
Wanita yang seharusnya tidak pernah hadir dihidupnya,namun takdir mempermainkan semuanya.
Xia berlari sebisa mungkin menjauh dari wanita iblis yang ia panggil ibu,wanita yang seharusnya menjaga dan melindunginya malah ingin membunuhnya di sebuah hutan.
"Si*l*n"geram wanita itu saat melihat Xia berlari tak tentu arah,dirinya pun tidak tinggal diam dan ikut berlari mengejar sang anak angkat.
Ya anak angkat,bagaimana bisa?,karna Xia dan sang kakak bernama Liam Kenrika diselamatkan seorang pria dua tahun lalu,saat mereka menjadi korban perang keluarga kandung mereka,Xia diusia lima tahunya dan liam diusia tiga belas tahun berhasil menyelamatkan diri dari sebuah tragedi yang menewaskan ibu kandung mereka,juga memisahkan mereka dengan keluarga.
Tragedi yang berhasil Xia lupakan karna trauma yang ia alami,amnesia yang sengaja gadis kecil itu pilih,setelah diselamatkan kedua anak berbeda usia dan jenis kelamin itu diangkat anak oleh pria itu,pria bernama anka abana seorang petarung mma yang selalu menjadi pemegang mendali perak dimasa itu.
Semua tidak berjalan mulus,lagi lagi takdir memilihkan jalan yang tidak bisa siapapun pilih,adopsi yang diterima kedua anak itu ditolak oleh sang istri anka dengan tegas wanita itu tidak menyetujui keputusan sang suami.
Namun Anka Abana tidak memedulikan semua itu,dirinya masih kekeh mengadopsi kedua anak yang ia pikir amnesia dan korban penculikan,karna ia temukan dengan keadaan terluka dan bersimbah darah, toh dirinya belum dikaruniai anak selama pernikahannya ini,apa salahnya mengadopsi seorang anak sama saja bukan?, pikirnya.
Semua terus berlanjut dengan anka yang berhasil mengadopsi kedua anak yang ia selamatkan walau tanpa persetujuan sang istri,anka merawat kedua anak itu dengan penuh kasih sayang,walau dirinya bukan orang kaya namun ia mencoba memberikan yang terbaik untuk orang yang ia cintai.
Selama tinggal bersama Anka menyekolahkan Liam sesuai usianya namun juga bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang ia tidak ingin bergantung pada orang lain, orang baik sekalipun,itu semua ia lakukan untuk kebaikan adiknya,dan karna usia juga Xia kecil hanya diam dirumah,diam dengan artian lain,sebab sang ibu angkat selalu menyiksanya saat tidak ada sang ayah dihadapan mereka,jika ada sang ayah wanita itu hanya mengatakan ketidak sukaannya lewat cacian,tidak berani menunjukan sisi bejadnya.
Penyiksaan terus didapat gadis berusia lima tahun itu,semua pekerjaan rumah juga dirinya yang lakukan jika tidak atau melakukan kesalahan kecil sekalipun sang ibu angkat akan langsung menghukumnya dengan cara menyiksanya,hingga tak jarang meninggalkan luka pada tubuh kecilnya.
Kenapa dirinya tidak melaporkan perbuatan sang ibu angkat pada ayah dan kakaknya yang begitu menyanyanginya?,sudah pasti karna diancam,ya diancam,wanita itu mengancam akanĀ membuangnya dan membuat dirinya tidak bisa bertemu sang kakak dan ayah angkatnya,Xia kecil tahu pria yang ia panggil ayah bukanlah ayah kandungnya,namun ia begitu menyayangi pria itu hingga sanggup melakukan apapun,sekalipun menyiksa dirinya,asalkan dirinya bisa selalu bersama sang ayah angkat.
"Agrhhh"ringis Xia kecil saat dirinya terjatuh di sela-sela larinya,ia menyentuh dahinya yang terasa basah bukan sebab keringat ada sensasi perih disana.
Saat menyentuh dahinya Xia berguman"darah"ujarnya lirih sebari melihat tangannya sebab mengusap dahinya tadi.
"Kembali anak si*l*n,akan aku bunuh kau! "pekik wanita itu masih mengejar,rasanya dirinya belum puas jika tidak membunuh Xia kecil dengan tangannya sendiri,gadis kecil yang sangat ia benci kehadirannya karna sudah merebut kasih sayang sang suami dan penyebab renggang nya hubungan mereka,itu yang ia pikir.
Xia berdiri dan kembali berlari tak tentu arah,sesekali gadis itu meringis kesakitan dengan luka didahi dan lehernya,sesekali juga Xia kecil melirik kebelakang berharap sang ibu angkat tidak lagi mengejarnya.
"Ayah kakak tolong Lara"lirihnya di sela-sela berlari,dirinya juga selalu berdoa didalam hati berharap ada yang bisa menolongnya kali ini.
Xia kecil tersandung kakinya sendiri saat berlari hingga lagi-lagi membuatnya terjatuh,kakinya kesakitan hingga terasa sakit saat digerakan.
Dengan napas tersenggal dirinya menyeringgai seolah seorang harimau yang menemukan mangsa setelah satu minggu tidak makan,wanita itu melangkah maju selangkah demi selangkah bersamaan dengan Xia kecil yang mundur mencoba menjauhi wanita didepannya walau ia harus menyeret kakinya yang sakit.
"Bagaimana?, puas bermain kejar-kejarannya?,ibu rasa sudah puas,iuw ibu,aku tidak sudi menjadi ibumu, di panggil ibu oleh mu dan kakakmu membuatku merasa jijik dengan diriku sendiri,,,kurang ajar!"
"Ampun-ampun Lara mau pulang,Lara takut"rengek lara sebari menangis dengan kedua tangannya menangkub keatas.
"Takut hahahaha,,, bagus itu yang saya mau,,,pulang hahahaha,,,,kau akan pulang keahirat gadis kecil"seringgainya melanjutkan perkataannya sebari memindai tubuh Xia yang terus meringsut mundur menjauhi dirinya.
"Dilihat-lihat kau bisa membuatku kaya,,,,bagaiamana jika kau bekerja sama dengan ku,,,,kau membuatku kaya dan kau bisa bertemu ayah dan kakakmu lagi,,,,bagaimana?,penawaran menarik bukan?"seringgaian belum lepas dari sudut bibir wanita itu.
"Iya bu,Lara mau,Lara nurut sama ibu,asal Lara mau pulang "setuju Xia kecil masih menangis takut,apapun akan ia lakukan asalkan bisa pulang dan bertemu kakak dan ayahnya.
"Bagus,,,matamu akan laku besar,jantung,,,ginjal,ahkk semua organmu akan laku jika dijual Hhhhh" wanita itu semakin menjadi dengan jiwa iblisnya membuat Xia kecil semakin ketakutan.
"Jangan bu,Lara gamau bu,jangan"Xia kecil menggelengkan kepalanya tidak mau dengan penuturan sang ibu,yang ingin menjual organ tubuhnya.
"Itu lebih bermanfaat untumu,,,,hidup untuk membuatku kaya,,,,anggap sebagai bayar hutangmu padaku,kau sudah banyak membuang uang suamiku"
"Gamau bu,Lara mau pulang,tolong"teriak Xia kecil berharap ada yang menolongnya.
"Hhhhh teriak yang kenceng,, hhhh gaakan ada yang akan datang bodoh"wanita itu semakin puas melihat wajah takut xia,ia semakin tidak sabar untuk menjual organ gadis kecil didepannya itu membayangkannya saja sudah membuatnya senang.
Bisa kaya!,lewat jalur singkat,bi*d*b memang!.
Xia kecil terus mundur menjauhi diri dari sang ibu angkat yang semakin menggila hingga tak sadar bahwa dirinya tengah berada di bibir jurang,sekali lagi saja mundur makan sudah dipastikan Xia kecil akan terjatuh kebawah jurang yang sangat dalam disana.
__ADS_1
"AAAAAAAA AAAAA"teriak Xia sesuai perkiraan autor,Xia mundur saat tangan sang ibu hendak meraih tangannya dan akhirnya jatuh.
Wanita yang notabenya ibu angkat Xia kecil menatap kebawah dibawa ada xia kecil terjatuh,wanita itu berdecak kesal,"Berengsek aku gagal kaya,gadis sialan masih saja lepas dariku,,,dia tetap mati tapi aku tidak dapat uang,,,bodoh,gadis si*l*n,,,dia lebih menginginkan tubuhnya dimakan habis binatang buas dari pada dijadikan uang olehku,,,gadis si*l*n"umpatnya penuh kemarahan tidak berhasil dengan semua ide yang sudah tersusun rapih dipikirannya.
" Seharusnya ide menjual lebih awal datangnya,makan sudah dipastikan aku bisa kaya,bodoh,gadis si*l*n"wanita itu terus mengumpati Xia yang terjatuh kejurang lalu pergi begitu saja masih dengan umpatan yang keluar dari mulutnya untuk Xia kecil.
Sedangkan disisi lain jurang curam yang entahlah,mungkin bisa disebut penyelamat Xia kecil dari penjualan organ namun,bisa dibilang keluar sarang buaya masuk kandang singa,bisa dikatakan begitu,karna Xia kecil terjatuh kedalam jurang.
"A AAAAAAAA "teriak Xia saat dirinya menggelinding dari atas sana kelemperan jurang hingga dirinya terpental setelah menabrak batu besar didepan tubuhnya membuat dahinya berdarah lebih parah.
Xia kecil tidak hilang kesadaran,gadis itu memegangi kepalanya yang sakit,sangat amat sakit,hingga dirinya menjambak rambutnya kencang berharap bisa menghilangkan rasa sakit yang sedang ia derita.
Kedua tangannya menjambak rambutnya dengan kencang,namun bukannya membaik kepalanya semakin sakit dengan banyak banyangan yang berterbangan dikepalanya,disertai suara yang saling bersautan seolah radio rusak.
"Arghhhhhh" teriak Xia kecil frustasi sakit dikepalanya lebih mendominasi dengan banyaknya bayangan aneh yang belum juga hilang disertai suara yang kini memanggil namanya,suara seorang wanita namun suara itu terdengar asing.
"Kakak tolong"lirih Xia kecil masih menjambak rambutnya,Xia kecil menghampiri batu besar yang tadi mementalkan tubuhnya.
"Dug-dug-dug"Xia kecil membenturkan kepalanya pada batu besar tersebut,batu setinggi dirinya dan lebih lebih dari dirinya,berharap rasa sakitnya hilang.
Berkali-kali Xia kecil membenturkan kepalanya namun nihil rasa sakitnya tidak berkurang malah bertambah dengan rembesan darah yang semakin tidak terbendung mewarnai wajahnya.
Sampai pada akhirnya tubuh Xia kecil tidak bisa menahan semua lagi,bayangan hitam menyelimuti tubuhnya bersamaan dengan dirinya yang tak sadarkan diri.
Seorang remaja menghampiri tubuh Xia kecil yang tak sadarkan diri,remaja laki-laki tersebut berperawakan tinggi namun wajahnya penuh lebab dengan seragam sekolahnya,remaja tersebut menghampiri Xia kecil dengan sedikit ngontai.
Remaja itu meringis melihat luka didahi gadis kecil didepannya yang terus mengeluarkan darah," Bagaiamana mungkin ada anak kecil dihutan?"gumannya curiga.
Yang ditunjukkan remaja itu sungguh manusiawi,tidak mungkin ada anak kecil dihutan,kecuali dia bukan manusia,namun entah kenapa ia menepis keraguannya dan menolong gadis kecil itu,dengan sebisa mungkin.
Melupakan luka ditubuhnya remaja tadi menggendong Xia kecil ala bridal stay,dirinya hanya menebak setiap langkah berharap didepan sana adalah jalan keluar.
Saat tubuhnya letih dengan hati-hati Afra remaja merebahkan tubuhnya Xia kecil diatas tumpukan dedaunan yang menurutnya aman,setelah itu Afra membuka seragamnya dan menyisakan kaos hitam polos,Afra memakaikan seragamnya ketubuh Xia kecil yang terlihat mengigil.
"Demam,aku harus bagaimana?"guman Afra bingung sebari melihat sekitar hanya dipenuhi pohon disetiap sisi juga semak belukar.
Afra merobek sedikit kaosnya lalu melilitkannya didahi gadis kecil yang ia tolong berharap bisa menghentikan pendarahan.
"Tunggu sebentar aku akan kembali!"ujarnya walau tau gadis kecil yang ia tolong belum sadarkan diri namun ia tetap berkata begitu.
Afra pergi mencari kayu kering yang bisa membantunya menyalakan api untuk menghangatkan tubuh mereka,afra remaja membenturkan dua batu yang ia pegang sekencang mungkin ke arah kayu,berharap api menyala dalam usahanya.
Afra terus berusaha walau sudah berkali-kali gagal,terus mencoba dirinya tidak mau mati kedinginan dihutan ini.
Entah sudah jam berapa sekarang,matahari bahkan sudah menghilang diufuk sana, dihutan semakin menyeramkan dengan suasana gelap dan bunyi aneh yang selalu terdengar,entah suara hewan atau apapun itu rasanya segera ingin pergi dari dalam sana.
Api yang coba Afra nyalakan belum juga menyala hingga akhirnya dirinya kesal dan melempar kedua batu ditangannya ke sembarang arah"arghh"frustasi Afra sebari menjambak rambutnya.
Ehhh"leguhan kecil terdengar dari gadis kecil yang sedari tadi memejamkan mata,Afra yang mendengar langsung menghampiri gadis kecil tersebut.
"Hei kau sudah bangun?"tanyanya memastikan.
Perlahan Xia kecil membuka matanya,yang pertama ia lihat adalah seorang laki-laki seusia kakaknya tengah menatapnya senang,saat mengedarkan pandangan hanya gelap dan dedaunan disertai pohon.
Xia kecil langsung duduk dan meringsud menjauh dari remaja didepannya"pergi!"teriak Xia kecil.
"Kakak,ayah,lara mau pulang,ayah hiks"tangisnya pecah,takut ditambah rasa sakit nan pusing dikepalanya semakin menjadi.
"Hei jangan menangis,sudah,sudah disini ada kakak,kemari"Afra mencoba mendekati gadis kecil yang ia tolong yang menangis pilu.
__ADS_1
"Ayah hiks, tolong hiks,ayah hiks,mau pulang hiks,ibu jahat"racaunya sebari menangis.
Afra bingung semakin dirinya mendekati,gadis kecil itu semakin mencoba menjauh darinya.
"Hei sudah,nanti kakak antar kamu pulang,sudah ya,kemari "Afra mencoba menenangkan gadis kecil itu sesuatu yang baru ia lakukan dalam hidupnya menenangkan anak kecil,dirinya anak tunggal.
"Mau pulang huwaaaa" Xia kecil tidak mendengarkan Afra gadis kecil itu hanya menangis sebari memegangi kepalanya yang semakin berdenyut.
"Sakit"lirihnya merasakan kepalanya semakin berdenyut bersamaan dengan bayangan yang Xia lihat seperti kaset rusak.
Afra tidak memedulikan apapun lagi,remaja itu langsung berlari dan memeluk Xia kecil,Afra memeluk Xia kecil seerat mungkin menyalurkan kenyamanan agar gadis itu tidak ketakutan lagi.
"Sudah-sudah disini ada kakak,jangan menangis terus nanti sakitnya bertambah"bujuk Afra sebari masih memeluk tubuh Xia kecil.
"Hiks-hiks"merasa sudah tangisan Xia kecil mengecil,afra melepas pelukannya membuat gadis kecil itu mendongkak untuk menatap wajah afra yang berbanding dengan tinggi badannya.
Afra berjongkok menyamakan tingginya dengan gadis kecil didepannya ," Sudah ya disini ada kakak" ujar Afra mencoba menenangkan sebari mengusap wajah xia kecil yang basah ulah air matanya.
"Mau pulang hiks"rengek Xia walau sudah menghentikan tangisnya Xia kecil masih terisak ketakutan.
"Iya,nanti kakak anter kamu pulang,nama kamu siapa?"tanya afra sebari tersenyum.
"Lara"
Lara"Xia kecil mengangguk menyiakan,barulah Afra melanjutkan perkataannya, "Hai, nama kakak Afra,setelah kita keluar dari sini kakak antar kamu pulang setuju" Xia kecil hanya mengangguk masih dengan isakannya.
"Pinter"afra mengusap puncak kepala Xia kecil.
"Janji"ujar Xia kecil sebari menunjukan jari kelingkingnya dibalas afra menjadi Fromise.
"Janji"
Xia melebarkan tangannya kearah afra,dan remaja itu hanya menaikan halisnya bingung"gendong"ujar Xia kecil membuat Afra terkekeh barulah menuruti keinginan gadis kecil yang ia tolong.
"Jangan nangis ya"Xia kecil hanya mengangguk masih terisak.
Afra membawa Xia di gendongannya kearah tumpukan kayu yang ia kumpulkan,dirinya akan berusaha lagi untuk menyalakan api.
"Lara turun dulu ya"ujar afra kali ini Xia kecil menggelengkan kepalanya tidak mau.
"Kakak ga ke mana-mana ko,kakak cuma mau nyalain api,lara duduk di samping kakak oke"Xia terdiam sejenak barulah ia mengangguk.
Xia kecil duduk disamping afra yang mencoba menyalakan api dengan kedua batu seperti tadi,Xia kecil memperhatikan afra dengan kening berkerut dan wajah memerah ulah tangisannya tadi.
"Kakak lagi buat apa?"tanya Xia kecil serak.
Afra melirik kearah Xia kecil sebari tersenyum menyembunyikan kekesalannya yang masih belum bisa menyalakan api," Kakak lagi coba menyalakan api"
Xia mengangguk lucu membuat afra terkekeh "boleh coba?"
"Tidak!"tolak afra membuat Xia kecil mengkerucutkan bibirnya terlihat lucu dimata afra hingga remaja itu mencubit pelan bibir sang gadis kecil.
"Lara ga boleh main api,biar kakak saja oke"ujar Afra memperingati dengan lembut.
Xia kecil menunduk lesu,membuat afra gelagapan takut gadis kecil itu kembali menangis.
"Lara kenapa ada disini?"tanya Afra mencoba mengalihkan suasana.
sekaligus ingin memastikan apakah gadis kecil yang ia bawa manusia asli atau bukan
__ADS_1