Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
MS2-Bab.16 Balapan


__ADS_3

Arsya menghentikan laju motornya di parkiran sebuah sirkuit balapan. Bersamaan dengan itu, Cakra, Fahri, Dikta, dan Vareen mengikuti. Mereka sudah berjanji untuk bertemu dengan Shania sore itu di sana.


"Kayaknya di belum dateng," ujar Vareen setelah meneliti area parkir yang tampak lengang. Tak ada motor lain di sana, selain mereka.


"Gak mungkin kan, dia ngerjain kita?" Cakra tampak mendengus kasar. Seorang perempuan di dalam geng motor Atropos? Bukankah itu sesuatu yang sangat buruk.


"Tunggu aja dulu, mungkin dia memang belum dateng," ujar Dikta yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang sedang diekerjakan oleh cowok itu.


"Iya, lebih baik kita tunggu sebentar lagi. Atau, lo mau manasin motor gak, sambil nunggu Shania datang?" Fahri tampak tersenyum sambil menaik turunkan alisnya, menggoda Dikta.


Ya, tadi siang, Dikta yang menawarkan diri untuk melawan Shania. Mencegah Vareen yang tadinya akan ditunjuk untuk melawan Shania.


"Lo nantangin gue?" Dikta langsung mengangkat kepalanya dari benda pipih di tangannya.


"Dari pada lo liatin layar hp mulu, mending latihan kan?" jawab santai Fahri.


"Lo sebenarnya lagi ngapain sih? Dari tadi liatin hp mulu. Punya pacar ya, lo?" kejar Vareen. Matanya menyipit, menatap curiga pada teman sekaligus ketua kelasnya itu.


Dikta memang tidak terlalu terbuka, sebelum bergabung dengan Atropos geng, cowok itu lebih suka menghabiskan waktunya dengan tumpukan buku dan beralih dari satu bimbingan belajar dan program belajar lainnya. Hidupnya sangat membosankan, bahkan Vareen saja bergidik ngeri ketika harus membayangkan menjadi seorang Dikta.


"Ck!" Dikta berdecak malas. Dia menatap kesal pada Fahri dan Vareen yang tengah menatapanya mengejek.


"Oke. Kita masuk sekarang?" Dikta langsung memasukan kembali ponselnya ke saku. Lalu, dia bersiap untuk melajukan motornya masuk ke dalam area sirkuit balapan.


"Ayo. Siapa takut!" balas Fahri penuh semangat.


"Perlu gue temenin gak nih?" Vareen mengikuti kedua temannya memasuki sirkuit.


Cakra dan Arsya pun bersiap untuk mengikuti Vareen. Namun, Arsya terpaksa mengurungkannya ketika suara dering ponsel menghentikannya.


"Lo duluan aja," ujar Arsya ketika Cakra tampak menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


"Oke," angguk Cakra, tanpa bertanya lebih lanjut.


Id nama salah satu pengawal bayangan yang kemarin dia tugaskan untuk mencari tahu di balik insiden Rumi tadi malam, membuatnya mengerutkan kening. Bayangan kejadian di depan sekolah beberapa hari yang lalu, kembali terlintas di kepala. Apa lagi pesan ancaman yang dia terima setelahnya. Entah dari siapa.


"Hem?" Arsya bergumam sambil menempelkan benda pipih itu di daun telinganya.


"Selamat sore, Young master," sapa seseorang dari seberang sana.


"To the point," ujar Arsya, tanpa mau berbasa-basi.


"Begini, Young master. Saya sudah menemukan seseorang di balik kejadian kemarin." Perkataan sang penelepon tampak terhenti, seolah ragu untuk mengatakan kata selanjutnya.


"Lalu?" kejar Arsya, tak sabar. Ternyata benar, kejadian yang menimpa Rumi tidak serta merta hanya karena dendam mantan kekasih ibunya saja. Namun, ada masalah lain yang menyertainya.


"Semua itu ada sangkut pautnya dengan Venus geng. Pelaku mengakui, jika dia diperintahkan oleh anggota dari Venus geng dengan iming-iming sejumlah uang sebagai imbalannya. Karena dia juga merasa kesal pada gadis kemarin, maka dia langsung menyetujuinya tanpa mempertimbangkan dulu konsekwensinya."


Arsya mengetatkan rahangnya, tanpa sadar genggaman tangan di ponsel pun terasa semakin kencang. Geram.Cowok jangkung itu tak menyangka, jika Venus geng begitu pengecut hingga berani melibatkan seorang perempuan dalam masalah mereka yang bahkan harusnya sudah selesai.


"Mana yang lain?" tanya Shania setelah menyapa Arsya lebih dulu. Matanya mengedar melihat ke seluruh area parkir.


"Sudah di dalam. Masuk," jawab Arsya, kemudian mengajak Shania untuk masuk dengan gerakan kepalanya samar.


"Oke." Shania mengangguk-anggukan kepala lalu bersiap untuk mengendarai motor sport-nya masuk ke dalam.


Begitu juga Arsya. Dia tampak membiarkan helmnya di atas teng dan mulai mengedari motornya di belakang Shania.


"Yeah! Gue menang!" Fahri bersorak riang sambil melakukan tos pada Cakra dan Vareen.


"Cih, gue emang sengaja ngalah," elak Dikta sambil berdecak lirih. Dia langsung mengalihkan perhatiannya ketika ujung matanya melihat kedatangan Shania dan Arsya.


"Wah, ini dia yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga!" Vareen berseru, sambil menghampiri Shania dan Arsya yang baru saja menghentikan motornya. Dia melakukan tos pada cewek tomboy itu.

__ADS_1


"Sorry, gue telat. Ada sedikit problem dulu tadi," ujar Shania sambi meringis. Merasa tidak enak karena sudah terlambat hampir setengah jam.


"Its okay. Lagian, kita juga lagi gak ada acara. Iya 'kan?" ujar Vareen sambil meminta persetujuan teman-temannya atas ucapannya.


Kempat cowok itu pun mengangguk serempak. Mengiyakan perkataan Vareen yang sedang sok akrab pada Shania. Ah, itu memang sudah kebiasaan cowok itu. Terlalu friendly pada semua orang, apa lagi kalau sudah menyangkut makhluk yang bernama cewek.


"Karena lo udah datang, gimana kalau kita mulai balapananya sekarang?" tanya Fahri yang sudah tidak sabar melihat balapan antara Dikta dan Shania.


"Oke. Gue sih ayo aja," angguk Shania.


Beberapa saat kemudian, Shania dan Dikta sudah besiap di belakang garis strat. Sementara Vareen yang berperan sebagai wasit, mulai berjalan ke tanga sirkut dengan sebuah bendera di tangannya.


"Ini hanya akan berlangsung satu putaran. Siapa pun yang bisa sampai garis finis duluan, berarti dia lah pemenangnya." Varen memberi instruksi sebelum mulai menghitung mundur.


Sementara itu, Arsya, Cakra, dan Fahri, memilih duduk di spot terbaik kursi penonton. Menanti balapan yang menetukan diterima atau tidaknya Shania di dalam Atropos geng, dimulai.


"Lo yakin, Dikta bisa ngalahin Shania? Kayaknya cewek itu gak bisa diremehin deh," tanya Fahri sambil menatap bergantian kedua wajah datar temannya.


"Dia yang menawarkan diri," jawab Cakra tak acuh.


"Kalau sampai dia kalah, bukannya itu terlalu memalukan? Dikalahkan sama cewek? Wah...." Fahri menggeleng miris, membayangkan betapa malunya Dikta jika sampai kalah. Namun, di antara mereka, memang Dikta cukup lemah dalam balapan. Cowok kutu buku yang selama ini lebih suka naik kendaraan umum atau taksi, baru benar-benar serius belajar mengedarai motor ketika sudah tergabung dalam Atropos.


Sementara itu, di garis start. Vareen sudah mengacungkan bendera tanda balapan antara Shania dan Dikta sudah dimulai, sejurus dengan itu, Shania dan Dikta langsung melesat melewati tubuh Vareen dengan kecepatan tinggi. Arsya, Cakra, dan Fahri pun langsung memusatkan perhatian mereka pada sirkuit balapan.


"Wah! Bener 'kan? Shania ternyata gak bisa kita remehin. Keliatan sih dari gayanya." Fahri melebarkan matanya, ketika kini Shania berada di depan Dikta.


Tak perduli dengan segala kehebohan yang dibuat Fahri dan teriakan Vareen dari garis finish, Arsya dan Cakra malah tampak terdiam dengan tatapan tertuju pada arah yang sama. Kerutan di kening tampak lebih tebal dengan sorot mata yang tampak rumit.


Tidak, bukan Dikta atau Shania. Namun, dua orang gadis yang kini tampak berdiri di pintu masuk dengan tatapan yang sama terkejutnya dengan Arsya dan Cakra.


🦅Siapakah itu? Komen

__ADS_1


__ADS_2