Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.34 Kembali


__ADS_3

...Happy Reading...


...๐Ÿฆ…...


Sampai di apartemen Agra memangku Alisya, membawanya menuju kamar dengan sangat hati-hati.


Sedangkan Edo langsung pergi lagi ke markas, untuk melihat keadaan semua anggota Black Eagle.


Setelah membaringkan tubuh Alisya dan memastikannya tertidur dengan nyaman, Agra melangkah menuju kamar pribadinya.


Getar suara ponsel mengalihkan perhatiannya, lelaki itu langsung mengangkat telepon yang ternyata dari Andrew.


"Hem." Agra bergumam malas. Dia sudah tau pasti, apa yang akan di tanyakan oleh ayah kandungnya itu.


"Bagaimana rencanamu, hari ini?" terdengar suara lelaki paruh baya.


"Lancar, Dad. Enggak usah khawatir, di sini aman." ucap Agra, sambil melangkah terus menuju sofa di kamarnya.


"Bagus! Lalu bagaimana dengan keluargamu?"


"Baik, aku belum berbicara banyak dengan mereka," jawab Agra menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Baguslah, segera temui mereka dan luruskan masalah kalian. Kalau soal gadis itu, sepertinya kamu lebih tau apa yang harus kamu lakukan?" Andrew terdengar sedikit menggoda Agra.


"Dad," protes Agra dengan mode merajuk.


Terdengar suara tawa menggema dari sambungan telepon.


"Baiklah, selamat bersenang-senang. Ingat ... tetap waspada, mereka tidak akan tinggal diam setelah kita menghancurkannya." Andrew memberi peringatan pada anak angkatnya itu.


"Iya, aku tahu!" jawab Agra.


Setelah beberapa saat berbincang, telepon pun terputus. Agra memutuskan untuk membersihkan diri dan beristirahat terlebih dahulu.


Waktu sudah terlalu larut, untuk pergi ke rumah orang tuanya. Jadi akan lebih baik dia berkunjung ke sana besok saja.


.


.


Pagi menyambut dengan sinar matahari yang memancar memberi kehangatan pada setiap makhluk di bumi.


Seorang lelaki terlihat masih bergelung dengan selimut di atas ranjang king size miliknya.


Tok ... tok ... tok ....


Suara ketukan pintu mengusik tidurnya yang masih terasa lelap.


"Sebentar," teriaknya, sambil duduk di pinggir ranjang. Mengumpulkan kesadarannya.


Cklek ....


"Ada apa, Ed?" ucapnya dengan mata yang masih sedikit tertutup.


Dirinya baru saja tidur menjelang pagi, karena ternyata ada beberapa berkas yang harus ia pelajari untuk rapat pagi ini.


Alisya ....


Ya, gadis itu melebarkan matanya, melihat dada bidang dengan bulu-bulu halus yang menghiasi di sekitarnya, terpampang nyata di depan wajahnya.

__ADS_1


Aaaa ....


Berteriak sambil berbalik dan menutup wajah dengan kedua tangannya.


Agra yang semuanya masih setengah sadar, kini melebarkan matanya dengan kesadaran penuh.


Dirinya ikut kaget saat menyadari kalau yang ada di depannya saat ini bukanlah Edo, melainkan Alisya.


Blam ....


Pintu kamar tertutup rapat dengan suara yang menggema.


Lelaki itu malu, saat ini dirinya hanya memakai celana boxer tanpa menggunakan atasan sama sekali.


"Astaga, dasar bodoh! Kemana Edo, kenapa dia membiarkan gadis itu datang ke kamarku, pagi-pagi begini?" gerutu Agra, segera berlari menuju ruang walk in closet untuk mengambil baju, dan memakainya secepat mungkin.


Di luar, Alisya hanya bisa melongo seperti orang bodoh, dengan telinga berdengung melihat pintu yang di tutup dengan sangat keras.


Ffttt ....


Wanita itu menutup mulutnya, menahan tawa yang hampir saja meledak, melihat tingkah absurd yang di lakukan oleh Agra.


Walaupun dalam hati, dia merasa kesal pada Edo karena telah menyuruhnya memanggil lelaki itu. Tetapi melihat sikap yang berbeda dari Agra, membuatnya sedikit terhibur juga.


Menangkup pipi yang terasa panas, saat mengingat dirinya telah melihat dada bidang milik lelaki yang sudah hidup satu rumah dengannya, selama hampir dua minggu ini.


Cklek ....


Pintu kembali terbuka, menampilkan sosok lelaki yang sudah memakai pakaian santai, dengan wajah yang sudah terlihat lebih segar. Rambut di bagian depan masih basah, dan meneteskan air di wajahnya.


"Ada apa?" tanya Agra, dengan nada datarnya.


Dukh ....


"Awssh!"


Ringisan terdengar dari mulut Alisya saat merasakan sakit di keningnya, karena menabrak dada Agra.


"Ada apa, kamu ke kamaraku? Kemana Edo, kenapa kamu yang ke sini?" tanya Agra, dia sangat kesal saat ini, karena kejadian tadi. Hingga tak melihat kening Alisya yang sudah memerah karenanya.


'Apa dia pakai baju anti peluru atau lapis baja, kenapa dadanya keras sekali?' gerutu Alisya dalam hati.


Ekhm


Suara batuk dari Agra menyadarkan gadis itu, dari lamunannya.


"Eh, i-tu tadi Edo bilang dia sudah menunggu kamu di kantor!" ucap Alisya, sedikit tergagap karena gugup.


"Menunggu di kantor? Berarti tadi malam dia tidak pulang?"


"Iya, Tuan."


"Baiklah," ucap Agra, sebelum kembali masuk ke dalam kamar.


Alisya kembali berjalan menapaki tangga menuju ke ruang bawah, dengan berbagai sumpah serapah yang keluar dari mulutnya.


.


Waktu makan siang sudah hampir tiba, Arga bergegas berjalan menuju ke luar kantor.

__ADS_1


"Ed, hari ini aku makan di luar!" ucap Agra saat sudah masuk ke dalam ruangan asistennya itu.


"Baik, Tuan," jawab Edo.


Beberapa saat kemudian, lelaki itu sudah melajukan mobil sport miliknya. Menyatu dengan suasana jalan yang lumayan padat.


Hampir empat puluh menit berkutat dengan kemacetan, Agra sampai di depan gerbang salah satu rumah besar.


Ya, itu adalah rumah keluarga Ainsley yang tak lain adalah keluarga kandung Agra.


Seorang penjaga gerbang menghampirinya. Agra menurunkan kaca mobil.


"Mau bertemu siapa, ya?" tanya penjaga gerbang.


"Ibu Viana." jawab Agra.


Lelaki yang mungkin baru berusia empat puluh tahunan itu, mengangguk lalu bergegas membuka gerbang, agar mobil tamu majikannya itu bisa masuk ke dalam.


Gerald, Viana dan Fandy yang sudah menunggu kedatangan Agra, berjalan ke luar, saat mendengar suara mobil di depan rumah mereka.


"Sagara, akhirnya kamu kembali ke rumah ini, Nak," Viana langsung memeluk tubuh besar anak bungsunya itu, dengan bulir bening kembali jatuh, membasahi pipinya.


Sepanjang malam, wanita paruh baya itu, bahkan tidak bisa tidur karena terus memikirkan sosok anaknya itu.


Dia takut, Agra tidakakan datang ke rumahnya. Dia takut kalau anaknya itu masih kecewa padanya.


"Tentu saja aku kembali, ini 'kan rumah orang tuanku," jawab Agra, mengurai pelukannya, tangannya terulur menghapus air mata di pipi ibunya.


"Ayo, masuk. Ini sudah lewat waktu makan siang! Bukannya tadi kamu bilang masak untuk anakmu ini," Gerald menepuk pundak Agra dengan pandangan sendu, walau senyum masih menghiasi wajahnya.


Rasa bersalah itu masih ada, karena keegoisannya dia kehilangan waktu sepuluh tahun untuk bersama dengan anaknya.


"Iya, ayo masuk. Kita makan bersama ya, Mama sudah masak makanan kesukaan kamu," kata Viana, menggendeng tangan sang anak membawanya masuk ke dalam rumah.


Agra mengedarkan pandangannya pada setiap sudut rumah tersebut. Semuanya masih terlihat sama, walau ada beberapa bagian yang terlihat sudah sedikit berubah.


"Andini, Rega, liat siapa yang datang?" teriak Viana, membuat Agra menautkan alisnya.


Seorang wanita cantik dengan gaya sederhana, dan anak lelaki kecil yang memiliki wajah mirip seperti Fandy, berjalan menghampiri mereka dengan senyum mengembang.


"Ini?"


"Ini istri dan anakku, Andini dan Rega." Fandy mengenalkan dua orang yang baru saja datang.


"Jadi Kakak sudah menikah? Kenapa aku bisa tidak tau kabar ini?" gumam Agra, merasa ada yang janggal.


"Iya, pernikahan kami memang tidak di rayakan. Kami menikah di kampung Andini, sekitar lima tahun yang lalu," jelas Fandy.


Agra menganggum-anggukan kepalanya, pantas saja dia tidak tau, karena saat itu dia masih fokus dalam pelatihan, dan belum berniat mencari tau tentang kabar keluarganya.


...๐Ÿฆ…...


...๐Ÿฆ…...


...TBC...


Terima kasih yang masih setia nunggu up selanjutnya๐Ÿ™๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Sambil nunggu aku up, bisa baca novel keren karya teman literasi aku ya.

__ADS_1



__ADS_2