MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Lihat saja nanti


__ADS_3

Suasana hening ternyata hanya dirasakan Afra saja,sedangkan disisi lain dimana ruangan Azkara berada.


Ruangan itu dipenuhi para pegawai yang sudah membuat ulah untuk nasib mereka sendiri,namun bukannya hening malah semakin ribut.


Ribut karna ulah Yura,gadis itu terus berbicara tidak jelas sampai ruangan Azkara ia komentari,alhasil Azkara dibuat dobel pusing,harus mencari pegawai baru itu tidak mudah,ingin sekali pria itu menangis,kenapa bawahannya menggali kuburan sendiri yang mengharuskan dirinya terseret kedalamnya, sangat seram.


Gadis cantik satu itu sepertinya memang tidak bisa diam,banyak hal tidak jelas ia bicarakan,sejak tadi,walau sebagai cukup bermanfaat seperti saat dirinya bercerita keadaan dibawah tadi,lumayan Azkara tidak perlu mengeluarkan pertanyaan lagi,namun hasilnya tetap saja sama mereka akan dipecat bahkan diblacklist,menganggur selamanya jika tidak pergi keluar negri atau membangun usaha sendiri mereka tidak akan mendapatkan perkerjaan.


"Nona apa kau bisa diam dulu! "ujar Azkara penuh penekanan,entah berapa kali pria itu memijat pelipisnya.


"Baiklah aku diam,padahal aku hanya mencairkan suasana"ujar Yura sebari melangkah kearah sofa yang letaknya lumayan jauh dari kursi kebesaran Azkara.


Azkara duduk di kursi kebesaranya sebagai tangan kanan Afra memiliki ruangan sendiri. dan para pegawai yang akan disidang berdiri didepan pria itu hanya terhalang meja.


"Kalian sudah taukan kesalahan kalian apa? "Tanya Azkara sebari menatap tajam setiap orang didepannya.


"Kami tau tuan" jawab mereka serempak.


"Namun itu bukan seutuhnya salah kami tuan,kami hanya ingin mencegah sesuatu yang tidak diinginkan  diperusahaan ini"wanita yang dipanggil bu itu mencoba membela diri,tentu saja ia tidak ingin kehilangan apa yang sudah ia dapatkan selama ini,menjadi tangan kanan dari pengelola perusahaan bukanlah hal yang mudah.


"Sepertinya memang begitu"Yura bersuara dirinya seorang diri duduk disofa dengan santainya.


"Kau tau kak?,nona itu wanita baik"sambung Yura membuat wanita yang Yura tunjuk adalah bu tersenyum seperti menemukan oasis di padang pasir.


"Dia menunjukan arah club terdekat dari sini,walaupun aku dan adikku belum pernah masuk ketempat seperti itu,tapi sepertinya kami akan mencoba,mendengar dia bicara sepertinya tempat itu menarik"sambung Yura dengan wajah polos membuat Azkara membelalakan matanya.


"Apa yang dia katakan benar?"pekik Azkara bahkan raut wajahnya kini sangat dingin,wanita bu itu yang tadinya merasakan kelegaan dihati kini mengumpati Yura dalam hati.


"Tentu saja benar!"bukan wanita itu yang menjawab namun lagi-lagi suara Yura,bahkan setiap gadis itu bersuara semua atensi mengarah padanya.


"Iiitu,saya salah tuan,saya hanya bercanda saja tadi"ujar bu membela diri,"Saya hanya bercanda karna yang saya arahkan tentu saja bukan ketempat itu,saya tau mereka masih dibawah umur tidak baik ketempat seperti itu"


"Benarkah?,akusi tidak tau kau becanda atau tidak karna aku turis disini,tapi dari perkataanmu yang mengatakan akan mengajari kami saat diclub,kau seperti tidak sedang bercanda"saut Yura masih menunjukan wajah polosnya.


"Iitu tidak benar nona,sa-saya hanya bercanda saja,bercanda agar anda tidak membuat keributan"ujar bu atensinya yang menatap arah Yura kini beralih ke arah Azkara dengan takut.


"Maafkan saya tuan,jika becandaan saya keterlaluan,bagaimana lagi saya bingung harus berbuat apa untuk mencoba membuat mereka pergi dari perusahaan,mereka bahkan membuat keonaran karna kami melarang mereka masuk,mereka juga menampar Amel,lihat ini wajahnya masih membengkak akibat tamparan gadis itu"ujar bu diakhir kalimat ia sebari menarik wanita bernama Amel agar lebih terlihat,sedari tadi mereka tidak terpisahkan.


Semua tersentak kecuali Yura dan Azkara,pria itu belum tau kebenarannya jika Yura ia hanya menikmati permainan saja.

__ADS_1


Para pegawai saling pandang mereka cukup kaget saat mendengar apa yang dikatakan wanita yang mereka panggil bu,karna sebagian dari perkataannya adalah fitnah namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


Wanita bernama Amel itu juga tidak mengerti jelas-jelas ia mendapat luka di pipinya karna tamparan tangannya sendiri yang meleset kearahnya,dan melukai diri sendiri,namun mengerti alurnya ia pun mengikuti drama.


"Iiitu benar tuan,saya ditampar dia saat melarang mereka menerobos masuk"saut Amel membenarkan bahkan wajahnya memerah menahan tangis sebari menunjuk Yura,dengan santainya Yura malah mengangkat sebelah kakinya untuk ditompang kekaki sebelahnya.


"Apa yang mereka katakan itu benar nona Yura?"tanya Azkara melirik kearah Yura, namun tatapan pria itu melembut saat menatapnya tanpa disadari siapapun.


Yura mengedikan bahunya sebelum sudut bibirnya terangkat," Apa aku harus minta maaf?"Yura sengaja menjeda perkataannya sejenak,"Aku rasa tidak"


"Lihat tuan dia bahkan tidak menyangkal hal itu"ujar Amel menyudutkan.


"Turunkan tangan anda!"pekik Azkara saat melihat Amel yang menunjuk kearah yura,wanita itu menunduk sebari menurunkan tangannya seperti yang diintruksikan Azkara.


"Dia sangat berani,aku suka kelancangannya harus diberi penghargaan "ujar Yura sebari menatap dia wanita yang ia cap sebagai wanita ular.


"Saya mohon keadilannya tuan" ujar Amel sebari menangis sampai wanita bu disampingnya memeluk wanita itu untuk menenangkan.


"Bodoh"guman yura"tapi seru!"


"Kalian disana saat kejadiankan?"tanya Azkara sebari menatap sebagaian pegawai yang sedari tadi hanya diam sebari menunduk.


Azkara bukan orang yang mudah mempercayai orang lain!.


"Mereka harus bekerja sama!,pasti! "Guman keduanya didalam hati.


Hening tidak ada yang berani bersuara hingga geprakan meja menjadi suara yang berhasil memecahkan keheningan,bahkan mereka mendongkak beberapa detik untuk menatap azkara yang tengah marah dan kembali tertunduk.


"Ti,,tidak begitu ke kejadiannya tuan" ujar salah satu pegawai pria yang usianya masih tergolong muda,dia menekan keberaniannya dalam pikirannya ia hanya ingin menyelamatkan diri dari amukan para atasannya saja saat ini,mungkin satu-satunya jalan adalah jujur.


"Katakan!"titah Azkara,pria itu gemetar bahkan ia merasa kakinya seperti jelly,pria itu masih diam mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjawab.


Selama ini Afra dan Azkara selain terkenal datar,dingin dan cuek,bos dan tangan kanan itu juga kejam tidak membedakan jenis kelamin,selama mereka salah,maka mereka akan mendapat ganjarannya,walau keduanya jarang berada di perusahaan ini kecuali ada hal mendesak.


Bahkan saat berpapasan para pegawai tidak berani menatap keduanya,mereka menunduk dengan hormat,walau ketampanan mereka diatas rata-rata, namun karna alasan takut mereka segan menatap wajah tampan keduanya.


Yura menghela nafas saat melihat replek yang ditunjukkan para pegawai,yang takut setengah mati,gadis itu sampai bingung dengan apa yang ia lihat sekarang ini,apa yang harus ditakutkan dari pria itu?,berlebihan.


"Kak azkara kan bisa melihat CCTV, ingin sekali si membuat orang gagal jantung"ujar Yura.

__ADS_1


"Mereka hanya melakukan pekerjaan,walau sebenarnya apa yang mereka lakukan bukanlah tugas mereka,tidak usah diperbesar lagi masalahnya,biarkan mereka kembali bekerja"Yura menjeda perkataannya saat melihat raut tanya Azkara.


"Aku tau kau tidak punya hak,untuk melakukan semua itu,tapi kau bisa bicara kepada kak Afra untuk tidak memecat bahkan mem blacklist mereka,kau masih punya perasaan kan sebagai manusia?,hukum mereka yang salah saja!"


"Saya hanya menjalankan tugas "jawab datar azkara.


"Huhhh,baiklah biar aku yang membujuk kak Afra kau hanya menemaniku saja" ujar Yura sebari bergerak dari duduknya.


"Ayo!"ajak Yura karna Azkara masih saja duduk diam ditempatnya.


Azkara menghela nafas,ia juga tidak bisa memecat mereka begitu saja,banyak alasan yang perlu dipertimbangkan demi perusahaan, selain itu pria itu tentu saja akan tetap menghukum yang salah,Azkara hanya bicara setuju dengan perkataan Yura yang sampai saat ini belum berbicara salah.


"Kalian kembali dulu ke Divisi masing-masing!"setelah memberi perintah Azkara berdiri dan berjalan beriringan dengan Yura.


Setelah kedua orang itu keluar,setidaknya para pegawai bisa bernafas walau belum aman karna kata pengangguran segera menyambut mereka.


Dua wanita ular itu menatap pria yang tadi menjawab pertanyaan Azkara.


"Apa yang kau lakukan?"Pekik Amel.


"Apa?,aku tidak melakukan apapun,anda yang berbuat salah,anda yang hendak menampar tamu tuan Amlias tapi anda seolah-olah menjadi korban disini" jawab pria yang tadi menjawab pertanyaan Azkara,pria itu berkata seolah perwakilan dari teman-temannya,terlihat dari mata mereka,mereka marah atas tindakan kedua wanita ular yang menghancurkan masa depan mereka.


"Bedebah"pekik Amel dirinya maju untuk menampar pria itu,namun suara bu terlebih dahulu terdengar.


"Diam"pekik bu," Kalian bertengkar seolah sudah selamat dari ancaman,kita masih dalam bahaya,sebaiknya persiapkan diri,pergi kalian"ujar bu geram wanita itu menarik Amel untuk mengikuti langkahnya.


"Anda akan membawa saya kemana bu?"tanya Amel yang masih ditarik paksa untuk mengikuti pergerakan bu.


"Wanita bodoh,posisi kita terancam,kita harus menghancurkan satu-satunya bukti,CCTV"jawab bu lirih agar hanya bisa didengar keduanya saja.


"Lalu bagaimana dengan pegawai yang menyaksikan kita bu?"


"Mereka urusan kecil,mereka tidak akan lagi berani buka suara,ancaman kita saat ini hanya CCTV"decak bu sebari terus menyeret Amel untuk mengikuti langkahnya.


Disisi lain Yura lebih dulu meminta keruangan yang menyiarkan rekaman CCTV ditempat itu,agar memiliki bukti jika diminta mendeskripsikan kejadian tadi,akan ia langsung tunjukan rekaman itu agar tidak membuat -buang suaranya nanti.


"Lihat kan siapa yang salah?"ujar Yura sebari menyeringgai saat rekaman kejadian keributan tadi diputar di layar tembok,tembok bening seperti televisi namun besarnya empat kali lipat.


Azkara menatap Yura penuh arti,"Kenapa kau menatapku seperti itu? "Tanya yura yang sadar ditatap oleh pria yang selalu ia uji kesabarannya.

__ADS_1


"Kau yakin akan membebaskan mereka?" tanya azkara memastikan,bersama yura beberapa minggu ini membuat dirinya sedikit tahu kepribadian gadis tengil itu.


"Lihat saja nanti"jawab Yura santai bahkan kini ia bersedekap dada sebari menyeringgai memikirkan sesuatu.


__ADS_2