
...Happy Reading...
...🦅...
Berbeda dengan Agra yang menghabiskan waktunya untuk bekerja, Alisya lebih disibukan oleh Viana. Calon mertuanya itu terlihat sangat antusias dengan rencana pernikahannya dan membawanya ikut andil dalam semua persiapan.
Seperti sekarang ini, Alisya dan Viana sedang berada di butik yang sudah dipercaya untuk mengerjakan gaun penggantinya.
Clarissa boutique, ya butik dari salah satu kenalan Viana yang terlihat sederhana, tetapi menghasilkan gaun-gaun yang bisa membuat semua orang takjub melihatnya.
Cara pembuatan yang masih tradisional, dengan banyak sentuhan tangan para pengrajinnya, membuat setiap gaun seolah berbeda dan di buat terbatas, apa lagi kecerdasan pemiliknya dalam mendesain setiap pesanan, membuat para pelanggan selalu puas.
Viana mengetahui butik itu dari salah satu teman lama yang baru bertemu kembali. Nawang adalah teman sekolahnya dulu sewaktu SMA, mereka sempat hilang kontak karena sama-sama ikut suami.
“Apa masih ada yang yang kurang atau perlu di tambahkan?” tanya Ayu–pemilik dan juga perancang busana di butik itu.
“Kalau ada yang kurang nyaman bilang saja, nanti biar saya betulkan lagi,” sambungnya, sambil memeriksa setiap detail gaun rancangannya.
“Ini sudah bagus, gaunnya juga nyaman, sepertinya sudah tidak perlu penambahan apa-apa lagi.” Alisya tampak masih betah melihat penampakan dirinya dalam kaca besar di depannya.
“Baiklah, kalau begitu, mari saya antar untuk bertemu dengan Bu Viana.” Ayu mengulurkan tangannya, yang langsung di sambut oleh Alisya.
Viana melihat dengan mata berbinar, tampilan gaun yang akan dipakai di hari pernikahan anaknya nanti, ia sama sekali tidak menyangka jika butik sederhana ini, bisa membuat gaun seindah itu.
“Wah, kamu cantik sekali, sayang ... Mama yakin, Agra pasti tidak akan bisa berkedip saat melihat kamu, nanti!” heboh wanita paruh baya itu.
Cukup lama mereka berada di dalam butik, bahkan Viana juga membeli beberapa baju untuknya dan Alisya, tak lupa Andini yang memilih untuk di rumah saja.
Hingga menjelang sore hari mereka baru keluar dari butik itu.
“Terima kasih atas kedatangannya dan juga kepercayaannya kepada butik kecil kami.” Ayu berucap ramah, saat mengantar dua pelanggannya itu keluar dari butik.
“Tidak perlu begitu, harusnya kami yang berterima kasih, karena kamu sudah membuat gaun yang begitu indah untuk anak saya ini,” jawab Viana, mengusap pelan pundak Ayu.
Dirinya merasa kagum dengan sosok wanita muda yang lembut dan ramah juga pintar seperti Ayu, selama di dalam butik ia bisa melihat, bagaimana Ayu menghadapi pelanggan dan juga karyawannya dengan begitu baik dan tulus.
__ADS_1
“Kami permisi, sampai jumpa lagi.” Viana bercipika-cipiki dengan Ayu, setelah mobilnya berada tepat di hadapannya.
“Hati-hati di jalan.” Ayu mengangguk dengan senyum ramah yang terus terlukis di bibirnya.
Tanpa keduanya tahu, kini di rumah, lebih tepatnya di gerbang depan, tengah terjadi keributan. Bima yang mengetahui keberadaan Alisya di rumah keluarga Ainsley, memaksa masuk untuk bertemu dengan keponakannya.
Untung saja, para pengawal yang ditugaskan oleh Andrew langsung siap siaga, mencegah Bima untuk masuk ke dalam.
Hingga keributan itu, bahkan tak diketahui oleh Andini dan Rega, yang sedang berada di dalam rumah. Hanya beberapa menit saja, orang tua tidak tahu diri dan gila harta itu bisa diusir oleh para pengawal yang berjaga di luar rumah.
“Awas saja kalian, aku tidak akan tinggal diam, setelah apa yang telah anak itu lakukan padaku!” geram Bima, menatap rumah mewah itu dari kejauhan.
Matanya terlihat memendam sejuta dendam, tangannya mengepal menahan desakan amarah yang siap untuk di keluarkan.
Menguatkan tekad, untuk membalas perbuatan Agra padanya, bagaimanapun caranya. Tanpa tahu akibat dari ambisinya itu, akan menjadi bumerang untuknya sendiri.
..........
Di sisi lain, Agra yang mendapat laporan dari anak buahnya tentang kejadian itu, langsung menugaskan anak buahnya untuk mencari tahu, di mana sekarang Bima tinggal, sekaligus menambah kembali penjagaan untuk para perempuan di keluarganya.
Hari ini, semua karyawan tiba-tiba harus bekerja ekstra, karena semua permintaan Agra. Apa lagi lelaki itu turun langsung untuk mengawasi semua pekerjaan karyawannya, sekaligus melihat bagaimana desain interior di sana, bersama beberapa orang pengusaha yang akan menangani segala rencananya.
Sedangkan Edo, tampak sibuk dengan ponselnya, sambil terus berada di belakang Agra. Asisten pribadi itu, sepertinya mempunyai beberapa keahlian, hingga dia bisa memecah konsentrasi untuk sesuatu yang berbeda. Telinganya awas mendengar semua yang di bicarakan oleh tuannya dan para pengusaha desain interior itu, bahkan sesekali ia menyahut bila Agra bertanya. Sedangkan jari dan matanya, terus berada di ponselnya. Entah apa yang sedang ia kerjakan di dalam benda pipih itu, hanya dia dan Agra yang tahu.
Setelah mendapat keputusan, Agra melanjutkan untuk meninjau produksi di pabrik pembuatan perhiasan yang berjarak cukup jauh dari kantor.
Di pabrik, semua orang langsung terlihat sibuk, karena kedatangan mendadak presdir mereka yang baru, padahal selama ini setelah jabatan itu di ambil alih oleh Bima, pabrik tidak pernah mendapatkan kunjungan seperti ini.
Semua petinggi langsung berdiri di pintu masuk, setelah melihat kedatangan mobil yang diyakini adalah milik presdir mereka. Membungkuk hormat, saat Edo keluar dari mobil, dan bersiap membukakan pintu belakang.
Agra turun dengan penuh gaya khasnya yang sangat elegan, semua itu tak ayal membuat para wanita yang ada di sana terpesona oleh sosok presdir baru mereka.
“Selamat datang presdir.”
Agra mengangguk samar sebagai jawaban dari sambutan para karyawannya.
__ADS_1
Seorang lelaki paruh baya yang merupakan ketua pelaksana di pabrik tersebut, maju untuk menyambut Agra secara langsung.
“Selamat datang, Tuan Leonard dan Tuan Edoardo. Mari saya tunjukkan bagaimana pabrik ini bekerja, kami sangat senang sekali karena kunjungan kerja kali ini—”
Edo yang tahu kebiasaan tuannya yang tidak terlalu banyak bicara, langsung menyambar dan mengambil alih pembicaraan, sedangkan Agra tampak fokus pada suasana di pabrik tersebut.
“Sebaiknya Anda langsung saja membawa kami menuju tempat produksi.” Edo langsung memotong pembicaraan lelaki paruh baya itu, setelah melihat wajah tidak bersahabat dari Agra.
‘Dasar penjilat!’ cibir Edo dalam hati.
Akhirnya lelaki paruh baya itu bungkam dan langsung mempersilahkan Agra berjalan masuk ke dalam.
Sama seperti di kantor, penampakan pabrik yang terlihat tidak terurus dengan berbagai tembok yang sudah usang terlihat jelas, ditambah peralatan produksi yang sudah sangat ketinggalan jaman, menjadi perhatian Agra.
“Ke mana saja selama ini keuntungan yang didapatkan, kenapa untuk memperbaharui semua ini saja kalian tidak bisa?!” tanya Agra tajam.
Lelaki paruh baya itu tampak menunduk dengan tubuh sedikit bergetar, saat mendengar ucapan tajam dan tatapan penuh intimidasi dari presdir barunya.
“Se–sebenarnya, saya sudah sering mengajukan pembaharuan untuk peralatan produksi dan renovasi fasilitas untuk karyawan, hanya saja selalu mendapat penolakan,” jawabnya menunduk takut.
Agra mengangguk samar, matanya menelisik setiap gerakan alami yang dilakukan oleh orang di depannya dan para petinggi yang berada di sana.
Edo tersenyum miring, ketika bisa membaca apa yang dipikirkan oleh tuannya itu.
‘Habislah kalian sekarang, sekali dia tahu ada yang berbuat curang, tak akan ada ampun lagi,’ gumamnya dalam hati.
...🦅...
...🦅...
...TBC...
__ADS_1