
Perjalanan dari rumah sakit ke mansion cukup membuang waktu.
Setelah percakapan tadi keadaan mobil hanya hening,Afra diam sebari menatap gadisnya dengan kekhawatiran,sedangkan gadis yang sedang ia tatap malah sedang menatap ponsel,dengan sesekali mengetik dilayar ponsel.
Xia tidak membantu Afra untuk mendorong kursi roda nya, karna pria itu menolak dan membiarkan pengawalnya saja.
"Kamu lebih baik istirahat saja!,keperluan untuk pria itu sudah disiapkan!"ujar afra saat menuju lift untuk ke lantai 3.
"Terimakasih "jawab Xia" apa kau tidak marah?"
"Marah?,tentu saja,kamu lagi-lagi memanggikku dengan sebutan kau"Afra sedikit kesal saat mengatakannya namun ia tidak ingin memaksa gadisnya itu.
"Aku kan baru akan memikirkan panggilan itu"jawab Xia
"Kapan kamu selesai memikirkannya?"tanya Afra penuh harap.
"Baru akan dipikirkan"jawab Xia sebari mengedikan bahunya.
Mereka kini didalam lift hanya berdua,pengawal hanya mendorong kursi roda menuju lift,siapapun tidak bisa pergi ke lantai 3 atau 4 kecuali diijinkan oleh pemiliknya.
"Kembali ketopik,apa kamu tidak marah saat aku membawa pria asing ke mansion mu?"tanya Xia.
Afra memiringkan kepala untuk menatap gadisnya"untuk itu,tentu saja aku marah"jawabnya jujur"aku bahkan sangat-sangat marah"
"Lalu kenapa kamu mengusulkan untuk tinggal disini?"tanya Xia sebari menaikan halisnya,"apa alasan pria itu?memberikan usul yang dia sendiri tidak suka"pikir Xia.
"Karna kamu"jawab Afra membuat Xia heran secara replek menunjuk dirinya sendiri.
"Aku?"
Afra mengangguk "apapun untuk mu akan aku kabulkan,kecuali kepergianmu"
Xia tersenyum lebih tepatnya menyeringgai.
"Aku kan sudah bilang!,apapun akan aku lakukan untuk menahanmu tetap di sisi ku,aku memang belum ingat dengan masa lalu kita,namun beberapa hari bersamamu sudah membuatku semakin jatuh cinta untuk mu,apapun yang kamu inginkan akan aku berikan seperti yang aku katakan tadi,kecuali keinginan mu untuk pergi dari ku,kamu tidak akan memilikinya"ujar Afra penuh cinta juga penekanan.
"Jika kamu merasa berhutang nyawa,maka kamu harus membayarnya padaku,karna pria itu aku yang urus" sambungnya saat tau gadisnya tidak suka dengan berhutang nyawa.
"Menurutku itu bukan cinta tapi obsesi"
'Aku tidak tau ini cinta atau sekedar obsesi,namun aku akan memastikan kebahagiaan mu bersamaku,tidak ada orang lain yang bisa memilikimu selain aku"jawab Afra kini sebari menggengam tangan Xia dan mengecupnya sekilas.
"Apa yang akan kau lakukan jika suatu hari aku pergi?"tanya Xia penasaran dengan jawaban buaya di sampingnya.
"Mencarimu,tentu saja,aku akan mencarimu keujung dunia sekalipun"jawab Afra semakin menggenggam tangan Xia,dengan posesif seolah ia baru saja diingatkan untuk menjaga gadisnya tetap disisinya.
"Saat kau menemukanku,lalu aku tak ingin pergi denganmu bagaimana?"tanya Xia semakin membuat Afra menggenggam tangan gadis itu dengan kencang.
"Aku akan memaksamu,entah kamu suka atau tidak"jawabnya penuh penekanan.
"Baiklah,apa kau bisa melepas tangan ku tuan?,kau mengenggamnya sangat kencang saya merasa sakit"ujar Xia ketus.
Afra langsung merasa bersalah saat gadisnya menegur dirinya yang terlalu erat menggenggam tangan gadisnya.
Ia langsung melihat tangan gadis itu dengan lembut dan mendekatkan nya kearah bibir.
Pria itu meniup tangan Xia yang kemerahan karna ulahnya.
Lagi-lagi Xia terdiam entah kenapa ada perasaan aneh,ada bergelenyar dihatinya.
"Aku minta maaf,aku tidak sengaja menyakitimu,apa masih sakit?"tanya Afra dengan lembut.
Xia tersadar dari lamunanya,langsung menarik tangannya dan menatap lekat tangannya yang kemerahan ulah pria disampingnya.
Xia mengkerucutkan bibirnya saat melihat tangannya yang kemerahan,ia merasa kesal,bukannya kesakitan.
Afra kembali menarik tangan gadisnya lalu mengecupnya dengan sayang"aku minta maaf"ujarnya lagi-lagi meniup tangan gadisnya.
Xia dengan cepat menarik tangannya bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.
Gadis itu langsung pergi meninggalkan Afra menuju kamarnya,setelah didalam kamar,gadis itu memukul keras dadanya,entahlah ada sesuatu yang mengganggunya sampai ia kesulitan untuk bernapas.
Hal itu yang membuatnya kesal sejak tadi.
Waktu sudah malam,seperti biasa gadis bernama Xia tidak bisa tidur kecuali minum obat,biasanya gadis itu akan becekcok ria dengan gadis yang sudah ia anggap kakak,siapa lagi jika bukan Yura,namun gadis itu belum pulang dari rumah sakit,menemani pria itu bersama Azkara.
Ya Xia meminta Azkara untuk mengantarkan baju ganti untuk gadis itu sekalian memintanya menemani disana.
__ADS_1
Dan sialnya,obat tidur Xia dipegang Yura,gadis itu yang mengatur obat Xia setiap harinya jika tidak di mansion keluarga,alasannya karna Xia suka mengonsumsi melebihi dosis.
Xia menghela nafas jengah saat dirinya bermain laptop.
Ada beberapa pesan di emailnya dari seseorang,seseorang yang merepotkan.
"Berapa keuntunganku?"balasnya ke seseorang yang mengiriminya email.
'Lima persen"jawab seseorang disebrang sana.
Mereka tengah mengobrol lewat pesan email.
"Sepuluh atau tidak sama sekali"
"Jika dalam satu bulan sudah selesai,akan aku berikan sepuluh persen"
"Kau menantangku?"
"Dan aku akan memberikan lima persen saham perusahaan utamaku,jika berhasil"
"Kau tidak bisa mundur setelah ini"balas xia.
"Pesan ini bisa menjadi bukti perjanjian kita"
"Siapkan lima belas persen itu"balas Xia sebari menyeringgai.
"Kita lihat saja nanti"balas orang disebrang sana.
Xia menggelengkan kepalanya lalu menutup laptopnya dan menyimpannya dinakas.
Xia menghela nafas lalu turun dari ranjang dengan malas,ia harus menguji sesuatu.
Xia keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu disamping pintu kamarnya.
Setelah pintu dibuka,menunjukan pria tampan dengan rahang tegas duduk di kursi roda,didepan Xia pria itu sendiri yang membuka pintu.
"Kenapa?,hmm kamu butuh sesuatu?"tanyanya heran ini pertama kali gadisnya menemui dia dimalam hari setelah malam itu bab.
"Aku tidak bisa tidur,jadi aku pikir lebih baik menemuimu ada sesuatu yang harus aku uji"jawabnya jujur.
Dan Xia hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Ayo masuk"ajak Afra menggeser kursi rodanya untuk memberi akses untuk gadisnya masuk.
Xia menggelengkan kepalanya,membuat agar lagi-lagi menaikan sebelah halisnya.
"Kenapa?"tanya pria itu.
"Tidak suka!"jawab Xia"di kamarku saja"
Permintaan Xia tentu saja akan Afra turuti kecuali menuruti keinginan gadis itu untuk meninggalkannya.
Mereka sudah dikamar Xia dengan pintu kamar yang ditutup.
Xia membantu pria itu untuk berbaring diranjangnya,walau sangat sulit karna perbedaan berat badan,dan tinggi badan,afra hanya menurut.
Xia membantu pria itu untuk meluruskan kakinya,setelah kedua kaki pria itu lurus,Xia menatap pria tersebut,dengan sudut bibirnya yang terangkat"aku akan mengujinya"
Pria itu mengerutkan keningnya"apa harus sekarang?"tanyanya lirih.
Xia mengangguk,Xia turun dari ranjang kearah laci.
"Kamu mencari apa?"tanya pria itu melihat pergerakan Xia"lebih baik kita tunda saja sampai kakiku sembuh"
Xia kembali ke ranjang dirinya menaikan sebelah halisnya"jika kau sudah sembuh,aku tidak akan melakukannya"jawabnya heran.
Xia duduk disamping pria yang juga duduk dengan kedua kakinya yang diluruskan.
Xia membuka tas kecil berwarna biru yang ia ambil tadi,Xia mengambil toples bulat yang berukuran lumayan kecil berwarna putih.
Afra menaikan sebelah halisnya saat melihat toples kecil yang Xia pegang"kenapa?,itu apa?"
'Kau akan tau nanti,rasanya akan panas tahan sebentar"ujar Xia sebari memutar penutup toples itu.
'Kau bisa membukanya sendirikan?"tanya xia.
"membuka apa? "jawabnya.
__ADS_1
"Celana" ujar Xia membuat afra membelalakan matanya,apa dia akan melakukan itu,disaat kakiku begini?."
"Aku akan membukanya"ujar Xia sebari menaruh kembali benda yang ia pegang kesamping,ia pikir pria itu tidak bisa membuka celananya.
"Tidak!"pekik Afra membuta Xia mengerutkan keningnya.
"Kau bisa membukanya sendiri?"
"Aapa kamu yakin akan melakukan ini sekarang?,bagaiamana kalo nanti saja setelah kakiku sembuh"ujar Afra gugup.
"Jika menunggumu sembuh,untuk apa aku melakukannya?"tanya Xia heran.
"Kita bisa melakukannya setelah kakiku sembuh,jika kamu yakin dengan keputusan mu,sayang"bujuk Afra agar mereka tidak melakukan apa yang ia pikirkan.
Xia mengusap wajahnya kasar"jika kau sudah sembuh untuk apa aku melakukannya?!"kesal gadis itu.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?,akan lebih baik jika melakukan hal itu saat aku sembuh,jika seperti ini aku tidak bisa apa-apa"ujar Afra menjelaskan dengan lirih dan tatapan sendu.
Xia mencerna ucapan pria di sampingnya itu,ia memicingkan matanya sebari berpikir"apa yang dia pikirkan?"
Xia membolakan matanya saat mengerti dengan arah pemikiran pria yang mengklaim dirinya sebagai tunangan.
"Jangan katakan kalau kau berpikir kita akan melakukan itu?"tanya Xia menebak.
"Melakukan apa?"tanya Afra dengan polos membuat Xia gelagapan.
"Itu"
"Itu apa?"tanya afra dengan wajah polos,pria dewasa itu memang tidak dekat dengan wanita kecuali ibunya,dan dirinya hanya berdekatan dengan pekerjaan saja selama ini.
Seolah pekerjaan adalah jiwanya.
Afra sama halnya dengan asistennya yaitu Azkara,pria yang dikenal dingin,sulit didekati dan belum ternodai.
Walau Afra banyak dirumorkan berpacaran dengan beberapa artis papan atas dinegaranya,atau dari negara lain,namun semua itu hanya rumor yang disebarkan pihak agensi untuk meningkatkan kepopuleran artis mereka,menggunakan nama pria itu.
Namun entah kenapa pemikiran mesumnya akan muncul saat berdekatan dengan gadis yang ia klaim sebagai tunangannya.
Dan kini bertingakah polos padahal beberapa detik lalu pria itu berpikiran mesuk.
Xia malah terdiam sejenak sebari berpikir"dia polos atau pura-pura?
"Diam lah"dengus Xia"aku akan mempraktikkan apa yang dokter kau ajarkan waktu itu"sambungnya menjelaskan tujuan dari kata uji coba yang disalah kafrahkan oleh pria itu.
Afra menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal"seharusnya kau ngomong dari awal"ujar nya malu.
"Kau tidak bertanya"jawab Xia.
"Kamu kan bisa mengatakannya lebih dulu,agar aku tidak salah paham"Afra tidak mau kalah.
Otakmu saja mesum"jawab Xia.
Aku pria normal sayang,pria mana yang tidak akan berpikir seperti itu saat dirinya dibawa ke ranjang gadisnya,dan perkataan mu tadi juga sangat ambigu"sanggah Afra membuat Xia menatapnya tajam.
Anda bisa diam tuan?!" kesal Xia,ia sadar ini salahnya,namun ia bukan orang yang suka basa-basi,atau mengatakan tujuannya,mereka yang disekitarnya harus mengerti sendiri dengan rencana nya tanpa dijelaskan.
Melihat pancaran kekesalan dari gadisnya membuat Afra menciut,lebih baik diam pikirnya.
"Aku akan membuka celanamu,mengoles salep ini"ujar Xia
Tiba-tiba gadis itu merasa gugup.
Ia menatap pria itu"kau yakin tidak bisa membukanya sendiri?"tanya Xia kembali memastikan.
"Sulit,kamu kan tau kakiku masih belum bisa digerakan"jawab afra jujur namun ia menggunakan kesempatan ini untuk melihat keberanian gadisnya.
Xia menggaruk kepalanya yang tidak gatal,sebari berguman"bukannya tidak pantas membuka celana orang?,apalagi seorang pria"
Afra mendengar gumanan gadis itu menjawab"tidak apapa,nanti juga akan terbuka semua"ujarnya tak tau malu.
"Gugup saat pertama kali itu wajar,nanti juga terbiasa"sambungnya.
"Gugup?,tidak mungkin"ujarnya percaya diri membuat Afra membulatkan matanya.
"Apa dia berani membukanya?"pikir Afra sebari menatap gadisnya yang kini percaya diri.
"Sebaiknya jangan!,dia sudah terpancing sejak tadi,ini memalukan"guman salah satu dari mereka didalam hati dengan khawatir.
__ADS_1