
Bruk
Suara yang mengalihkan atensi mereka.
Yura datang dengan mendorong pintu dengan keras sampai menimbulkan suara,ditangannya juga ada baskom berisi air hangat,sapu tangan dan pengukur suhu yang ia dapat dari pengawal dibawah.
Azkara menghembuskan nafas lega,ia merasa mendapatkan penyelamat saat Yura datang.
Sepertinya tinta hitam yang mencoret nama Yura dihati Azkara akan sedikit memudar.
Yura menaruh semua yang ia bawa dimeja,ia mengusap tangannya yang terasa dingin.
Sebelum masuk kamar Yura yakin udara tidak sedingin ini, apa pendingin udaranya rusak?,kenapa sekarang terasa udara akan membekukan dirinya?.
Yura menatap Afra yang wajahnya sudah merah dan wajah Azkara yang memutih seputih kertas,ia jadi terkekeh.
"Kak Azkara kemari!"pinta Yura langsung dituruti Yzkara.
Yura semakin yakin dengan tebakannya,tidak mungkin bukan pria itu menurut begitu saja jika tidak ada yang mengancam nyawanya.
Azkara duduk disofa disamping Yura.
"Punggungmu terluka atau kau punya penyakit dalam?"tanya Yura sebari menatap wajah Azkara.
"Hah"aAzkara terlonjak"bagaimana gadis itu tau kalo pungguku terluka?"
Perlu kita ingatkan bahwa Yura sedang bertanya kali ini.
Kenapa pria itu punya pemikiran Yura mengetahui lukanya.
Karna tidak mendapat jawaban yang diinginkan,Yura memukul punggung Azkara dengan sedikit tenaga.
"Akh"ringis Azkara tersadar dari lamunannya"hei apa yang kau lakukan?"pekiknya.
"Buka bajumu!"
"Apa? "Azkara kembali terlonjak, "kenapa permintaan kedua gadis ini sama"
"Buka sendiri atau kau ingin aku yang membukakan baju mu"goda Yura sebari mengedipkan sebelah mata.
Azkara dibuat mundur dan salah tingkah dengan sikap gadis disampingnya itu.
Xia hanya menggelengkan kepala"Yura akan membantu kakak mengobati luka dipunggung"
"Hah,tapi nona saya tidak apa-apa"tolak Azkara dengan halus.
Ia tidak memberi tahu siapapun tentang luka cambuk yang baru ia dapatkan,bagaimana bisa kedua gadis ini mengetahuinya?.
Tidak mungkin para algojo memberitahu kedua gadis itukan,atau mereka mendengar para algojo bergosip,ck tapi mereka bukan sosok yang suka bergosip,lebih tidak mungkin mereka melihat dirinya saat dihukum.
Hukuman cambuk itu hanya diketahui Afra yang memberikan perintah,satu algojo yang menjalankan perintah dan dirinya selaku orang yang dihukum.
Auah Azkara pusing memikirkannya.
"Tidak usah banyak berbohong,seseorang melakukan kesalahan dan dihukum itu hal wajar,sekarang buka bajumu atau aku yang akan membukanya"ucap Yura.
Perubahan mendadak kembali terjadi pada Yura,tadi ia mencibir Azkara habis habisan sekarang ia menasehati, entahlah Azkara tidak mengerti isi pikiran gadis itu.
Emosi yang tersirat dari wajah Afra perlahan memudar,semua hanya kesalah pahaman,namun ia tetap kesal karna gadisnya memperdulikan pria lain didepannya.
"Buka sendiri atau aku bukakan?"pekik Yura.
Mendengar ancaman gadis itu,Azkara mau tidak mau membuka bajunya,walau terasa perih saat melakukan pergerakan.
Xia menyodorkan tas kecil berisikan obat-obatan yang ia racik sendiri.
Yura mengambilnya dan menaruhnya dimeja,ia lebih dulu memberikan pengukur suhu badan kearah Azkara.
"Saya tidak demam"tolaknya.
Namun bukan Yura namanya jika tidak dituruti.
Yura menyodorkan alat itu kemulut Azkara dengan paksaan,sampai alat itu terdiam dimulut pria itu.
"Diamkan"ucap Yura sebari menatap tajam saat Azkara hendak melepas alat pengukuran suhu dimulutnya.
__ADS_1
Azkara pasrah.
Xia berjalan kearah ranjang yang sudah rapi.
Ya ranjang yang acak-acakan tadi kini terlihat rapi seperti semula.
Sepertinya Azkara sudah membereskannya tidak mungkin jika Yura.
Xia membuka setiap laci namun apa yang ia cari tidak ditemukan.
Dan pergerakannya tidak lepas dari pandangan Afra.
Afra mendekat kearah gadisnya itu.
"Cari apa?"
"obat"
"Obat"ucap Afra sebari menaikan sebelah halisnya"apa kamu sakit?"tanya Afra khawatir.
Afra merutuki dirinya karna tidak tahu kondisi gadisnya,yang mungkin tengah terguncang gara-gara rumah yang ia bakar.
"Obat tidur"
"Sudah ku katakan,obatnya terbakar"ucap Yura sebari membersihkan bekas cambukan dipunggung Azkara.
"Aku punya jika kamu mau"ucap Afra.
" boleh,apa obatnya dikamar?"
"Iya"
"Baiklah mari kita ambil"ucap Xia lalu mendorong Afra keluar kamar Yura.
"Ck dia menemukan obatnya"guman Yura yang didengar Azkara.
"memang kenapa?"tanya Azkara
"apa yang kenapa?"
"tadi"
"tadi kau bilang dia menemukan obatnya,memang kenapa kalo nona menemukan obatnya bukankah itu lebih baik?"tanya Azkara dengan sabar.
"Kau benar,namun dia butuh perjuangan yang sangat-sangat besar"
"Apa susahnya hanya menelan obat"ucap Azkara heran.
"Obat bisa diciptakan melewati banyak proseskan?,dari pencarian bahan,peracikan,uji coba,semua butuh waktu dan perjuangan"
"Nona Xia hanya tinggal meminum obatnya kenapa membahas proses pembuatannya si?"heran Azkara.
"Ck Xia tidak seperti kita yang hanya tinggal meminum apa yang sudah diciptakan,dia harus meracik nya sendiri agar cocok dengan tubuhnya,dia harus banyak berjuang demi mendapatkan sebutir pil untuk tidur"
"Apa nona Xia pecandu narkoba?"tebak Azkara membuat Yura melotot kan matanya,sampai ia menekan luka Azkara sampai ia meringis.
"Pelan-pelan dong"
"Makanya jaga tuh mulut,enak saja mengatakan adikku pecandu obat terlarang seperti itu,dia hanya tidak cocok dengan obat pasaran,tubuhnya tidak cocok kau mengerti "kesal Yura tidak terima,sampai kapas ditangannya ia lempar kemeja saking tidak terimannya.
"Maaf aku hanya asal bicara tadi,apa kau marah?"
"Kau pikir?,aku harus bahagia saat adikku dikatakan pecandu obat terlarang hah"pekik Yura sebari berdiri dan berkaca pinggang di depan Azkara.
"Iya saya salah,maaf"sendu Azkara"saya salah bicara,saya minta maaf"Azkara benar-benar merasa bersalah.
"Kali ini aku memaafkan mu,tapi tidak lain kali"ancam Yura lalu duduk dan kembali mengobati punggung Azkara.
"Tidak ada lain kali,saya tidak akan bicara buruk tentang nona Xia"
"Bagaimana tentang ku?"tanya Yura.
"Untuk sekarang tidak"
"Cih,karna aku sedang mengobatimu dan kau takut aku tidak menyelesaikan perawatan pada punggungmu,jadi kau tidak akan bicara buruk tentangku begitu?"Yura berdecih tidak terima
__ADS_1
"Itu tau"jawaban Azkara membuat Yura mendengus, ia menekan luka Azkara dengan kapas kembali dan pria itu hanya meringis tertahan.
Biar tau rasa!
Disisi lain Xia mendorong kursi roda Afra memasuki lift menuju lantai 3.
Mansion Afra berdiri 4lantai,lantai paling atas adalah kamar yang ditempati Xia dan Afra,sedangkan kamar Yura dan Azkara berada dikamar 2.
"Kamu gapapa?"tanya Afra menghentikan keheningan antara mereka didalam lift.
Xia merendahkan pandangannya menatap pria yang tengah menatapnya.
Mereka beradu tatap.
"Memang aku kenapa?"
"kamu baik-baik sajakan?,kamu tenang saja masalah rumah mu,kamu tidak perlu menghawatirkan itu,apapun keinginanmu katakan saja,aku akan memenuhinya"
"Benarkah?"tanya Xia dengan mengangkat sebelah halisnya.
"Iya,apa kamu menginginkan sesuatu sayang?,aku akan memenuhinya"
"tidur"
"tidur?"tanya afra sebari menaikan sebelah halisnya.
"Pria itu berpikir"apa aku salah dengar?,apa dia ingin tidur bersamaku?"
"Ya aku ingin tidur untuk saat ini,tidur yang nyaman,tanpa memikirkan apapun,kau taukan saat tidur hanya gelap yang menyapa kita"
Mereka masih beradu tatap.
Sebenarnya Xia merasa aman saat menatap manik pria itu,dia tidak pernah merasakannya kecuali terhadap beberapa orang.
Xia merasa tempat itu,mata pria itu seperti ruangan yang nyaman untuk ditempati.
Entalah.
"Kamu takut gelap?,tenang saja saat kamu tidur aku akan menjagamu sampai kamu merasa nyaman didalam tidur mu,jadi tidurmu bisa nyenyak"ucap Afra sebari mengelus sebelah pipi xia.
"Bagaimana kalo kau tidak berhasil membuatku nyaman dalam tidurku?"
"Aku akan terus bersamamu sampai rasa takut didalam dirimu lelah melawan ku"
Mendengar penuturan pria itu membuat Xia terkekeh,bersamaan dengan pintu lift terbuka.
Xia mendorong kursi roda Afra melewati lorong yang minim pencahayaan.
Xia belum menelusuri mansion ini jadi ia tidak tau ada apa saja didalam mansion ini.
Untuk saat ini,yang gadis itu tau hanyalah mansion ini berdiri 4lantai.
Ia tidak tau ada apa dilantai 4.
Dilantai 3 hanya ada dua ruangan,yaitu kamarnya dan kamar tuan rumah.
Lantai 2 lebih banyak ruangan namun gadis itu belum tau pungsi ruangan-ruangan tersebut,namun disanalah kamar Yura dan Azkara.
Lantai 1 lantai utama,berbagai ruangan tersedia disana,seperti dapur,ruang tamu,ruang keluarga,dan banyak ruangan lain.
Seperti yang tadi dikatakan,Xia belum menjelajahi mansion ini,jadi hanya mengatakan apa yang sebelumnya ia lihat.
Mansion ini juga dijaga ketat banyak pengawal disetiap sisi,juga CCTV di setiap ruangan.
Mungkin kecuali kamar mandi,mungkin?.
Xia akan mencari tahunya nanti.
sekitaran mansion dipenuhi rumah mewah lainnya.
Setengah jam kemudian baru jalan raya namun jalan yang sepi akan kendaraan.
Mansion ini dikelilingi pepohonan yang menjulang tinggi namun kemegahan Mansion dapat memanjakan mata begitu pula dengan pasilitasnya.
Namun sayang bukan orang sembarangan yang bisa melihat pemandangan memanjakan mata tersebut.
__ADS_1
Satu hal yang Xia pikirkan.
"Siapa pria itu?,aku harus berhati-hati!"