Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.82 Pembuka


__ADS_3

...Happy Reading...


...🦅...


Agra mengambil sebuah remot yang tergeletak begitu saja di atas meja, itu sekaligus mengisyaratkan kepada para anggota Black Eagle untuk memindahkan Suseno dan Roman pada kursi berbentuk seperti kursi pijat yang baru saja dibawa masuk.


"Setelah aku pikir-pikir, lebih baik kalian aku beri pelajaran bersama-sama. Mungkin itu akan lebih menyenangkan," ujar Agra.


Sebuah alat berbentuk seperti sebuah sabuk, dengan ukuran yang lebih besar di pasang di kedua orang itu. Sedangkan kedua kakinya juga terikat oleh sebuah sabuk kecil lainnya.


"Kalian mau berbuat apa?" tanya Suseno dengan raut wajah bingung.


Dia benar-benar belum mengetahui alat apa yang sedang di pasangkan pada tubuh keduanya. "Apa yang ingin kamu lakukan pada kami, hah?!" kini giliran Roman yang berteriak pada Agra.


Tubuhnya berusaha berontak, walau tenaganya sudah jauh berkurang. Tentu saja itu tidak akan pernah bisa membantunya meloloskan diri, dari para anggota Black Eagle yang bertubuh bugar.


Agra diam, dia hanya memperhatikan semua yang dilakukan oleh para anggota, hingga akhirnya dua orang terlihat sudah bersiap di samping tubuh Roman dan Suseno.


"Untuk pembuka, aku tidak akan menyiksa kalian dengan kekejaman, sebaliknya aku akan memberikan kalian kesenangan tak terkira, hingga kalian tidak akan bisa berhenti tertawa, sekaligus untuk mencoba alat terbaru milik kami," ujar Agra, dengan seringai di ujung bibirnya.


Memutar remot yang ada di tangan kanannya, lalu menekan salah atu tombol yang ada di sana.


Tubuh Roman dan Suseno menggeliat menahan geli yang mulai menjalar di pinggang dan juga telapak kakinya.


"Hahahaha .... Brengsek kamu, Gra!" teriak Roman, dengan diiringi tawa tiada henti.


Siksaan yang terlihat seperti lelucon ini, terasa begitu menyiksa. Dirinya dipaksa untuk tertawa menahan rasa geli ditengah rasa sakit yang sedang di derita.


Satu lagi yang membuat mereka tak bisa menghindar adalah, bila mereka menghentikan tubuhnya, maka sengatan listrik dari alat itu akan otomatis keluar dan mengenai seluruh tubuh mereka.


Benar-benar siksaan tak berprikemanusiaan, siapa kiranya yang menciptakan alat biadab seperti ini.


Agra tersenyum miring melihat kedua orang itu tertawa dalam penyiksaannya.


"Hahaha! Sudah, tolong hentikan ... aku sudah tidak sanggup lagi!" teriak Suseno setelah hampir dua menit tertawa tak terhenti.


"Kamu bukan manusia, Gra! Kamu iblis yang tak memiliki hati!" Roman meracau, mengumpat sesuka hati di tengah tawa yang semakin menyiksa.


Klik.


Agra menghentikan kerja mesin terbarunya itu. Ah, ini begitu terlihat memuaskan, untuk siksaan tanpa harus bekerja secara langsung.


"Kamu tau, aku suka panggilan baru itu, jika keluar dari mulut berbisamu," jawab Agra.


Roman menatap Agra dengan napas terengah, dadanya naik turun untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, setelah sebelumnya dia begitu susah bernapas karena tertawa.

__ADS_1


"Aku melihat, kalian sangat menikmati kursi ajaib milikku. Bagaimana jika kita mulai lagi?" tanyanya, seperti seorang yang enak mengajak bermain.


"Tidak-tidak! Jangan lakukan lagi, aku sudah tidak kuat, aku mohon maafkan kami, bebaskan kami dari sini!" melas Suseno memohon ampun. Dia sudah cukup menahan segala siksaan dari seorang Agra.


"Cih! Baru saja seperti ini kamu sudah meminta dibebaskan. Jangan harap! Aku bukanlah manusia yang mempunyai belas kasih kepada para penghianat seperti kalian berdua!" desis Agra, dengan ekspresi meremehkan.


Agra berjalan menuju meja, mengambil sebuah belati dengan seringai menyeramkan yang selalu terlihat saat jiwa sikopatnya muncul. Itu semua bisa terlihat jelas oleh para anggota lama Black Eagle, termasuk Edo.


"Siram mereka, buka semua baju di tubuhnya! Bersihkan bekas air yang seni yang menempel di sana!" perintah Agra dengan ekspresi wajah jijik.


Dua orang anggota Black Eagle yang berada di dekat ember air langsung mengangkatanya.


"Ti–tidak, jangan–,"


Byur!


Belum sempat Suseno meneruskan perkataannya, satu ember besar air bercampur es batu sudah membasahi seluruh tubuhnya.


Rasa dingin seketika menusuk menyelimuti tubuh sampai ke dalam tulang mereka. Suseno dan Roman menggigil dengan bibir yang mulai membiru.


Sraakkkk!


Belum sempat kesadaran mereka pulih kembali, baju yang menutupi tubuh keduanya sudah terlepas secara paksa, hingga kini tubuhnya tak lagi terlapisi apa pun.


Mata ayah dan anak itu melebar, mendapati kondisi mereka yang terpampang di depan semua orang tanpa penghalang.


Satu kali lagi, air bercampur es batu kembali mengguyur seluruh tubuhnya, menyapu semua lantai cor di sekitarnya, hingga tak ada lagi bekas air seni yang tersisa.


"Dasar sialan! Manusia biadab!" teriak Roman, dengan kepalan kedua tangan semakin erat, menahan segala rasa yang di dalam dirinya.


Sakit, dingin, marah, benci, malu, sedih, putus asa dan rasa tak berguna bercampur hingga menjadikan kumpulan emosi yang tak tahu harus disebut apa. Rasanya ia ingin sekali menerjang Agra dan membunuhnya saat ini juga, melampiaskan semua kebencian karena sudah membuat dirinya dan sang ayah menderita, oleh siksaan yang entah kapan akan berakhir.


"Aku tidak akn memaafkanmu walau aku sudah mati sekalipun! Brengsek!" sambungnya lagi.


Agra tersenyum, berjalan menghampiri dua orang yang kini tanpa busana. Tangannya memainkan belati, dengan cara di putar berulang. Jari jelasnya begitu lincah menari dengan belati tajam itu, tanpa tergores ataupun terlepas.


"Huh, tubuh yang lumayan bagus, sepertinya akan lebih bagus bila kita beri sedikit lukisan untuk menambahkan pemandangan?" ujar Agra, meneliti setiap lakukan tubuh kedua orang di depannya.


Agra mencondongkan tubuhnya, menempelkan ujung belati itu di pipi Suseno, memainkannya dengan cara mengusapkannya mengikuti bentuk tulang pipi dan rahannya.


Suseno menahan napas dengan mata terpejam kuat, rasa dingin dari ujung belati yang dipegang Agra membuat tubuhnya membeku.Sedikut saja dia menggerakkan tubuh, belati itu bisa saja menusuk wajahnya.


Roman, semakin geram ia berusaha memberantas tubuhnya kembali, tetapi ternyata sengatan listrik kembali ia terima, hingga tubuhnya terasa semakin lelah.


"Tidak usah banyak bergerak kalau kamu masih ingin hidup, nikmati saja tontonan menarik yang akan segera tersaji secara gratis,"Agra melirik Roman sekilas, tangannya sedikit menekan ujung belati, hingga darah mulai keluar dari pipi itu..

__ADS_1


Tubuh Suseno semakin bergetar, saat mulai merasakan perih, cairan yang mulai mengalir pun tak luput dari perhatiannya, menambah waspada akan apa saja yang terjadi berikutnya.


"Lepaskan ayahku, brengsek!" Roman semakin berontak melihat darah yang kini mengalir membasahi pipi Suseno.


Ujung mata Agra bisa melihat jelas, setiap ekspresi wajah Roman. Hingga membuatnya semakin bersemangat untuk melakukan penyiksaan pada Suseno.


"Suseno refleks memundurkan tubuhnya, saat belati itu semakin turun, membuat goresan memanjang yang kini tengah melewati lehernya.


"Hk."


Napas tercekat yang terdengar, saat Agra menekan lebih dalam ujung belati tepat di jakun Suseno, membuat seringai di bibir Agra semakin melebar.


Dia sangat menikmati semua sensasi dari apa yang sedang ia lakukan kini, bau darah yang mulai tercium dan wajah ketakutan dan putus asa kedua korbannya, seperti memberinya kesenangan tersendiri.


Berlanjut ke bagian lebih bawah lagi, Agra berhenti tepat di bagian jantung Suseno, mengukir sebuah gambar abstrak dengan, tetesan darah yang semakin banyak membasahi tangan dan jatuh ke lantai basah itu.


Para anggota Black Eagle yang menonton ketuanya itu, terlihat saling melirik, menahan rasa ngeri juga bulu kuduk yang terus berdiri, membuat hawa di dalam ruangan itu kini jatuh ke titik beku juga mencekam.


Jleb!


Satu tusukan dengan tenaga yang terkumpul di tangan, membuat belati itu masuk tepat di bawah jantung Suseno, membuat darah yang keluar mengenai lengan dan juga baju Agra.


Mata Suseno membelalak menahan rasa nyeri yang tak tertahan, tubuhnya bergetar dengan bibir yang semakin pucat karena kehilangan cukup banyak darah.


"Sagara! Kau benar-benar iblis! Hentikan! Lepaskan Ayahku!" raung Roman, tak terima dengan apa yang di lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Srakkh!


Tanpa ragu, belati itu menggonyak daging di sekitar tusukan itu, hingga terlihat luka menganga sampai ke bagian tengah perut. Warna lantai sudah berganti dengan merah, berhias darah yang mengalir bagaikan air.


"Bunuh saja aku, bunuh aku sekarang juga!" pekikan yang malah terdengar sebagai bisikan lirih, tak dihiraukan sama sekali oleh Agra.


Terkulai lemas, kini tubuh Suseno sudah tak memberikan reaksi, atas rasa sakit yang diberikan oleh Agra. Lelaki itu kemudian menegakkan tubuhnya, dengan darah yang menetes dari tangannya. Belati di dalam genggaman kini sudah berganti warna, menandakan kalau dia telah memakan korban.


Menyeringai puas, melihat ukiran yang batu saja dibuatnya, setelah itu kembali dan melemparkan belati itu ke sebuah wadah stainlees yang diperuntukkan bagi alat penyiksaan yang sudah digunakan.


Duduk di kursi yang tadi sempat ia tinggalkan, sambil menikmati pandangan penuh kebencian dari Roman kepadanya.


"Bersiaplah! Sebentar lagi giliranmu!"


...🦅...


...Curhat...


Aku mohon jangan spam komen/memberikan komentar berulang. Bukan aku tidak senang dengan komentar kalian semua, aku senang ... sangat senang, tetapi bila itu adalah spam, aku sedikit kecewa, merasa sedikit dibohongi dan membuat aku malas untuk melihat komen yang lainnya.

__ADS_1


Aku tau kalian penasaran dengan kelanjutan cerita ini, aku juga bis amerasakan semua itu, karena aku juga masih suka membaca karya on going milik teman-teman author yang lain. Tetapi bukan begitu caranya. mohon mengerti, karena saya juga mempunyai kehidupan nyata yang lebih saya utamakan. Menulis hanyalah sebuah hobi untukku menuangkan imajinasi, bukanlah prioritas yang harus saya utamakan.


Terima kasih atas pengertian dan dukungan kalian semua, aku sangat bahagia atas semua itu. Terima kasih juga untuk yang masih mau menunggu kelanjutan cerita receh ini. Kalian adalah penyemangat untuk aku🙏😊


__ADS_2