
Terus menatap gadis di sampingnya yang masih menunjukan seringaian dibibirnya, cukup membuat orang disana mengusap lengan mereka bergidik.
"Sudah menatapnya,aku ini memang cantik setiap orang akan terpesona padaku tanpa terkecuali"ujar Yura di tingkat narsisnya sebari menaik turunkan kedua alisnya.
Azkara langsung berdecih menanggapi wanita songong itu," Kecuali aku! "
"Ckckck,penipu ulung,jelas-jelas sedari tadi kau menatapku karna terpesona,ngaku saja si tidak akan rugi ko!"
"Percaya diri sekali anda nona Yura Arlia"decih Azkara menekan semua perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Oh,jelas,aku harus percaya diri dengan fakta yang ada pada diriku"jawab Yura bangga.
Azkara memutar matanya malas," Fakta bahwa kau pembuat onar,benar?"
"Salah satunya"jawab Yura enteng sebari terbahak.
Para petugas yang menemani mereka diruang CCTV sekitar ada empat orang,mereka pegawai khusus bagian ini,keempatnya hanya menatap monitor sebari mendengarkan perdebatan dua insan didekat mereka tanpa merani menenggahi,menegur,atau menatap.
Ingat!,Azkara sama kejamnya dengan tuan besar mereka.
"Pembuat onar saja bangga"cibir Azkara lalu ia menatap monitor dan memberi perintah kepada salah satu pegawai disana," Kirim rekaman tadi kepada ku!"
"Baik tuan"jawabnya patuh.
Suara dering ponsel mengalihkan atensi mereka kearah suara.
Azkara langsung menekan ikon hijau setelah tau siapa peneleponnya.
"Ha,, "
"Panggil dokter sekarang! "Panggilan langsung diputus pihak penelepon secara sepihak.
Mendengar perintah dari sosok si penelepon membuat Azkara panik,ia langsung menarik tangan Yura untuk mengikutinya,karna Yura yang tingginya tidak setinggi Azkara,ia sedikit kesulitan mengikuti langkah pria itu.
"Hey,pelan-pelan dong!" pekik Yura disertai kaki yang terus melangkah dan tangan yang terus digenggam pria didepannya yaitu Azkara.
"Kau mau membawaku kemana?,kenapa buru-buru seperti ini?,apa kita akan antri sembako?,apa kau semiskin itu?"oceh Yura tidak ditanggapi Azkara sampai mereka memasuki lift menuju tujuannya saat ini.
Pria terlihat sangat panik di balik wajahnya yang mendatar,pria yang beberapa minggu ini memiliki ekpresi lebih ulah yura tentunya,namun pria itu akan kembali datar dan dingin jika bersama orang asing.
Pria itu menempelkan ponselnya ditelinga setelah beberapa detik lalu mengotak-atiknya.
"Halo,cari dokter yang bisa dipercaya, bawa ke perusahaan sekarang!" titah Azkara setelah mengucapkan itu, pria itu memutus sambungan.
Yura menaikan halisnya,"Dokter untuk apa?"
"Aku tidak tau,yang jelas ada yang sakit"mendapat jawaban seperti itu membuat Yura memutar matanya malas.
"Tentu saja jika memanggil dokter pasti ada yang tidak sehat,huhh,sabar,sabar "pikir Yura kesal.
Tidak ada percakapan setelah itu,bukannya tidak kepo hanya saja Yura akan menahan mulutnya untuk bertanya kali ini,ia cukup kesal dengan jawaban dari pertanyaan tadi,walaupun mulutnya sudah gatal ingin mengoceh.
Setelah sampai dilantai gedung paling atas,menuju ruangan yang entah milik siapa yura tidak tau,tapi setelah ia pikir pastilah ruangan itu milik pria yang mengaku amnesia itu.
Itu artinya ada seseorang yang sakit didalam ruangan itu,tapi siapa?,disana ada Xia dan pria itu,itu artinya salah satu dari mereka jika bukan itu artinya ada orang lain,apa Xia menyakiti seseorang didalam sana?,entahlah bodo amat selama Xia aman yura akan senang.
Pintu diketuk " Tuan ini saya"
"Cepatlah azkara!"titah orang didalam.
Dengan cepat Azkara membuka pintu,ornamen hitam putih menghiasi ruangan,tidak ada yang aneh diruangan itu,seperti biasanya saja jika mereka lihat,tapi beda dengan kita.
Ruangan yang sangat luas dengan ornamen hitam putih menghiasi tembok,dan langit-langit,meja yang hanya menyiapkan satu kursi,mungkin kursi kebesaran milik afra dipojok kanan,sedangkan dipojok kiri ada sofa oversize dan kingsize yang saling berdampingan,jangan lupakan meja persegi panjang berserta kursi yang berjejer anak didepannya,diujung dekat jendela yang memperlihatkan susana diluar dari ketinggian lantai sepuluh itu,dipojokan dengan meja persegi panjang yang biasanya dijadikan tempat meeting jika afra sedang tidak ingin keluar dari ruangannya ini,ada rak yang dipenuhi buku-buku.
Sudah sampai disana saja mendripsikan ruang kerja milik Afra,karna kita harus kembali kealur cerita hari ini.
Mata Yura melebar begitu juga azkara,keduanya masuk dan menghampiri dimana afra berada.
Yura beralih menatap tajam kearah pria yang masih duduk di kursi roda dengan darah yang mengalir dari tangan kanannya,luka itu pasti dari wanita yang sedang memejamkan mata didepannya dengan nafas memburu,jangan lupakan pisau lipat yang ia todongkan,walaupun menutup mata ia masih bisa merasakan jika ada pergerakan dan langsung menyerang.
Yura jelas tau apa yang sedang terjadi, gadis itu lagi-lagi menatap Xia dengan bingung,apa yang terjadi sampai trauma nya kambuh?,sudah lima tahun.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan b*d*b*h"pekik Yura terhadap orang yang ia tatap,orang itu menatap tatapan Yura.
"Aku tidak belakukan apapun"tidak ada niat membela hanya mengucapkan kejujuran," Tadi dia seperti biasa,hanya saja sedikit aneh"
"Aneh?,aneh seperti apa hah?"pekik Yura masih menyorot dengan tatapan tajam.
"Sesuatu yang membuat traumanya kambuh"jawab Afra membuat Yura terbelalak,bagaimana?,bagaimana bisa pria itu mengetahuinya.
Yura yang tiba-tiba bengong kembali tersadar saat mendengar suara bentakan dari gadis didepannya dengan pergerakan yang masih sama seperti awal ia memasuki ruangan.
"Pergi!"teriak Xia dengan mata tertutup dan tangannya menodongkan pisau lipat yang selalu ia bawa untuk tugas kali ini.
"Xia,hei,ini aku Yura,tenang oke!"ujar yura mencoba menenangkan saudara berbeda orang taunya itu.
"Kalian berdua sebaiknya pergi!"titah Yura.
"Jika ada sesuatu langsung panggil aku,aku akan menunggu diluar"ujar Adra setuju untuk pergi dari ruangannya sendiri,ia tau apa yang terjadi,pria itu terlihat menyesal karna sudah menyebabkan trauma gadis kecil itu kambuh.
Kedua pria itu pergi dari sana dengan kepanikan dan ketakutan dalam diri mereka,takut rencana itu gagal.
Didalam ruangan yura masih menenangkan Xia yang sedang menahan dirinya untuk tidak menyakiti siapa pun di dekatnya dengan keadaan setengah sadar.
"Xia tidak ada siapa-siapa disini,hanya aku,Yura,hei buka matamu lihat aku,tidak ada siapa-siapa lihatlah"ujar Yura membujuk sang adik berbeda orangtua,agar mau membuka mata untuk menenangkan diri sebelum tidak terkendali.
Dua jam,jika lewat dari waktu yang disebutkan tadi maka perusahaan ini akan berubah menjadi kuburan masal dalam waktu singkat,kejadian berdarah yang akan mengguncang negara,xia harus bisa mengendalikan dirinya disaat ingatan tiga belas tahun lalu melintas,kejadian awal semua sifatnya terjadi dihari itu.
"Buka matamu pelan-pelan oke!"Yura tidak menyerah ia terus menyakinkan sang adik,bahwa mereka hanya berdua disana sebari kakinya melangkah mendekat kearah Xia.
Xia percaya dengan ucapan saudarinya itu dengan mencoba membuka matanya secara perlahan,dan benar apa yang Yura katakan.
Xia terus menatap tajam kedepan dimana ada Yura yang tengah mendekatinya secara perlahan,Yura bisa saja melawan gadis didepannya bertarung,namun di saat kesadaran yang hampir direnggut trauma,Xia akan lebih sadis dan beringas bak kesetanan.
Sudah lima tahun,sejak lima tahun hari ini pertama kali semua kembali diingatan,Yura tau semua tentang trauma itu dari sang kakak berbeda orangtua,Yura sebenarnya bingung harus apa ia hanya melakukan apa yang kata hatinya katakan.
" Pukul"ujar Xia masih menatap tajam dan tangan menodong pisau dengan masih setengah kesadarannya terenggut.
"Apa?"Yura berhenti saat mendengar perintah Xia.
"Mustahil"jawab Yura,dalam bela diri mereka sama-sama kuat bahkan bisa dikatakan sebanding,tidak akan mudah membuat dia pingsan.
"Terlambat"guman Xia sebari matanya yang memejam dan kembali menatap dengan cepat,tatapannya semakin menyeramkan bahkan gadis itu tengah tersenyum miring.
Yura tertegun melihat semua itu,ini adalah pertama kalinya ia melihat Xia hilang kendali dalam keadaan traumanya.
Yura tersadar saat sapuan kasar dibagian lengan.
Sreet
Yura menatap arah dimana baru saja Xia berlari kearahnya dengan menyayatkan pisau kearah tangan kanan dengan luka memanjang mengeluarkan darah segar.
Yura meralih menatap Xia yang kini berdiri dibelakangnya,ia seperti tidak mengenali sosok itu,Yura melihat seringgaian dibibir Xia itu artinya semua tidak akan baik-baik saja.
Walaupun sepertinya Xia masih mempertahankan kesadarannya jika tidak maka bukan lengan yang akan tergores tapi bisa saja pisau itu akan tertancap langsung dijantung.
Xia bergerak cepat kearah Yura dengan masih memegang pisau lipat,pisau yang kini coba sayatkan kearah wajah cantik Yura,namun untungnya Yura memiliki respon yang baik.
Yura menghindar kecepatan keduanya sama rata,bisa dikatakan seimbang,namun tetap saja ada keraguan disalah satu hati dua gadis cantik itu.
Keduanya beradu tatap beberapa detik sebelum pertarungan selanjutnya kembali terdengar,pukulan dan menghindar keduanya lakukan disaat-saat tertentu,pergerakan mereka tentu saja tidak lepas dari pendengaran dan penglihatan dua pria yang berdiri dibalik pintu melalui CCTV yang tersambung ke tablet yang azkara pegang.
Bugh
Bugh
Bugh
Ingin sekali keduanya masuk untuk melerai,jika saja tidak ingat pesan yang dikirim Yura melalui ponsel sebelum pertarungan terjadi.
"Jangan masuk apapun yang terjadi,jika ingin kita semua selamat!,dua jam"begitulah kira-kira pesannya.
Kembali kearah pertarungan yang semakin sengit,bahkan Yura sudah mendapatkan luka disudut bibirnya dan mengeluarkan darah.
__ADS_1
Luka yang Yura dapatkan karna menghindar dari pukulan Xia yang mengarah ke wajahnya namun sial,pergerakan Xia ternyata tidak terbaca,pukulan itu hanya pengecoh untuk pukulan tangan kiri.
Yura mengusap sudut bibirnya,gadis itu menjadi kesal,ingat bukan bahwa boleh saja saling bertarung asal jangan mengenai wajah,ia akan mengingatkan Xia setelah ini.
"Baiklah seperti perjanjian,jika mengenai wajah tidak ada lagi permainan,ayo kita selesaikan"ujar Yura kesal sebari saling bertatapan tajam dan memutari tubuh masing-masing.
Xia kembali menyeringai mendengar penuturan gadis didepannya,kesadaran dirinya sudah direnggut rasa traumanya,ia mengenai siapa gadis didepannya,tapi dirinya tidak bisa mengendalikan tubuh.
Pertarungan kembali terjadi,Yura sudah mendominasi ia bertekad akan mengeluarkan semua keahliannya,seperti perjanjian mereka.
Kini Xia mundur dua langkah kebelakang saat Yura melakukan tendangan,Yura yang melihat itu tersenyum miring," Kita lihat kemampuanmu"
Yura kembali melakukan tendangan,tendangan kali ini tidak hanya sekali namun berkali-kali dengan pergerakan tubuhnya yang memutar,dibarengi pergerakan yura,xia terus mundur sampai akhirnya Xia berlari kebelakang.
Yura masih melakukan pergerakannya saat Xia berlari kebelakang,Yura yakin gadis itu tidak akan menyerah.
Benar saja pemikiran Yura,Xia berlari sampai sudut ruangan sampai kakinya dipaksa mengerem untuk menghentikan tubuhnya,lalu kembali berbarik dan berlari lebih kencang dari tadi,semakin dekat kearah Yura yang masih melakukan tendangan memutar berturut kearah berlawanan.
Keduanya saling berhadapan dengan pergerakan mereka yang anti mainstream,bahkan para pengawal milik pribadi kedua gadis itu sangat terkesima dengan pergerakan nona mereka dalam bertarung,seolah sedang menari dan menunjukan tarian yang sangat-sangat indah.
Jarak semakin terkikis tiba-tiba xia melayangkan tubuhnya dengan kedua kaki mengarah kearah perut Yura,tentu saja Yura terbelalak dengan semua itu,ia hanya bisa menerima nasib mau menghindarpun tidak bisa.
Brugh
Brak
"Uhuk"Yura terbatuk setelah dirinya didorong paksa dibagian perut oleh kedua kaki sang adik,bahkan ia sampai memuntahkan darah segar.
Yura memegangi perutnya yang begitu sakit atas tindakan tidak terduga itu,sedangkan xia setelah menerjang tubuh yura,gadis itu mendarat sempurna diatas tubuh Yura.
Tidak ada raut bersalah pada gadis itu,matanya terus menyorok tajam,ia berdiri dan tersenyum smirk.
Yura memiliki pemikiran buruk kali ini," Aku akan mati hari ini,sial aku jalan-jalan ternyata menjemput nyawa,aku akan mati ditangan adik kesayangan ku,apa aku boleh menangis,perutku sakit tau,seluruh tubuhku terasa remuk"keluh Yura dalam hati melihat saat melihat smirk diwajah sang adik,yang menandakan semuanya belum selesai.
Pisau sudah Xia lempar agar pertarungan semakin seru,kini gadis itu kembali memungut pisau lipat nan tajam itu,salah satu pisau koleksinya.
Gadis itu kembali berjalan kearah Yura yang sudah tergeletak dan pasrah-pasrah saja,Yura menggelengkan kepalanya saat Xia menyeringgai dan menunjukan pisau kearahnya.
"Ah sudah dipastikan aku akan mati,ayah aku tidak akan menikmati warisan yang sangat banyak itu,karna aku mati lebih dulu"pekik Yura saat xia mendekat dan dirinya replek mundur.
Tubuh yura tidak bisa ke mana-mana lagi,sudah berada di ujung,Yura memejamkam matanya," Aku akan memejamkan mata agar saat aku membuka mata siapa tau kau ingsaf Xia"celoteh Yura tidak tau tempat,walau wajahnya menunjukan bergidig,tapi rasanya yura akan terus bicara apalagi sebelum benar-benar tidak lagi bisa berkata.
Beberapa menit menunggu sapuan yang mungkin akan merenggut nyawanya,namun nihil Yura tidak merasakan apapun,saat membuka mata ternyata apa yang ia katakan tadi benar-benar terjadi.
Xia menanjapkan pisau lipat dibahu kanannya saat dirinya bisa mengendalikan setengah kesadaran,untungnya ia masih sempat sebelum benar-benar terlambat,jika terlambat maka ia akan kehilangan gadis cerewet yang selalu menemaninya selama lima tahu ini.
Tidak ada ringisan saat benda tajam itu menanjab sempurna,tentu saja yura melebarkan matanya.
'Memang benar,walau mereka saling bertarung tapi tidak akan saling membunuh'
Bahkan terdengar gerakan dari arah pintu,bisa dipastikan mereka mencoba masuk.
"Pukul kepalaku dengan kencang!"titah Xia membuat Yura tanpa menunggu langsung menegakkan tubuhnya,seolah melupakan luka yang ia rasa,oh dendam yang langsung terbalas.
Yura langsung melayangkan pukulan keras kearah kepala xia sekali,namun berhasil,ya bukan menyadarkan tentunya,hanya berhasil balas dendam.
Pukulan didahi dari yura berhasil melukai Xia,dahinya mengeluarkan darah segara bahkan saat mendapat bogeman Xia terhuyung saking kerasnya.
Masih berbagi kesadaran dengan trauma,Xia mendengar kehebohan didepan pintu,saat mereka yang mencoba masuk mencoba mendobrak pintu yang entah kapan terkunci,autor aja lupa coba.
Jika sampai terbuka maka masalahnya akan semakin panjang,Xia berjalan kearah meja yang diatasnya ada sebuah benda yang terbuat dari keramik dengan desain cukup menarik,bukan waktunya untuk mengagumi.
Xia mengambil benda yang suka di panggil vas oleh kebanyakan orang,Yura hanya menatap dari tempat ia tadi berdiri,ia sudah kembali berbaring,setelah rasa balas dendam tersalurkan ternyata rasa sakit ditubuhnya kembali.
Brug
Akhirnya pintu terbuka dengan cara didobrak empat orang bertubuh kekar,salah satunya Azkara dan Gama,bersamaan dengan itu Xia juga jatuh pingsan setelah memukul kepalanya sendiri menggunakan vas.
"Xia"teriak Yura syok dengan apa yang baru saja ia lihat,gadis itu berlari kearah tubuh Xia dan menangkapnya sebelum seluruh tubuhnya menyentuh marme.
"Nona"teriak semua yang disana.
__ADS_1
"Xia"teriak Afra.