MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Egois dan permintaan maaf


__ADS_3

Kini mereka sedang duduk untuk menyantap sarapan yang dibeli Azkara tadi,suasana terasa canggung,mereka yang satu meja sesekali menatap wajah Xia yang hanya menunjukan raut datar.


Setelah mengatakan ingin berbicara dengan tuan dan nyonya Amlias,Yura mengusulkan mereka untuk sarapan lebih dulu dan disinilah mereka.


Kali ini suasana meja makan hanya terdengar dentingan sendok saja tidak seperti biasanya yang akan dibuat gaduh oleh Yura dengan celotehan randomnya.


Sejak tadi Afra dan tuan Amlias belum mengeluarkan suara mereka karna terlalu syok dengan keadaan saat ini,entah kejadian apa yang akan mereka hadapi selanjutnya.


Suara deringan ponsel menjadi atensi mereka sekarang dan Xia sebagai pemilik ponsel langsung menyentuh icon hijau,setelah panggilan vidio tersambung terpapang wajah cantik remaja belasan tahun.


"Halo kakak"sapanya dengan tersenyum cerah,suara itu menjadi atensi utama selain wajah Xia.


Xia duduk diantara Yura dan a


anna,untuk di depannya ada nyonya dan tuan Amlias untuk Afra dan Azkara berada disamping nyonya Amlias.


Suara yang pamiliar membuat yura berdecak lalu sedikit menarik tangan Xia untuk menunjukan wajahnya diponsel,"Waw kau ceria sekali girls"ujar Yura sebari tersenyum mengejek.


" Kak Xia kakak tidak mau bertanya aku dimana sekarang?"gadis disebrang sana tidak menghiraukan Yura membuat gadis itu mendengus.


"Tidak!,,tidak ada yang peduli kau dimana bocah "jawab Yura sengit.


"Kak xia sedang berada dimana kak?,kenapa disana banyak sekali nyamuk"tanyanya gadis disebrang sana membuat Yura melotot.


"Apa magsud mu bocah tengik?" tanya Yura dengan mata melotot menatap kamera.


"Dengarkan kak?,suara nyamuk membuat telingaku sakit"ujar gadis disebrang sana sebari mengusap telinganya dengan wajah kesal.


Yura menunjuk gadis disebrang sana dengan kesal,namun detik selanjutnya ia kembali mengubah raut wajahnya,"Hmm ternyata pendengaranmu begitu tajam,,tapi tetap saja kau tidak mendengar keberangkatan Ansya"ejeknya membuat gadis disebrang sana mendengus.


" Kak Xia lihat kak Yura dia mengejekku"rengek gadis disebrang sana membuat Yura mendengus.


Saat mengetahui Ansya pergi bersama Xia gadis itu terus saja kurung dan merengek ingin menyusul.


Jika Ansya lawan yang seimbang untuk Yura berbeda dengan gadis disebrang sana gadis paling muda diantara mereka,Yura selalu kalah dengan gadis itu mengingat siapa garda terdepan gadis kecil itu.


"Ck "Yura mundur dan memutar matanya,lalu mengambil ponsel itu dari tangan Xia dan mematikannya membuat gadis disebrang sana mendengus kesal.


Mereka yang hanya mendengarkan hanya diam dengan pikiran masing-masing.


Setelah makan mereka langsung menuju ruang tengah dan duduk disofa dengan memutar untuk mengobrol.


Hening.. Sampai suara barton seseorang memecah keheningan.


" Nak paman sungguh minta maaf" ujar tuan Amlias.


"Anda meminta maaf atas dasar apa tuan?"tanya Xia dingin mencoba sesopan mungkin.


Tuan Alaran Amlias terdiam seolah mengingat kesalahan apa yang telah ia perbuat,hingga suara nyonya Ananta Amlias bersuara.


"Disini aku yang bersalah,,mommy terlalu syok hingga menghina kamu nak,,mommy minta maaf,,,mommy terlalu bereaksi hingga melupakan keadaanmu waktu itu,mommy minta maaf"cairan bening dari mata nyonya Ananta Amlias keluar tanpa permisi.

__ADS_1


Ananta Amlias mengingat semua hinaan yang ia lontarkan dirinya waktu itu saat suaminya dinyatakan gagal jantung setelah kecelakaan dan harus segera dilakukan operasi.


Mengingat semua itu membuat hatinya sendiri menjadi sakit apalagi hati gadis di depan nya,"Taapa jika kamu tidak mau memaafkan mommy,mommy tau kesalahan mommy begitu besar dan sulit dimaafkan,selain maaf mommy juga ingin berterimakasih nak,,ayahmu Anka Abana sudah mendonorkan jantungnya pada suami mommy,mungkin terdengar tak tau diri"Alaran Amlias mengusap tangan sang istri untuk sekedar memberi semangat.


"Mommy hanya manusia biasa nak,,saat mendengar suami mommy dalam keadaan kritis dunia ku hancur,,apa yang mommy katakan hanya perkataan syok semata,mommy begitu syok setelah mengetahui siapa pendonor untuk suami mommy dan mommy merasa hancur setelah tahu bahwa kamu menghilang Lara,,mommy mohon maaf sebesar-besarnya kamu boleh menghina mommy seperti yang mommy lakukan dulu,kamu boleh jika ingin menyakiti mommy,asalkan mommy minta kamu jangan menghilang lagi nak"Ananta Amlias mengusap pipinya yang basah.


"Mommy mohon jangan menghilang lagi,mommy sangat menyayangi mu seperti putri sendiri"sambungnya penuh harap.


Tidak ada raut wajah berlebihan dari Xia kecuali saat mendengar donor dan operasi jantung dari mulut ananta amlias.


"Nyonya benar!,memang tidak tahu diri,setelah menghina putrinya suami Anda menerima jantungnya,menjauhkan seorang anak dari ayah nya untuk selamanya dan sekarang Anda mengatakan Anda menganggap saya sebagai putri anda?"ujar Xia masih menunjukan raut datar namun ada sedikit emosi dimatanya.


"Lucu bukan?,,perlu saya tertawa?,"Ananta menundukan kepalanya sedih.


"Apa yang saya dengar memang perkataan maaf,tapi dari segi bicara anda,anda sedang menyalahkan keadaan,,wajar jika anda ketakutan dan juga syok mendengar berita suami anda,,,tapi yang menjadi korban bukan hanya suami anda tapi juga saya dan ayah saya"ujar Xia sebari mengepalkan tangannya.


"Apa anda tidak berpikir bagaimana keadaan saya!"tanpa sadar Xia menaikan okta suaranya hingga mereka yang ada disana tersentak.


Yura melihat kondisi yang mulai memanas mencoba untuk menenangkan Xia,sebelum gadis itu mengamuk dan meluluh lantahkan bangunan peninggalan anka abana,bangunan yang Xia jaga dalam diam selama ini.


Untuk Anna gadis itu sudah mengeluarkan aura permusuhan sejak itu juga namun tidak bertindak.


Tangan Xia digenggam Yura membuatnya tersadar bahwa ia sudah terbawa emosi,tujuannya memanggil mereka bukan untuk hal ini namun untuk hal lain,dirinya membiarkan pembicaraan maaf dan terimakasih ini hanya ingin tau saja,apa mereka benar-benar merasa bersalah,perkataan dari mereka membuat sfekulasi dalam diri Xia semakin kuat.


Bahwa:manusia mahluk yang egois, akan mengelak saat bersalah,mengkambing hitamkan keadaan, tidak merasa cukup denganĀ  apa yang dia miliki.


Xia menghela nafasnya mencoba tenang sebari memejamkan mata, "Saya meminta kalian datang bukan untuk acara perkataan maaf,,,saya memang memberi kalian pesan lewat ponsel putra kalian,,sudah terjadi!"


Memang tidak sopan tapi sudah terjadi dan Xia tidak peduli itu magsud yang yura ambil dari perkataan saudarinya.


Mereka terdiam tidak mengerti dengan pengalihan cepat ini,mereka boleh mengartikan jika Xia tidak ingin membahas masalah itu.


"Kita akan pergi bersama"jawab Afra sebari beradu tatap dengan Xia.


" Baik,,kita akan pergi sekarang!"ujar Xia sebari bangkit dan berjalan lebih dulu disusul yura dan anna.


"Sayang apa Lara begitu membenci ku?,,dia bahkan tidak memanggilku dengan sebutan mommy lagi"tanya Ananta mengingat Xia tidak bisa berdekatan dengan wanita walau dirinya seorang wanita setelah kejadian menghilang dihutan,,setelah dirinya kenal dengan Xia ada peningkatan bagus dari gadis kecil itu hingga ananta wanita yang berhasil membuat Xia memanggilnya mommy,walau wanita itu adalah istri dari sahabat ayahnya anka abana.


"Berikan dia waktu mom"ujar Afra.


"Afra benar sayang,Lara butuh waktu,kita tidak tau apa yang sudah gadis kecil itu lewati selama lima tahun menghilang"ujar Alaran membenarkan perkataan sang anak.


.


.


.


Mereka sudah sampai dimakam anka abana tatapan wajah mereka sendu,disana hanya ada lima manusia disana.


"Hai Anka,kami datang lagi sekarang,lihatlah kami datang bersama putri mu,dia sudah besar sekarang wajahnya sangat cantik"ujar Alaran Amlias memecah keheningan.

__ADS_1


"Kami minta maaf baru bisa membawanya kemari Anka"sambungnya.


"Mmm tuan saya juga ingin berbicara dengan paman Anka"suara Yura yang berjongkok disamping xia mengintruksi mereka.


"Silahkan nak"jawab Alaran lembut.


"Hai paman,,,perkenalkan aku Yura Arlia ahh marga tidak perlu disebutkan oke!,yang penting aku adalah gadis cantik baik hati,,"ujar Yura tersenyum membuat mereka yang mendengarnya hanya mampu menggelengkan kepala saja.


"Paman aku ini kakak tidak sedarah dari Xia,, kau tau paman putri mu ini"yura memukul pelan mulutnya sebari melihat sekitar dan berguman pelan,"Jika ketahuan aku akan mendapat masalah besar"gumannya.


Semua itu tidak lepas dari pandangan orang tua afra mereka hanya mengkerut kan kening melihat tingkah random gadis pernah mereka temui.


"Xia itu gadis yang datar,menyebalkan, jangan lupakan satu hal yang penting,Xia selalu menyalahi aturan,,tapi kami senang,,Xia gadis yang sulit ditebak dan juga berprestasi,,banyak hal yang sudah dia gapai selama lima tahun ini,,,kau tau paman kehidupan kami menjadi berwarna setelah kembalinya Xia sidatar ini"Yura melirik Xia sejenak lalu beralih menatap makam anka.


"Paman pasti senang disanakan?,Xia hidup dengan baik bersama kami,baik dalam harfian kami paman,maaf kami baru bisa berkunjung paman bukan tidak memiliki waktu,,paman pasti mengerti bukan?,,,paman bisa tenang disana jangan khawatirkan Xia sekarang dia sudah seperti manusia,bukan robot tanpa ekpresi,Xia sudah banyak berekspresi walau masih jarang"


"Xia akan sangat cantik ketika tersenyum,dan akan menyeramkan ketika marah,,Xia tidak memiliki kekurangan selain ekpresinya paman,selebihnya dia tidak perlu mengandalkan siapa pun,tapi kami akan selalu bersama Xia dan mendukung pilihan dia,,bagi kami Xia adalah Queen nya,,dia akan membalas lebih dari apa yang mereka berikan entah itu kebaikan atau keburukan,,paman terimakasih "ujar Yura sebari tanpa sadar sudut matanya mengeluarkan air mata.


"Terima kasih sudah menjaga Xia dan kak Ken,,aku sebagai perwakilan dari keluarga kami sangat-sangat berterimakasih atas keputusan paman yang sudah menjaga Xia dan kak Ken,ahh aku jadi menangis" ujarnya sebari mengusap sudut matanya.


"Ah iya aku hampir lupa!,,paman Sam dan Rain juga baik paman,Rain sudah menyukai seorang gadis paman tapi sayangnya cintanya sebelah pihak"ujar Yura sebari terkekeh,"Ini hal yang harus paman tau!,para pria tua itu selalu bertengkar paman,ahhk satu lagi trauma Xia sudah membaik sekarang"Yura menatap Xia yang sejak tadi hanya membelai makan anka,"Lihat paman Xia terus saja diam,,,dia itu irit bicara jika berbicara panjang banyak magsud tersirat didalamnya,, kau akan terus diam?"Yura menyenggol pelan Xia.


Xia menghela nafas,"Habis"jawabnya membuat yura terkekeh,tidak dengan ketiga manusia lainnya yang tidak mengerti.


" Lihat paman satu kata yang dia lontarkan menyebalkan,:magsud Xia semua yang harus dibicarakan sudah habis dalam ceritaku"rengek Yura sebari menjelaskan.


"Kita tidak perlu membahas transplantasi jantung antara ayah dan tuan Akaran untuk selamanya!"ujar Xia membuat mereka menatap gadis itu,"Sudah keputusan ayah,apapun yang terjadi hormati itu semua dan tidak membahasnya,soal permintaan maaf juga begitu,anggap saja kita manusia yang baru saling bertemu dengan fakta bahwa tuan dan nyonya Amlias sahabat ayah Anka!"ujar Xia dengan nada tegas.


"Tapi nak kami ingin "ucapan nyonya Amlias terhenti ketika Xia mengangkat tangannya meminta nyonya amlias berhenti bicara.


" Saya hanya ingin menghargai keputusan ayah Anka yang sudah berkorban untuk suami anda nyonya,bisakah anda menghormati itu juga?" ujar Xia datar namun dengan nada tegas.


Nyonya amlias mengangguk"Baiklah nak,mommy akan melakukannya "


Hening.


Selama lima menit mereka hanya menatap makam dengan keheningan dengan sesekali menatap wajah Xia yang terus berwajah datar.


Yura menghela nafas,"Kami akan menunggumu dimobil!"ujarnya dimengerti mereka lalu pergi dengan langkah enggan.


Mereka sadar jika Xia membutuhkan waktu berdua dengan sang ayah yang sudah tiada,apalagi pertemuan ini pertama baginya pikir mereka.


Setelah hanya sendiri disana Xia menghela nafas lalu tersenyum,ia berjanji untuk terus tersenyum jika mengunjungi sang ayah dan Xia juga akan berusaha untuk membuat hati ayahnya yang lain tidak cemburu.


"Aku sudah menepati janji ayah,,"Xia membelai nama sang ayah masih tersenyum,"Hanya itu yang bisa aku lakukan ayah,,,,sulit untuk memaafkan lebih baik saling tidak mengenal bukan?,,,aku manusia biasa ayah,,,aku pamit ayah"ujar Xia lalu bangkit setelah mengecup nama sang ayah.


Manusia biasa:aku manusia biasa yang terkadang tidak bisa memaafkan,atau bersabar,sewaktu-waktu aku bisa marah jika diusik'begitulah sebagian dari magsud perkataan Xia.


Diparkiran mereka memilih menunggu di luar mobil,sejak awal disana sudah ada Azkara dan Anna yang menunggu dari keduanya tidak ada yang memulai percakapan.


Anna si manusia bertingkah robot dan Azkara yang hanya akan bereaksi saat dipancing tentu saja suasana menjadi hening.

__ADS_1


Yura berdiri tidak jauh dari anna gadis itu tengah melamun entah apa yang dia pikirkan,sejak tadi hanya diam sesekali menatap arah jalan menuju makam anka.


"Awal dari akhir yang akan datang"gumannya sebari menghela nafas lalu menatap Azkara dan Anna bergantian dan kembali menghela nafas,entah kenapa dadanya terasa sesak setiap mengingat tugas yang Xia katakan untuk menyatukan dua orang itu.


__ADS_2