MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Seperti ceker ayam


__ADS_3

Ketiga gadis itu keluar dari ruang kepala sekolah setelah acara yang membuat Yura senang.


Kini bukan hanya Yura yang senang tapi Bala juga,ia senang saat dibela.


Apalagi dirinya sudah diakui kedua wanita itu.


Ini pertama kalinya dia diperlakukan seperti itu setelah kedua orang tuanya meninggal,dulu dia sangat dikagumi bahkan tidak ada yang berani menggangu nya,namun setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan,semua berubah.


Bahkan adik dari ayahnya yang selalu mengaguminya kini selalu menghinanya,semua terjungkal terbalik setelah orang taunya meninggal.


Dia juga ditinggalkan oleh orang yang selama ini bergaul dengannya,namun karna dia adalah gadis yang hebat,gadis itu tidak mengeluh dan menyerah ia menjalani kehidupannya  semau dia,jika ada yang menganggunya maka ia akan membalasnya seperti biasa.


Ia tidak takut kehilangan apapun,karna apa yang ia miliki sudah pergi bersama kecelakaan yang merengkut kedua orang tuanya.


Orang tuanya adalah salah satu pengusaha terkenal di negara ini jadi ia tidak takut untuk masalah uang,walau semua hartanya dikuasai sang paman,adik dari ayahnya.


Namun ia bukan gadis bodoh,ia akan mengambil yang seharusnya menjadi hak nya suatu hari nanti.


Untuk sekarang ia hanya bingung harus mulai dari mana jadi ia hanya mengikuti alur takdir membawanya,sampai akhirnya bertemu kedua gadis bernama yura dan Xia.


Saat melihat mereka ia merasa kenyamanan dan kedamaian sama seperti yang ia rasakan dulu saat orang tuanya masih ada.


Bala menjadi semakin percaya diri setelah bertemu kedua gadis itu.


"Kak,aku tau tempat yang bagus untuk kita datangi sekarang"ujar Bala menatap Xia dan Yura bergantian.


"Gadis bodoh,kau harus berterima kasih dulu kepada kami,kau tidak menghargai usaha kami tadi"ujar Yura sebari menoyor kepala gadis itu.


Bala tersenyum menunjukan deretan giginya yang masih kosong satu bagian membuat gadis itu menjadi menggemaskan.


"Aku lupa saking senangnya,terima kasih kakak-kakakku yang cantik,aku akan mengajak kalian ketempat yang menyenangkan sebagai tanda terimakasih"jawab Bala membuat Yura merangkul pundak gadis itu.


Mereka terus menjadi sorotan setiap penghuni sekolah,mungkin jika ada kesempatan mereka akan mendekat jika tidak takut dengan pria-pria di belakang mereka.


"Tunggu!"teriakan bariton terdengar dari arah belakang mereka.


Atensi yang tadinya menatap arah ketiga gadis tadi kini teralihkan kearah suara itu.


"Kecoak kembali berulah"guman Yura setelah mereka menghentikan langkah mereka namun tidak ada niatan untuk berbalik dan melihat siapa yang berteriak.


Pria yang berteriak tadi berjalan mendekat namun langkahnya terhenti saat dua pria menghadang jalannya,membuat pria yang tengah marah itu semakin marah.


"Minggir kalian!"teriaknya didepan kedua pengawal milik kedua gadis itu.


Pria itu sudah terlanjur marah,ia sudah tidak memedulikan sekitar bahkan jika sadar mungkin pria itu tidak akan mencari masalah dengan para pengawal,namun karna kemarahannya itu membuat pria paruh baya tadi semakin berani.


Ia tidak takut apalagi ia memiliki kekuasaan.


"Saya tidak memiliki urusan dengan kalian jadi minggir!" teriak pria itu lagi,karna kedua pria yang menghadang jalannya masih tetap diam.


"Minggir!"ujar Xia dingin membuat semua pengawal menatapnya,seperkian detik kedua pengawal yang menghadang pria paruh baya itu membuka ruang.

__ADS_1


Namun para pengawal tidak menurunkan kewaspadaan mereka,suasana menjadi membeku,aura mencekam begitu terasa,bahkan  banyak yang menyaksikan sampai bergidig dan mengusap tangan mereka.


"Kau gadis sialan!"kesal pria itu menghampiri bala dan hendak melayangkan tamparan pada gadis itu.


Saat tangan pria itu melayang hendak mendarat di pipi mulus milik Bala,gadis itu menutup mata namun ia tidak merasakan apapun hingga akhirnya gadis itu membuka mata.


Pemandangan yang pertama ia lihat adalah tangan pria paruh baya itu sedang dicekal tangan kekar lainnya.


Bala menatap Gama yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya,tempat yang Xia tempati tadi,tangan itu adalah tangan Gama.


Bala terus menatap wajah Gama dengan tatapan haru,ini juga pertama kalinya ada yang berani menolongnya dari perlakuan pria paruh baya di depannya,mata gadis itu tiba-tiba berkaca-kaca.


"Lepaskan sial*n!"umpat pria baruh baya itu,ia semakin kesal saat ada yang menahan tangannya untuk menampar gadis sialan itu.


Gama bukannya melepaskan ia semakin mengencangkan pegangan pada tangan pria paruh baya itu dengan tatapan dingin.


"Argghhh "pria paruh baya itu meringis saat tanganya semakin ditekan gama.


"Lepaskan bodoh!,kau tidak tau siapa aku?,kau akan menyesali hal ini,lepaskan tangan biadabmu dari tanganku bodoh! " pekik pria paruh baya itu membuat gama semakin menekan tanganya.


"Sa-sakit"cicit pria itu merasa kesakitan  bahkan tanganya berbunyi kretek beberapa detik lalu.


Semua yang menyaksikan kejadian itu meringis seolah merasakan betapa sakitnya tangan pria paruh baya itu saat dipatakan.


Masih tanpa ekpesi Gama benar-benar mematahkan pergelangan tangan pria paruh baya itu hanya dengan menekan saja.


"Papah"teriak dua wanita dari belakang mereka, namun saat hendak mendekati pria yang mereka panggil papah mereka dihadang dua pengawal kedua gadis itu seperti pria tadi.


"Hei minggir kalian!"pekik wanita paruh baya yang tadi berteriak.


"Minggir,kami akan membayar kalian dua kali lipat dari yang mereka bayar"sambungnya masih dengan menyombongkan diri,menatap tajam kearah ketiga gadis didepan yang dijaga ketat.


Kedua pengawal sama sekali tidak bergeming bahkan berekpresi saja tidak,membuat kedua wanita itu geram,keduanya mendorong kedua pria bertubuh sangar dan kekar itu agar mereka pergi dari jalan yang ingin mereka lewati.


Namun bagi kedua pengawal dorongan itu tidak ada apa-apa nya,bahkan keduanya sama sekali tidak bergerak dari tempat mereka sama sekali.


Mereka tidak menyerah terus mendorong sebari mengumpat dan menyombongkan diri.


Kembali kearah pria paruh baya yang baru saja dipatakan tanganya oleh Gama,pria itu terus meminta dilepaskan sebari masih sempat menyombongkan diri.


Gama ingin sekali membunuh pria tersebut,ia menatap Yura meminta persetujuan,bagaimanapun ia harus meminta persetujuan nonanya.


Yang ditatap menggelengkan kepalanya,walau ia juga merasa ingin membunuh pria tersebut namun tempatnya tidak sesuai.


"Lepaskan! "titah Xia dengan dingin.


Gama menatap Xia sebari mengangguk,barulah ia melepaskan pria itu dengan sedikit dorongan.


Sedikit dorongan itu membuat pria baruh baya tadi terjungkal,dan jatuh dilantai,membuat kedua wanita yang masih dihadang dua pengawal berteriak.


"Beraninya kalian!,kalian tidak tahu siapa kami,kalian akan menyesal,terutama kau Balaya gadis sialan"

__ADS_1


"Bala kau akan mendapat pelajaran sampai kau memilih mati"


Bala yang disebut namanya menatap gadis yang baru berteriak dari arah belakang.


"Aku?"tanya gadis itu sebari menunjuk dirinya "Kau memangnya guru ya,sampai ingin mengajariku" ujarnya membuat Yura terkekeh.


"Bukannya sebaliknya kau yang harus aku ajari,akukan lebih pintar darimu"sambung gadis itu,membuat Xia menyusap puncak kepala Bala dari belakang.


Mendapat perlakuan seperti itu membuat bala terkesiap dan menatap Xia dengan tatapan sendu.


"Mereka akan mendapat pelajaran itu"ujar Xia sebari tersenyum manis membuat Bala lagi-lagi terdiam.


"Ayo pulang!"ajak Xia sebari menarik tangan Bala yang malah terdiam dengan pikirannya.


Saat melewati pria yang kini terduduk dilantai merasakan tanganya yang amat sangat sakit karna dipatahkan,Xia menginjak kaki pria itu membuatnya berteriak kesakitan.


"Ups aku sengaja"ujar Xia sebari menatap pria itu dengan wajah datar nya.


Bala lagi-lagi tertegun dengan tingkah gadis dingin itu.


Kini giliran Yura gadis itu mencondongkan diri didepan pria paruh baya tadi,menatapnya dengan remeh lalu kembali berdiri dengan pandangan kedepan.


"Jangan terlalu percaya diri,apa yang kau miliki sekarang bukan milikmu,dan akan segera kembali ke tangan pemilik yang asliny"ujarnya sebari tersenyum lalu menatap kebelakang kearah dua wanita yang masih ditahan di tempat mereka.


"Kalian akan menyesal telah melakukan ini kepada saya"pekik pria itu namun Yura tidak menanggapinya.


"Berikan didikan yang baik,maka kau tidak akan menyesal,ups terlambat kau sebentar lagi kehilangan segalanya,jadi nikmati apa yang ada saja okay"


"Mmm"yura terlihat sedang berpikir,"Tidak nyaman bukan?,jika tanganmu yang itu patah?"tanyanya sebari menunjuk tangan pria itu yang patah.


"Patahkan tangan satunya lagi!,sekalian kedua tangan istri dan putrinya yang seperti ceker ayam itu,membuatku jijik saja" ujar Yura membuat suasana semakin mencekam, ia melanjutkan langkahnya menyusul Xia dan Bala yang mungkin sudah dimobil dengan beberapa pengawal.


Menyisakan dua pengawal yang akan melakukan perintah Yura.


Seketika suasana menjadi bising dengan berontakan kedua wanita yang Yura minta tanganya dipatahkan,bahkan pria paruh baya yang sebelah tangannya sudah patah juga ikut memberontak agar sebelah tangannya lagi tidak dipatahkan.


Orang-orang yang menonton langsung berlarian dan mengosongkan koridor karna takut terkena imbas,bahkan para guru tidak ada niatan membantu mereka juga takut terkena imbas walau tidak mengenal orang-orang itu.


Mereka memilih hanya diam dan menonton,hingga akhirnya suara retakan dan teriakan terdengar bersamaan.


Ketiga kedua tangan wanita itu dipatahkan sekaligus sebelah tangan pria paruh baya itu juga ikut dipatahkan.


Setelah mematahkan tangan mereka para pengawal menyusul nona-nona yang mereka jaga.


Mereka hanya bisa menangis sebari mengumpat dan masih menyombongkan diri,pria paruh baya itu tidak bisa menolong istri dan putrinya dirinya sendiri butuh pertolongan.


Ia meminta guru membawa mereka kerumah sakit dengan teriakan bahkan umpatan keluar dari mulutnya untuk guru itu.


Guru itu enggan menolong saat mendengar umpatan untuk dirinya namun ia tidak tega,dan akhirnya menelepon ambulance untuk membawa mereka kerumah sakit.


Entahlah guru itu merasa berterima kasih ulah kedua wanita yang tidak ia kenal itu,sikap orang-orang yang mereka patahkan tangannya memang pantas mendapatkan perlakuan  seperti itu,namun ia juga merasa tidak tega.

__ADS_1


Guru itu sangat mengenal ketiga orang yang selalu menyombongkan harta itu,hingga permasalahan apapun akan diselesaikan dengan ancaman dan kekuasaan orang itu.


Guru tidak mendukung mereka sangat muak dengan kelakuan  orang itu,namun siapalah mereka yang tidak mempunyai kekuasaan,hanya bisa diam.


__ADS_2