Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.43 Kepemilikan


__ADS_3

...Happy Reading ...


...🦅...


Sampai di dalam rumah, ternyata Alisya sedang bermain di taman belakang bersama dengan  Rega.


Agra menghentikan langkahnya, di pintu belakang rumah itu.


Matanya menatap wajah cantik gadis kecilnya, yang tengah berlarian sambil tertawa bersama dengan sang keponakan.


Tawa ceria dan tulus bak anak kecil, membuatnya terpesona untuk ke sekian kalinya.


Di kursi taman terlihat ibu dan juga kakak iparnya yang sedang menikmati teh sambil berbincang.


Hatinya menghangat melihat kebahagiaan para wanita di keluarganya.


Dalam hati ia berharap, semoga kebahagiaan ini tidak akan berakhir.


Walau dia juga tidak bisa memungkiri kalau para musuh di luar sana akan selalu mengincar mereka, sebagai kelemahan darinya.


Sekuat tenaga di akan berusaha untuk menjaga mereka semua.


‘Tidak akan aku biarkan siapa pun merenggut kebahagiaan kita!’ gumamnya dalam hati.


Melangkah menghampiri mereka yang sampai saat ini tidak menyadari kehadirannya.


“Rega, sudah dulu mainnya, sudah waktunya mandi!”


Terdengar suara teriakan dari Andini kepada anaknya yang masih bermain bersama Alisya.


Kedua orang itu tampak menoleh kepada asal suara.


“Sebentar Ma, aku masih mau main sama Kak Ica!” teriak Rega.


Agra menggeleng geli mendengar jawaban dari anak kecil itu.


Ternyata bukan hanya dirinya dan sang kakak yang malas mandi waktu kecil, keponakannya pun sama.


“Sore semuanya,” sapa Agra saat sudah berdiri di belakang Viana dan Andini.


Kedua wanita itu menoleh ke belakang.


“Saga, kamu sejak kapan ada di sini?” tanya Viana.


 “Lumayan, untuk melihat pemandangan indah ini,” jawab Agra, duduk di sebelah ibunya.


“Oh ya, kenapa kita tidak menyadari kedatanganmu?”


“Kalian terlalu asyik sendiri, mungkin?” Agra mengedikan bahunya.


“Rega, Papi punya hadiah!” teriaknya lagi beralih pada keponakannya.


Kedua orang yang masih asyik bermain itu, mengalihkan pandangannya pada Agra.

__ADS_1


Rega tersenyum sumringah melihat kedatangan sang paman, sedangkan Alisya tampak terkejut.


Anak kecil itu langsung berlari menghampiri Agra.


“Mau, Rega mau hadiah!” teriaknya.


“Eh, hati-hati! Jangan kencang-kencang larinya!” Alisya langsung menyusul Rega.


“Mana hadiahnya, Papi?” tanya anak kecil itu, saat sudah sampai di depan Agra.


“Rega mau hadiahnya, hem?” tanya Agra, tangannya mengusap bulir keringat di dahi keponakannya.


Agra tampak tersenyum tipis saat melihat anggukan semangat dari bocah di depannya.


“Boleh ... tapi. Uh Rega bau nih, belum mandi. Bagaimana kalau sekarang mandi dulu saja sama Mama, nanti baru Papi kasih hadiahnya kalau Rega sudah wangi, hem?” Agra tampak mengibaskan tangannya di depan wajah, sambil mengerinyit dalam, seperti orang yang sedang menahan sesuatu.


Anak kecil tadi, langsung mencium baju dan mengendus tubuhnya sendiri.


“Iya deh, aku mandi. Tapi Papi janji kasih hadiah ya!” putus anak itu.


“Siap Tuan muda!” Agra melakukan gerakan seperti hormat bendera.


Ketiga wanita di sekitarnya terkekeh kecil melihat interaksi kedua lelaki berbeda usia itu.


“Ayo, Ma ... aku mau mandi!” ucap Rega.


Rega langsung menarik tangan Andini dan mengajaknya ke dalam rumah.


Agra terkekeh geli, melihat kii Rega tampak bersemangat untuk mandi.


“Terkadang pengalaman lebih berguna dari pada pelajaran, Mah,” ucap Agra santai.


Alisya tampak mengerutkan keningnya, bingung dengan apa yang saat ini ia lihat.


Namun, beberapa saat kemudian senyumnya terbit begitu saja.


Gdis itu baru saja menyadari kalau ternyata Agra tidak kaku dan dingin yang ia bayangkan sebelumnya.


Lelaki itu bisa juga terlihat cair dan hangat bila sedang berada di antara keluarga dekatnya.


“Mama ke dalam dulu, sebentar lagi Papa kamu pasti datang.” Ucap Viana.


Rupanya wanita paruh baya itu mengerti keinginan anaknya.


Agra menangguk, dalam hati ia tersenyum bahagia atas inisiatif sang ibu.


“Kamu senang di sini?” tanya Agra tanpa melihat gadis yang duduk di sampingnya.


“Senang, keluarga Kakak baik sama aku. Mereka masih sama kayak dulu,” jawab Alisya, matanya menatap lurus ke depan, mengingat masa kecilnya.


“Kayak dulu? Emang masing inget?” Agra menaikkan satu alisnya, menatap gadis itu dengan senyum miring.


“Walaupun aku gak inget sepenuhnya, tapi aku masih bisa merasakan kasih sayang mereka,” jawab Alisya.

__ADS_1


“Benarkah? Kalau kasih sayang aku kamu bisa merasakannya gak?” Agra memutar tubuhnya hingga sekarang dia menghadap penuh pada Alisya.


Beberapa saat mata mereka berdua terkunci satu sama lain, hingga akhirnya Alisya melepaskan tautan itu dengan menundukkan kepalanya.


Kedua tangannya saling meremas, ia takut salah mengerti perkataan Agra barusan.


“Ma-maksud Kakak a-apa?” gugup Alisya.


Agra mengambil kedua tangan gemetar milik Alisya, menggenggamnya dengan kelembutan, memberikan kehangatan dan menyalurkan perasaan yang selama ini ia rasakan.


“Aku gak tau, sejak kapan rasa sayang dan cinta ini berkembang di hatiku .... Yang aku tau,  semua ini berawal dari rasa ingin melindungi yang tumbuh menjadi rasa sayang, hingga terus berkembang menjadi cinta.”


“Aku tidak tau kamu mempunyai rasa yang sama atau tidak denganku, aku juga tidak peduli semua itu .... Satu yang kamu harus tau, mulai saat ini kamu adalah miliku.”


Agra berucap lembut namun terdengar cukup tegas, tanda ia tidak mau di bantah ataupun di tolak.


Semua itu memang terdengar egois dan tidak berperasaan. Tetapi, Agra tahu apa yang ia lakukan.


Lelaki itu tidak akan melakukan sesuatu tanpa perhitungan terlebih dulu, apa lagi ini mengenai hatinya dan gadis yang dia cintai.


Selama ini dia melihat  semua garak-gerik yang di lakukan oleh gadis itu, dan sekarang dia yakin kalau Alisya juga memiliki perasaan yang sama kepadanya.


Alisya memberanikan diri menatap mata Agra, mencari keraguan ataupun kebohongan di manik hitamnya.


Namun, dia tidak bisa menemukan semua itu. Yang dia lihat hanya ketulusan dan tekad kuat di dalam dirinya.


Gadis itu juga sedikit bingung dengan perkataan Agra, apakah saat ini lelaki itu tengah menyatakan cinta atau tengah memberikan suatu perintah.


“Ini bukan sebuah permintaan cinta Alisya! Tapi, sekarang aku sedang mengukuhkan sebuah kepemilikan dirimu untukku!” desis Agra, tanpa mau tau apa yang gadis itu rasakan.


Alisya menutup mulutnya, dia terkejut dengan apa yang di katakan oleh Agra, matanya tampak berkaca-kaca. Tanpa terasa tangannya meremas genggaman tangan Agra.


“Kamu egois, kamu bahkan tidak bertanya apa yang aku rasakan!” ucap Alisya, dengan satu tetes air mata berhasil lolos dari manik indahnya.


“Aku tidak pandai merangkai kata, Ica. Aku tak butuh kalimat cinta darimu, yang aku  butuhkan hanya  kehadiranmu di sisiku dan kasih sayang yang selalu kamu tunjukan dengan perhatianmu padaku.”


Agra mengusap jejak air mata di pipi Alisya, dengan begitu lembut dan penuh perasaan.


Gadis itu memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang terasa dari tangan besar Agra.


Air mata pun kini sudah tak bisa tertahan lagi. Alisya membuka matanya menatap lelaki di depannya dengan tatapan sendu, dan berbunga di dalam hati.


“A-aku mau ... aku mau berada di sisi Kakak selamanya, a-aku mau!”  Alisya menghambur pada pelukan lelaki itu.


Dengan isak tangis yang mengiringi, Alisya berkata di dalam pelukan Agra.


Agra mengembangkan senyum, dengan perasaan lega di dalam dada.


 


...🦅...


...🦅...

__ADS_1


...TBC...


...🙏🙏😊😊🥰🥰...


__ADS_2