
Diluar kamar semua orang tidak ada yang tenang,semua merasa gelisah dengan apa yang sedang terjadi.
"Kalian tenang saja dokter gila Mmm maksudku dokter Wiz Asland adalah ahli racun dari Italia,sekaligus penemu racun itu,jadi kita yakin saja kalo mereka akan baik-baik saja"ujar Rayma mencoba memberi penenang untuk semua.
"Mereka sudah ada ditangan yang tepat" sambungnya.
"Bagaimana dokter Wiz Asland berada disini?" tanya Anna curiga tidak mungkin bukan dokter italia itu bisa datang dalam sekejap waktu.
"Dia dokter yang membantu tuan Afra "jawab Azkara.
"Lapor tuan" ujar pengawal yang berlari dari arah luar
"Bagaimana mereka berhasil ditangkap?" tanya Afra dengan wajah dingin penuh penekanan.
"Maaf tuan mereka berhasil kabur" ujar hati-hati pengawal tadi.
"B*rengsek" gumannya dengan tangan mengepal,"Bersihkan mansion,bakar mayat dari pihak musuh dan kuburkan dari pihak kita,obati yang terluka dari pihak kita,dari pihak musuh Azkara yang akan mengurusnya!"
"Baik tuan saya permisi"
"Perketat keamanan!"
"Baik tuan"
Keadaan kembali hening setelah pengawal yang melapor pergi dan segera melakukannya tugasnya bersama pengawal lain.
Mereka berperang dengan pikiran masing-masing.
Hingga suara pintu terbuka terdengar di pendengaran tajam mereka.
"Bagaiaman kondisi mereka?" cecar Afra dengan raut wajah tidak bisa menyembunyikan kehawatirannya apalagi terakhir kali melihat gadisnya tergeletak tak berdaya.
Pria yang menyandang gelar dokter gila menghela nafas lalu menggelengkan kepalanya lirih.
Melihat respon yang tidak diinginkan Afra dan Azkara berteriak,"Apa yang anda katakan!"
"Katakan dia baik-baik saja atau aku bunuh kau!"ancam Afra sebari menarik kerah pria paruh baya yang berprofesi sebagian dokter itu.
Pria itu menghela nafas,"Mereka dalam kondisi kritis,jika tidak segera ditangani kematian yang akan mereka temui"
Deg
Tubuh mereka serasa seperti jely tidak bisa berdiri tegap adalah keadaan mereka sekarang.
Kedua pria itu ingin masuk kedalam kamar namun dokter mencegat mereka dengan cara berdiri tepat di depan pintu tanpa memberi akses.
"Minggir!" desis keduanya dengan tatapan tajam.
"Tuan" lirih Anna
Dokter itu menghela nafas,"Jika tidak bisa membantu lebih baik diam!"sentaknya membalas tatapan tajam kedua pria itu.
"Aku akan memastikan keselamatan dua gadis itu!,kalian urus saja penyerangan hari ini!,bagaimana bisa kalian ceroboh menjaga wanita berharga dalam hidup kalian?,bodoh!" desis dokter itu sebari kembali menutup pintu kamar tanpa mengijinkan mereka melihat keadaan kedua gadis itu.
Afra mengeram marah,apa yang dikatakan pria paruh baya itu memang benar,ia bodoh menjaga gadisnya,ia pastikan akan membalas mereka berkali-kali lipat.
"Bawa mereka keruang bawah!" titahnya mutlak.
Azkara yang sedang bersedih tidak bisa diam saja ia juga harus melakukan tugasnya sebagai pekerja,"Baik tuan"jawabnya walaupun tidak ingin meninggalkan yura tapi ia juga ingin segera membalas penyamar itu dengan berkali-kali lipat!.
"Kau dan Rayma berjaga disini,banyak pengawal juga akan berjaga jika ada kabar terbaru hubungi saya!"ujar dingin Afra dengan tatapan memangsa musuh.
"Kau tenang saja urusan disini ada dia yang akan mengurusnya" ujar Rayma menunjuk anna ia hanya ingin mencairkan suasana walau akhirnya terdengar garing.
.
.
.
Pria berpakaian formal dengan wajah menunduk menyeka wajahnya kasar,pria itu menghela nafas,setelah pintu ditutup.
"Kalian selalu membuat drama!" ujar pria paruh baya itu sebari beralih menatap dua gadis yang tergeletak di ranjang tak berdaya.
"Kakek sudah memberi suntikan, coba gerakan tanganmu!" cibir pria paruh baya itu sebari menghampiri Yura yang masih memejamkan mata dengan suhu tubuh yang kembali naik.
Pria itu kembali mengecek kondisi tubuh Yura dengan teliti.
"Ayolah kakek,tubuh ku sakit semua,xia menusuk seluruh bagian tangaku"rengek Yura sebari membuka pejaman matanya.
Pria yang dipanggil kakek itu menghela nafas,"Olesi lukamu dengan salep racikan Xia,setelah beberapa minggu tidak akan ada bekas dalam kulitmu"
"Aku tau kek"jawabnya lalu memiringkan kepala menatap saudarinya yang masih terbaring lemah disampingnya dengan mata tertutup.
Tubuh Yura belum seutuhnya bisa digerakan sudah bisa berbicara dan menggerakan kepala saja sudah bagian keajaiban saat ini," Bagaimana dengan Xia ke?"tanyanya dengan lirih.
"Seperti biasa dia tidak akan sadar selama dua hari" jawabnya memandangi wajah sang cucu dengan kesenduan.
Yura menghela nafas entah ia harus cemas atas lega,sudah bertahun-tahun Xia akan mengalami koma dalam setahun,dalam tiga tahun terakhir koma yang dialami Xia karna racun dalam tubuhnya menjadi dua hari dalam setahun jika biasanya sebulan dalam setahun,peningkatan yang bagus namun berefek pada kesehatan Xia yang semakin menurun.
"Apa paman Vihan sudah tau kek?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah tertidur Xia.
Pria paruh baya itu duduk disamping Xia yang terbaring,"Dia pasti sudah tau sekarang"ujarnya sebari mengelus wajah sang cucu dengan sayang.
"Ya kakek benar,,apa belum ditemukan penawarnya kek?" tanya Yura penuh harap.
Entah sudah berapa kali pria tua itu menghela nafas,"Jika racun dalam tubuh Xia hanya satu persen kakek bisa menemukannya,,tapi kau tau kan,racun dalam tubuh Xia hampir seratus persen dengan racun yang berbeda-beda sudah tercampur dalam satu wadah"
"Xia baik-baik saja sampai sekarang adalah keajaiban tidak ada yang menyangka dengan hal itu" sambungnya dengan tatapan kerinduan wajah cucunya ini mirip dengan wajah sang putri yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu.
"Kakek benar,,kita bahkan sudah hancur bertahun-tahun ini tapi keajaiban datang dalam hidup kita dan membuat kita menjadi manusia biasanya yang memiliki ketakutan" ujar Yura membenarkan.
Wiz Asland mengusap kepala Xia,"kakek harap Xia mengakui kebahagiaan nya"
__ADS_1
"Ya kakek benar" ujar Yura lalu beralih menatap langit-langit sebagian mencoba menggerakan tangannya yang terasa berat.
"Kek sebenarnya racun apa yang ada dalam tubuhku ini?,jika racun verme tidak mungkin karna sudah musnah didunia ini kan?" tanya Yura menyelidik ke arah kakek,ayah dari ibu kandung Xia.
"Bagaimana jika racun itu belum seutuhnya musnah?" Wiz pria tua itu bukannya menjawab malah memberi pertanyaan membuat yura memicingkan matanya penuh selidik.
"Tidak usah berbohong kek,aku yakin aku tidak terkena racun verme walaupun racun itu masih ada,,,yang aku dengar racun itu bereaksi selama tiga puluh jam sampai kematian menjemput,dan tingkat paling parah tiga jam sebelum mati,,jika aku terkena racun itu maka sekarang aku tidak akan mengobrol denganmu kek,,,bahkan mungkin kakek dan yang lain sedang menyerang keluarga Grogio" ujarnya penuh keyakinan.
Wiz membenarkan cucu lain dari keturunannya itu,"Terlalu besar kepala"cibir nya membuat Yura mendengus.
"Hey kakek tua aku ini putri tunggal dari tuan Frederick Green dan juga nyonya Sevca Green sekaligus cucu termuda dari keluarga Green" ujar yura yang memang dekat dengan kakek dari Xia ini sejak kecil,bahkan bisa dikatakan Yura adalah sosok cucu pengganti bagi Wiz selama Xia hilang.
"Iyaiya kau cucu termuda keluarga Green,,diam jika ingin tau atau kakek tidak akan mengatakannya" ancam pria tua itu membuat Yura mengkerucutkan bibirnya.
Walaupun badanya masih tidak bisa digerakan tapi mulut Yura yang terewet masih bisa bergerak dan membuat keributan.
"Katakan kek"
"Kau memerintah kakek?" tanya Wiz dengan tatapan kesal.
"Ais kakek cepat ceritakan saja" ujar Yura tak sabaran membuat Wiz mendengus dengan tingkah absurd dari gadis yang sudah ia anggap cucunya ini.
"Tidak mau!"ujar pria itu sebari memfokuskan diri pada Xia.
Melihat itu membuat yura mendengus kesal," kakek tua!"gumannya kencang sengaja agar terdengar Wiz Asland.
Kedua manusia berbeda jenis dan generasi itu saling beradu tatapan permusuhan.
.
.
.
srett
Bug
Srett
Suara teriakan kesakitan dan juga ringisan terdengar mereka diruangan pengap penuh bau anyir yang menyengat.
Mereka yang menyaksikan bergidig ngeri dengan keganasan sang tuan menyiksa musuh yang berhasil mereka sandra setelah penyerangan.
Darah mengenang dimana-mana,bukan hanya itu saja beberapa bagian tubuh sudah dilepas dari bagian tubuh lainnya seperti jemari yang diiris satu-persatu.
Semua yang ada dalam ruangan pengap itu bisa menyaksikan jemari yang mengeliat kesana-kemari di lantai setelah dengan bengisnya dipisahkan dari tangan tubuh pemiliknya.
Semua sandra tidak memiliki jemari entah tangan ataupun kaki karna masih bungkam dengan kejadian penyerangan pagi tadi,,belum mendapat jawaban yang diinginkan afra meng*liti salah satu sandranya dengan katana yang entah ia dapatkan dari mana dengan seringaian menghiasi bibirnya.
"Masih bungkam hmm?" tanyanya dingin tanpa menghentikan pergerakannya menguliti,persis seperti tengah menguliti sapi.
"Berikan cuka!" ujarnya setelah puas dengan maha karyanya menguliti salah satu sandra yang bahkan tidak bisa mengekspresikan rasa sakit yang dia rasakan saat ini.
Akhhhhh,pria itu menyerang kesakitan rasanya seratus persen lebih menyakitkan dari tadi setelah cuka menyentuh tubuhnya yang sudah tidak berkulit dengan keadaan ia masih hidup.
"Kau urus sisanya!" ujar Afra.
"Saya ijin menyiksa mereka tuan" ijin Azkara.
"Jangan membuang waktu!,ada hal yang lebih penting dari pada menyiksa mereka!" ujar Afra menolak ijin azkara.
Azkara tidak bisa protes walaupun ia sangat ingin menyiksa sandra tuanya ini,biasanya ia akan menyerahkan tugas menyiksa pada algojo yang memang sudah di tugasnya membereskan para tahanan milik afra,tapi kali ini azkara ingin menyiksa mereka agar mereka tau bagaimana rasa sakit yang yura alami hingga gadis itu kritis hingga sekarang.
Azkara memang tidak sekejam afra,jika afra singa siraja hutan maka azkara adalah harimau, raja pengganti,tapi perlu kalian ingat jangan pernah membangunkan harimau tidur.
"Selidiki penyerangan hari ini,kita akan membalas penyerangan berkali-kali lipat pada mereka!"
"Baik tuan" jawab azkara patuh.
.
.
.
Hari baru saja berganti dan kembali menjadi pagi namun ketegangan didalam mansion Abana belum juga reda,dokter yang menangani pemilik rumah belum juga memberi kabar,atau keluar dari kamar membuat mereka dilema.
Mansion sudah dibersihkan dan rapi seperti semula,inti dari mereka tidak menjauh dari pintu kamar xia sedetik saja jika tidak ada pekerjaan yang sangat penting.
Cek lek
Pintu terbuka menjadi atensi mereka.
"Bagaimana kondisi mereka?" tanya Afra bahkan mereka tidak beranjak dari sana hanya untuk sekedar duduk saja.
"Mereka sudah stabil,kalian bisa masuk untuk melihat" jawab dokter Wiz Asland.
Tentu saja mereka tidak akan menolak disana hanya tidak ada Azkara yang sedang sibuk sejak kemarin dan tidak bisa kembali secepatnya untuk menyelesaikan pembalasan penyerangan kemarin.
Afra berjalan tergesa-gesa pria itu sudah sembuh dari kelumpuhan nya tanpa siapapun yang tahu terkecuali,,
Afra menghampiri Xia yang masih tak sadarkan diri,pria itu menyorot tajam kearah dokter wiz.
"Dia baik-baik saja?" tanyanya dengan sorot tajam
Wiz asland tetua yang selalu bersikap arogan dikeluarganya terkekeh melihat tatapan itu,jika bukan demi cucunya sudah ia pastikan akan memenggal kepala pria tidak sopan dan tak tau diri itu,"Dia koma,kemungkinan besar akan sadar besok"jawabnya.
"Jika kau tidak bisa menjaga gadismu,kau bisa memberikannya padaku" sambungnya dengan beradu tatapan permusuhan.
"Jangan harap!" desis Afra dengan rahang mengeras ia duduk disamping Xia sebari menatap lamat-lamat wajah tenang yang tertidur itu.
"Bangunlah!" ujarnya lembut tapi menuntut dengan tatapan sendu,Wiz bisa melihat kasih sayang pria itu pada cucunya lewat tatapan mata.
__ADS_1
Wiz menghela nafas,pria tua itu mengambil duduk dikursi kayu disana,"Bagaimana menurutmu jika aku menjodohkan mu dengan cucuku?"pertanyaan itu mengubah atmosfer ruangan.
Rayma duduk disamping tubuh yura yang juga memejamkan mata,pria itu menoel-noel pipi yura dengan telunjuk,"Apa dia juga koma?"tanyanya berhasil mengalihkan tatapan permusuhan dari Wiz dan Afra.
Tidak berselang lama Wiz kembali bersuara,"Jika menikah dengan cucuku kau seperti mendapat lotre bukan,sangat menguntungkan dari pada bersama pilihanmu itu"ujarnya membuat Afra geram.
Afra mengepalkan tangannya tidak boleh ada yang menilai buruk gadisnya,"Anda terlalu ikut campur bukan tuan,,ingat anda hanya dokter!"ujar Afra dingin.
Wiz asland tertawa remeh,"Terlalu percaya diri kau pikir aku datang kesini karna panggilan mu?,,, tentu saja!,,,aku datang untuk mengambil apa yang aku inginkan darimu itu aja"
"Tentu saja,,,saya tentu tahu jika orang terkenal seperti anda pasti ada yang diinginkan jika sedang berurusan dengan orang lain"
"Binggo,,apa kau akan memberikannya?" tanya remeh Wiz.
Rayma dan Anna mereka belajar tuli untuk tidak memperdulikan perkataan duan pria berbeda generasi itu demi keselamatan masing-masing.
Rayma lebih suka menoel-noel wajah Yura yang memejamkan mata dengan sesekali mencubit pipi gadis itu.
"Katakan,setelah ini anda bisa pergi!" jawab Afra tak memikirkan kesopanan sama sekali.
"Kau salah jika mengusir ku,,,baiklah aku akan berterus terang berikan gadis itu untukku" ujar Wiz menatap Xia sebagai objek menarik.
Afra mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras,pria itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Wiz sebagai objek Kemarahannya.
BUGH
Wiz berhasil menghindar dari pukulan pertama yang dilayangkan kemarahan afra saat ini,tentu saja Wiz akan melayani pertarungan on by on ini dengan senang hati.
Anna berdiri dipojokan untuk memberi ruang kedua pria itu bertarung.
"Cinta mengubah segalanya,ya pria itu benar-benar menjadi semakin menyeramkan!" monolog Rayma menatap afra yang menyerang pria paruh baya dengan membabi buta namun di antara keduanya belum ada yang terkena pukulan.
"Kakek tua itu hanya memberikan jalan pintas" ujar Yura membuat rayma tersentak.
"Hei kau sadar?" tanyanya antusias.
"Hmm" jawab Yura tanpa melihat pria itu dan lebih menatap pertarungan yang menarik didepan matanya.
"Sejak kapan?,,,Mmm bagaimana ini apa aku harus memisahkan mereka agar dokter itu bisa memeriksa mu?,,atau mencari dokter lain?," ujar rayma menggebu.
"Ck lebih baik mencari dokter lain" jawabnya sendiri dari pada harus menghentikan pertarungan didepan matanya itu.
"Tidak perlu,,aku sudah sadar sejak kemarin bahkan aku sadar ketika kau memainkan wajahku Si*lan"desis Yura menatap tajam Rayma.
Pria itu tersenyum hingga deretan giginya terlihat,"Itu bagus jika kau sadar sejak kemarin hehe" ujarnya.
"Tapi apa magsudmu mengatakan kakek itu memberi jalan pintas?" tanya Rayma.
Yura mengalihkan tatapannya pada xia disampingnya yang masih asik memejamkan mata,"Kau bisa bantu ku untuk duduk?"tanyanya dilakukan Rayma.
Yura bersandar pada sandaran ranjang kembali menatap pertarungan yang semakin sengit tanpa senjata didepannya antara dua pria berbeda generasi,tapi pria tua itu bisa mengimbangi kekuatan anak muda yang ia pancing amarahnya.
"Kakek dokter itu tidak akan pergi sebelum keinginannya tergapai,,,jika kak Afra menerima perjodohan dengan cucunya ini adalah kesempatan sekali seumur hidup yang tidak akan didapat dua kali" ujar Yura.
Rayma mengangguk,"Ya kau benar,,menjadi cucu menantu dari keluarga Asland bisa dikatakan menguntungkan tapi sama saja dengan masuk dalam lobang hitam,,,entah kau tau atau tidak tapi keluarga asland tidak sesederhana itu mereka terlalu banyak masalah hidup"celetuk Rayma.
Jika Yura bisa menggerakan tangannya ia ingin sekali memukul pria yang duduk disampingnya ini,"Bodoh!,namanya hidup akan penuh dengan masalah!"rutuknya.
"Kau tidak perlu ikut campur masalah ini hanya antara mereka,kau kan tidak tau kalo keluarga asland bukan hanya keluarga pembisnis atau keluarga kedokteran biasa,,mereka itu termasuk jajaran mafia yang harus diwaspadai" ujar Rayma menatap Yura.
Yura yang ditatap menunjukan raut wajah pura-pura terkejut agar identitas mereka tidak terbongkar,"Benarkan?,, sebuah kebanggaan bisa menjadi cucunya"
Rayma memutar matanya malas menanggapi sikap Yura,"Kenapa kau sejak tadi hanya diam saja?"tanyanya senatap selidik pada gadis itu.
Yura memutar matanya malas ia,"Tubuhku tidak bisa digerakan seluruhnya "jawabnya sebari mencebikan bibir.
Deg
"Benarkah? " tanya hiperbola Rayma membuat Yura mendengus.
Yura tidak menanggapi pertanyaan rayma,gadis itu mengedarkan pandangan "Dimana kak Azkara dan kak Savion?" tanyanya membuat Rayma mendengus.
"Azkara sedang mengusut penyerangan kemarin,,untuk Savion entahlah sejak kemarin pria itu menghilang entah kemana"
Yura menganggu mengerti,"Mmm apa menurutmu kak Savion bisa terlibat penyerangan kemarin?,,,dengarkan penjelasanku dulu,aku tidak mungkin asal menuduh,magsud ku kepergiannya sangat kebetulan dengan kejadian kemarin"
Rayma menoyor kepala yura hingga gadis itu oleng dan mencebikan bibir,sekali lagi jika bisa menggerakan tubuhnya ia akan mengajak bertarung pria menyebalkan disampingnya ini.
"Terkadang kebetulan sama saja dengan jebakan!" desis pria itu,"Savion memang memiliki ikatan dengan salah satu klan mafia di Italia dia juga masih dalam lingkup keluarga asland,,,tapi ya dia tidak akan menghancurkan sahabatnya sendiri"
Yura mengangguk"pria ini terlalu banyak tau"gumannya dalam hati sebari menatap rayma dengan tatapan tidak bisa diartikan.
"Kenapa kau menatapku begitu?" tanyanya.
"Kau tidak takut?"
"Takut apa?" tanya Rayma.
"Terlalu banyak tau terkadang menjadi bumerang untuk diri sendiri" ujar Yura dengan mempertahankan tatapannya tadi.
Lalu beralih pada dua manusia beda generasi yang masih dalam dunia pertarungan mereka merebutkan wanita,"Apa mereka akan terus bertarung seperti itu?"monolog Yura kesal,"hei aku lapar"teriaknya tidak berhasil menghentikan pertarungan dua generasi.
Rayma terkekeh melihat wajah frustasi Yura yang kelaparan,"Kau ingin makan?"
"Tentu saja!,,,tapi aku juga ingin mereka berhenti bertarung pria itu akan sakit pinggang jika diteruskan" jawab Yura menatap Wiz yang melakukan pergerakan lincah tanpa ingat dengan usianya.
Yura menatap Anna dipojok ruangan dengan tatapan permintaan,mengerti magsud nonanya wanita itu bergerak menghampiri pertarungan.
Anna masuk dalam pertarungan kedua pria berbeda generasi,setelah beberapa gerakan anna menodongkan katananya dileher Afra dan juga sarung katana dileher Wiz.
Kedua pria berbeda generasi itu menatap anna dengan tatapan permusuhan,"Maaf mengganggu pertarungan tuan-tuan tapi nona Xia sudah sadar"ujarnya membuat kedua pria itu menatap kearah Xia yang tengah berbaring di sana.
Anna menurunkan katananya dan memasukan kembali kedalam sarung kayu katana setelah itu menunduk sebagai permintaan maaf,karna sudah lancang.
__ADS_1