
Rintik gerimis turun begitu saja ketika perjalanan Arsya mengantarkan Rumi bahkan belum sampai setengahnya. Terpaksa cowok jangkung itu menghentikan motornya di sebuah warung makan pecel lele pinggir jalan, agar tubuh keduanya tidak bertambah basah.
"Sorry. Gara-gara ngaterin gue, lo jadi kehujanan kayak gini deh," ujar Rumi ketika keduanya sedang mengeringkan air hujan yang membasahi baju.
"Masuk. Kita makan dulu." Malas untuk menanggapi permintaan maaf Rumi, Arsya malah mengajak cewek itu masuk ke warung makan kaki lima itu, dari pada tubuh mereka semakin basah oleh air hujan yang masih tampias dari sisi terpal.
"Mau pesen apa?" tanya Arsya, setelah mempersilahkan Rumi untuk duduk lebih dulu. Mereka memilih tempat duduk di pojok dalam, agar terhindar dari angin dingin yang juga membawa hujan sedikit memasuki tenda.
"A-aku?" Rumi tampak menatap terkejut Arsya. Entah kebaikan apa yang sudah dia lakukan, hingga kini dia bisa berada di tempat seperti ini dengan Arsya. Bahkan cowok itu menawarinya makan? Ah, Rumi masih tidak bisa menerima semua kejutan ini.
"Lo suka ayam apa ikan?" Malas menanggapi keterkejutan Rumi, Arsya malah menawarkan pilihan.
"A-ayam," gumam Rumi. Dia meringis menahan malu. Lalu, menelungkupkan kepalanya di atas meja, begitu Arsya tampak berbalik untuk memesan pada penjual.
Apaan sih, Rumi. Lo pasti keliatan bodoh banget di mata Arsya. Ngapain juga lo pake gagap kayak gitu? Ish, ini bener-bener bikin malu, gerutu Rumi dalam hati.
Arsya kembali dan memilih duduk di depan Rumi. Dia tampak mengelap meja yang ada di depannya dengan beberapa tisu, sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada Rumi dan berujar. "Maaf, tadi gue ambil kesimpulan sendiri, solanya lo lama."
"Iya, gak papa, kok. Lo tenang aja, gue pemakan segala, jadi apa aja yang lo pesan pasti bisa gue makan," jawab Rumi sambil tersenyum.
Orang kaya emang beda. Mana bisa dia makan kalau gak bersih, lanjut Rumi dalam hati. Dia mencibir kegiatan Arsya yang mengelap kembali meja yang menurutnya sudah terlihat bersih.
"Pemakan segala?" Arsya tampak menaikan salah satu alisnya.
"Hah?" Rumi belum sadar akan ucapannya, hingga beberapa saat kemudian dia meringis menahan malu.
__ADS_1
Astaga, Rumi. Bodoh lo udah gak ketulungan ini mah, rutuk cewek itu dalam hati.
"Ah, itu. Maksud gue ... gue bukan pemilih makanan." Rumi meralat perkatannya.
Arsya mengangguk-anggukan kepalanya. Dia tak lagi berniat untuk menimpali ucapan Rumi. Matanya beralih melihat rintik hujan yang telihat semakin deras. Suaranya yang membentur bentangan tenda di atas mereka, terdengar cukup bising hingga memaksa untuk menaikan suara ketika ingin berbicara.
"Gue gak nyangka, kalau cowok kayak Kakak bisa makan di tempat seperti ini juga?" Rumi yang sudah mulai bosan berada dalam situsai tidak nyaman akhirnya mulai membuka suara. Menebalkan muka setelah semua kejadian yang memalukan untuknya. Lebih baik dia mengobrol dari pada harus duduk diam yang malah membuatnya canggung.
"Heuh?" Arsya tampak sedikit mengernyit, sambil mengalihkan perhatiannya pada Rumi.
"Gue gak nyangka, Kak Arsya bisa makan di tempat seperti ini." Ah, tak mau kembali dipertanyakan karena selama ini dia tidak memanggil Arsya dengan sebutan kakak, padahal ccowok itu adalah senior di sekolahnya, membuat Rumi memilih untuk memiliki inisiatif sendiri.
"Kakak?"
Rumi sudah hampir menjerit kesal ketika serentetan pertanyaan yang dia lontarkan, hanya dibalas dengan satu kata menyebalkan oleh cowok di depannya, yang sialnya begitu tampan, hingga dia tidak bisa memalingkan tatapannya. Kenapa juga kini Arsya malah mempersilakan tentang panggilan 'kakak' yang dia sematkan?
Gimana kalau gue over dosis vitamin? Gak bakalan mati 'kan?
Obrolan mereka terhenti ketika pesanan Arsya datang. Tatapannya kini fokus pada nasi uduk dengan lauk ayam goreng bagian dada di depannya. Hal pertama yang Arsya lakukan adalah, memisahkan berbagai jenis lalapan dari piringnya.
"Kak Arsya gak suka sayur?" Rumi tak tahan untuk berkomentar.
Arsya tampak mengalihkan atensinya, dia tatap sejenak cewek di depannya yang terasa lebih cerewet dari sebelumnya. Lalu, berujar pelan sambil kembali fokus pada makannya. "Gue gak suka sayur mentah."
"Oouh." Rumi mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia pun ikut menyantap makanan yang dipesan Arsya untuknya. Senyumnya mengembang, kala menyadari jika itu adalah bagian paha. Bagian dari olahan ayam yang paling dia sukai. Dagingnya yang terasa lebih lembut dan gurih dari pada bagian dada, adalah daya tarik yang tidak bisa Rumi tolak.
__ADS_1
"Kalau bukan di sekolah, lo boleh panggil nama gue aja."
Rumi kembali terperanjat ketika suara Arsya terdengar, setelah cukup lama mereka hanya makan dalam keheningan. Dia mengangkat kepala, melihat cowok di depannya yang ternyata sudah meghabiskan makananya dan kini sedang mengelap tangannya menggunakan tisu.
Rumi berusaha menelan makanan yang masih tersisa di rongga mulutnya, lalu menyeruput teh manis hangat sebelum menjawab ucapan Arsya sambil tersenyum lebar. "Gue lebih nyaman manggil kakak aja deh, hehe."
Bodo amat deh, dia mau ngenggep gue cewek prik atau aneh sekalian. Udah terlanjur keliatan bodoh, buat apa jaim lagi di depan dia.
Rumi menghembuskan napasnya pelan, memberanikan diri untuk bersikap biasa saja di depan Arsya. Walau, pada kenyataannya, itu sangat sulit karena bahkan sejak saat pertama dia melihatnya, detak jantungnya tak berhenti bertalu.
Arsya, vitamin hariannya yang beberapa minggu ini hanya dapat dia lihat dari jauh, kini berada di depannya, bahkan mereka sedang makan bersama. Cowok itu juga yang menolongnya dari kejahatan mantan pacar ibunya. Bahkan, memperbolehkannya untuk duduk di bagian belakang motornya. Bisa dibayangkan, bagaimana suasana hati Rumi saat ini?
...🦅...
Hujan reda setelah lebih dari satu jam mereka berada di warung makan pecel lele, kaki lima itu. Kini Arsya kembali melajukan motornya menembus jalanan yang masih dipenuhi oleh kemacetan. Hal yang sudah biasa terjadi, di pagi ketika para pekerja dalam perjalanan menuju tempat kerjanya, dan ketika sore hingga malam hari, ketika mereka sedang dalam perjalanan kembali ke rumah masing-masing.
Jika saja sedang tidak membawa Rumi di belakangnya, sudah pasti dia akan lebih memilih untuk menggunakan jalan alternatif, dibandingkan harus ikut berkutat dengan kemacetan yang sangat menyebalkan ini.
Namun, apa yang dia pikirkan, nyatanya hanya sampai di sana saja. Arsya malah lebih memilih berada di tengah antrian lampu merah yang sudah sangat panjang dan penuh sesak, hanya karena alasan trauma Rumi.
Arsya menghembuskan napas pelan. Dia sendiri sekarang bingung pada pilihannya. Kenapa dirinya berada di sini? Juga memikirkan perasaan cewek di belakangnya? Ini seperti bukan dirinya sendiri.
Perjalanan malam itu hanya dilalui dengan keheningan, hingga tiba-tiba dua pemotor tampak mengapit motor Arsya yang tengah melaju. Macet sudah mulai terurai, hingga jalan menuju rumah Rumi terasa lebih lengang.
"Hai cantik! Gak mau bareng kita aja, nih? Kita bisa ajak kamu main dulu lho," ujar salah satu pemotor yang berada di sebelah kanan Arsya. Dia membuka kaca helemnya dan mengerling pada Rumi di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Arsya mengeratan gengaman tangannya ketika merasakan cengkraman Rumi di jaketnya semakin kuat. Dia lirik kedua motor yang masih saja melaju bersisian dengannya sambil menggoda Rumi dengan segala macam gerakan wajah yang terlihat begitu menjijikan.
Namun, mengingat apa yang terjadi pada Rumi beberapa hari yang lalu. Arsya yang berniat untuk menghentikan motornya dan menantang mereka, kini lebih memilih menarik tangan Laras dan melingkarkannya ke perut sambil berujar. "Pegangan, gue bakal lebih cepat dari sebelumnya."