
...Happy Reading ...
...🦅...
Menjelang siang, Agra sudah kembali pada kesibukannya.
Seperti saat ini, ia sedang dalam perjalanan menuju markas Black Eagle.
Para pembuat masalah yang semalam berani menantangnya, kini sudah siap di introgasi.
“Di mana mereka?!” tanya Agra, begitu ia sampai di markas berkedok rumah mewah itu.
“Mereka di ruang bawah tanah, Ketua!” jawab salah satu anak buahnya.
Agra mengangguk samar, sebelum meneruskan langkahnya menuju ruang bawah tanah.
Di belakangnya, tampak Edo yang selalu siap siaga bersama dengan tuannya.
Hingga sampai di ujung lorong, Agra tampak menempelkan sidik jarinya di sensor pengunci pintu.
Dinding yang tadinya polos tak seperti sebuah pintu sama sekali, kini isa bergeser dan terbuka begitu saja.
Menampilkan sebuah tangga menuju ke bawah, dengan cahaya temaram yang otomatis menyala.
Agra kembali berjalan menapaki satu per satu anak tangga, yang semakin ke dalam semakin terasa lembap dan pengap.
Sampai di bagian ujung tangga, Agra kembali menemui sebuah pintu yang lumayan besar.
Di sana juga ada dua orang bertubuh kekar yang bertugas.
“Selamat datang, Ketua!” sapa keduanya sambil membungkuk hormat pada Agra.
Agra mengangguk samar, sebagai jawaban.
“Buka!” titahnya,yang langsung di lakukan oleh kedua anak buah tadi.
Begitu pintu terbuka, bau amis langsung menyapa penciuman mereka berdua. Di tambah suasana mencekam yang masih terasa dari berbagai macam bekas pembunuhan yang tertutup secara apik di dalam benteng sebuah perumahan mewah.
Beberapa sel penjara berukuran kecil, terlihat sudah kosong, meninggalkan suasana horor di dalam sana.
Agra terus berjalan menelusuri lorong yang terasa semakin mengecil.
Hingga mereka berdua kembali menemui dua orang penjaga di salah satu pintu besi itu.
Mengerinyai buas, saat melihat dua orang yang semalam menjadi target introgasinya, sekarang tengah terduduk dengan kaki dan tangan di ikat menggunakan rantai besi.
“Apa kamu sudah mendapatkan informasi dari mereka?!” tanya Agra, pada asisten pribadinya.
Matanya tetap fokus pada mangsa yang kini berada di depannya, jiwa sikopat dalam dirinya keluar begitu saja, saat melihat korbannya.
“Sudah, Tuan. Tapi, mereka masih tidak mau memberi tahu siapa dalang di belakang mereka berdua!” jawab Edo.
Tadi malam, lelaki itu memang sempat menginterogasi kedua orang itu. Namun, lelaki bertato itu, terus tutup mulut mengenai nama orang yang berada di belakang mereka.
Agra menganggukkan kepala.
“Siram mereka!” titahnya pada dua anak buah yang baru saja membawa peralatan penyiksaan.
Byur ....
Dua ember air yang hampir mendidih itu, berhasil membuat kedua orang itu terbangun dari mimpi indahnya.
__ADS_1
“Akh, panas ... dasar bajingan!” teriak lelaki bertato itu.
Kulit tubuhnya kini berwarna merah, bagaikan udang rebus, karena siraman air panas tadi.
“Akh Panas, panas!” satu orang lelaki lagi, yang mereka bawa saat penyerangan Agra di arena balap, juga berteriak kesakitan, dengan badan yang terus menggeliat.
Agra tersenyum miring, melihat kedua orang di depannya begitu tersiksa.
“Bagaimana, bukankah menyenangkan bermain-main di tempatku?!” ucap jenaka Agra.
“Dasar manusia iblis, tidak punya perasaan!” teriak lelai bertato.
Matanya memancarkan kebencian yang amat dalam kepada Agra, tubuhnya bergetar, menahan gejolak amarah dan juga rasa sakit.
“Hahaha ... Kau baru tahu berurusan dengan siapa rupanya! Ini baru pembukaan, dan kamu sudah kesakitan seperti itu?!” Agra berucap santai, sambil berjalan menghampiri korbannya.
“Ck ck ck, sungguh malang sekali nasib ketua dari pembalap jalanan sepertimu, harus mati di tangan lawan main yang belum kamu kenal seutuhnya.”
Menggeleng miris, dengan wajah di buat bersedih. Namun sayang, yang terlihat malah seperti sebuah ejekan.
“Bagaimana? Mau memberi tahu aku, siapa bos yang telah memerintahkanmu menantangku, atau kita ke penyiksaan tahap selanjutnya saja.”
Agra mengambil sebuah pisau lipat, berujung tajam, dari atas meja kecil berisi berbagai alat eksekusi yang baru saja datang.
“Baiklah, kalau kamu masih memilih untuk bungkam, maka kita langsung menuju babak selanjutnya!” ucap acuh Agra, berjalan menuju pada sebuah kursi yang sudah di siapkan sebelumnya.
Jleb ....
Akh ....
Tanpa terdga, dengan gerakan tak terlihat Agra melemparkan pisau kecil tadi pada dada lelaki yang menyerangnya di arena balap.
Lelaki bertato tadi melotot horor melihat apa yang di lakukan oleh Agra.
“Akh, ternyata aku meleset sedikit, sepertinya aku harus kembali berlatih.”
Dududk dengan gaya berkelas khas seorang Agra, walau ekspresi wajahnya terlihat kecewa saat melihat pisau yang ia lemparkan tak mengenai jantung korban.
Padahal semua itu memang keinginannya, akan sangat membosankan bila ia langsung membunuh mangsanya, tanpa ada suara jerit kesakitan yang ia dengar.
Edo, berdiri di belakang sang tuan, matanya menatap tajam setiap pergerakan yang korban mereka lakukan.
“Ed, berikan dia peringatan melalui temannya, biarkan dia tau, dengan siapa dia berurusan!” titah Agra.
Edo mengangguk lalu maju ke depan dan membawa sebuah belati berkarat dari atas meja.
Memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sampai berbunyi kretek-kretek.
“Ja-jangan, gue gak salah, gue udah bilang semua yang gue tau!” ucap lelaki itu terbata.
Sakit di dada akibat tusukan dari pisau lipat milik Agra belum sempat mereda, dan kini ia akan kembali di jadikan bahan mainan lelaki sikopat di depannya.
Edo berjongkok di depan korbannya, ia menempelkan ujung belati pada pipi lelaki itu.
Tubuh menggigil dengan mata terpejam menahan rasa takut yang kini sangat terasa, menjadi sebuah pemandangan menyenangkan bagi bos dan asistennya itu.
Crrash ....
Satu goresan memanjang, berhasil di torehkan di sepanjang pipi sebelah kiri.
Darah segar kini mulai menetes, menguarkan aroma amis yang semakin pekat.
__ADS_1
Lelaki bertato itu, menutup matanya merasa ngeri dengan apa yang di lakukan oleh Edo.
Walaupun dia salah satu ketua balap jalanan, tapi dia tidak pernah menjadikan orang sasaran penyiksaan, kecuali pengeroyokan sampai mati.
Penyiksaan pun terus berlanjut, Edo terus memberikan sayatan demi sayatan pada tubuh korbannya, tanpa memedulikan jerit kesakitan yang terdengar menyayat hati.
Agra, menutup matanya, menikmati suara permohonan ampun dan kesakitan yang terdengar indah di telinganya.
“Stop! Bagaimana apa kamu masih mau bungkam, atau mau buka mulut?” Agra kembali bertanya pada lelaki bertato.
“Hem, masih bungkam ya? Baiklah ... Ed panggilkan Lion!” tegasnya.
Edo mengangguk, lalu langsung memberi kode pada salah satu anak buahnya untuk melepaskan salah satu peliharaan ketua mereka.
Beberapa saat kemudian, seekor singa bertubuh besar, bahkan mungkin melebihi seorang manusia jika dia berdiri sejajar, tampak berlari menghampiri Agra.
Duduk bersimpuh di samping sang tuan dengan ekor yang terus bergerak, sepertinya kucing besar itu sedang sangat antusias, melihat calon makanannya di depan mata.
“Anak pintar, apa kau sudah siap untuk makan besar kali ini, hem?” tanya Agra, mengelus lembut surai di sekitar kepala singa tersebut.
Bagaikan mengerti apa yang di bicarakan oleh tuannya, singa itu menatap buas dua orang di depannya, dengan liur yang mulai menetes di sela mulutnya.
Agra terkekeh kecil, melihat peliharaannya itu memberikan tekanan kepada para calon korbannya.
Hewan yang sudah dipelihara dari kecil dan dilatih untuk memberikan tekanan juga menuruti semua perintah tuannya itu, tampak bagaikan seekor kucing yang manja kepada tuannya.
Namun, akan sangat buas dan tak terkendali bila ia tahu itu adalah musuh dari orang yang telah merawatnya.
Hanya tiga orang yang bisa mengendalikan dan menjinakkan kucing besar itu.
Siapa lagi kalau bukan Andrew, Agra dan Edo, hanya kepada mereka bertigalah dia akan sangat menurut.
Bahkan sepertinya Nick sudah menjadi musuh bebuyutan untuk singa itu, karna lelaki itu selalu memberinya vaksin dan vitamin dengan cara di suntikan untuk penunjang kesehatannya.
“Ed, biarkan Lion mencicipi daging cecunguk itu!” Agra menyandarkan tubuhnya, bersiap untuk menonton pertunjukan selanjutnya.
Edo mengangguk, ia kemudian mundur dan kembali berdiri di belakang Agra.
Kini singa itu mulai berdiri, berjalan perlahan menghampiri kedua orang di depannya.
Mengendus dan mengelilingi kedua calon korbannya, dengan tatapan lapar, gigi taring dan kuku tajamnya sudah bersiap untuk mencabik-cabik.
Kedua lelaki yang masih duduk dalam kondisi di rantai itu, menciut, keberanian mereka kembali jatuh sampai ke dasar, saat menerima hembusan napas dari peliharaan Agra.
Roarrr
“Ampun-ampun, baik akan saya beri tahu apa pun yang kalian inginkan!”
Seakan tahu siapa yang harus dia takuti, singa itu bersikap seolah ingin memangsa lelaki bertato terlebih dahulu, dan akan segera menggigit kakinya.
“Lion! Stop!” seru Agra, saat mendengar perkataan dari lelaki bertato tadi.
Beberapa saat kemudian, Lion sudah bisa berpesta dengan semua makanan yang telah dihidangkan oleh tuannya.
“Jangan lupa, berikan dia vaksin setelah ini,” ucap Agra di sela langkahnya keluar dari ruang bawah tanah itu.
Seperti biasa, Edo akan mengangguk patuh atas semua yang diperintahkan oleh tuannya itu.
...🦅...
...🦅...
__ADS_1
...TBC...