarang rencana kita apa?"tanya Yura dengan menatap gadis cantik yang ia anggap adik.
"Makanya jangan tidur saat meeting"jawab Xia kembali menyandarkan kepalanya kesofa.
Yura mendengus kesal,"Makanya meeting pada waktunya"cibir gadis itu sebal dan tidak mau kalah.
"Sudah pada waktunya "jawab Xia tanpa menoleh.
"Mana ada meeting jam 1pagi" dengus yura nada suaranya naik satu okta.
"Ada"jawab Xia singkat.
"Ya emang ada,tapi cuma anda,dasar bajingan tengik"geram Yura membuat Balla yang tidur diranjang kamar Yura,menggeliat sepertinya tidurnya terganggu gara-gara mereka.
Namun ternyata gadis itu tidak bangun hanya mengeliat mengubah posisinya dan kembali pulas,sepertinya!.
"Jangan berisik!,dia baru saja tidur,cctv"tegur Xia mendengar nada tinggi gadis di sampingnya,walau tidak tinggi seperti biasanya,ia juga harus diingatkan tentang keberadaan CCTV diruangan ini.
"Iyaiya,habisnya kau menyebalkan"dengus tertahan Yura.
Tiba-tiba pendengaran mereka menangkap suara yang terdengar familiar, atensi kedua gadis cantik itu tiba-tiba saling pandang,dengan tatapan bertanya.
Keduanya mengecek ponsel masing-masing,sebab yang mereka dengar berasal dari benda pipih salah satu dari gadis itu,kedua gadis itu memasang nada dering yang sama bersama dua gadis lainnya.
Xia menunjukan layar ponselnya kearah Yura,benda pipih tersebut menyala disertai nada dering yang terus berbunyi.
Yura mengembalikan ponselnya kedalam saku sebari berkata," Jangan diangkat!"
Namun ucapannya sepertinya terlambat,entahlah mungkin juga sengaja,karna sebelum menekan ikon hijau gadis yang ponselnya berbunyi itu tersenyum smirk.
"Hmm"ujar Xia setelah menekan ikon pengeras suara yang tertera diponsel.
"Kau! "Kesal Yura sebari menatap tajam kearah Xia yang sama sekali tidak memedulikan dirinya.
"Kakak,aku kangen kakak"teriak seseorang disebrang telepon dengan nada cemprengnya.
"Heh,bocah,kau tidak usah teriak! bisakan?" cibir Yura,hampir saja gendang telinganya pecah gara-gara orang disebrang telepon itu.
Untung saja Xia sengaja menaruh ponselnya sebelum menjawab panggilan dimeja,tentu saja qdengan alasan agar telinganya aman.
Dikarnakan orang disebrang telepon sangat suka berteriak,membuat telinga rusak!.
Orang disebrang sana yang Yura panggil bocah,menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal,"Aku tidak bicara dengan mu,diam deh!"
"Heh bocah,siapa juga yang ingin bicara dengan mu?,tidak ada!"balas Yura kesal.
"Dia berbohong!,baru saja dia bilang sangat merindukanmu El"ujar Xia membuat ulah.
"Enak saja!,tidak ya!,aku tidak pernah mengatakan itu"Yura menatap Xia tidak terima.
" Sudahlah ka!,walau kau tidak mengatakannya aku sudah tau,kau sangat merindukan ku"ujar orang yang Xia panggil El,setengah menggoda.
"Aku ini gadis yang mudah dirindukan"sambungnya sebari terkekeh,Xia disebrang teleponpun ikut terkekeh.
__ADS_1
Dia berhasil membuat Yura kesal,lihat saja wajahnya sudah melemparkan permusuhan.
"Ck,jangan kepedean bocah!,ada apa kau menelepon?,hah!"pekik Yura mengalihkan pembicaraan,sudahlah ia lebih baik mengalah jika sudah disudutkan kedua gadis menyebalkan itu.
"Aku bukan kepedean kak!,aku membeberkan fakta,agar kau sadar,bahwa kau tidak bisa hidup tanpa aku"jawab El sebari terkekeh,ia akan terus menggoda dan membuat kakaknya itu kesal.
"Ck,keluarga mafia satu ini,menjadikan kesombongan dan kepercayaan diri jalan hidup mereka"dengus kesal Yura.
"Bukan jalan,tapi kehidupan"ujar Xia "kita akan hidup dalam dua hal yang kau sebutkan tadi"
"Betul,aku diajarkan seperti itu sejak lahir,lihatlah sikapku membuat kakak Xia mengakui kita"jawab Ell senang.
"Huh,baiklah kau menang aku kalah,jadi langsung keinti saja"ujar Yura jengan dengan pendebatan yang kini selalu membuat dirinya kalah.
Tentu saja ia ingat,bahwa sejak kembali bertemu lima tahun lalu,Xia sangatlah dingin,dia tidak akan mengeluarkan suaranya bahkan saat ditanya sekalipun,kecuali oleh sang kakak.
Dia juga sangat menjaga jarak dengan semua orang kecuali satu pria,yaitu salah satu yang tadi disebut kakak.
Xia tidak menyukai semua orang disana,ia memilih sendiri,tidak disebut sendiri juga karna ia mempercayai kakaknya yang selama ini hidup dengannya.
Ken kakak yang selama ini hidup bersamanya,hanya dia dan seseorang yang kini sudah tiada bersama kenangan.
Yang pertama membuat suara gadis itu keluar adalah El,Elina Galfierd gadis yang kini berusia lima belas tahun.
Saat itu usia gadis kecil itu berusia sepuluh tahun,gadis kecil itu sakit dan terus menangis,karna kembalinya berkumpul keluarga yang sudah lama terpisah,semua kerabat menginap di kediaman keluarga itu.
Saat Elina tidak berhenti menangis,suhu badannyapun sangat tinggi,ia diperiksa dokter namun tidak ada perubahan,sampai Xia melempar dokter itu keluar.
Keluar dari kediaman yang mengaku sebagai keluarganya,entahlah dulu ia tidak mempercayainya.
Semua orang menatap heran pada dirinya dan juga dokter yang ia lempar dari kamar,ada pertanyaan yang ingin mereka tanyakan,namun mereka menahannya.
Xia kembali kedalam setelah melempar pria yang disebut dokter tadi,dan pertama kalinya juga ia memperlihatkan senyuman indah dibibirnya.
Seperti anugrah bagi keluarga itu,saat itu.
Tidak berhenti disana,Xia juga pertama kalinya mengeluarkan suara miliknya yang begitu mahal,untuk gadis kecil sepuluh tahun yang berbaring diranjang kingsize dengan tubuh yang tiba-tiba membiru.
Ibu dari anak itu sudah menangis melihat perubahan yang sangat cepat,gadis yang terbaring itu membiru saat Xia kembali dari balkon.
"Kau akan sembuh gadis kecil"ujar Xia membuat semua atensi menatapnya.
Mereka seperti melihat oasis di padang pasir,ada perasaan takut,sedih,pasrah,dan juga senang yang bercampur dengan kepanikan.
Sejak saat itu semua orang sangat memanjakan gadis bernama elina yang kini berumur lima belas tahun itu,walaupun sebelum kejadian itu ia memang sudah dimanja.
Mereka juga mendekati Xia menggunakan gadis kecil itu,begitu pula Yura, yang kini seperti sudah dilem dengan tubuh xia.
Kalo kata elina si,dimana ada kak Xia disitu kak Yura berada,keputusan mutlak.
Kembali ke situasi telepon yang tengah dilakukan kedua gadis itu,ups magsudnya tiga.
"Aku ingin berlibur di negara Indonesia seperti kalian!,aku boleh menyusul ya?"lirih gadis itu dengan nada memohon.
'Tidak!"jawab Xia tegas mebuat yura tersenyum,sedangkan Elina gadis kecil itu mengkerucutkan bibirnya.
Yura tersenyum,karna ia mendapat ide untuk mengejek gadis disebrang telepon.
Keluarga mafia satu itu seperti tom end jerry selalu bertengkar,namun juga selalu saling membantu jika ada yang mengusik salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Kakak,aku mohon boleh ya"rengek Elina.
"Tidak el"jawab Xia kini dengan nada lembut.
"Is"kesal Elina langsung mengkerucutkan bibirnya,ia tahu dengan jelas membujuk kakak Xianya itu sangatlah sulit,ia lebih baik disuruh membujuk Yura atau yang lain,kecuali gadis bernama Xlara Zadrianka Kay itu.
"Hhhhh kacian,kau tau kami disini bersenang-senang loh"ujar Yura tersenyum dengan nada meledek.
"Kakak itu tidak adil,aku juga ingin berlibur kesana"rengek Elina.
"El dengarkan kakak!,kami kesini bukan berlibur,kau tidak bisa menemui kami,,jika el ingin berlibur bisa saja,tapi nanti saat libur sekolah bersama bibib atau paman"ujar Xia memberi pengertian agar Elina tidak merengek terus dan ngambek.
"Aku hanya ingin bertemu kakak,aku merindukan kakak,aku ingin jalan-jalan bersama kakak"lirih Elina membuat Xia dan Yura merasa bersalah.
Yura yakin sebentar lagi elina disebrang telepon akan segera menangis,"Heh,gadis bocil,jangan seperti itu dong,akukan jadi sedih,begini saja setelah pekerjaan kami selesai,kami akan mengajakmu berlibur ke negara mana pun yang kau mau,bagaimana?"ujar Yura.
Hening,tidak ada jawaban membuat 6ura dan Xia saling pandang,mereka jadi khawatir dengan gadis manja disebrang sana.
"El,elina kau masih di sana? " tanya Yura memastikan,takut-takut gadis kecil itu melakukan hal di luar logika,lagi!.
"El"kini Xia yang memanggil gadis itu.
Iya kak,maaf aku tadi sedang berpikir"jawab gadis itu sebari cengegesan walau tidak bisa Yura dan Xia lihat,namun berhasil membuat Yura mendengus kesal.
"Kau bisa berpikir juga ternyata"cibir Yura membuat elina kembali kesal.
"Bedebah,kakak pikir aku tidak punya otak"teriak Elina tidak terima.
"Siapa yang mengajarimu,Kata-kata kasar seperti itu"tanya Xia dingin,membuat Yura mengelengkan kepalanya dan Elina sudah meringis.
Keduanya tahu Xia kini sedang menahan marah.
"Hehe,maaf kak,aku mendengarnya di siaran TV kemarin"jawab Elina jujur.
"Jangan menonton TV lagi selama seminggu"ujar Xia masih dengan nada dingin.
"Baik kak"jawab Ellina lirih.
Gadis kecil itu sangatlah mereka jaga,dari sikap,tata krama,gaya dan juga bahasa.
Dan gadis itu hanya menuruti yang Xia katakan setelah kedua orang tuanya.
Gadis kecil itu menganggap Xia sebagai kakak kandungnya,juga sahabat baginya,dan juga dirinya lah pengganggu untuk gadis dingin itu juga sejak bertemu.
Elina tidak merahasiakan apapun jika terhadap Xia,dengan senang hati ia berbagi.
Tiba-tiba suara ketukan terdengar dibalik pintu,membuat atensi kedua gadis itu menoleh sekedar melihat siapa yang datang.
"Masuk! "Ujar Yura langsung dituruti orang yang tadi mengetuk pintu.
Seorang pria berdiri tegap,kini mencondongkan tubuhnya sedikit,untuk membungkuk,"Maaf nona kalian dipanggil tuan untuk makan"
"Kami akan turun"jawab Yura.
"saya permisi nona"pamit pria itu setelah mengerjakan tugas dari tuannya.
"Hmm"
"El,kakak tutup dulu teleponnya,nanti malam kakak telepon el,oke"ujar Xia melembut lagi.
__ADS_1
"Ya sudah,aku menunggu panggilan kakak"