Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.58 Pesan Andrew


__ADS_3

 


 


 


Acara sakral pernikahan telah selesai beberapa saat yang lalu, kini kedua pengantin itu tengah sibuk menerima ucapan pernikahan di atas pelaminan.


Begitu banyak tamu yang hadir, hingga menimbulkan antrean panjang, orang-orang yang ingin bertemu dengan pengantin.


“Kalau kamu capek, duduk saja, biarkan aku yang menerima ucapan selamat mereka,” bisik Agra, ketika ia melihat gadis yang batu saja ia persunting,  untuk menjadi istrinya itu sudah tidak nyaman.


Alisya menggeleng, ia memang sudah merasa sangat lelah, karena sudah berdiri berjam-jam lamanya. Para tamu itu seakan tidak ada habisnya, mereka terus berdatangan tanpa ada jeda sedikit pun.


“Enggak apa-apa kok.” Alisya bergumam sambil terus menerima ucapan selamat dari para tamu.


“Baiklah, tapi, kalau kamu merasa lelah, istirahat ya. Jangan memaksakan diri,” balas Agra lagi, hang langsung diangguki oleh Alisya.


Setelah beberapa jam kemudian, Alisya baru saja bisa bernapas lega, setelah para tamu sudah tidak terlalu banyak lagi. Di pesta itu hanya tinggal beberapa orang yang mungkin akrab dengan keluarga Agra maupun Andrew.


Melangkah dengan sedikit tertatih, menuju kursi pelaminan, untuk segera mengistirahatkan kaki yang sudah terasa kebas.


Berdiri dengan waktu yang lama, menggunakan gaun dan sepatu hak tinggi, ternyata cukup membuatnya merasakan sakit di bagian kaki.


Agra yang melihat itu langsung merangkul pundak istrinya, membantunya untuk duduk di kursi.


“Apa kakimu sakit, hem?” tanya Agra lembut, ia berjongkok di depan Alisya untuk memeriksa kakinya.


“Sedikit,” jawab Alisya, sambil meringis menahan rasa perih di kaki dan kebas di bagian betis.


“Coba aku periksa dulu, mungkin kakimu lecet, karena gesekan dengan sepatu.” Agra sedikit menaikkan gaun panjang Alisya, agar ia bisa melihat kakinya.


Alisya tampak tidak nyaman, karena para tamu dan pelayan hotel banyak yang memperhatikannya.


Bagaimana tidak, Agra yang terkenal menjadi lelaki dingin dan tak tersentuh dengan perempuan, kini terlihat sangat lembut dalam memperlakukan istrinya. Bukankah itu sangat mengejutkan dan patut menjadi perhatian?


“Jangan begini, aku tidak enak.” Alisya tampak memegang pundak Agra, yang sedang membuka sepatunya.


Agra seakan tak peduli dengan perkataan istrinya, ia tetap melanjutkan kegiatannya.


Melihat kaki Alisya yang tampak memerah dan memang ada sedikit lecet di kaki bagian bawah, membuatnya geram sendiri.

__ADS_1


“Kakimu lecet, lepaskan saja sepatunya, biar nanti aku suruh seseorang membawakan yang lebih nyaman untukmu,” desis Agra, sedikit mendongak untuk melihat wajah istrinya.


Alisya hanya mengangguk samar, sebagai jawaban. Ia terlalu malu untuk mengangkat kepala, karena perhatian dari semua orang yang berada di dalam pesta pernikahannya.


Apa lagi saat ia melihat senyum dari kedua sahabatnya, bisa ia simultan kalau saat ini mereka pasti sedang membicarakannya.


Padahal, bukankah itu hal biasa, bila sepasang pengantin menjadi bahan pembicaraan para tamu, karena memang merekalah yang menjadi pusat perhatian pada hari ini.


Beberapa saat kemudian, salah satu anak buahnya memberikan paper bag kepada Agra, berisi barang yang ia pesan beberapa saat yang lalu melalui aerphonenya.


Agra kembali berjongkok di depan Alisya untuk mengoleskan salep pada lukanya dan mengganti sepatunya dengan yang lebih aman dan nyaman.


Alisya tampak melebarkan matanya saat melihat sepatu model apa yang Agra pakaian. Apakah suaminya itu tidak salah memilih? Mungkin perkataan itu yang saat ini ada di dalam benak Alisya.


Itu bukanlah sepatu, melainkan sebuah sendal rumahan yang berlapis bulu, begitu lembut dan nyaman di kaki. Tetapi, ini bukanlah waktu yang tepat untuk memakai sendal seperti itu.


“Apa Kakak tidak salah?” tanya Alisya.  Akhirnya ia tidak sanggup juga menahan mulutnya untuk bertanya.


Agra duduk di sampingnya, setelah memakainya sendal rumahan itu pada istrinya.


“Apanya yang salah?” tanya Agra kembali, ia tak merasa ada yang salah.


“Itu lebih nyaman dan aman untuk kakimu yang terluka, lagi pula itu kan tidak terlihat karena tertutup gaunmu,” jawab Agra. Lelaki itu melingkarkan satu tangannya ke area pinggang ramping Alisya, hingga gadis itu sedikit berjingkat, mendapati perlakuan suaminya.


“Aku tidak habis pikir dengan orang yang membuatkan gaun untukmu, bagaimana bisa dia memberikan begitu banyak bahan di bagian bawah hingga menyentuh tanah, tapi, begitu minim di bagian atas,” desis Agra, saat kembali menyadari model gaun istrinya.


Alisya terkekeh geli, saat mendengar gumaman kecil dari lelaki di sampingnya.


“Memangnya kenapa? Bukankah ini sangat bagus, aku suka gaun buatannya dan mama juga tidak keberatan,” ujar Alisya.


Lucu rasanya melihat Agra yang protes karena gaunnya terlalu minim di bagian atas.


“Ya, setidaknya tidak bagian ini, aku tidak suka kalau kamu memperlihatkan itu pada orang lain.” Agra menunjuk bagian dada dan pundak Alisya.


“Mana aku tahu, siapa suruh Kakak gak ikut waktu aku sama Mama pesan gaun ini,” cebik Alisya.


Dulu sewaktu ia memesan gaun, mereka berdua belum melakukan acara pingitan jadi masih bisa pergi bersama


 Alisya sudah mengajaknya beberapa kali, tetapi, karena kesibukannya Agra tak bisa memenuhi permintaan calon istrinya.


“Iya, maaf. Aku sangat sibuk waktu itu, makannya tidak bisa menemani kamu, sayang,” ucapnya, semakin mengeratkan pelukan pada pinggang Alisya, hingga keduanya semakin merapat.

__ADS_1


“Kak, tangannya,” bisik Alisya. Ia berusaha melepaskan lengan Agra dari pinggangnya.


“Kenapa, hem? Apa tidak boleh suami memeluk istrinya sendiri?” tanya Agra, dengan tatapan menggoda.


“Bukan begitu. Ah sudahlah, terserah Kak Aga saja!” rajuk Alisya.


Agra terkekeh geli melihat istrinya seperti itu, menurutnya setiap ekspresi Alisya terlihat sangat menggemaskan.


Dalam suasana seperti itu, Andrew datang menghampiri keduanya, Agra langsung berdiri untuk menyambut kedatangan Ayah angkatnya itu.


Walaupun mereka sering terlihat tidak akur dan saling ledek,  tetapi rasa hormat Agra pada Andrew tidak pernah berkurang sedikit pun. Begitu pun dengan rasa sayang Andrew pada Agra. Mereka berdua hanya menyampaikan itu dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang.


“Dad.”


Andrew tersenyum, melihat Agra dan Alisya bergantian. Ada perasaan hangat yang menjalar memenuhi ruang hatinya, saat melihat kebahagiaan Agra. Entah mengapa ia merasa terikat oleh remaja yang tak sengaja ditabrak oleh anak buahnya.


Berawal dari rasa iba akan nasib yang tidak beruntung, padahal dilahirkan di keluarga yang berkecukupan, perlahan kegigihannya dalam berlatih, semakin menarik perhatiannya.


Hingga tanpa ia sadari, perlahan remaja itu masuk menghangatkan hatinya yang sudah lama terasa kosong dan hampa semenjak mendiang istrinya meninggal.


“Selamat atas pernikahan kalian, aku senang kamu telah menemukan tambatan hatimu, tempatmu pulang dan mencurahkan kasih sayang,” ucapnya, menepuk pundak Agra berulang.


Ingatan kegagalan dalam menjaga istrinya membuat Andrew diterpa rasa bersalah berkepanjangan. Ia bahkan sudah berulang kali mengingatkan Agra, untuk tidak pernah memperhatikan perempuan dan menjaga pendamping hidupnya kelak.


“Kau masih ingat pesanku, jangan sekalipun kamu menyakiti seseorang, yang telah rela menyerahkan seluruh hidupnya untuk mendapingimu–,” Andrew menjeda kalimatnya.


“Kalau tidak, aku sendiri yang akan memberikanmu hukuman!” ucap mereka bersamaan, dengan kekehan kecil di akhir perkataannya.


Berpelukan ala lelaki, sebagai ungkapan rasa senang dan kasih sayang di antara keduanya


“Aku mengingat semuanya, Dad,” ucap Agra lagi.


“Alisya, setelah ini aku harap kamu bisa menerima Agra sepenuhnya, dengan kekurangan dan juga kelebihannya, mendampinginya di setiap keadaan senang maupun susahnya. Aku berharap kamu tidak akan pernah meninggalkannya dalam kondisi apa pun, percayalah kalau apa yang dia lakukan ada alasannya dan itu pasti sudah yang terbaik.” Andrew beralih pada Alisya, mengusap lembut puncak kepala gadis yang kini menjadi menantunya.


Alisya mengangguk, sebelum ia menikah dengan Agra, ia sudah memantapkan hati untuk menyerahkan hidupnya hanya untuk bersama dengan lelaki dingin itu. Ia sudah yakin kalau rasa cintanya pada Agra bukanlah karena masa kecilnya, melainkan itu tumbuh dari dalam lubuk hatinya.


“Terima kasih, Dad,” ucapnya menghambur pada pelukan lelaki yang terlihat dingin, tetapi, begitu hangat pada keluarganya itu.


Berpelukan sekilas, Andrew melemparkan tatapan kemenangan kepada Agra yang tampak mendengus kesal.


Akhirnya suasana haru itu, kembali berubah cair dan berakhir dengan tatapan jengah  dari Agra untuk Andrew, karena telah berani mencuri pelukan istrinya, padahal dia saja belum mendapat pelukan dari Alisya setelah beberapa hati tidak bertemu.

__ADS_1


__ADS_2