MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Kematian


__ADS_3

Dikamar suasana tegang tengah terjadi Xia berkutik dengan alat medis yang sengaja ia sediakan untuk berjaga-jaga dikamarnya,semua sudah tersedia walau tidak komplit seperti berada dirumah sakit!,namun Xia sudah mempersiapkan segala hal terburuknya sejak kemarin entahlah ia sudah memiliki firasat tentang ini.


Ditubuh Yura sudah terpasang alat pernapasan,suhu tubuhnya masih seperti tadi naik turun secara drastis,warna tubuh yura tidak lagi berubah-rubah seperti bunglon namun kini berubah menjadi sangat amat biru,kornea mata yura masih berwarna merah bahkan lebih pekat.


"Kau harus selamat!"cuman Xia lirih dengan terus melakukan pergerakannya menyelematkan Yura dari racun.


Xia adalah ahli racun namun seperti yang dikatakan tadi racun verme tidak memiliki penawar,penggunanya akan mati mengenaskan dalam waktu tiga puluh jam setelah mengalami penderitaan yang begitu sakit bahkan kematian akan lebih baik,namun jika belum tiga puluh jam bunuh diri pun tidak akan mempan pada tubuh yang terkena racun tersebut,hanya memperburuk keadaan saja.


Racun verme baru bisa bereaksi jika sisa waktu tingga tiga jam pada tubuh seseorang itu bisa hidup.


Racun ini ditemukan di Amerika oleh dokter yang dijuluki dokter gila,hanya ada beberapa saja setelah diketahui racun ini langsung dimusnahkan karna tidak memiliki penawarnya dan membahayakan,mereka takut racun itu akan berevolusi menjadi wabah suatu hari nanti,untuk mencegah hal paling terburuk mereka memusnahkan nya.


"Dari mana dia menemukannya?"guman Xia sebari menekan pergelangan tangan Yura untuk mengeluarkan darah Yura yang berubah dari merah ke biru dan kini berwarna ungu sebagian.


Pokus Xia pada lengan yura semakin dalam ia seperti melihat pergerakan disana,Xia mendekatkan wajahnya ketangan Yura agar lebih jelas.


Gadis itu mengeratkan rahang dengan gigi bergemelatuk,"Keterlaluan! " hardikanya.


Nafas Yura tersenggal dengan detak jantung yang mulai tak beraturan,Xia panik dalam tindakannya.


Tubuh Yura menjadi sedingin es,jemari gadisitu meremas tangan Xia yang sedang menyayat pergelangan tangannya.


"Ssst" ringisnya membuat Xia menatap gadis itu.


"Kau sadar,baguslah,pertahankan kesadaranmu,tahan sebentar lagi oke!" ujar Xia tegas tanpa menghentikan pergerakannya.


"Kau menyayat tangan ku Xia,aku tidak mau tau tidak boleh ada bekas disana!" ujar lirih Yura bahkan nyaris tidak terdengar.


Mata Yura kembali memejam,"Yura jangan terpejam atau aku akan membuat luka ditanganmu ini!"ancam Xia namun yura kembali terpejam dengan nafas semakin melemah.


"Tidak!,kau akan baik-baik saja!,kita pergi bersama dan kembali bersama!" ujar Xia sebari mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.


Sejak tadi ia tidak menangis karna memang sangat sulit baginya untunya menangis walau keadaan menyakitkan untuknya.


Satu jam berlalu Xia masih fokus dengan racun verme dalam tubuh yura dan mencoba mengeluarkannya lewat tangan walau itu mustahil!.


Tiba-tiba Xia merasa aneh dengan tubuhnya,ia memegangi dadanya yang terasa sakit!,jantungnya yang berdetak tiga kali lipat.


"Uhuk-uhuk" Xia terbatuk darah.


"Sial kenapa harus sekarang!"rutuknya


Brugh


Xia jatuh tak sadarkan diri tepat dibawah samping ranjang Yura yang juga terbaring lemah tak sadarkan diri.


Didetik kesadaran terakhirnya Xia berguman,"Kau harus selamat" lirihnya dan tak sadarkan diri lagi.


Satu jam kembali berlalu jika dihitung maka baru tiga jam sejak reaksi racun verme ditubuh Yura.


Deg-deg-deg


Tubuh Yura mengalami kejang-kejang sangat hebat,detak jantungnya tidak beraturan,tubuhnya memang sudah sedingin es sejak satu jam lalu,dan biru ditubuhnya juga semakin terlihat bersamaan dengan bibir yura yang memucat.


Tubuh Yura kembali tenang setelah dua menit mengalami kejang bersamaan dengan jantungnya yang tidak lagi berdetak.


Deg


Azkara yang sedang melawan beberapa orang merasa tercekat saat hatinya merasakan kesuatu yang menyakitkan padahal ia tidak mendapatkan luka yang sangat parah!.


Kelengahan pria itu dimanfaatkan musuh untuk menusuk arah jantung azkara.


Srett

__ADS_1


Azkara tersadar ketika mendengar jeritan kesakitan,ia melirik kesamping dimana Anna sedang melawan musuh mereka setelah gadis itu menebas tangan musuh yang berniat menusuk Azkara.


"Jangan melamun jika tidak mau mati!" tegur nya.


"Maaf" ujar Azkara kembali bertarung melawan musuh tepan didepan kamar Xia.


Entah sudah berapa puluh daging yang dipisahkan dari tubuhnya oleh Anna,dari kepala,tangan kaki ataupun perut sudah gadis itu tebas tidak mengenal ampun untuk musuh.


Azkara saja di buat bergidik,walau sudah biasa bertarung begini tapi ini pertama kalinya melihat keganasan seorang wanita dalam bermain katana!


Di lantai satu suasana semakin mencekam setelah Afra membunuh pria berambut pirang dengan sadis,pria itu tidak puas jika orang yang memanggil gadisnya sepupu itu mati!.


Afra trus mengarah pria penyamar kakek tua yang sudah meracuni yura sialnya mereka baru mengetahuinya,namun setiap ingin menyerangnya pasti saja ada yang menghalangi membuat Afra semakin geram.


Tanpa diketahui siapapun sekitar dua puluh orang penjaga bayangan milik Xia dan yura mengawasi sekitar,bukan hanya mengawasi tapi juga membantu mereka melumpuhkan beberapa sniper dari pihak musuh yang menyerang dengan cara licik.


Gama memegang tiga benda bulat seukuran bola tenis,benda yang pernah ia pakai saat rencana penculikan nonanya sendiri waktu itu.


Melihat Afra hampir menggapai tubuh pria yang menyamar menjadi kakek tua,seketika gama melempar benda bulat ditangannya hingga masuk kedalam rumah.


Afra melihat siluet benda yang seolah terbang langsung terbelalak,ia ingat benda itu,benda yang hampir membuatnya kehilangan jejak gadisnya,benda yang bisa membuatnya tak sadarkan diri.


"Tahan nafas kalian,jangan biarkan mereka kabur!" teriaknya.


Ingin membuang benda itupun percuma sebab saat mendarat dilantai,benda bulat itu seketika terbuka dengan tiga bagian selang utama menyebarkan asap walau tak tebal tapi cukup beresiko.


Walaupun benda itu kecil tapi kinerjanya sangat besar tiga benda seperti itu bisa membuat dua ratus orang tak sadarkan diri dalam jangka waktu tiga sampai lima jam.


Kesempatan itu tidak disia-siakan Gerald untuk pergi,ia akan kembali menyerang sepupunya itu lain kali!.


Jika hari ini kalah maka ia akan mencobanya sampai keluarga sepupunya itu habis tak tersisa!.


Gerald mengomando anak buahnya untuk pergi namun afra tidak akan membiarkan itu hingga pertarungan kembali terjadi.


"Hanya nona yang bisa membunuhnya!,pasang suara ledakan dari lantai dua setidaknya itu bisa membuat tuan muda amlias teralihkan dan menjadi kesempatan untuk tuan Gerald pergi" ujar Gama dengan nada dinginnya


"Baik" jawabnya.


"Nona semoga kalian baik-baik saja"gumam Gama sebari menerawang kedepan,ia sangat menghawatirkan dua nonanya itu,sampai saat ini belum ada kabar tentang mereka,apalagi mendengar racun cacing bie berada ditubuh nonanya yura.


Tapi mengingat tentang racun Gama yakin pada Xia,nona mudanya itu ahli racun seperti kakeknya,ia yakin Xia tidak akan membiarkan Yura celaka.


Duarrrr


Suara ledakan dari lantai dua terdengar begitu nyaring membuat afra merasa dejavu,pria itu menatap kelantai dua dan segera berlari kesana tanpa memperdulikan musuh yang memanfaatkan situasi,yang ada dalam pikirannya hanyalah gadisnya saja.


Rayma menyusul Afra kelantai dua dengan bantuan para pengawal untuk melewati pertarungan.


Sesampainya di lantai atas ia melihat Azkara dan Anna baru menyelesaikan pertarungan mereka dengan musuh,banyak darah berceceran sebagian anggota tubuh musuh juga ikut berceceran,melihat itu Rayma menahan muntah.


Sebagian tubuh musuh sudah tidak utuh dengan bagian tubuh yang terpisah dari bagian kepala,kaki,tangan ada juga perut yang terbelah,mereka menatap gadis pemegang katana dengan tatapan rumit.


Pastilah gadis itu yang melakukannya jika Azkara pria itu tidak sesadis itu!.


"Dimana Xia? " tanya Afra dengan napas menggebu.


"Didalam tuan" jawab Azkara mengatur napasnya yang masih tersenggal efek dari pertarungan.


Afra langsung berjalan kearah pintu di sana ada dua pintu,sama kamar Xia dan di sampingnya adalah kamar yang dipakai Yura selama tinggal disini,pria itu membuka hendel pintu.


Saat memegang hendel pintu perasaanya menjadi dejavu.


Cek lek

__ADS_1


Afra membuka pintu kamar dengan segera bersamaan dengan seorang pegawal menghampiri mereka.


"Tuan dokter sudah datang"


"Antar dia kemari!" jawabnya sebari tertahan untuk membuka pintu.


"Baik tuan saya permisi"


"Hmm bersihkan kekacauan di mansion ini" titahnya tampa menghiraukan pengawalnya lagi,afra membuka pintu.


Deg


Tubuh keempat orang itu mematung melihat kearah ranjang dimana tubuh yura yang membiru tak sadarkan diri,dan juga tubuh Xia yang terbaring sama tak sadarkan diri dibawah ranjang.


Xia


Yura


Mereka berlari menghampiri dua gadis tak sadarkan diri itu,"dokter cepat panggil dokter!"teriak Afra memangku Xia dalam pelukannya,perasaan takut kehilangan mereka rasakan saat ini.


Rayhan tersadar dari keterkejutannya langsung berlari untuk menghampiri dokter yang katanya sudah datang.


Azkara sendiri mematung disisi lain tubuh yura yang benar-benar tidak bisa dikatakan baik-baik saja,"Yura"gumannya lalu meringsut naik keatas ranjang dan duduk di samping Yura.


Pria itu menggosok tangan Yura untuk memberi kehangatan ia yakin gadis cerewet ini pasti kedinginan terlihat dari wajanya yang sangat pucat.


Tubuh Anna juga melemas gadis itu terduduk di lantai namun mengingat ia tidak boleh lemah dan tugasnya menjaga agar nonanya selalu dalam keadaan aman membuat Anna bangkit dari duduknya dan menyusul Rayma memanggil dokter.


Kedua pria dikamar itu sedang tidak baik-baik saja sekarang,Afra yang terus memanggil nama Xia berharap gadis itu mendengarnya dan langsung menanggapi dengan membuka matanya,satu hal yang Afra takutkan hanya kehilangan gadisnya lagi,cukup lima tahun ia menganggap gadisnya sudah tiada ia tidak ingin gadisnya menjadi benar-benar meninggalkan nya.


Rasa kehilangan dirasakan dirinya,pria dingin, arogan dan kejam kini menangis sebari mencoba membangunkan gadisnya dengan sesekali mendekap tubuh gadisnya yang menjadi dingin.


"Kumohon jangan pergi!,kamu harus baik-baik saja,jika bukan demi aku demi ayahmu,kamu sangat menyayanginya bukan?,dia akan sedih melihat mu begini,ku mohon" lirihnya tercekat.


"Xia ku mohon bangunlah" pria arogan itu menangis begitu pilu,ia seolah lupa dengan segala hal sejenak.


Afra mengusap wajahnya kasar ia tidak bisa terpuruk begini,ia harus menyelamatkan gadisnya,dokter!


Afra membawa Xia dalam gendongannya dan membaringkan di sisi lain ranjang dengan hati-hati disamping dimana Azkara duduk.


Azkara juga tidak baik-baik saja,pria itu tidak pernah menangis setelah kejadian penyerangan yang terjadi pada keluarganya dan membuat dia kehilangan segalanya,hanya kali ini ia kembali menangis.


Kedua pria itu sama-sama menangis,Azkara terus menggosok tangan Yura dengan tangannya sebari sesekali memanggil nama Yura,atau mengejek gadis itu,karna biasanya Yura akan ngamuk ketika diledek,Azkara lebih baik melihat yura mengamuk dari pada terbaring lemah begini.


Dokter yang dipanggil Afra menggunakan caranya memasuki kamar napas pria itu tercekat saat melihat dua gadis yang terbaring diranjang tak sadarkan diri.


"Cucuku" gumannya setengah berlari kearah ranjang.


"Kalian keluarlah!,aku akan mengobati mereka" ujar dokter paruh baya itu.


"Tidak aku akan tetap disini" kekeh kedua pria itu.


"Jika kau ingin kehilangan mereka maka tetaplah disini!"


"Tidak!kami akan pergi,tapi kau harus pastikan mereka baik-baik saja, atau nyawamu taruhannya" ancam Afra membuat wajah dokter itu menatap tajam.


"Waktu adalah uang, semakin kalian lama disini maka keselamatan mereka semakin terancam!" ujar sang dokter.


Setelah dikamar itu hanya ada dirinya,dokter paruh baya itu segera mengecek keadaan Yura terlebih dahulu,dilihat dari segi manapun gadis itulah paling kritis.


Pria itu tertunduk sejenak lalu beralih pada Xia dan mengeceknya.


"Yura Arlia Green dan XLara Zadrianka Kay dinyatakan meninggal" ujarnya dengan napas tercekat dan luruh kelantai.

__ADS_1


"Aku gagal menjaga cucuku"


__ADS_2