Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.27 Maling


__ADS_3

...Happy Reading...


...๐Ÿฆ…...


Di tempat lain, seorang lelaki paruh baya bersama dengan anak laki-lakinya, baru saja mendapatkan informasi dari orang yang mereka kirimkan untuk memata-matai Agra.


"Lelaki itu masuk ke dalam perumahan mewah, Tuan," ucap lelaki berbaju hitam itu dengan menyertakan beberapa lembar foto sebagai bukti.


"Baiklah, kamu boleh keluar," ucap Lelaki paruh baya itu.


"Siapa yang dia temui, di perumahan khusus orang-orang kaya raya itu?" tanya sang anak, dengan alis bertaut.


Di tangannya, ada beberapa lembar foto yang menunjukan mobil Agra memasuki perumahan.


Si penguntit hanya bisa mengikuti Agra sampai ke depan gerbang masuk, karena tidak sembarangan orang bisa keluar masuk ke dalam perumahan elit itu.


Hanya orang-orang yang mempunyai rumah di sana atau yang menunjukan bukti undangan dari pemilik rumah, yang bisa masuk.


"Heh ... pantas saja dia berani kembali kesini, ternyata dia mempunyai orang yang berkuasa di belakangnya," ucap lelaki paruh baya itu, dengan nada meremehkan.


"Mana mungkin dia berani lagi datang ke kota ini, kalau tidak ada orang yang mendukungnya," anaknya ikut menimpali.


"Iya, di hanyalah seorang anak brandal yang banyak gaya, tapi tidak bisa apa-apa!" ucap menggebu lelaki paruh baya itu, di iringi tawa keduanya.



Agra meraih ponsel yang bergetar dia atas nakas.


Setelah menjalani pengobatan dari Nick, dia memilih untuk beristirahat.


"Ya, Dad," sapa Ansel, menempelkan benda pipih itu di telinganya.


Matanya masih saja terpejam, hanya saja nada dering panggilan dari ayah angkatnya itu, memang ia bedakan dari yang lain.


Maka dari itu, dia tau kalau panggilan itu dari Andrew tanpa melihat nama di layarnya.


"Ini panggilan video, jauhkan ponsel kamu dari telinga, anak nakal!"


Belum apa-apa Agra sudah mendapat sentakan dari lelaki paruh baya itu.


"Hah! Maaf, Dad. Aku gak tau," Agra langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.


Pantas saja telinganya serasa berdengung karena volume suara yang tinggi.


Menggosok telinga dengan salah satu tangan sambil mengerejapkan matanya.


"Kenapa muka kamu, hah?!"


Teriakan dari Andrew langsung membuat kesadaran Agra pulih seketika.


'Ah, bodoh! Kenapa aku bisa lupa,' umpatnya dalam hati.


"I-ini ... aku habis berlatih tapi sore, Dad!" ucap Agra santai, seperti tidak ada yang di tutupi.


Andrew tampak menanamkan matanya, melihat Agra dengan seksama. Mencari celah kebohongan dari mata sang anak angkat.


"Benarkah?" tanya Andrew, memastikan.


"Eum, sudah lama aku tak melatih tubuhku, jadi sedikit kaku," Agra melakukan gerakan seperti meregangkan otot di tubuhnya.


"Kau tau bukan, aku tidak bisa di bohongi? Walaupun itu oleh bocah tengik sepertimu!"


Agra menegakkan tubuhnya. Selau saja begini, Andrew melakukan panggilan hanya karna dia sudah tau semua kebenaran yang terjadi.

__ADS_1


Lelaki berumur dua puluh tujuh tahun itu, mendengus kasar.


"Iya, iya. Aku bertarung dengan Lucas Peadel tadi sore," Akhirnya Agra mengaku juga.


Andrew menyunggingkan sebelah bibirnya, menganggukkan kepala dengan tatapan tajam pada sang anak.


"Tampaknya, waktu kamu sudah sangat luang, hingga bisa bermain-main seperti itu?" sindir Andrew.


"Memberikan pelajaran sekaligus memberi peringatan pada musuh, tak salah 'kan, Dad?"


"Baiklah, aku terima alasanmu kali ini,"


"Aku dengar kau memelihara seorang gadis di apartemen?"


Agra menaikkan satu alisnya, memandang malas lelaki paruh baya yang tak lain adalah ayah angkatnya itu.


"Aku hanya menolongnya," sangkal Agra, tau pasti pemikiran Andrew.


"Hem, benarkah? Apa perlu aku datang dan memberinya beberapa pertanyaan seperti orang tua lainnya?"


Bagian perut Agra tiba-tiba saja bergejolak, seakan ingin mengeluarkan seluruh isinya. Saat melihat senyum mengejek dari Andrew.


"Terserah!" Sarkas Agra.


Menatap malas wajah Ayah angkatnya itu yang mulai memerah karena tertawa.


"Wajahmu sungguh tidak pantas untuk tertawa seperti itu, Dad!" ejek Arga, menatap malas Andrew.


Lelaki paruh baya itu langsung menghentikan tawanya.


"Apa kau bilang, bocah nakal?!" Sarkas Andrew.


"Benar 'kan apa yang aku katakan? Bahkan para anak buahmu akan langsung terkena penyakit struk karena melihat tawamu itu, Dad!" Agra balik mengejek Andrew.


"Dasar bocah nakal! Anak set*n kau ya!" geram Andrew.


"Kalau aku anak set*n berarti kau set*nnya!" ucap agara di sela tawanya.


Begitulah kedua orang yang terkenal dingin di luar itu.


Saat mereka tengah berdua, maka canda tawa penuh kehangatan yang ada di antara keduanya.


Walaupun candaan yang mereka ucapkan terdengar berbeda dan sangat kasar bagi orang-orang pada umumnya.


Percakapan tak berguna itu akhirnya berakhir, setelah membicarakan yang perlu mereka diskusikan.


Jam menunjukan pukul tiga dini hari, saat Agra baru saja memutuskan sambungan teleponnya.


Perutnya baru terasa keroncongan, karena dari tadi siang sama sekali belum di isi.


Di tambah lagi, dengan pertarungan tadi sore yang sangat menguras energi.


Beranjak menuju ke lantai bawah, untuk mencari makanan yang sekiranya bisa mengganjal perutnya, sampai waktu sarapan besok pagi.


Berjalan di dalam sinar temaram, karena hampir semua lampu sudah di matikan.


Membuka lemari es, dan memeriksa isinya.


.


Di tempat lain, lebih tepatnya di dalam kamar milik Alisya.


Gadis cantik itu, baru saja terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya terasa kering.

__ADS_1


Melihat gelas di atas nakas yang ternyata lupa ia isi sebelum tidur.


"Ish," malasnya karena harus berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.


Dengan mata yang masih setengah tertutup dan rambut berantakan, dia berjalan sambil sedikit meraba sekitarnya, agar tak menabrak.


Mengerinyitkan kening saat mendengar ada suara sedikit gaduh di dapur.


"Suara apa itu? Mana mungkin di sini ada tikus 'kan?" gumam gadis itu, menajamkan pendengarannya.


Bergidik ngeri, ketika membayangkan ada hewan pengerat yang sangat menjijikan menurutnya.


Kesadarannya langsung pulih seketika.


Berjalan dengan mengendap-endap sambil mencari alat untuk menjadi pelindung bagi dirinya.


"Apa ada maling, di apartemen mewah begini?" gumamnya lagi, saat melihat bayangan seseorang dari sinar lemari es yang terbuka.


"Apa mungkin itu hantu?!" Alisya membolakan matanya, mengingat hal yang menyeramkan.


"Eh, tapi ... memang hantu bisa membuka kulkas ya?" gumamnya lagi menautkan kedua alisnya.


Mengambil sebuah sapu yang berada di dekat pintu dapur, dengan sangat perlahan.


.


Agra mengambil satu buah apel dan satu botol air putih.


Kembali menegakkan tubuhnya saat tiba-tiba saja ada seseorang yang memukulya dengan sangat brutal.


Bugh ....


Bugh ....


Bugh ....


Tidak terlalu sakit, namun itu cukup membuat dirinya kesal.


"Kamu mau coba-coba maling hah! Enak saja kamu, dasar maling gak tau diri!" Alisya terus memukuli seorang lelaki yang dia sangka sebagai maling itu dengan sangat brutal.


"Hei! Stop ... Stop!" Agra sedikit membungkuk dengan kedua tangan berusah menutupi kepala dan wajahnya.


Bukh ....


Aaakh ....


Dengan gerakan cepat, Agra menangkap gagang sapu yang di buat untuk memukulinya dan menariknya, hingga Alisya terbawa dan membentuk dada bidang milik Agra.


Klik ....


Lampu dapur bersinar terang, hanya dengan satu kali tekan.


Alisya langsung membolakan matanya, melihat wajah lelaki yang tadi ia sangka maling.


"Tu-tuan Agra," gugup Alisya, mencoba melepaskan dekapan tangan kekar lelaki di depannya.


'Mati aku!' umpatnya di dalam hati.


...๐Ÿฆ…...


...๐Ÿฆ…...


...TBC...

__ADS_1


Mau minta maaf lagi, karena akhir-akhir ini aku jarang up, lagi lumayan sibuk di dunia nyata, dan mau revisi bab awal yang ternyata sangat berantakan.


...Terima kasih atas semua dukungannya๐Ÿ™๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜...


__ADS_2