
"Cak, sebaiknya lo berlatih buat mengatur emosi lo lagi. Jangan sampai kayak tadi," tergur Arsya ketika mereka berdua ke toilet bersama.
Cakra memang sulit mengatur emosinya yang cenderung meluap-luap. Arsya pun tahu sifat temannya itu sejak mereka sekolah bersama. Ternyata tidak berubah walau usianya sudah bertambah. Dia juga tahu, penyebab dari emosi seorang Cakra yang sering kali tidak dapat terkontrol. Namun, jika semua itu terus terjadi, bisa saja akan menjadi bumerang untuk Cakra dan Atropos ke depannya.
Cakra terdiam sebentar. Dia melirik Arsya dengan tatapan tidak terima, mata keduanya sempat bertemu sesaat, hingga akhirnya Cakra sedikit menurunkan pandangannya dan berjalan menuju ke washtafel untuk mencuci tangan.
Arsya yang juga sudah selesai dengan hajatnya, mengikuti. Terdengar hembusan napas kasar dari wakilnya itu sebelum menjawab ucapan Arsya pelan, dengan aksen malas di dalamnya.
"Hem. Gue usahain." Cakra kemudian berlalu ke luar.
"Cak!" Arsya menyusul. Dia rangkul pundak Cakra sambil menjelaskan niat dari perkatannya. Tak ada rasa tersinggung, walau Cakra terlihat tak acuh pada ucapannya yang berniat baik.
"Gue tahu lo ngelakuin itu karena mau ngebela Dikta. Lo orang yang setia kawan, gue tahu itu. Makanya gue jadiin lo wakil gue. Tapi, ngambil keputusan dalam keadaan emosi itu salah, Bro."
"Hem," angguk Cakra lagi.
Agra tersenyum tipis. Sepertinya, semenjak terbentuknya Atropos, predikat cowok dingin di dalam dirinya sudah sedikiit pudar. Sebagai seorang leader, Arsya harus sering berkomunikasi dengan para anggota lain, dan sebisa mungkin mengatur ketenangan di dalam Atropos geng.
Sementara itu, Cakra yang memang memiliki tempramen tinggi, sedikit sulit untuk beradaptasi dengan suasana saat ini yang jauh berbeda. Ditambah lagi dengan ego masing-masing yang masih sangat tinggi. Itu ternyata lebih sulit dibandingkan apa yang dibayangkan.
...🦅...
"Bang, lo bikin geng motor? Buat apaan sih?" tanya Isha dengan kening berkerut dalam. Dia duduk di sisi ranjang kakaknya dengan gerakan kasar. Tampanya, gadis itu tidak setuju dengan apa yang Arsya lakukan.
"Gak papa, cuma buat main-main aja," jawab Arsya sambil menutup laptopnya dan berputar untuk melihat sang adik.
"Lo mau jadi cowok brandalan?" tanya Isha. Dia mendengus kesal dengan bibir yang sedikit manyun.
"Emang semua geng motor itu brandalan ya?" Arsya malah bertanya balik. Kekehan kecil pun terdengar. Tidak heran memang jika adiknya berucap seperti itu, tetapi entah kenapa malah terdengar lucu di telinganya.
"Ya ialah!" Isha menjawab dengan yakin dan sedikit emosi. "Lagian, ngapain sih pake bikin begituan? Gak jelas banget!"
"Iseng doang, Sha. Udahlah, nanti juga kamu tau sendiri." Arsya memilih bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri sang adik.
"Gak usah bete begitu, mending kita main game yuk," rayu Arsya, sambil duduk di samping Isha.
__ADS_1
Semua ini dia lakukan agar adiknya tidak lagi merajuk dan lebih banyak bertanya tenatang Atropos geng. Rasanya, enggan untuk menjelaskan karena itu hanya akan membuat Isha semakin khawatir. Jangankan Isha, bahkan Agra dan Alisya tidak pernah tahu tujuannya membentuk Atropos bersama teman-temannya. Biarkan saja mereka mengira jika Atropos hanya sekedar keinginan gang lambat alun akan menjadi bisa dan bubar begitu saja. Itu akan lebih nyaman untuknya.
...🦅...
Arsya dan para anggota Atrsopos geng, baru saja sampai di sekolah, bersamaan dengan Diro dan kawan-kawannya, dari geng venus.
"Diro tuh," bisik Dikta yang berada di sebelah Arsya. Mereka bahkan masih berada di atas motor, ketika Diro datang dan parkir tidak jauh dari tempat Atropos geng.
Arsya yang sudah tahu, memilih acuh. Dia simpan helm di atas teng motor, lalu mengacak rambutnya yang lepek agar terlihat lebih mengembang, sambil berujar tak acuh. "Biarin aja."
Sementara itu, Cakra dan yang lainnya, diam-diam ikut memperhatikan kedatangan Diro dan teman-temannya. Terlihat mereka menjadi lebih wapada. Apa lagi ketika melihat Dira mulai turun dari motornya dan berjalan menghampiri mereka.
"Ngapain dia ke sini?" gumam Fahri yang berbisik pada Cakra. Namun, yang ditanya sama sekali tidak menjawab. Lelaki itu terlihat tengah bersiaga sambil mengatur emosinya sendiri. Dia kepalkan kedua tangannya sambil terus mengatur ritme napasnya. Mereka langsung turun dan berdiri berjajar ke samping ketika melihat Diro semakin mendekat.
"Gue udah mutusin buat nerima tantangan dari kalian," ujar Diro begitu mereka berdiri berhadapan dengan Atropos geng.
Arsya tersenyum miring. "Baiklah, nanti gue kirim waktu dan tempatnya."
"Gak perlu lama-lama, nanti kalian pada kabur lagi," ujar Diro dengan nada mengejek, disambut tawa pelan para temannya.
"Nanti malam ada balapan liar di daerah selatan. Gimana?" sambung Diro lagi.
"Oke, gue terima!" Itu bukan suara Arsya. Melainkan, Cakra. Cowok yang berdiri tepat di samping Arsya langsung maju selangkah dengan tubuh tegak dan penuh percaya diri.
Sontak, Arsya dan anggota Atropos geng yang lain langsung mengalihkan atensinya pada sang wakil ketua itu. Mereka terlihat cukup terkejut, walau sebisa mungkin mereka mengatur raut wajahnya agar masih terlihat tenang. Namun, sepertinya Diro sempat menangkap kecemasan dari wajah para inti Atropos.
"Heh!" dengus Diro, tampak meremehkan Cakra dan Atropos geng. "Oke. Kita ketemu di sana nanti malam. Gue harap kalian gak bakal ngecewain kita."
"Oke. Deal!" sambut Cakra.
Arsya tersenyum tipis. Walau terlihat ceroboh, tetapi dia cukup kagum pada keberanian Cakra. Kini, giliran yang lainnya untuk mencari cara agar mendapat kemenangan di lintasan.
Mereka pun berpisah setelah membuat kesepakatan.
...🦅...
__ADS_1
"Kita harus menang malam ini, agar kita mempunyai muka di depan Diro dan geng motor lainnya," ujar Arsya ketika mereka sedang makan bersama di kantin sekolah.
"Bener, ini kesempatan kita buat nunjukin geng motor kita di depan yang lain," angguk Cakra, ikut menyetujui ucapan Arsya.
"Tapi, kita juga harus berhati-hati. Venus dikenal sering berbuat curang pada lawannya." Vareen yang sejak tadi terlihat gusar, ikut menimpali. Beberapa kali mengikuti balapan liar, membuat dia tahu tentang berita yang beredar di kalangan pembalap liar yang lainnya.
"Tau dari mana lo?" tanya Dikta, langsung. Dia senggol lengan Vareen yang tepat duduk di sampingnya, hingga tanpa sadar menumpahkan sedikit jus jeruk yang tengah diminum oleh Vareen.
"Sialan lo! Jus gue tumpah, woy," kesal Vareen. Refleks dia jauhkan gelas itu darinya.
"Sorry-sorry, gue kan gak sengaja." Dikta langsung mengambil tisu dan memberikannya pada Vareen.
Sementara itu, Cakra dan Fahri tampak ikut menanti jawaban dari vareen. Mereka memang belum tahu tentang Vareen yang sering belapan motor liar dan sempat memiliki masalah dengan geng venus.
"Buruan lo jawab. Dari mana lo tau tentang geng venus?" tanya Fahri yang sudah tidak sabaran.
"Gue?" Vareen melirik Arsya sebelum menjawab. Dia meneruskan ucapannya ketika sudah mendapatkan anggukkan dari leader Atropos. "Gue pernah balapan sama mereka."
"Lo? Balapan sama geng venus?" tanya Dikta. Matanya tampak melotot, seolah tidak percaya.
"Iya," angguk Vareen sambil melirik sinis Dikta. Masih kesal karena jusnya tumpah.
"Terus, lo menang?" tanya Fahri perasaran.
"Gak jadi yang pertama sih, tapi karena gue, perwakilan mereka jadi peringkat ke tiga," jawab Vaeen sambil meringis. Dia ingat bagaimana dirinya babak belur setelah balapan itu. Untung saja ada Arsya yang menolongnya. Kalau tidak ... dia tidak tahu akan bagaimana jadinya.
"Wah, hebat juga lo. Gue gak tau lo pinter balapan." Dikta tampak memuji dan heboh sendiri.
"Lo tau itu?" tanya Cakra pada Arsya.
"Tau," angguk Arsya singkat.
Cakra tampak menatap Arsya dengan sorot mata rumit. Ada sedikit kecurigaan di dalam hati cowok itu, akan leader Atropos
Gimana bisa dia tahu tentang Vareen, sentara dia baru di sini? Gue juga bingung, kenapa dia bisa memilih kutu buku kayak Dikta untuk gabung dalam geng motor? Bahkan dia tahu kalau Dikta ternyata pinter di dalam IT.
__ADS_1