MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Hanya mengingatkan,ayah


__ADS_3

Disaat bersamaan dengan Xia dan Elina yang berbicara melewati saluran telepon,dibelahan dunia lainnya.


Seorang pria paruh baya,yang karisma dan juga ketampanannya tidak luntur meski kini usianya diatas lima puluhan.


Ia sedang duduk dikursi kayu,ditaman sebari menatap lurus, didepan sana ada seorang anak kecil yang tengah bermain bersama hewan setinggi pinggang wanita dewasa yang sedang berada disisi anak kecil tersebut.


Pria paruh baya yang tengah duduk di kursi kayu sebari mengawasi sang cucu pertama,sudah beberapa kali menghela nafas gusar.


Sesuatu terus menggangu pikirannya,membuat ia ragu dengan rencana yang sedang ia kerjakan.


Atensinya tidak lepas dari sang cucu dan menantu namun pikirannya entah melambung kemana,sang cucu yang sejak tadi ia balas sekedar lambaiyan tangan,atau senyuman saat sang cucu menatap kearahnya dengan tersenyum,kini hanya menatap saja.


Wanita dewasa yang menyadari keanehan terhadap ayah mertuanya itu menjadi khawatir.


Wanita dewasa tersebut mengajak sang putra kecilnya untuk menghampiri sang kakek,saat hendak mengambil anaknya kedalam gendongan,bocah itu menolak,ia memilih berlomba berlari bersama mantan pelihara sang bibi.


Sejak ia lahir hewan itu sudah menemani bocah laki-laki tadi,seolah menyatakan diri sebagai pengawal bocah itu.


Hewan yang jika tidak dilihat dengan teliti,hanya seperti boneka beruang coklat yang berukuran cukup besar.


Seolah mengerti beruang itu,ikut berlari disamping Iaz.


"Iaz jangan berlari sayang"teriak sang ibu menghawatirkan anaknya yang sedang berlomba lari dengan beruangnya untuk menghampiri sang kakek.


"Kakek"panggil Iaz saat dirinya dan momo berada tepat didepan Vihan.


Vihan yang yang masih bergelut dengan pikirannya tidak menyadari kedatangan sang cucu bersama momo hewan pengawal cucunya itu.


Iaz dan momo saling memandang saat sang kakek tidak merespon dirinya,lalu ia menatap kearah belakang melihat ibunya yang berjalan menghampiri mereka.


Sang ibu melempar senyuman saat jagoan kecilnya menatap dirinya.


Saat tepat berada di belakang tubuh sang putra yang menatap sang kakek,Ave terlihat khawatir.


"Kenapa sayang? ,kakek tidak merespon mu?"tanya Ave sebari mengusap pucuk rambut putranya.


Iaz mengangguk lemah,pria kecil dengan wajah dingin itu terlihat kecewa,saat pria yang notabe kakeknya itu masih diam.


"Jangan sedih,mungkin kakek sedang merindukan bibi Xia"ujar lembut Ave memberi pengertian untuk Sang jagoan kecil.


"Iya ibu,aku juga rindu ibi"jawab Iaz sebari menatap Sang ibu.


"Yasudah,mau ibu gendong"tawar Ave agar membuat putranya senang,namun pria kecil itu menggeleng sebagai jawaban tidak mau.


" Kakek"panggil Iaz lagi sebari kini memegang tangan kekar Vihan.


Vihan menunduk melihat sentuhan yang baru saja ia rasakan,ternyata benda kecil yang menyentuh kulitnya adalah lengan Sang cucu pertama.


Vihan tersenyum menatap Sang cucu,lalu beralih pada menantu yang berdiri di belakang cucunya itu.


"Kenapa sayang?"tanya Sang kakek sebari mengangkat jagoan kecilnya keatas pengkuan.

__ADS_1


Iaz meresponnya dengan baik,ia mengalungkan kedua tangannya ke leher tegas Sang kakek sebari tersenyum cerah.


"Kakek,merindukan ibi?"tanya Iaz dengan nada anak kecil miliknya.


Vihan menatap sang menantu sebari melempar senyuman,barulah setelah itu ia menatap sang cucu,sebari masih tersenyum pria paruh baya itu menjawab.


"Benar,kakek merindukan ibi nakal mu itu"jawab Vihan sebari mengecup pipi caby milik jagoan kecilnya.


Iaz tertawa geli saat sang kakek tarus mengecup kedua pipinya," Kakek geli"


Vihan mengecup lebih lama pipi kanan sang cucu,barulah ia menghentikan kecupannya,"Maaf sayang"


Iaz bocah berusia tiga tahun itu berwajah dingin mirip dengan ayahnya,begitu juga sifatnya,namun semua keturunan Kay mengerti tentang ikatan,mereka yang sedingin es pun akan mencair jika bersama keluarganya,begitupun bocah kecil tersebut.


"Kakek,kapan ibi pulang?"tanya Iaz sendu,ia sangat merindukan gadis yang ia panggil ibi itu.


Gadis yang selalu mengajarinya untuk melanggar pelaturan,karna kata gadis itu,pelaturan diciptakan untuk dilanggar,namun tidak melewati batas.


"Nanti juga ibi pulang sayang"bukan Vihan yang menjawab namun sang menantu.


Vihan hanya terdiam sebari menghela nafas.


"Kemari,biar ibu gendong!"dengan senang Iaz merosot dari pangkuan sang kakek untuk beralih kewanita yang sudah melahirkannya.


Vihan hanya terkekeh melihat cucunya itu,mirip seperti ayahnya,bahkan sangat mirip,semua mendominasi dari pria itu.


Iaz menggerakan tangannya minta digendong seperti yang ibunya katakan tadi,Ave tersenyum saat mengambil anaknya itu kedalam gendongan.


Atensi mereka yang ada disana langsung menatap kearah yang Iaz tatap,benar terlihat seorang pria sedang berjalan kearah mereka dengan tersenyum.


Senyuman yang dikeluarkan hanya untuk keluarganya saja.


Iaz meregangkan tangannya kembali meminta pria yang yang panggil ayah,untuk menggendongnya,dengan masih tersenyum pria itu mengambil alih sang putra dari istri cantiknya.


"Ayah"ujar pria yang menggendong Iaz


Sebari menatap pria paruh baya yang anteng duduk di kursi.


"Apa!"


"Turun"pinta Iaz,dituruti Vans setelah mengecup pipi putranya itu.


Iaz berdiri di tengah-tengah antara sang ayah dan ibu,pria kecil itu menggenggam tangan sang ibu,sebari tersenyum kearahnya.


Ave menunduk untuk melihat wajah sang anak dibawah sana sebari membalas senyuman jagoan kecilnya.


"Ibu aku ingin kedalam"rengeknya diangguki Ave.


"Mau ibu gendong? "Jagoan kecilnya itu menggeleng,sebari masih tersenyum.


"Ayah,Vans,aku akan masuk menemani Iaz" ujar ave dengan lembut sebari menatap ayah mertua dan suami nya itu.

__ADS_1


"Iya nak"jawab Vihan.


Mereka berjalan beriringan dengan momo yang kini tangannya digenggan Iaz disisi lain,dan sisi lainnya ia menggenggam tangan sang ibu dengan lembut,sebari sesekali mendongkak untuk melihat wajah ibunya.


Mereka beberapa kali beradu tatap sebari melempar senyuman dan Ave yang beberapa kali juga mengusap lembut kepala sang putra.


Ayah dan anak menatap punggung mereka yang baru saja menghilang kedalam rumah.


Vans kini sudah duduk disamping sang ayah.


Hening,beberapa menit sudah berlalu namun masih saja hening,keduanya tidak ada niatan untuk memulai pembicaraan.


Sampai akhirnya Vans menghela nafas lalu melirik ayahnya yang tengah mendongkak menatap kosong kearah langit yang tengah cerah.


"Ayah tidak ingin mengatakan sesuatu? "Tanya Vans,respon yang diberikan vihan hanya memiringkan kepalanya hanya untuk sekedar melirik sang putra,lalu kembali menatap langit.


"Vans,mereka akan baik-baik saja kan?" tanya Vihan tanpa menoleh kearah sang anak.


"Tidak usah mengkhawatirkan mereka,mereka bisa menjaga diri baik-baik"jawab Vans dengan wajah dan nada datarnya.


"Ayah tau,mereka bisa menjaga diri sebaik mungkin,tapi rasanya ayah tidak bisa tidak mengkhawatirkan,mereka"ujar Vihan kini menatap langit yang begitu cerah.


"Ayah takut,apa yang ayah rencanakan membuat bencana untuk diri kita sendiri,ayah takut kehilangan kalian untuk kesekian kalinya "sambung Vihan.


"Itu wajar ayah,jangan terlalu dipikirkan,ayah belum setua itu,sampai rencana yang ayah buat bisa menghancurkan kita" ujar Vans membuat sang ayah mendengus kesal.


"Ayah memang belum tua,walaupun iya taktik ayah tidak ada kaitannya dengan umur!,kenapa kau malah membawa-bawa umur?"ujar Vihan selalu tidak terima jika membicarakan umur.


Vihan menatap Vans dengan tajam.


"Karna pemikiran seseorang yang semakin berumur,akan cenderung lelet dalam berpikir",Vihan membelalakan matanya mendengar perkataan sang anak dengan nafas memburu.


"Ayah belum setua itu,sampai meragukan taktik yang ayah rencanakan,jika ayah lupa aku sempat marah atas keputusan ayah,namun karna penjelasan dari ayah,semua itu berhasil meyakinkan aku,bukan hanya aku tapi kami"Vans menjeda perkataannya untuk menghela nafas.


"Kami mencoba mempercayai taktik ayah,agar kemampuan mereka bisa dikendalikan,apa yang mereka miliki memang menunjukan keluarga Kay,seperti yang ayah katakan,mereka memiliki kelemahan dalam mental mereka yang suatu hari bisa menghancurkan diri sendiri"


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan ayah"Vans menatap sang ayah sampai mata mereka saling bertubrukan.


Vans tersenyum ke arah sang ayah membuat,ayahnya itu bergidig entahlah kekejaman anaknya yang satu ini menurun seratus persen darinya bahkan,kekejaman yang ada dalam diri Vans masih diatasnya,jika dibandingkan melalui angka,vihan hanya seratus,sedangkan Vans seribu.


"Semua akan baik-baik saja,jika paman sam tau,dia akan mengolok-olok ayah"sambung Vans,mencoba mengalihkan pembicaraan.


Vihan langsung berdiri,ia kembali menatap anaknya yang masih saja duduk," Dia tidak akan tau jika kau tidak memberitahunya,dia akan semakin menjadi jika tahu"


Vans mengedikan bahunya,lalu ia beranjak dari tempatnya,sebelum ia melangkah dari tempatnya,ia kembali melempar senyuman yang jika dilihat sangat menawan,namun bagi mereka yang tahu siapa Vans akan langsung bergidig.


"Jangan terlalu dipikirkan,ayah bisa sakit,jangan terlalu banyak minum alkohol dan cerutu,jika tidak,akan aku ceritakan semuanya"ujar Vans berdiri didepan sang ayah.


"Kau mengancam ayah mu ini nak?"tanya Vihan.


Vans hanya mengedikan bahu," Hanya mengingatkan,ayah"

__ADS_1


__ADS_2