Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.86 Bonus Chapter-3


__ADS_3

...Happy Reading...


...🦅...


Sore ini, Agra dan Alisya baru saja sampai di ruang rawat dokter spesialis kandungan yang direkomendasikan oleh Nick pagi tadi. Seorang dokter perempuan terlihat menyambut kedatangan sepasang suami istri itu dengan begitu ramah.


Siapa yang tidak tahu seorang Agra Leonardo Grissham, seorang pewaris dari perusahaan raksasa yang berpusat di negara R.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Leonard, silakan duduk," sapa dokter paruh baya itu, dengan begitu ramah.


Pertanyaan yang diperlukan untuk mengetahui keluhan pasien pun mulai dilontarkan. Alisya menjawab semuanya dengan lancar, walau ada beberapa pertanyaan tidak bisa ia jawab dengan pasti.


"Baiklah, ari saya periksa dulu," ujar dokter itu, mempersilahkan Alisya untuk berbaring di sebuah brankar. Agra mengikuti langkah istrinya dia berdiri di samping istrinya sambil menggenggam tangan Alisya yang terasa dingin.


Seorang suster menarik selimut tipisuntuk menutupi bagian bawah Alisya, lalu menyingkap gaun Alisya sampai sebatas perut dan memberikan gel khusus di sana.


Dokter langsung menempelkan alat Yang biasa disebut transducer ke atas perut bagian bawah Alisya, menggesernya sedikit demi sedikit untuk mencari letak janin yang ada di dalam rahim wanita itu. Matanya sesekali berfokus pada layar monitor yang ada di depannya.


"Ini dia, Tuan. Ini adalah janin yang berada di dalam rahim istri Anda, ukurannya satu koma enam sentimeter, bila dibandingkan mungkin sebesar biji kacang tanah, dengan berat satu gram," jelas dokter itu sambil menunjukan gambar di dalam layar.


"Kenapa kecil sekali, Dok?" tanya Agra dengan kening berkerut dalam.


"Itu ukuran normal janin yang baru menginjak usia delapan minggu, walau terlihat sangat kecil. Tapi sudah banyak perubahan di dalam sana, mulai dari terbentuknya beberapa sel tubuh sang janin untuk menjadi seorang bayi, dan itu akan terus berkembang seiring bertambahnya usia kandungan istri Anda," jelas dokter itu kembali.


Agra mengangguk-anggukkan kepalanya, dengan memori menyimpan semua penjelasan yang diberikan oleh dokter di depannya.


Setelah semua jelas, kini sepasang suami istri itu sudah dalam perjalanan kembali menuju kediaman besar keluarga Ansley, mulai saat ini Agra memutuskan untuk tinggal di rumah Ainsley setidaknya sampai Alisya melahirkan.


Setidaknya di rumah Ainsley, ada ibu dan juga kakak iparnya yang akan menemani sang istri sekaligus mengawasi kehamilan Alisya.

__ADS_1


.


Hari terus berganti kini kehamilan Alisya sudah mencapai usia delapan bulan. Saat ini Alisya sedang berjalan santai di sekitar perumahan, bersama dengan Andini dan Rega.


Menikmati sore di sekitar perumahan yang sejuk dengan banyaknya pohon di pinggir jalan membuat Alisya tidak merasakan lelah, walau mereka sudah empat puluh lima menit berjalan. Rega mengendarai sepeda di depan keduanya.


"Mah, aku mau main di sana!" ujar Rega menunjuk sebuah taman yang berada di tengah-tengah perumahan. Di sana terlihat banyak anak-anak yang sedang bermain, juga pedagang makanan.


"Gimana, Ca? Kamu mau kita istirahat di taman dulu?" tanya Andini sebelum menjawab ajakan dari anaknya.


"Boleh, Kak. Aku juga haus," jawab Alisya.


Mereka akhirnya berjalan ke taman yang berjarak sekitar beberapa meter lagi, Alisya memilih duduk di salah satu bangku taman sambil meminum air putih yang baru saja ia beli di salah satu kedai.


Rega tampak bermain sepeda di lapangan, sedangkan Andini sedang membeli makanan kecil dan minuman yang tadi di minta oleh Rega.


"Maaf ya, kamu jadi nunggu," ujar Andini begitu dia duduk di samping Alisya.


Cukup lama mereka menghabiskan waktu di taman, Alisya, Andini dan Rega baru beranjak setelah semburan senja sudah mulai muncul menghiasi langit sore itu.


Di perjalanan, Agra yang barusan aja pulang dari kantor melihat istri dan kakak iparnya berjalan di depan mobilnya. Dia menghentikan mobilnya di depan Rega, lalu keluar.


"Papa Agra!" teriak Rega, saat melihat lelaki itu di depannya.


"Hai, sayang. Habis main dari mana?" tanya Agra.


"Dari taman, Pah," jawab Rega.


Agra berganti pada istrinya, dia mengusap pelan perut buncit Alisya.

__ADS_1


"Kok batu pulang?" tanyanya lembut. Dia juga tersneyum pada Andini.


"Iya, tadi Rega gak mau di ajak pulang, soalnya ada temen main. Jadi kesorean deh," jawab Alisya.


"Eh, aku duluan sama Rega ya," ujar Andini.


Agra dan Alisya mengangguk. Agra juga menyuruh Edo untuk meninggalkan mereka berdua.


"Kamu lelah gak?" tanya Agra, saat melihat bulir air di kening istrinya.


"Enggak, kok. Harusnya aku yang naya kayak gitu sama, Kakak," ujar Alisya.


"Aku tidak apa." Agra merangkul tubuh Alisya yang terlihat semakin berisi seiring bertambahnya besar kehamilannya.


Mereka berjalan berdua sambil berbincang mesra, hingga tak terasa keduanya sudah ada di depan rumah besar kediaman Ainsley.


Agra menikmati masa tenang, sambil menunggu kelahiran sang buah hati, dengan lebih banyak meluangkan waktu berkumpul bersama keluarga.


Dia selalu pulang tepat waktu, bahkan berusaha untuk pulang awal, bila tidak ada sesuatu yang mendesak. Semua pekerjaan di luar kota, ia serahkan pada Edo dan Andrew yang masih berada di Indonesia.


Kedua ornag-orang itu pun mengerti keadaan Agra saat ini, hingga mereka dengan senang hati mau memberikan waktu mereka untuk menggantikan Agra.


Beberapa penjaga terlihat menyapa kedatangan pasangan suami istri itu. Mereka membungkukkan sedikit tubuhnya, di depan Agra dan Alisya.


Kehidupan mereka berjalan baik, selama kehamilan Alisya, walau di belakang ada ornah-orang yang menjaga dengan penuh waspada, menghalangi setiap niat jahat para musuh, bahkan mencegah mereka mendekati kawasan kekuasaan Black Eagle yang semakin meluas di Indonesia.


...🦅...


...🦅...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2