MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Aku akan menonton!


__ADS_3

Salah satu pria paru baya yang bekerja menjadi keamanan perusahaan 'MAZA' itu,masih tergolong muda,usianya diatas tiga puluhan mungkin.


Pria itu kembali dengan dua orang yang ia bawa,salah satu dari mereka adalah Gama yang kini menjadi sorotan.


Wajah tegas,dingin namun berkarisma menghipnotis setiap orang,tempat itu hening saat ketiganya mendekat.


"Kalian baik-baik saja nona?"tanya Gama walau tidak perlu bertanya ia sudah mengetahui jawabannya,ia juga tahu Yura yang kini terlihat kesal,mungkin karna permainannya harus terhenti.


Kedua gadis yang menjadi topik utama hari ini hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Gama.


"Permisi,tuan saya boleh bertanya?,siapa kalian ini?"tanya wanita yang para penghuni perusahaan panggil bu,usianya setara dengan Gama.


Bu melihat Gama dengan tatapan kagum,terpesona begitu juga yang lain kecuali,,,ya kalian tau siapa itu.


Hening.


"Nona kenapa anda belum masuk?,tuan ada di ruangannya"ujar pengawal suruhan Afra yang ikut kedalam tadi.


"Mereka mencegat"jawab Xia datar.


Pengawal yang terlihat lebih tua dari Gama,walau karismanya tidak memudar diusianya,wajah mereka pun seperti pinang dibelah dua,bukan kembar hanya mirip dalam ekpresi tidak lebih.


Pengawal itu melihat satu persatu orang-orang disana dengan tatapan datar,berbeda saat ia memandang kedua nona yang harus ia jaga,lembut namun sopan.


"Siapa kalian?, berani mengganggu langkah nona muda kami,kalian ingin mati?"geramnya masih dengan wajah datar.


Mereka yang disana tersentak kecuali,


"Maaf pak,kami hanya mencegat hal yang tidak diinginkan,di perusahaan kami,kami akan mencegat langkah mereka begitu pula dengan,Bapak-bapak ini,kami tetap akan mengusir kalian,kami tidak memiliki bukti bahwa kalian memang suruhan tuan Amlias"ujar bu menjelaskan masih dengan nada sopan walau terdengar dari nada yang dikatakan wanita itu,ia sedang menahan kesal.


"Anda sangat lancang nona!"bukan pengawal Afra yang bersuara namun kini Gama,pria itu berbicara dengan nada mengancam.


Atensi yang tadinya mengarahkan ke wanita yang dipanggil bu, teralihkan kearah Gama setelah pria itu bersuara.


"Maaf, tapi disini yang lancang adalah kalian berempat"ujar bu menatap remeh mereka berempat, "Jika kalian tidak meninggalkan perusahaan kami,kami akan memanggil polisi untuk mengusir kalian!"


Yura terkekeh ternyata permainannya  berlanjut dan semakin seru,"Ah kita lanjutkan"guman Yura yang kini menyeringgai.


"Polisi,jangan-jangan!,kenapa kalian membawa-bawa polisi dalam masalah kita"ujar Yura dengan wajah terkejut.


Kedua wanita yang sepertinya memiliki jabatan diatas yang lain,yang tadi banyak bicara,menatap mereka dengan remeh bahkan sudah tersenyum smirk,merasa menang.

__ADS_1


"Kitakan bisa bermain lebih lama,panggil polisinya nanti saja jika aku sudah puas"sambung Yura sebari tersenyum lebar,membuat kedua wanita yang tadi merasa menang saling menatap dengan bingung.


"Sebaiknya kalian segera pergi sebelum saya benar-benar memanggil polisi"pekik bu yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Ada apa ini?"suara barton terdengar dari belakang arah tempat keramaian berada.


Semua atensi mengarah kearah suara,tiba-tiba keadaan menjadi hening,dengan aura yang bertambah menyeramkan,berbeda dengan Xia gadis itu semakin datar,wajahnya penuh kedataran semua yang ia pikirkan tidak dapat ditembus orang lain,berbeda dengan Yura gadis itu lagi-lagi mendengus kesal,karna permainannya berhenti,baru saja akan memulai kembali,ah menggangu saja orang itu.


Keramaian seketika hening saat melihat pemilik perusahaan dan tangan kanannya datang,wanita yang sedari tadi beradu argumen kini terlihat tersenyum tipis,sangat tipis.


"Maaf tuan,ada sedikit kendala disini"ujar bu selembut mungkin "Saya akan segera menyelesaikannya"wanita itu berkata dengan percaya diri.


Hening,kedua pria berkarisma yang baru datang hanya melewati wanita yang baru saja bicara,seolah memang tidak ada sejak awal.


Keadaan hening terpecah saat suara lembut milik perusahaan yang selalu berkata tegas dan kasar terdengar membuat mereka terbelalak,takut!.


"Kamu sudah sampai sayang?,kenapa masih disini?,sedari tadi aku menunggumu" ujar Afra yang masih duduk di kursi rodanya,disamping pria itu ada Azkara yang hanya menemani karna kursi roda berjalan otomatis.


Hening tidak ada jawaban,mereka yang menonton merasa sesak mereka harus siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Afra menatap sekitar,sekitar sepuluh pegawainya berkumpul disana,pria itu menaikan sebelah halisnya,dengan mengubah raut wajahnya menjadi datar, "Ingin menganggur ternyata"ujar Afra datar.


Para pengawal tersentak mereka langsung menundukan kepala respon takut.


"Tidak ada yang mengijinkanmu bicara"ujar Afra dingin membuat pegawai yang tadi merutuki keberaniannya.


"Apa yang terjadi?"tanya Afra masih dengan nada datar.


"Maaf kan kami tuan,ini semua gara-gara mereka yang mengganggu perusahaan,mereka mencari keributan disini "ujar bu kini sudah berdiri disisi lain Afra,wanita itu menatap rombongan Xia dengan tatapan mengejek.


"Berani sekali!" tegas Afra semakin membuat wanita bu itu merasa menang,senang sekali rasanya.


"Pecat mereka semua!,sekalian blackkis mereka"ujar Afra memberi perintah masih dengan wajah datar.


Azkara langsung mengangguk dan melakukan tugasnya," Kalian kami pecat dari perusahaan ini,terima kasih atas partisipasinya selama bekerja bersama kami"ujarnya dingin,pegawai yang ada disana sudah memucat bahkan kaki untuk berpijak rasa-rasanya berubah menjadi jelly saat perintah Afra diucapkan.


"Tapi tuan,apa salah kami?,kami rasa tidak melakukan kesalahan "ujar bu dia juga sama seperti pegawai lain,syok bukan main.


Disisi Yura gadis itu sudah tersenyum miring.


"Urus mereka!" titah Afra masih dengan raut dingin,matanya beralih kearah wanita yang ia klaim sebagai tunangan beberapa minggu ini,bersamaan dengan raut wajahnya yang melembut.

__ADS_1


Secepat itu mengubahnya.


"Sayang ayo keruangan ku"ajak Afra membuat mereka yang disana tersentak bukan main,ternyata mereka salah sejak awal.


Keringat sudah membajiri semua pegawai yang menyaksikan dan menjadi korban permainan seseorang.


Afra mencoba meraih tangan gadis didepannya,namun belum sempat tangan itu tersentuh,Xia lebih dulu memundurkan langkahnya,kejadian itu membuat Afra heran.


"Apa dia marah?,aku seharusnya menunggunya dibawah sejak awal"guman Afra didalam hati,ini pertama kalinya gadis itu menolak sentuhan,sebatas pegangan tangan Afra belum berani berbuat lebih,ia tidak ingin melakukan hal kelewat batas.


Walaupun hubungan mereka selama beberapa minggu ini cukup baik dan membuat banyak perkembangan,dua orang yang bersikap dingin,jika disatukan akan menjadi kutub,tapi itu semua tidak terjadi pada keduanya,mereka berdua malah lebih banyak bicara satu sama lain,apalagi di pagi hari saat pengobatan yang Xia berikan berlangsung.


Afra pikir gadisnya tengah marah,maka dari itu sikapnya seperti pertama kali mereka bertemu,dingin dan tatapan matanya juga begitu.


Afra melirik semua pegawainya dengan tatapan tajam,ingin sekali membunuh mereka semua yang sudah menghancurkan mood kekasihnya.


"Cepat urus mereka! "Tegas Afra dengan geram karna Azkara malah diam.


"Baik tuan, kalian ikut saya! " ujar Azkara memberi perintah pada pegawai perusahaan.


Setelah membungkuk hormat Azkara membawa pegawai yang ada disana ke ruangannya untuk ditindak lanjuti atas kelancangan mereka.


Para pegawai juga membungkuk hormat barulah mereka mengikuti pergerakan Azkara dari belakang,begitu juga dengan dua wanita yang banyak bicara sedari awal.


"Aku akan menonton"ujar Yura yang awalnya cemberut kini tersenyum tipis gadis itu terlihat antusias,gadis itu mengikuti pergerakan Azkara kemanapun pria itu pergi.


"Ayo sayang,kita bicara diruangan ku"ajak Afra yang sudah mengubah raut wajahnya menjadi lembut kembali.


Xia hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun,membuat Afra menghela nafas untuk menahan kekesalannya atas keterdiaman sang kekasih palsunya itu.


Mereka memasuki lift khusus hanya untuk para petinggi perusahaan,didalam hening tidak ada pembicaraan,walaupun sudah terbiasa dengan keterdiaman masing-masing,namun kini Afra merasa kesal saat melihat tatap dingin dari kekasih palsunya itu.


"Kamu kesal padaku?,maafkan aku,tolong jangan tatap aku dengan tatapan dingin mu itu,aku tidak suka"ujar Afra lembut mengutarakan ketidak sukaannya.


Hening,bahkan Xia tidak sekedar menoleh sekalipun,gadis itu menatap lurus dengan wajah datarnya,melihat semua itu membuat afra lagi-lagi menghela nafas,untuk mengatur ketenangan,entah kenapa dirinya yang selalu bertindak tenang kini merasa kesal bahkan marah,tapi pada siapa,ya,pada para pegawainnya yang bodoh.


"Aku akan memberi mereka hukuman yang setimpal,karna sudah menganggumu,apa mereka menyakitimu?"tanya Afra mencoba memegang tangan Xia,namun lagi-lagi Xia menolak sebelum tangannya tersentuh,gadis itu lebih dulu melipat kedua tangan didepan dada.


Afra mengepalkan tangannya,namun sebisa mungkin raut wajahnya masih menunjukan kelembutan agar gadisnya tidak melihat amarah dalam dirinya,ia tidak mau gadisnya ketakutan saat melihatnya.


Tanpa diketahui pria itu,Xia sengaja bersedekap dada melipat lipatan tangan yang bergetar,untuk menutupi apa yang ia alami,bahkan tubuhnya sudah bersandar kearah lift untukenjaga keseimbangan tubuhnya, bahkan tatapannya masih datar dan hanya menatap lurus,tanpa diketahui siapapun tatapan itu memiliki arti,

__ADS_1


arti dari tatapannya itu membuat dirinya sendiri kesulitan bernafas,namun ia masih bersikap biasa saja,tidak ingin dikasihani adalah alasan dirinya melakukan itu.


__ADS_2