
Waktu hampir malam dan mereka baru saja akan keluar dari gerbang panti setelah berpamitan secara formal kepada pemilik.
"Ahhh rasanya aku ingin membawa salah satu dari mereka" guman Yura sebari merangkul pundak Xia.
"Mereka akan frustasi jika ikut dengan mu,bukannya terurus malah tersiksa!" cibir Azkara membuat Yura mendelik tajam.
Yura membuang wajah kearah lain dengan napas menggebu,"menyebalkan!"
"Dia benar" ujar Xia langsung mendapat tatapan tajam dari Yura.
"Apa magsud mu hah?"sentaknya.
Xia mengedikan bahunya,"lebih baik mengurus milik sendiri"
"Magsud mu aku lebih baik mengurus anakku sendiri begitu?" tanya Yura memastikan dan di angguki Xia,"aku akan memikirkan nya setelah memiliki calon ayahnya puas kau?!"
"Kamu sudah memilikinya jika jujur dengan hatimu"
"Apa yang kamu katakan?,tidak jelas sudahlah kau mulai aneh saja!,seperti nya kau yang ingin segera memiliki anak" goda Yura menyenggol bahu Xia.
"Aku ingin memiliki keponakan!" jawabnya acuh.
"Kau sudah memilikinya"jawab Yura
"Kau harus mendengarkan baik-baik apa yang mereka katakan hanya itu satu-satunya cara agar bisa tau identitas asli mereka"ujar Savion lirih kepada Afra yang bergerak disampingnya menggunakan kursi roda.
Keberadaa mereka paling belakang diantara yang lain sebari mengawasi gerak-gerik para wanita itu
"Aku tau,mereka selalu berkata ringan dalam arti mendalam" jawab Afra tak melepaskan pandangannya kedepan.
"Ya itu benar" Savion menjeda kalimatnya untuk menghela nafas,apa yang akan ia katakan selanjutnya mengandung makna yang besar, "jika tidak bisa menjaganya akan lebih baik jika melepasnya bukan?"sambungnya bertanya membuat Afra mendekik tajam,apapun yang terjadi tidak akan ia lepaskan gadisnya itu.
"Temui aku malam ini" dingin Afra kembali menatap datar kearah depan kembali membuat Savion menghela nafas.
Didepan sana tepatnya dimana Yura,Xia dan Anna berjalan beriringan dengan Azkara dan Rayma tepat di belakang mereka,kedua gadis itu terus membahas anak membuat Yura kesal karna selalu disudutkan oleh wanita satu tahun lebih muda darinya itu.
Yura menghentakan kakinya kesal dan berjalan lebih dulu meninggalkan Xia yang terus mengolok nya dengan wajah datar.
"Aku akan membalasmu!,lihat saja" ancamnya hanya dibalas kedikan bahu oleh Xia.
Bugh
Mereka terperanjat ketika yura menabrak seorang kakek tua yang berjalan tepat di depannya,mereka serempak menghampiri Yura kecuali Savion dan Afra yang hanya memperhatika dari jauh.
Karna tidak memperhatikan jalan Yura menabrak kakek tua yang berjalan dengan bantuan tongkat,jika saja yura tidak berhasil menahan bobot tubuhnya ia pasti sudah menindih tubuh rentak kakek tua yang sudah terjerembab ditanah.
"Kakek aku minta maaf,kau tidak papa?" tanyanya cemas sebari membantu si kakek kembali berdiri dibantu Azkara yang berlari mengahmpirinya.
"Kau tidak papa kakek?" tanya Yura lagi sebari dengan hati-hati mengecek keadaan kakek itu yang menggerakan tangannya secara acak.
Anna mengambilkan tongkat si kakek yang tergeletak ditanah bersamaan dengan Rayma yang juga hendak mengambilnya,keduanya beradu tatap beberapa detik setelah itu Rayma memberikan akses agar anna memberikan tongkat itu pada si kakek.
Sedangkan Xia hanya menghela nafas tanpa membantu sebab sudah ditangani mereka.
"Kau tidak papa kakek?" tanya azkara di angguki kakek tua itu yang sepertinya baru tersadar dari keterkejutannya.
"Saya tidak papak anak muda"
"Maaf kan saya kakek,gara-gara saya ceroboh saya jadi menabrak anda hingga terjatuh"sesal Yura.
"Tidak papak nak,kakek maafkan" jawab kakek itu dengan senyuman.
"Apa ada yang terlukan kek?saya antar kerumah sakit ya?"tanya Yura cemas
"Tidak perlu nak,kakek baik-baik saja tidak ada yang terluka,kakek hanya ingin pulang saja"
"Benarkah tidak ada yang terlukan?" tanya Azkara di angguki kakek itu sebari tersenyum untuk memberi kepastian bahwa ia memang baik-baik saja.
"Syukur jika begitu,kenapa kau selalu saja ceroboh!" sambungnya mencibir kearah Yura.
"Iya aku salah" jawab Yura mengakui kesalahannya,"jika kakek ingin pulang bagaimana jika aku antar saja sebagai permintaan maaf?"
"Akan ada pengawal yang mengantarnya!" ujar Xia menatap mereka dingin walau memang tatapan Xia selalu tanpak dingin tapi kali ini tatapan itu seolah menyorot pada musuh dan Yura menyadari itu.
Yura menaikan sebelah halisnya melihat Xia yang menjauh dari arah mereka,tatapan musuh yang Xia pancarkan membuat tanda tanya di kepala yura dan membuat Anna semakin waspada dengan sekitar,Yura menatap si kakek dengan tatapan selidik walau bibirnya tersenyum karna si kakek juga tengah menatapnya,ia hanya tidak mau menuduh pria tua itu karna tatapan permusuhan Xia.
Pria itu hanya seorang kakek tua yang sudah bongkok dengan tubuh yang rentan,tidak mungkin musuh bukan?
__ADS_1
Abaikan saja bisa jadi Xia melihat orang lain yang sedang mengawasi mereka yang ia yakinin musuh dengan jarak tertentu'pikir Yura sebari mengedikan bahu.
.
.
.
Seorang wanita terbaring dengan kedua bola matanya yang memejam,dalam tidurnya terlihat gerakan gelisah bahkan wajahnya dipenuhi keringat sebesar biji jagung mengalir dari kedua pelipisnya.
Gerakannya semakin gelisah wanita itu berguman dalam tidurnya,"jangan sakiti putriku,,tidak,,tidak,, lepaskan mereka"
"Yura Xia" teriaknya hingga terbangun langsung terduduk dengan napas tersenggal-senggal dan wajah dipenuhi keringat
Sevca mengusap wajahnya kasar lalu bangkit dari ranjang dengan sedikit berlari,ia membuka pintu kamar tergesa-gesa dan.
Brug.
Sevca menubruk tubuh Frederick didepan pintu hampir membuatnya terjatuh jika suaminya itu tidak sigap untuk menangkap tubuhnya.
"Kamu tidak papa?,kenapa berlarian seperti tadi?" tanyanya sebari melihat wajah istrinya yang memucat.
"Aku,,aku ingin bertemu anak-anak" jawabnya dengan tatapan ketakutan dan wajahnya semakin pias membuat Frederick khawatir.
"Anak-anak mana magsud mu sayang?" tanyanya mencoba tidak menunjukan khawatirannya.
"Yura dan Xia,aku ingin menemui mereka,aku,,,aku harus memastikan mereka baik-baik saja sekarang" ujarnya dengan nada ketakutan membuat Frederick langsung memeluk tubuh istrinya itu.
"Mereka sedang dinegara ch,dan mereka baik-baik saja bukankah sebelum tidur kamu sudah berbicara dengan mereka hmm?"
Sevca mengangguk mengiakan,"aku ingin menemui mereka,aku takut mereka dalam masalah"
"Apa kamu mimpi buruk lagi?" tanya Frederick diiyakan sang istri dengan anggukan kepala.
Frederick menghela nafas lalu melonggarkan pelukannya untuk melihat wajah istrinya agar bisa menyalurkan energi positif disaat istrinya ini tengah merasa ketakutan karna sebuah mimpi,mimpi yang sama yang selalu datang beberapa hari ini.
"Mereka baik-baik saja,jika kita menemui mereka maka tugas mereka akan semakin lama selesai,jika begitu kita akan lebih lama juga untuk berkumpul seperti biasanya,kamu tidak mau kan mereka terus berjauhan dari kuta?"
"Tidak aku tidak mau,aku ingin mereka segera kembali! " jawabnya penuh penekanan.
"Iya mereka akan segera kembali jika tugas mereka sudah selesai,hanya delapan bulan lagi,tenang oke mereka bisa menjaga diri dengan baik" tutur Frederick memberikan kata-kata penenang untuk istrinya,istrinya yang cerewet ini menjadi pendiam sejak mendapat mimpi buruk tentang anak-anak yang jauh dari pengawasannya.
"Karna kamu terlalu memikirkan mimpi itu sayang,tidak perlu dipikirkan banyak yang menjaga mereka disana mereka pasti akan selalu baik-baik saja,mereka juga pasti saling menjaga satu sama lain" ujarnya mengecup kening Sevca lalu menggendongnya ala bridal membawanya kembali ke dalam kamar",,Yura memang ceroboh tapi ia selalu bisa mengikuti alur permainan yang Xia buat,mereka saling melengkapi dan saling menjaga,mereka juga bersama pengawal pribadi Masing-masing yang sanggup berkorban nyawa untuk melindungi mereka"sambungnya di sela-sela langkah.
Frederick membaringkan istrinya hati-hati diranjang dan dirinya duduk di samping sang istri,"mimpi itu hanya bunga tidur tidak perlu dipikirkan,untuk masalah waspada kita selalu melakukan itu,sekarang kembalilah tidur,,,,jika anak-anak tau kau kurang tidur sepekan ini maka mereka akan langsung pulang,jika begitu tugas mereka akan semakin lama selesai dan akan semakin lama berkumpul bersama kita lagi"
"Aku mau mereka pulang secepatnya!"rengek Sevca memandang Frederick.
"Iya,mereka akan segera kembali setelah memutuskan pilihan,,,sudah ya sekarang kamu kembali tidur,bayangkan hal indah agar terbawa dalam mimpimu"
"Memangnya bisa?" tanya Sevca menatap Frederick dengan tatapan selidik.
Frederick terkekeh"coba saja,suamimu yang tampan ini tidak pernah berbohong padamu"sombongnya membuat Sevca mendengus.
"Aku akan kembali tidur,tapi kau harus menemani tanpa pergi sedikitpun!"
"Tidak akan aku tolak tawaran itu" ujar antusias Frederick sebari meringkuk disamping istrinya,membuat Sevca bergeser untuk memberi ruang pada suaminya agar nyaman dalam tidurnya.
"Kemari aku ingin memeluk mu agar mimpi buruk itu tidak datang lagi" sambungnya menarik Sevca ke pelukannya.
"Modus!" cibir Sevca sebari membalas pelukan sang suami dengan perasaan yang sedikit membaik setelah mendengar perkataan suaminya,namun walau begitu hatinya tetap tidak tenang.
"Kembalilah anak-anak" gumannya dalam hati sebari memejamkan mata.
Dinegara yang sama namun ditempat yang berbeda,siluet empat orang yang dipancari aura kegelapan dimalam yang sunyi.
Siluet yang diterangi cahaya bulan!.
Keempat pria itu duduk di kursi kayu dengan tubuh berdampingan,dua orang dari mereka berbeda generasi,keempatnya tidak bisa tidur karna selalu mendapatkan mimpi buruk jika memejamkan mata sepekan ini.
Setelah lama hening suara barton salah satu dari mereka menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.
"Kita harus kembali tidur tidak usah memikirkan mimpi buruk itu,kita bukan orang-orang kuno yang percaya dengan mimpi!" ujar seorang pemilik klan Kay lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka.
Vihan menghela nafas di setiap langkahnya,ucapan dan pikirannya bertolak belaka,ia mengatakan untuk tidak percaya dengan mimpi nyatanya pikirannya terus melana memikirkan arti mimpi itu,mimpi yang sama seperti keluarga lainnya,aneh bukan!,secara bersamaan mereka bermimpi hal yang sama yang memiliki artian buruk apa ini semua petanda? .
Entahlah yang jelas ia akan semakin waspada agar tidak kembali merasakan kehilangan,ia baru saja merasakan kebahagiaan,rasanya tidak akan sanggup jika harus kembali dipisahkan dengan anak-anaknya,sudah cukup!.
__ADS_1
Ia hanya kehilangan istrinya saja!.
Samuel menghela nafas setelah melihat bulan diatas sana,indah dengan pesonanya sendiri,"apa yang Vihan katakan itu benar,kembalilah tidur waktu sudah semakin malam"ujarnya lalu bangkit meninggalkan Rain dan Ken disana.
"Ayah dan paman benar,mimpi hanya bunga tidur,kembalilah tidur bukankah besok kau ada penerbangan kenegara indo?" ujar ken dengan nada datar,mulut dan pikirkan nya terus bertolak belaka tapi ia tidak mau memikirkan hal terburuk,ia hanya akan berjuang dan menggalkan kejadian buruk itu agar tidak terjadi sebisa mungkin,perasaannya benar-benar bimbang!.
"Iya,apa sebaiknya aku temui mereka dulu sebelum kesana?" tanya Rain di angguki Ken.
"Ide bagus,kita kunjungi mereka besok" setuju ken ia juga perlu bertemu dengan adik-adiknya yang sudah hampir empat bulan tidak pulang dan menemuinya,agar bisa membuat hatinya sedikit tenang.
.
.
.
Gelap menjadikan aura sekitarnya menjadi horor,suasanan malam sangat terlihat diruangan yang ditempati seorang gadis dengan rambut digerai duduk di meja party,tidak ada sama sekali cahaya yang meronyot selain cahaya dari alat canggih didepan wanita itu.
Sorot matanya menatap penuh kebencian kearah leptop yang menyala yang menunjukan sebuah biodata seseorang,bibinya terangkat sebelah menjadikan seringaian yang sangat menyeramkan jika terlihat.
"Nona dan nyonya menarik!"guman wanita itu masih mempertahankan Seringaian nya.
"Nona dan nyonya cha kita akan segera bertemu" sambungnya dengan tatapan penuh rencana menyorot tajam dua foto wanita yang tanpa sengaja ia lihat tadi sore.
Seseorang yang memperhatikan wanita itu menyipitkan mata,karna tidak ada penerangan lain selain cahaya dari layar laptop yang menyala dia tidak tau siapa yang sedang duduk dikurti parti.
"Siapa disana?" tanyanya waspada dengan gerakan memasang kuda-kuda pertahanan diri.
"Aku"mendengar suara datar yang cukup familiar membuat pria itu menurunkan kewaspadaannya,dan mengubah raut wajahnya menjadi tenang dan bersahabat.
"Kau sedang apa disini?" tanyanya sebari menghampiri.
"Bukan kah aku yang harus bertanya begitu?,ini rumah ku!"ujar datar wanita itu dengan nada mengejek.
Pria itu mendengus tak suka," iya-iya aku menumpang disini,kau pelit sekali xia!"cibir pria itu membuat Xia hanya memutar matanya malas.
"Segeralah kembali atau pertunangan kalian akan segera batal!" ujarnya memperingati.
Pria itu merenggut tak suka,"kau selalu saja mengancam!"
"Aku tidak mengancam hanya memberitahu,jika Ansya masih tidak mencintaimu sampai delapan bulan ke depan maka aku sendiri yang akan meminta pembatalan perjodohan kalian itu,,,aku tidak akan membiarkan saudariku itu melakukan hal yang tidak ia inginkan!"
"Kenapa menjadi delapan bulan?,kau bilang satu tahun!" rengut Savion tak suka,"kau mengingkari perjanjian!"
"Isi perjanjian?"
"Kau akan membantuku lebih dekat dengan Ansya selama kau melaksanakan tugas dinegara ch" jawabnya.
"Benar dan waktu kami hanya tinggal delapan bulan lagi,maka waktu yang kau miliki juga sama"ujar Xia sebari mengembalikan layar leptop kemenu awal.
Pria itu mendengus tidak bisa mengelak,sesuai perjanjian jika ia akan dibantu agar bisa membuat gadis yang ia cintai membalas perasaannya dalam jangka waktu tertentu.
"Baiklah sebentar lagi aku akan pergi" jawabnya.
"Hmm"
"Apa yang akan kau putuskan setelah delapan bulan nantinya?" tanyanya menatap selidik kearah Xia yang juga membuat gadis kecil itu menatap Savion.
"Bukan urusanmu bukan kak?"
Pria itu menghela nafas,ia tidak bisa mengerti dengan jalan pikir keluarga ipar kakak sepupunya itu,"memang bukan urusanku,tapi apa kau tidak memikirkan perasaan Afra?pria itu sangat mencintaimu"
Xia tersenyum tipis dan itu disadari savion membuat ia memiliki jawaban untuk pertanyaannya sendiri,"kau akan tau nanti"Xia bangkit dari duduknya dan meraih laptop yang tadi menyala ia matikan membuat ruangan gelap gulita,mereka hanya bisa melihat cahaya dari sorot mata Masing-masing saja.
"Keputusan ada ditangan Yura" ujarnya sebari melangkah pergi membuat Savion mengerutkan keningnya heran sebari memandang kepergian gadis berusia sembilan belas tahun itu,gadis dingin yang hanya peduli tentang keluarganya saja, gadis dingin yang sudah menjalani pahitnya kehidupan.
"Apa magsudnya?,jelas-jelas Yura akan selalu mengikuti rencananya,kenapa menjadi sesuai keputusan Yura" guman pria itu lalu menghela nafas dan mengambil benda pipih dari dalam saku celananya.
Setelah sambungan telepon tersambung pria itu langsung berkata dengan nada dingin,"siapkan penerbangan ku sekarang juga!"tanpa menunggu jawaban ia langsung mematikan panggilan dan berguman.
"Kau akan menjadi milikku apapun yang terjadi" ungkapnya penuh obsesi.
...------...
...Terimakasi sudah membaca jangan lupa baca novel kedua ku yang judulnya :Diary triplet n. ...
__ADS_1
XLara Zadrianka Kay
IG:Kelabu_27