
Suara tepuk tangan menggema didekat podium hari ini dua perusahaan tengah menandatangani kontrak kerja sama diruangan yang mereka sewa disalah satu ruangan dimall ternama dinegara ini.
Setelah beberapa acara akhirnya ditutup dengan pemotretan,orang-orang bersangkutan mulai berbaris di podium untuk dipotret.
Tanpa disadari siapapun sesuatu diatas kepala mereka terjatuh mengeluarkan cairan berwarna membasahi tubuh mereka,tidak semua hanya ada lima orang yang terkena cairan itu.
Cairan itu tidak cair bahkan terkesan kental dan menempel pada tubuh, cairan terkahir yang tumpah berwarna merah kini tidak kentak maupun cair dan mengeluarkan bau anyir sangat menyeruak.
Disana suasana menjadi senyap dan menegangkan,mereka tidak menyangka akan ada serangan menjijikkan seperti ini hingga suara tepuk tangan dari atas memecahkan keheningan namun semakin menengangkan.
Diatas sana enam manusia berjenis kelamin berbeda berdiri dengan angkuh,mereka menikmati pertunjukan sebari memakan popcorn layaknya menonton film.
"Huuu kalian hebat sekali,disaat orang lain ingin mandi bunga mawar kalian malah mandi slam dan darah,,hebat sekali" seru Yura diatas sana sebari bertepuk tangan senang seolah ia memang merasa kagum dengan apa yang terjadi.
Tatapan dibawah sana langsung menyorot keatas.
"Kak aku takut" rengek Cean yang ikutan menonton dari atas sana.
"Lemah hanya akan membuatmu mati lebih cepat" ujar Xia singkat lalu berbalik untuk meninggalkan tempat itu setelah melemparkan senyum manis pada seseorang yang ia kenali dibawah sana.
Hanya tau sebenarnya bukan kenal.
Afra mengikuti langkah gadisnya tanpa peduli pada sekitar,rayma yang juga ikut merangkul Cean untuk membawa gadis itu pergi dari sana sedangkan ML mengekori mereka disusul Yura setelah mengedipkan sebelah matanya menggoda Mona yang wajahnya normal layaknya sayatan itu hanya benar-benar mimpi.
Setelah keluar dari ruangan itu yura trus memikirkan wajah Mona yang utuh seperti semula layaknya kejadian tengah malam tadi tidak terjadi,jelas-jelas dirinya menyayat kulit wajah Mona diakhiri sayatan Xia,lantas kemana luka-luka itu.
Operasi plastik?
Tidak mungkin,butuh waktu yang lama jikapun melakukan operasi plastik tidak mungkin akan kembali untuk dalam beberapa jam kecuali Mona memiliki ilmu Hitam tapi novel ini bukan novel fantasi.
Novel ini murni dibuat bergenre mafia!.
Belum lagi butuh waktu untuk penyembuhan dan juga tidak mungkin bisa suutuh itu,ini membingungkan.
"Aku akan ke toilet kalian duluan saja" ujar Xia sebari mengubar rute arah kakinya diikuti Afra.
"Aku akan menemani"
"Aku bukan bayi"tolak Xia.
"Kamu bayi nakal yang akan pergi jika lepas dari pengawasan sayang"
Xia berdecih,"Aku hanya mengurus urusan wanita !"
"Aku hanya akan menonton tenang saja" kekehnya untuk ikut,sejak semalam Afra tidak melepaskan satu detik pun lengah dalam mengawasi gadisnya ini,ada hal yang ia temukan dan mengharuskan ia berjaga-jaga,seumpama sedia payung sebelum hujan.
"Ck dia tidak akan datang jika melihat mu!"
"Baiklah aku akan menunggu dimobil,aku harap kamu tidak melarikan diri!"pasrahnya Afra penuh penekanan dari suara lembut yang dia keluarkan.
"Aku bukan tawanan,hanya saja saat aku akan pergi kamu hanya bisa melambaikan tangan"jawab Xia sebari melanjutkan langkahnya sedangkan Afra bergeming ditempatnya.
Setelah punggung Xia tidak terlihat pria itu menghela nafas berat," Tidak akan aku biarkan!"gumannya lalu mengubar arah untuk kembali ketujuan awal yaitu restoran untuk mereka sarapan pagi ini.
Karna ingin menonton film komedi mereka melewatkan sarapan tapi tidak buruk,filmnya tidak terlalu buruk namun juga tidak bagus,lumayan!.
Xia berjalan santai menuju toilet setelah didalam ia langsung mencuci tangannya dengan tatapan menatap dirinya dipantulan cermin,"Hanya lima menit waktu yang aku punya,cepat selesaikan!"ujarnya entah pada siapa sebab toilet sedang kosong.
Suara kekehan terdengar dari toilet yang hanya berisi Xia namun bukan gadis itu yang terkekeh,bukan juga hantu sebab novel ini bergenre mafia bukan horor dan tidak ada niatan berganti gendre.
"Padahal aku ingin bersenang-senang lebih lama"suara itu terdengar tak jauh dari Xia berdiri.
__ADS_1
Xia hanya memutar matanya malas menatap Yura yang sejak tadi mengikutinya,"KAmu yang selesaikan atau aku?"
"Tentu saja aku,aku kan ingin bermain sebelum pulang,,,"serunya dengan ruang"Ah iya bagaimana wajah gadis itu kembali seperti semua,,,padahal kita sudah melukisnya dengan indah" tambahnya heran.
"Kakek" jawabnya singkat.
Jawaban singkat itu dimengerti yura tapi masih saja tidak mengurangi rasa ingin taunya,semua pertanyaan tidak terjawab dengan satu jawaban,"Kakek Wiz,,,apa yang dia lakukan sampai wajahnya kembali seperti semula?,,apa kakek menggunakan ilmu sihir ,,,sejenis ilmu Hitam begitu "sautnya terkesan menggebu.
Xia berdecak gadis yang kini berdiri disampingnya ini terlalu mengada-ngada atau terbawa nyonya Cha sampai bepikir kearah magic.
"Racun manfy begitu kakek menamainya" jawab Xia sebari meminta tisu menggunakan lirikan mata.
Yura mengambilkan tisu untuk Xia mengeringkan tangannya,"Racun manfy"gumannya terdiam.
Melihat Yura yang tidak menemukan nama racun manfy di ingatannya membuat Xia memutar matanya malas,gadis itu tidak tau dan berakhir akan bertanya karna Yura tidak akan diam jika dikepalanya memiliki pertanyaan yang belum terjawab.
"Racun manipulatif,,racun itu bisa menyembuhkan semua penyakit luar,atau dalam,singkatnya racun itu memiliki keampuhan menyembuhkan pada peminumnya dalam kurun waktu lima belas menit" ujar Xia dari pada menunggu Yura berpikir yang akan berujung kembali bertanya lebih baik memberitahu saja,toh menghemat waktu.
Yura mengangguk paham tapi halisnya dia naikan sebelah dengan raut heran,"Jika bisa menyembuhkan penyakit lantas kenapa kamu tidak meminumnya Xia?,,,"tanyanya bingung.
Jika bisa menyembuhkan luka apapun itu lantas kenapa Xia tidak meminumnya?,cukup memudahkan mereka bukan?,mereka juga tidak perlu khwatir lagi tentang kondisi Xia yang semakin menurun karena racun ditubuhnya,sedetik saja berharga untuk mereka.
Xia menghela nafas,"Semua racun memiliki efek samping begitupun itu,siapapun yang meminumnya memang akan sembuh bahkan seolah tidak pernah sakit tapi setiap malam orang itu akan merasakan panas yang begitu hebat sampai tubuh mereka menghitam dan saat pagi tubuh mereka akan kembali seperti semula dan terus seperti itu sampai ajal menjemput"
"Mengerikan sekali pantas saja kakek tidak memberikannya padamu,dan malah berbaik hati pada saingan cintamu itu" saut Yura bergidig mendengar efek samping racun yang dibuat kakek wiz.
"Tidak ada pertanyaan lagi?" tanya Xia malas.
"Ada" Yura menjeda ucapannya untuk menghela nafas seolah pertanyaan yang ingin ia tanyakan adalah sebuah beban berat,"Apakah mereka akan segera tau siapa kak Anna? "
"Ya" jawabnya singkat sebari menatap lekat Yura.
"Kapan?"Xia tidak menjawab hanya mengedikan bahu saja.
"Terserah kak Anna,,,bagaimana dengan mu?" ujar Xia.
"Hah aku?"Yura menunjuk dirinya sendiri dengan canggung," Aku kenapa memangnya?"ujarnya bergerak canggung.
"Jangan membohongi diri,kamu masih punya kesempatan,,pikirkan baik-baik agar kamu tidak menyesal,keputusan mu yang menentukan kamu akan bertemu dengannya kembali atau tidak" ujar Xia sebari menepuk bahu Yura dengan lirih dan senyuman tipis.
"Berapa hari kita disini?" Yura malah mengalihkan pembicaraan.
Xia tau Yura bermaksud mengalihkan alur pembicaraan tapi ia tidak keberatan,Yura akan selalu seperti itu jika ragu dalam menjawab,"Bisa jadi besok hari terakhir,aku tidak tau kapan akan terbaring"jawabnya enteng sebari berjalan lebih dulu meninggalkan Yura yang bergeming.
"Jangan katakan hal seperti itu b*doh"pekik Yura kesal tidak senang dengan kata 'terbaring'yang Xia magsud.
Xia tidak menanggapi gadis itu melanjutkan langkahnya hingga membuka pintu toilet namun karna dorongan dari luar Xia kembali masuk kedalam toilet.
Xia didorong dengan kasar,orang yang mendorongnya menatap nyalang penuh amarah juga kebencian.
"bedeb*h!"umpat nya.
Xia hanya mengedip lucu seolah tidak tau apa-apa,bahkan berperan seperti gadis polos yang akan dianiaya.
"Akan aku bunuh kalian!" ancam Mona sebari mencekik wajah Xia dan tatapannya beralih pada Yura yang malah bersedekap didapan dada bukannya membantu melepas tangan mona dari leher Xia.
Xia sendiri hanya menunjukan raut wajah polos tanpa kesakitan sama sekali padahal lehernya dicengkeram lumayan kencang,dan itu semua membuat mona semakin marah dan menambah tekanan ditangannya saat mencekik Xia.
Mona penuh kebencian sebelum bahkan sesudah kejadian merusak wajahnya ia semakin membenci gadis yang sedang ia cekik ini.
Semakin lama Xia tidak bisa merasakan udara masuk kedalam rongga pernapasannya hingga ia memegangi tangan Mona untuk melepas dari lehernya,melihat itu mona merasa menang dan semakin menekan leher Xia.
__ADS_1
Yura yang melihat itu mengeram kesal tapi kali ini ia tidak berhak ikut campur,,tapi ayolah tangannya gatal ingin kembali mencabik wajah Mona sekali lagi sekiranya sebelum mereka kembali ke negara asal mereka.
Senyum kemenangan hanya bertahan beberapa detik sebelum tangan Xia berambat pada leher mona dan mengikuti gerakan Mona dilehernya,mereka saling mencekik,jika Xia yang kembali mengubah raut wajahnya mendingin maka mona tidak tahan lagi.
Lehernya sakit
Saking sakitnya Mona merasa tidak punya tenaga lagi untuk sekedar menahan tubuh atau mempertahankan tangannya di leher Xia,ia sudah tidak bisa bernapas,tangan mona terlepas dari leher Xia dan beralih memegang tangan Xia yang mencekiknya.
Mona mencoba melepas cengkraman Xia di lehernya dua kali lipat lebih kencang dari apa yang ia lakukan tadi,kenapa gadis yang empat tahun lebih dari darinya itu sangat kuat,kenapa?.
"Kau tau peribahasa senjata makan tuan,maka itulah dirimu" ujar Xia dingin.
Brukh
Xia melepas cengkraman di leher mona sampai gadis itu terjatuh dilantai dan terlihat seperti ikan yang mencari air didaratan,Yura terkekeh melihat itu,suasana hatinya tadi suram kini mendapat hiburan lumayan.
Xia berjongkok untuk menyetarakan tubuhnya dengan mona yang terduduk dilantai toilet yang cukup bersih,"Aku peringatkan jangan sampai tuan memakan senjata terlalu menyeramkan"guraunya dengan wajah datar.
Gurauan Xia sama sekali tidak lucu malah terkesan sedang menakuti,"Ck kau ini bergurau atau menakuti sih"gerutu Yura dibalas kedikan bahu.
"Gurauan" jawabnya sebari menegakan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya untuk pergi dari toilet.
Mona setelah merasakan udara kembali dalam rongga pernapasan gadis itu menatap tajam punggu Xia yang pergi meninggalkannya,hingga dirinya terpekik sakit.
Mona mengalihkan pandangannya kearah tangannya yang berada dibawah sepatu hak tinggi yang menginjaknya begitu tak berperasaan hingga cairan merah keluar dari tangannya,mona mendongkak yang ia lihat wajah Yura yang pura-pura terkejut.
"Astaga aku sengaja"ujarnya lalu menepuk pundak Mona,"Lain kali tempatkan tanganmu ditempat yang seharusnya oke jangan dilantai seperti ini jadi terinjak" sambungnya dan berlalu menyusul Xia yang sudah pergi.
"Kalian akan mendapat balasan yang lebih dari yang aku dapatkan!" teriak Mona menghentikan langkah Yura.
Yura tidak menoleh ia hanya mengedikan bahu,"Kami tunggu"ujarnya menantang.
Sesampainya di basement mobil Yura langsung naik mobil yang berisi,Rayma,pria kemayu yang dipanggil ML dan Cean.
Untuk Xia berada dimobil yang dikendarai afra sendiri sebab Azkara belum kembali dari tugasnya kemarin.
Xia menatap pria yang mengemudi mobil sejak mesin mobil dinyalakan,tau sedang diperhatikan tidak mengganggu konsentrasi mengemudi Afra,pria itu malah senang kapan lagi bisa dipedulikan gadis frozen itu..
Afra mengambil tangan dan mengecupnya sebelum ia genggam dan menaruhnya dipahanya lalu berkata dengan sombong,"Aku tau aku sangat tampan"
Xia mengangguk,"Benar"jawabnya membuat Afra terperangah.
Apa dirinya tidak salah dengar,Afra melirik Xia beberapa kali memastikan kalo yang duduk disampingnya memang gadisnya,beberapa kali itu memang Xia,dirinya tersenyum lebar ia kira tidak akan pernah mendengar pengakuan itu dari bibir manis gadisnya yang lebih banyak mengumpat dan berkata pedas jika berbicara padanya.
"Bisa kamu katakan dengan benar sayang"
"Kamu memang tampan" ujar Xia menuruti keinginan pria itu untuk kali ini saja sebelum ia pergi dan mungkin tidak akan pernah ditemukan kembali,kecuali.
Afra mengedip lucu kali ini pria itu terlihat seperti anak kecil yang tidak percaya baru saja dibelikan mainan yang ia idam-idamkan,namun tiba-tiba ia malah merasakan hal aneh.
Ia pernah membaca di sebuah buku yang sejak bertemu Xia ia baca berkali-kali jika pasangan berkata manis maka akan ada kejujuran menyakitkan yang akan diungkap,,seperti perpisahan atau perselingkuhan,tidak!.
Perselingkuhan tidak mungkin!,Xia tidak tertarik dengan pria manapun bahkan hubungan ini hanya dirinya yang mengklaim,,tidak butuh persetujuan Xia,hanya perlu Xia tau bahwa dirinya my mine seorang Maringgai Azonafra Amlias.
Itu artinya,,,,,,,
Afra mengerem mobilnya dadakan membuat Xia terhuyung untung saja tidak terbentur,"Kenapa?"tanya Xia bingung.
"Kamu akan pergi?,jawab tidak!" ujarnya penuh tekanan.
Tidak ada perubahan raut wajah pada Xia gadis itu hanya tersenyum tipis sebari tak lepas menatap Afra,pria yang akan segera hanya menjadi kenangan.
__ADS_1
"Ada pertemuan dan perpisahan dalam hidup kamu harus siap menerima keduanya,semua tidak abadi,jika tidak dipisahkan jarak maka dipisahkan maut,,SEMUA HANYA SINGGAH"