
"Dengan bukti video yang sebentar lagi akan kami bagikan. Pemenangnya adalah--" Seorang lelaki dengan tangan penuh tato itu kembali mengambil alih atensi semua orang yang ada di sana.
"Arr, dari Atropos geng!" teriaknya sangat lantang hingga mengundang suara riuh beserta tepuk tangan dari para penonton yang ada di sana.
"Yeah!" Arsya menarik kedua tangannya hingga sikunya sejajar dengan perut. Dia sangat puas akan kemenangan malam ini. Tidak sia-sia memang perjuangannya untuk bertahan hingga akhir. Kini dirinya menyandang gelar pemenang, walau ini baru pertama kalinya dia ikut dalam balapan liar.
"Huh! Akhirnya kita menang!" Cakra pun ikut bersorak sambil ber tos dengan Arsya.
"Leader Atropos memang yang terbaik!" teriak Vareen sambil meninju keatas hingga tanpa sadar tubuhnya loncat.
"Gue tau, lo emang bakalan menang, Bro!" Dikta pun ikut bersemangat.
"Yeah! Lo emang the best!" Fahmi memeluk kilas Arsya.
"Kita semua memang terbaik! Atropos memang terbaik!" Arsya memilih untuk membawa nama Atropos dalam kemenangannya, dari pada mengagungkan namanya sendiri.
Arsya tahu, jika tanpa bantuan teman-temannya, dia tidak akan bisa menghindari segala jenis kecurangan yang dilakukan oleh venus geng.
Sementara itu, di kubu lawan, Dero tampan meninju teng motornya dengan cukup keras sambil membuang muka. Tatapan penuh permusuhan dan kebencian terus menyorot Arsya dan anggota Atropos geng yang lainnya.
"Sialan! Gue gak terima dihina kayak gini! Mereka pasti udah main curang! Mereka pasti udang ngatur semua ini." Dero bersungut-sungut kesal, karena kekahalannya malam ini.
Mereka sempat mengajukan protes pada panitia dan bersikukuh jika Dero adalah pemenangnya. Situasi pun hampir saja menjadi ricuh. Namun, karena sudah ada bukti video yang jelas memperlihatkan jika Arsya lebih cepat beberapa secon dibandingkan dengan Deri.
Tak Terima dengan kekalahan telak yang didapatkan, mereka segera pergi dari sana, dengan hati yang dongkol. Sorakan, kekesalan para penonton mengiringi kepergian Venus geng.
Sementara itu, Arsya yang sudah menerima hadiah balapan malam ini tampak menghampiri keempat temannya dan beberapa anggota Atropos lainnya dengan wajah yang telihat sumringah.
"Ini dia hadiah kita malam ini! Gimana kalau kita makan-makan?" tanya Arsya sambil memperlihatkan sebuah amplop berwarna coklat di tangannya. Yang disambut sorakan gembira para teman-temannya.
...🦅...
Setelah kemenangan Arsya malam itu, nama Atropos geng, menjadi bahan pembicaraan nomor satu di antara para penikmat dunia malam. Kemenangan yang diraih Arsya, ternyata membawa kekaguman juga rasa penasaran para netizen akan geng motor baru yang sudah mencuri banyak perhatian itu.
__ADS_1
Dalam semalam, nama Arr sebagai samaran dari nama Arsya langsung menjadi idola baru. Sosoknya yang terlihat kalem tetapi pintar dalam balap motor, belum lagi setatusnya yang merupakan leader dari Atropos, membuat orang-orang terkagum pada cowok berusia tujuh belas tahun itu. Jangan lupakan wajah dan bentuk tubuh sempurna yang senantiasa membuatnya semakin bersinar di video malam itu yang tersebar begitu cepat, mengalahkan kecepatan angin.
Kabar itu pun sampai pada beberapa geng motor tersohor lainnya, tak terkecuali organisasi magia Black Eagle. Pagi ini, setelah mendengar berita tentang anak sulungnya dari Edo, Agra langsung pergi ke markas dan memanggil seluruh anak buahnya, termasuk anak buah yang bertugas menjadi pengawal bayangan untuk Arsya dan Isha.
"Laporkan semuanya!" titah Agra, bahkan ketika dia baru saja sampai dan berdiri di depan barisan anak buahnya.
Saat ini, mereka tengah berada di halaman belakang markas. Tempat biasanya mereka melatih diri. Kini para anggota Black Eagle itu tampak berdiri tegak dengan sikap istirahat di tempat dan kepala sedikit menunduk.
Tak ada yang berani menatap wajah sang ketua yang tengah diliputi emosi itu. Apa lagi bagi para pengawal bayaran Arsya yang tampak mengkerut, takut akan ketegasan sang ketua yang bahkan tidak pernah bisa mereka ragukan. Mereka harus bersiap menerima hukuman, karena telah lalai dalam mengerjakan tugasnya. Bagaiamana mungkin, mereka tidak tahu, jika balap liar yang dilakukan oleh anak sulung ketuanya itu akan melawan geng motor venus yang terkenal kejam dan berbahaya di seantero kota?
"Cepat!" teriak Agra sambil menatap barisan paling depan yang berada sedikit lebih kanan. Itu adalah barisan para pengawal bayangan Arsya.
"Kami salah, Bos! Kami pantas dihukum!" Salah satu orang di natara mereka, terlihat maju dan langsung berlutut di depan Agra. Beberapa orang lelaki kejar lainnya tampak mengikuti di belakang.
...🦅...
"Angkat dulu tuh telepon, berisik banget sih." Cakra menepuk Arsya dengan mata yang masih menutup rapat.
Terpaksa Arsya bangkit dari tidurnya lalu duduk dengan tubuh sedikit membungkuk dan kepala menunduk lemas. Rambutnya masih berantakan ditambah mata memerah karena baru tertidur setelah jam lima pagi.
..."Rega is calling"...
Terlihat nama sepupunya tertera di layar ponsel. Arsya tak langsung menjawab, dia lebih memilih mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan kamar di markas yang memang dibuat senyaman mungkin.
Arsya melihat Cakra yang tampak sudah tertidur kembali di sampingnya, sementara Fahmi meringkuk di atas sofa. Dikta, dan Vareen, tampak memilih tidur di atas karpet.
Tadi malam, mereka memang memutuskan untuk pulang ke markas setelah makan-makan perayaan kemenangan di salah satu kafe milik orang tua Vareen. Setidaknya, tidak akan ada omelan dari para ibu di pagi hari, dan mereka bisa tertidur sienak hati di sini.
Namun, ternyata tidak semudah itu bagi Arsya. Dia terpaksa harus segera beranjak dari ranjang dan berjalan ke luar untuk menerima telepon yang kembali berdering.
"Ck!" Dia berdecak lirih. Entah ada apa dengan kakak sepupunya itu hingga sudah mengganggunya di pagi hari begini. Padahal tadi malam, dia jelas melihat lelaki itu ada di arena balap liar.
"Hem?" gumam Arsya dengan suara parau dan nada malas. Dia sandarkan tubuhnya di dinding dekat kamar, kepalanya masih terasa pening karena rasa lelah dan kurang tidur. Matanya sedikit menyipit, melihat ternyata banyak juga yang tidur di ruang tengah.
__ADS_1
"Ke markas Black Eagle sekarang. Papa ngamuk-ngamuk! Pengawal banyangan kamu jadi sasarannya!" ujar Rega dengan suara panik.
"Hah? Emang kenapa? Ngapain juga tuh bapak-bapak otoriter pagi-pagi gini udah ngamuk di markas?" Arsya masih malas walau langkah lembarnya akhirnya membawa tubuhnya menuju kamar dan menyambar jaket kulit hitam yang tersampir asal di sandaran sofa, hingga membangunkan Fahri.
"Papa tau tentang balapan tadi malam. Dia tahu kalau lo ngelawan Venus geng. Dan asal lo tau ya, ini udah jam sebelas siang ... udah bukan pagi lagi!" jawab Rega, yang membuat Arsya semakin mempercepat gerakannya. Dia sempat menatap smart watch berwarna hitam pekat yang melingkar di pergelangan tangannya, untuk memastikan perkataan Rega.
"Mau ke mana, Sya?" tanya Fahri dengan mata menyipit, berusaha mengumpulkan nyawa yang masih berceceran entah di mana.
"Gue ke luar dulu. Ada urusan," jawab Arsya asal sambil memakai jaketnya dan segera berlalu dari sana.
...🦅...
Arsya menghentikan motornya di markas Black Eagle. Dengan gerakan terburu-buru, dia setandarkan motor asal dan segera masuk, menuju tempat Agra berada.
"Gimana sekarang?" tanya Arsya begitu Rega menyambutnya.
"Lo liat aja sendiri. Sekarang papa ada di ruang bawah tanah," jawab Rega tampak menahan kesal. Sejak tahu jika Arsya melawan Dero, dia sudah bisa menebak jika kejadian ini akan terjadi. Dan, ternyata itu semua terbukti sekarang.
"Astaga," desah Arsya, sepertinya dia bisa menebak apa yang sekarang sedang dilakukan oleh Agra pada pengawal bayangannya. Dia pun semakin mempercepat langkahnya. Rega mengikuti dari belakang.
Kakinya mulai menapaki tangga marmer berwarna hitam yang tampak mengkilap. Di salah satu sisi tangga terdapat lampu berwarna kuning hingga membuat cahaya terasa remang.
Ruang bawah tanah yang jarang terjamah. Bahkan dirinya sendiri belum pernah memasukinya. Dia hanya mendengar dari cerita sang kakek. Suasana pengap dan sedikit lembab terasa begitu Arsya menginjakkan kakinya di lantai dasar. Sebuah lorong panjang terlihat menyambut.
Ruangan apa saja ini? batin Arsya, menatap banyaknya pintu besar yang tertutup rapat di sepanjang lorong.
"Ada di mana Daddy?" Arsya memilih untuk mengacuhkan dulu rasa penasarannya dan menoleh pada Rega seraya bertanya. Saat ini, keselamatan para pengawal banyangan yang tidak bersalah menjadi prioritasnya. Bodo amat dengan yang lain.
"Ikuiti gue." Rega mendahului, lalu berjalan cepat menuju salah satu pintu yang berjarak cukup jauh.
"Di sini," ujar Rega. Dia menghentikan langkahnya tepat di sebuah puntu kayu yang menjulang cukup tinggi. Lalu menuleh ke arah Arsya. Matanya tampak sedang berucap 'Buka saja sendiri'
"Di sini?" Arsya menelan salivanya susah payah. Dia sedikit ragu untuk masuk. Sungguh, dirinya masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sang ayah. Arsya juga belum memikirkan bagaimana cara menghadapi kemarahan ayahnya nanti.
__ADS_1
Rasa takut tiba-tiba menyelimuti pikirannya. Kali ini memang dirinya yang salah. Dia menerima tantangan dari geng venus tanpa berbicara dulu dengan sang Agra. Namun, apakah salah jika dia melakukan semua itu? Lagi pula, dia juga menang. Lalu, kenapa harus dibesar-besarkan seperti sekarang?