Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Ms2-Bab.9 Balap liar


__ADS_3

"Karena mereka sudah tahu cara main Vareen, jadi untuk malam ini biar gue yang tanding," ujar Arsya ketika mereka sedang mengatur rencana di markas.


Arsya, Cakra, Dikta, dan Vareen, kini sedang duduk melingkar dengan alas karpet bulu, di ruang tengah markas Atropos geng.


"Lo yakin?" tanya Cakra. Dia cukup terkejut dengan ucapan Arsya, begitu juga yang lainnya, juga mengalihkan atensi pada Arsya.


Mereka semua tampak ragu, mengingat Arsya yang baru dalam mengendarai motor. Sementara ini adalah sebuah balapan liar, yang tentunya jauh berbeda dari mengendarai motor di jalanan pada umumnya.


"Kalian gak percaya sama gue?" Bukannya menjawab, Arsya malah bertanya balik sambil menaikan salah satu alisnya.


Cakra, Vareen, dan Dikta, pun terlihat kikuk ketika mendapat pertanyaan dan tatapan tajam dari Arsya. Tanpa mereka menjawab pun, sepertinya sang lesader sudah mengetahui apa yang kini ada di pikiran ketiganya.


Sementara Fahri yang baru datang dengan sekantong plastik besar minuman dan cemilan di tangannya, hanya menatap tak acuh. Tangannya cekatan mengeluarkan minuman dan makanan, lalu membaginya pada semua inti Atropos. Dia bergabung dalam rapat setelahnya. Fahri memang memilih untuk mampir dulu di sebuah mini market ketika mereka sedang berada di perjalanan menuju markas. Dia bersama dengan anggota geng lainnya, sementara inti Atropos yang lain memilih pergi lebih dulu, mengingat harus menyusun rencana untuk nanti malam.


"Oke. Berarti yang turun ke lintasan nanti malem adalah leader kita sendiri. Nah, sekarang, Vareen, coba lo ceritain semua tentang Venus sama kita," ujar Dikta, mengambil alih perbincangan. Yang lainnya tampak mengangguk menyetujui.


"Venus itu--" Vareen mulai menceritakan semua berita tentang geng Venus di kalangan pembalap liar.


...🦅...


Jam satu dini hari, Atropos Geng sampai di jalan tempat balapan liar akan berlangsung. Beberapa anggota lain pun ikut untuk menyaksikan pertandingan pertama kali ini.


Para penonton yang ada di sana pun tampak memperhatikan kedatangan mereka. Wajah asing di dunia balap liar, tentu saja akan lebih menarik perhatian. Apa lagi, setiap wajah para inti Atropos geng memiliki paras yang di atas rata-rata. Namun, ketika melihat wajah Vareen, sebagian dari orang yang familiar dengan wajahnya langsung mengerti, maksud kedatangan mereka.


"Selamat datang, Bro!" Seseorang langsung menghampiri Vareen dengan wajah sumringah. Mereka melakukan tos lalu berbasa-basi sebentar.


"Temen gue mau ikut balapan," ujar Vareen pada lelaki bertato naga di tangan kanannya, yang ternyata salah satu panitia di sana.


"Siap! Ayo gue bantu lo daftar. Malam ini, gue jamin lebih seru, dan taruhannya lebih gede. Soalnya, ada geng Venus yang mau ikut balapan," ujar cowok bertato naga itu.


"Pastikan gue tanding bersama Venus." Arsya berbicara dengan gaya yang santai tetapi ada sedikit tekanan di nada suaranya.


Cowok bertato naga itu tampak sedikit terperanjat ketika mendengar ucapan Arsya. Tidak biasanya ada anak baru yang langsung ingin menantang Venus. Sebaliknya, biasanya pembalap baru akan menghindari untuk bertanding dengan Venus, mengingat nama buruk yang sudah disandang lama dan melekat pada geng motor itu.

__ADS_1


"Lo yakin?" tanya cowok bertato naga itu. Tampaknya dia tidak yakin pada kemampuan Arsya.


"Gue gak akan maju kalau gak yakin," jawab Arsya tegas.


"Wih, santai dong, Bro. Oke gue atur lo main sama Venus." Cowok bertato naga itu tampak menepuk beberapa kali pundak Arsya sambil tertawa hambar. Sekedar mencairkan suasana yang sempat terasa canggung.


Beberapa saat mereka ada di sana. Arsya dan Vareen pun sudah kembali setelah mengurus pendaftaran. Tiba-tiba serombongan motor mulai merapat, mengundang sorak sorai para menonton yang sudah mulai padat.


"Venus geng!"


"Venus geng!"


"Venus geng!"


"Dero ... Dero ... Dero...."


Berbagai terikan histeris terdengar begitu riuh. Memecah keheningan malam yang semakin larut. Bulan sabit tampak mengintip di balik awan kelabu yang sedikit menutupi seolah sedang menyelimuti dari dinginnya udara malam ini. Seolah menonton sorak sorai keramaian malam itu.


"Mereka datang!" Vareen berseru sambil terus memandang ke arah geng Venus yang berhenti tidak jauh dari mereka dan mulai tebar pesona. Sepertinya, tidak ada ketakutan dari mereka.


"Sst...." Arsya memberi isyarat ketika melihat Dero mulai melangkah ke arah mereka.


"Punya keberanian juga lo pada datang ke sini," hina Dero begitu dia berdiri tepat di depan Arsya, dengan gayanya yang angkuh dan sombong.


"Cih! Lo pikir kita semua pecundang kayak kalian yang cuma bisa menang dengan bermain curang?!" Cakra hendak melangkah maju sambil menjawab hinaan dari Diro. Namun, Arsya lebih dulu memegang lengannya, hingga cowok itu tetap berdiri di samping sang leader.


"Diem, lo! Gak usah banyak bacot di sini! Geng motor abal-abal aja udah berani ngelawan kita. Itu cari mati namanya." Tawa meremehkan pada Atropos dari para anggota geng venus terdengar, mengiringi ucapan bernada sombong Dero.


Arsya mengepalkan tangannya, berusaha mengatur emosi yang terasa mulai memanas hingga memancing darah mudanya melaju lebih cepat. Namun, sebisa mungkin Arsya terlihat tenang agar para inti Atropos juga tidak ikut terpancing emosi.


Sementara itu, di sampingnya, Cakra tak kalah kesal dari Arsya, wajahnya bahkan sudah memerah seolah sebentar lagi akan ke luar tanduk dari kepalanya. Sungguh, dibandingkan Arsya, kini Cakra lah yang lebih bekerja keras untuk menata emosinya.


"Sialan!" Cakra menggeram marah. Tak sanggup lagi dia untuk tidak mengumpat kasar.

__ADS_1


Fahri yang mendengar umpatan Cakra langsung bertindak waspada. Umpatan itu bagaikan lampu kuning bagi Fahri, dia yakin jika tidak segera berakhir, maka emosi yang bagaikan larfa di kepala Cakra akan segera meledak membumihanguskan semua orang di sana.


"Bagi para pembalap, harap bersiap di garis start!"


Panggilan dari panitia balap liar malam itu terdengar. Fahri menghembuskan napas lega. Suara itu seolah menyelamatkannya dari bencana. "Alhamdulillah."


"Ngapa dah?" tanya Dikta yang sejak tadi memang berdiri di sisi Fahri.


"Gak papa. Cuma lega aja, soalnya kita semua selamat dari bencana," jawab Fahri singkat, lalu bersiap untuk beranjak membantu Vareen yang sedang mempersiapkan motor Arsya.


"Bencana?" Dikta tampak mengerutkan keningnya, walau akhirnya menyusul langkah Fahri.


Sementara itu, Arsya tampak maju satu langkah mendekat pada Dero, dia sedikit mencondongkan tubuhnya, hingga mempersempit jarak antara keduanya. Lalu, berbisik lirih tepat di depan telinga calon lawannya.


"Pemenang sejati tidak pernah berkoar atas kemenangannya. Dia hanya berbicara menggunakan prestasi." Arsya menepuk dua kali pundak Dero. Dia tatap iris mata milik lawannya sambil menyeringai tipis. Lalu, melenggang santai menuju area garis start, karena melihat Vareen dan yang lainnya sudah menunggunya dengan motornya.


Wajah Dero langsung memerah dengan tangan mengepal erat. Pembuluh darah di bagian leher pun terlihat menonjol, seolah sedang bekerja keras untuk meredam emosinya yang tiba-tiba naik dengan kecepatan tinggi.


Ucapan sederana tetapi cukup tajam untuk menusuk tepat ke jantungnya, berhasil membuat Dero menaikan kadar kebenciannya pada murid baru yang berahasil mengambil seluruh perhatian siswa di SMA Bakti Yudha dan membuatnya iri.


"Brengsek! Liat aja nanti. Gue bersumpah bakalan buat lo dan semua geng abal-abal lo itu malu sampai gak punya muka lagi buat datang ke sekolah!" geram Diro sambil ikut melangkah menuju motornya yang sudah terparkir di garis start.


Sontak, riuh para penonton pun semakin kencang terdengar, besahutan dengan suara kenalpot dari motor para pembalap yang tengah bersiap. Mereka menggeber gas, seolah tengah menunjukkan kekutan dan menekan lawan secara mental, sebelum balapan liar itu resmi berlangsung.


Seorang lelaki yang sejak tadi berdiri di depan tampak memberikan instruksi jalur yang akan dilewati pada para pembalap, sebelum akhirnya mereka akan kembali ke titik awal yang sudah berganti menjadi titik finish. Hanya satu purtaran dengan jarak yang sudah ditentukan, mereka akan langsung menemukan pemenangnya.


"Baiklah, ayo kita mulai saja balapan pada malam hari ini!" Lelaki dengan tubuh kekar dan tato memenuhi seluruh lengannya berjalan menjauh, digantikan dengan seorang wanita berpenampilan seksi dengan selembar kain segi empat di tangannya.


"Bersiap!" Teriaknya, sambil mengangkat kain berwarna putih itu ke atas, hingga tangannya lurus menunjuk ke langit.


Para pembalap pun mulai menutup kaca helm dan membungkukkan badan, suara deru mesin pun semakin mejadi. Riuh teriakan semangat dari para pendukung pun semakin memekakan telinga.


"Go!" Wanita itu berteriak sambil meleparkan kain itu ke langit.

__ADS_1


Mata para pembalap pun melebar. Tangannya asyik memainkan gas dan kopling, bersiap untuk melesat secepat mungkin. Hingga, ketika kain itu menyentuh tanah. Semua motor yang sejak tadi berbaris rapih langsung melesat menjauh dengan kecepatn tinggi.


__ADS_2