
Kedua pasangan yang menjadi pemeran utama acara ini kembali dalam pesta,sebelum pesta dilanjutkan Lykalos meminta asisten pribadinya untuk menyeret wanita paruh baya bernama alen kembali kemansionnya dengan kasar.
Sebelum melakukan perintah sang tuan,Rajid lebih dulu bertanya agar tindakannya tidak salah mengingat wanita yang akan ia seret adalah sosok yang berjasa bagi sang tuan,namun pria itu tidak mendapat jawaban yang dia inginkan dan diperintahkan hanya melakukan tugas.
Dia pun melakukannya,mungkin sang tuan akan diklaim sebagai anak asuk tak tau diri, terserah pria itu saja,toh tidak ada nama baik dalam dunia ini bagi mereka.
Acara kembali berlanjut tanpa gangguan lagi,hanya saja guratan amarah terlihat dari beberapa orang yang menyaksikan.
"Aku akan membunuh j*l*ng kecil itu"guman sosok itu sebari menatap tajam kearah Balla yang tengah tersenyum.
Acara pemasangan cincin sudah selesai dilanjut dengan acara lainnya,waktu semakin malam hingga acara pun selesai.
Xia dan Yura sudah memberi selamat sebelum mereka pergi dari acara,interaksi mereka tidak lepas dari orang-orang.
Banyak yang mempertanyakan siapa para gadis itu?,bagaimana bisa bersama pria tersohor yaitu Maringgai Azonafra Amlias,mereka hanya bisa menelan semua pertanyaan itu sebab tidak ada yang berani bertanya pada sosok yang diberitakan kejam itu, walau kondisinya sedang lumpuh.
Lykalos membawa Balla untuk tinggal di mansion nya seperti kesepakatan dirinya dan sang paman dari tunangannya itu,bahkan dirinya harus membayar milyaran saat melamar sang tunangan agar pria itu memberi ijin,walau tanpa ijin pria itu Lykalos bisa mendapatkan sang gadis,namun ia ingin membuat semua kewajiban tunangannya terhadap sang paman terputus dengan cara membayar!.
Jika terlepas begini maka dia bebas dalam bertindak,mereka akan segera menderita secara perlahan seperti bisikan bigbosnya dipesta sebelum mereka pergi.
Bisa dikatakan perjodohan hanyalah alibi untuk menjual sang keponakan.
.
.
.
Mobil melaju dengan kecepatan normal dijalanan yang cukup sepi sebab sudah jam tengah malam.
Seperti yang pernah dikatakan seorang gadis itu hanya bisa tidur nyenyak jika didekat pria itu,pria yang menjadi awal traumanya,dan sekaligus penyembuhnya.
Afra tersenyum sebari sesekali mengecup kening sang gadis dengan sayang,posisi mereka berada di kursi penumpang dengan Xia yang tertidur degan bersandar pada pria di sampingnya,lebih tepatnya afra yang sudah mengubah posisi xia yang tertidur menjadi bersandar padanya.
Mobil yang berisikan pasangan saling membutuhkan untuk mendapat tidur nyenyak itu dikendarai pengawal,untuk Yura dan Azkara tidak berbeda jauh dengan kondisi mobil Afra,yang membedakannya hanya yang mengendari mobil azkara sendiri,dan yura duduk di samping pria itu dengan tertidur.
Diarah depan dan belakang ada mobil hitam yang menjadi pengawal untuk mereka,pengawal yang dibawa afra adalah pengawal khusus dari tingkat satu yang beberapa hari lalu ia panggil,sekitar dua puluh orang.
Bukannya berlebihan ia hanya berjaga-jaga agar tidak terjadi hal yang merugikan,salah satunya gadis yang ia klaim melarikan diri,afra tidak akan membiarkan itu bagaimanapun caranya.
Didalam tidur kedua gadis itu sesekali mengusap bagian belakang telinga mereka masing-masing seolah ada yang mengganggu di sana,entah apa tapi sejak pagi bagian belakang telinga mereka sama-sama terasa perih walau tidak terlalu sakit,hanya seperti baru saja disayat namun tidak ada bekas saat dicek.
Dan jangan lupakan mereka sudah berbicara tidak formal lagi setelah xia memberikan peringatan tempo hari.
Perjalanan berjalan dengan lancar hingga pertengahan jalan,mobil didepan yaitu mobil para pengawal berhenti membuat pergerakan sama dengan mobil dibelakang mereka.
"Ada apa? "Tanya Afra pada supirnya,sang supir menoleh dan menjawab dengan sopan.
"Mmm maaf tuan mobil kita telah disadap" jawabnya jujur.
"Magsudmu?"
"para pengawal dari arah depan melaporkan jika mobil mereka dipasang bom pada bagian rem tuan,mereka baru menyadari itu,dan sepertinya mobil kita juga begitu tuan"
Afra mengeraskan rahangnya bersamaan dengan ketukan pada jendela kaca terdengar.
"Maafkan keteledoran kami tuan,,anda dan nona harus segera keluar sebelum bomnya meledak "ujar sosok yang tadi mengetuk kaca mobil.
Afra mengangguk,"semua mobil?"
"Benar tuan,semua mobil dipasang bom pada bagian rem,jika kami tidak menyadari lebih cepat maka akan terjadi ledakan setelah pengendara melepas pijakan pada remnya"ujar sang pengawal.
Afra mengangguk terlihat rahang pria itu mengeras dengan tatapan tajam kearah depan,lalu mengalihkan pandangannya dengan sendu pada gadis yang masih asik dalam dunia mimpinya,tidak ingin menganggu tidur gadisnya namun tindakan harus segera diambil.
__ADS_1
"Xia,,,bangunlah"ujar Afra lembut sebari menepuk pelan pipi gadis itu.
Eughh
Xia meleguh saat tidurnya merasa diganggu,gadis itu membuka matanya dan duduk diam untuk mengembalikan kesadarannya,tanpa sadar sebuah tangan berada disampingnya.
"Ayo turun!"ajaknya lembut entah sejak kapan pria yang duduk di kursi roda itu telah turun dari mobil dan berada di samping Xia dari arah luar.
Xia keluar dengan sempoyongan wajah gadis itu sangatlah imut,dengan wajah bantalnya,ia masih mencoba mengembalikan kesadarannya,sebari menatap sekitar dengan kening berkerut.
Sesekali Xia mengucek kedua matanya hingga atensi mereka teralihkan dengan suara dari serak dari arah belakang mereka,"Ada yang membawa gunting?"
Mereka yang ada diluar langsung menoleh kearah suara,mereka melihat wajah bantal yura bahkan disela langkahnya gadis itu menguap.
"Apa kalian tuli?"tanyannya lagi.
"Maaf nona,,sepertinya ada,akan saya ambilkan"ujar salah satu pengawal.
"Semua mobil dipasang bom dibagian rem?"tanya Yura sebari mengerjapkan matanya dengan lucu.
Para pengawal yang melihat ketenangan diwajah kedua nona itu merasa takjub,bagaimana bisa seorang wanita tenang saja saat bahaya berada di depannya,mereka belum tau saja siapa para nona ini.
"Hmm"jawab Afra sebagai respon,"Azkara dimana dia?"
"Ahk dia,,didalam mobil dia menjadi pengendara untuk mobil kami,dia terjebak disana dengan kaki yang terus menginjak rem,,tentu saja dia tidak ingin mati!"
"Berengs*k,cari cara untuk menonaktifkan bom itu!"perintah afra kepada anak buahnya.
"Baik tuan"jawab mereka serempak berhamburan mendekati setiap mobil yang terpasang bom.
Kap mobil sudah mereka buka sejak mobil berhenti untuk mengecek apa benar semua mobil terpasang bom,dan damm itu semua benar.
Pengawal yang tadi pergi untuk mengambil gunting kembali membawa barang yang yura inginkan dan memberikannya pada nona yura dengan sopan.
Yura berjalan menghampiri mobil yang didalamnya ada Azkara yang masih menginjak rem agar tidak membuat bom bereaksi,disana juga ada pengawal yang berada tepat disamping pintu mencoba bertukar posisi dengan azkara.
Yura mengabaikan itu dan menatap bom yang berada dikap depan mobil dililit beberapa kabel dengan warna berbeda,ada hijau,hitam,kuning,merah,dan warna putih.
"Apa yang dia lakukan?,,cepat bawa dia kemari!"perintah Afra saat melihat yura menundukan kepala untuk melihat lebih dekat bom dikap depan mobil.
Pengawal hendak melakukan perintah sang tuan namun suara serak seorang gadis menghentikan langkahnya dan menimang ragu.
"Tidak!,biarkan dia bekerja"
Perkataan itu membuat Afra tak habis pikir dengan pemikiran gadis di sampingnya,apakah ia tidak menghawatirkan saudarinya itu jika bom berhasil meledak,namun tiba-tiba teringat sesuatu.
"Than"gumannya tak terdengar siapapun kecuali dirinya.
Ia hampir lupa jika kedua gadis itu salah satu anggota pembunuh bayaran,dalam catatan yang ia dapat para gadis itu tidak ada yang memiliki kemampuan tentang bom,lalu kenapa dengan santainya Xia membiarkan saudarinya menatap bom aktif didepan matanya sendiri?.
Suasana semakin mencekam dikala mereka tidak tau bagaimana menonaktifkan bom itu.
Kembali ke sisi Yura,gadis itu tengah menatap bom dengan sangat dekat,membuat pengawal yang ingin menukar posisi dengan Azkara,dan Azkara sendiri tersentak cemas,takut bom itu akan meledak dan Yura tidak bisa diselamatkan sebab dia paling dekat dengan posisi bom.
"Kau melakukan apa Yura?"pekik Azkara.
Yura berdecak kesal saat pokusnya terganggu dengan suara pekikan dari dalam mobil,gadis itu menatap kearah dalam lewat kaca depan mobil,mereka bahkan beradu tatap,dengan tatapan kesal Yura dan tatapan cemas Azkara.
"Diamlah kau mengganggu!,,aku pernah melihat seseorang mematikan bom,,aku rasa aku juga bisa"ujar Yura sebari memegangi semua kabel yang tersambung dengan bom.
"Apa!,,kau gila?,,kau ingin bercanda dengan nyawa hah!"pekik Azkara membuat Yura berdecak.
Pengawal yang ingin menggantikan posisi azkara untuk menginjak rem mobil sudah beralih berdiri disamping Yura dan mencoba membuat nona itu menjauh dari bom.
__ADS_1
"Nona saya mohon sebaiknya anda berlindung sebelum bomnya meledak"
"Bomnya tidak akan meledak jika pijakan pada kabel utama tidak berubah!"Yura menatap satu persatu kabel bom sebari meneliti setiap warna.
"Anda memang benar nona,,tapi ada baiknya anda menjauh dari bom"
"Biarkan saja!"suara itu berasal dari belakang,keduanya menatap arah suara dan disana Xia tengah berjalan menghampiri Yura bersama Afra.
"Tapi nona"sanggah pengawal itu.
"Yura sebaiknya kamu pergi berlindung!"ujar Azkara dari dalam mobil masih mencoba untuk tidak membuat perubahan pada pijakan bom yang bisa mengakibatkan ledakan.
"Ck,,,diamlah kau terlalu meremehkanku!"kesal Yura kembali menatap satu-persatu kabel bom,dari warna hijau,lalu beralih warna hitam,putih,merah,dan warna kuning.
"Kau bisa melakukannya bukan?"tanya Xia,saat mendengar kata bom dari yura beberapa waktu ia sempat tidak paham sebab masih dalam keadaan mengantuk,namun tidak lama ia sudah mengerti.
"Ck kalian sama saja,,sudah aku bilang aku pernah melihat seseorang menjinakan bom!"kesal Yura sebari memegangi kabel berwarna hitam.
"Melihat dan melakukan itu berbeda! "ujar Xia sebari menepuk pundak saudarinya lalu mendorong kursi roda afra menjauh dari sana.
"Kita mau kemana? "Tanya pria itu sebari mendongkak menatap wajah cantik Xia walau diterpa kegelapan malam.
"Berlindung!" jawab Xia.
Azkara yang didalam mobil mendengar semua perkataan dari luar,benar apa yang dikatakan Xia,melihat dan melakukan adalah dua hal yang berbeda membuat Azkara semakin cemas,bukan takut dirinya akan meregang nyawa ia lebih takut lagi jika gadis sok berani itu juga meregang nyawa.
"Yura apa yang Xia katakan itu benar!,sebaiknya jangan bermain-main,,melihat dan melakukan adalah dua hal yang berbeda!"pekik Azkara.
Yura tidak mengidahkan perkataan siapapun,gadis itu pura-pura tidak mendengar dan terus mencibir dan mengumpat dibibirnya tanpa mengeluarkan suara sebari melanjutkan aktifitasnya menyentuh setiap kabel yang menempel pada bom.
Pengawal yang hendak menghentikan yura tadi sudah kembali beralih posisi untuk menggantikan Azkara dari mobil sepelan mungkin agar tidak ada pergerakan dalam rem,pengawal itu sudah masuk kedalam mobil bagian samping pengendara,yaitu samping Azkara.
Perasaan Azkara baru kali ini merasakan takut yang luar biasa,ia ingin segera keluar dan menarik yura menjauh dari bom lalu memarahi gadis itu atas tindakan sok beraninya,gadis itu terus tidak mengidahkan perkataannya dan terus menatap bom dengan lekat dengan bibir yang terus mengeluarkan perkataan tidak bersuara.
Kaki pengawal sepelan mungkin menginjak rem bersamaan dengan kaki Azkara yang bergeser untuk memberi akses agar berpindah posisi dengan pengawal,anggap saja pengawal itu dijadikan tumbal namun bagaimana lagi mereka harus merelakan nyawa mereka untuk menjamin keselamatan sang tuan dan orang-orangnya.
Hap.
Yura termenung dengan tangan memegang semua kabel berbeda warna itu,"mungkinkah?"gumannya ragu sebari melepas satu persatu kabel dari tangannya,semua kabel sudah terlepas dari tangannya kecuali satu kabel,kabel berwarna hitam pekat,gadis itu terlihat menimang tindakan selanjutnya lalu ia menatap gunting ditangan kanannya.
"Jangan bunuh diri Yura"guman Yura dengan posisi gunting yang siap memotong kabel,yura menghela nafas panjang sebari menimang,hingga suara berhasil mengagetkan nya dan.
"Yura menjauh dari sana!"pekikan itu membuat Yura tersentak.
Krek
Yura menatap tangannya yang masih memegang gunting,tiba-tiba ia terhuyung ke belakang dengan sangat kencang,Yura menatap tangan kekar yang memegang lengannya kencang dengan langkah tergesa menjauh dari setiap mobil berisi bom.
Yura hanya mengikuti langkah Azkara yang menariknya menjauh,ya pria yang membuatnya terhuyung adalah Azkara setelah posisinya bertukar dengan salah satu pengawal dirinya langsung berteriak dan bergegas menarik Yura menjauh tanpa mengidahkan apapun.
Jarak mereka semakin jauh dari mobil berisi bom dan mendekat kearah Xia dan Afra yang berdiam di posisi aman jika ledakan terjadi.
"Apa yang kau lakukan tadi?,,nyawa bukan mainan Yura! ,,kau tidak bisa seenak hati dalam bertindak,,bagaiaman jika bomnya meledak?"cecar Azkara setelah mereka tepat diposisi Xia dan Afra,pria itu memarahi Yura terlihat seperti ayah marah pada anaknya.
Para pengawal yang menyaksikan tingkah Yura juga sempat merasa syok bagaimana bisa seorang gadis masih bercanda dalam kondisi menegangkan seperti ini bahkan berani bermain dengan bom,,sungguh mereka akan lebih syok jika mengetahui identitas asli para gadis itu.
"Kenapa kamu diam saja!,,apa ada yang sakit?"tanya Azkara yang tadinya marah kini cemas karna gadis cerewet itu hanya diam saja sebari menatap gunting ditangan kanannya.
Azkara dibuat semakin cemas dengan keterdiaman gadis yang masih mengoceh,bahkan dengan beraninya hendak bermain dengan bom beberapa saat lalu.
Yura menatap gunting ditangannya lalu mendongkak menatap wajah Xia barulah wajah azkara dengan senyum dibibirnya.
"Tidak meledak?"tanyanya dengan mata berbinar membuat mereka yang disana saling pandang tak mengerti.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja menggunting salah satu kabel bomnya tadi"sambungnya membuat orang-orang yang mendengarnya menjadi pucat bak mayat hidup.