Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Bab.39 Tamu tak di undang


__ADS_3

...Happy Reading...


...🦅...


Alisya mematung melihat pamannya masuk ke dalam ruangan Agra di belakang Edo.


''Tuan, Pak Bima sudah ada di sini,'' lapor Edo, sesaat setelah ia berada di dalam ruangan.


Lelaki yang merupakan wakil presdir di perusahaan itu, menaruh berkas yang sedang ia lihat, beranjak berdiri di depan meja kerjanya untuk menyambut kedatngan tamu tak di undangnya.


''Selamat datang. Tuan Bima,'' sambut Agra, menyunggingkan senyum ramah, walau itu tampak sekali di paksakan.


Bima menegakan tubuh, menghampiri Agra dangan percaya dirinya, menglurkan tangan mengajak bersalaman.


Lelaki paruh baya itu sudah merasa di atas angin karena mendapatkan sambutan baik dari Agra.


''KIta bertemu lagi, Tuan Leonardo.''


Senyum Bima langsung hilang setelah melihat Agra hanya mengangguk samar, kemudian berlalu menuju sofa, tempat Alisya berada, tanpa melirik tangannya sedikitpun.


Edo tampak mengulum senyumnya, melihat waja merah padam tamu tuannya itu.


Bima menarik tangannya dengan genggaman yang terlihat sangat erat, sampai urat di sekitar punggung tangannya menonjol keluar.


Asisten wakil presdir itu maju selangkah, untuk mensejajarkan berdirinya dengan lelaki paruh baya itu, mengulurkan tangan mengarah pada sofa, sebagai tanda mempersilahkan tamunya untuk duduk.


Sedangkan Agra sudah duduk terlebih dahulu di samping Alisya.Tangannya merangkul sebelah pundak gadis itu, sebagai tanda kepemilikan dan juga perlindungan, yang ingin ia tunjukan pada tamuanya.


Agra dapat merasakan tubuh Alisya menegang saat tangannya menyentuh pundak gadis itu. Namun, Agra tak menghiraukannya. Tetap menatap lurus ke depan dengan wajah datar khas dirinya.


Alisya yang terkejut dengan apa yang di lakukan Agra padanya, memandang lelaki itu dengan melotot. Tetapi yang ia dapat hanyalah senyum hangat yang membuat hatinya langsung luluh lantak dengan pesona lelaki dingin itu.


Entah mengapa, pelukan hangat dari Agra mebuat hatinya yang gelisah menjadi lebih tenang, aroma maskulin yang menguar memenuhi indra penciumannya, terasa sangat menenangkan.


''Ada kepentingan apa kiranya, sampai pengusaha sukses seperti anda datang ke mari?'' tanya Agra, sedikit melambungkan hati tamunya itu.


''Ah, tuan Leonardo bisa saja, anda jauh lebih sukses dan berhasil di bandingkan dengan saya.'' Bima tampak mulai mencari muka pada Agra.


Namun sayang, dia belum tau dengan siapa sekarang dirinya berhadapan. Agra tidak akan termakan oleh muka palsu yang di tampilakan oleh lelaki paruh baya itu.


Bahkan Edo saja sudah mengetahui kalau semua yang di katakan oleh Bima hanyalah omong kosong belaka.


''Baiklah, sekarang sudah cukup basa-basinya saya tidak punya banyak waktu. Katakan ada maksud apa, anda datang ke perusahaanku?'' jengah Agra, kembali pada mode serius.


''Ah, maafkan saya telah menyita waktu Anda yang sangat berharga, Tuan Leopard ... saya kemari hanya ingin meminta kembali keponakan saya,'' dengan tidak tau malunya lelaki paruh baya itu berucap seperti itu kepada Agra.


'''Keponakan? Oh, maksud anda Alisya?'' tanya Agra, mengerinyitkan keningnya seperti orang yang sedang berpikir dalam, melirik sekilas gadis di sampingnya.

__ADS_1


''Benar, Tuan,'' jawab Bima cepat.


Agra tampak menganggukan-anggukan kepalanya, salah satu tangannya ia letakan di dagu.


Alisya menahan napasnya, menunggu jawaban yang akan di berikan oleh Agra, tanpa sadar tangannya meremas ujung kardigan di pangkuannya.


''Memangnya kapan aku meminjam atau meminta gadis ini kepadamu?'' tanya Agra santai.


Alisya memalingkan wajahnya, menatap tajam lelaki yang duduk tepat di sampingnya.


'Dia bilang apa tadi? Meminjam ... meminta? Enak saja dia bilang begitu! Dia kiara aku ini barang apa?!' gumam gadis itu dalam hati.


Agra tersenyum sebagai balasan atas tatapan tajam gadis kecilnya.


Lagi-lagi Alisya terperangkap dalam senyum menenangkan yang lelaki itu berikan untuknya.


Berbeda dengan sepasang sejoli yang sedang memendam perasaan mereka. Bima tampak menegakan tubuhnya, bingung hendak menjawab apa, atas pertanyaan yang di ajukan oleh Agra.


''Tidak, Tuan. Anda tidak pernah meminjam ataupun meminta Alisya kepada saya,'' jawab lelaki paruh baya itu.


''Kalau begitu, kenapa Anda memintanya kembali? Gadis ini yang menyerahkan dirinya kepada saya dan saya tidak akan melepaskannya begitu saja, hanya karena Anda memintanya kembali.'' Agra berucap tenang, namun berhasil menusuk lawan langsung pada jantungnya, hingga tak dapat berkata-kata lagi.


Bima menatap tajam Alisya, yang berada di pelukan Agra. Perkataan wakil presdir dari perusahaan Leopard Corporate itu, membuatnya berfikir tidak-tidak.


''Apa maksud anda dengan menyerahkan diri, Tuan?'' tanya Bima, dengan mata masih memandang keponakannya itu.


''Aku tidak menyangka ternyata direktur utama perusahaan besar seperti Prananta Jewelry tidak terlalu pintar, sampai aku harus mengulang perkataanku?''' kekehan kecil dan tatapan remeh, mengiringi ucapan jenaka dari lelaki berparas tampan itu.


''Maksud Tuan saya, Nona Alisya yang mendatanginya dan meminta bantuan kepadanya.'' dengan sabar di sertai senyum tertahan, Edo menjelasan maksud Tuannya kepada Bima.


"Tuan, apa kita tidak bertanya kepada Alisya dulu? Apa dia tidak jangan pulang ke rumahnya? Pasti Alisya juga rindu kepada Bibi dan saudaranya," ucap Bima mencoba bernegoisasi.


"Hem, baiklah. Bagaimana Alisya, apa kamu mau ikut dengan pamanmu itu?" tanya Agra menatap teduh gadis di sampingnya.


Alisya menatap nanar mata hitam lelaki pelindungnya. Dia benar-benar takut untuk kembali pada pamannya itu. Gadis itu sudah merasa nyaman dan aman berada di sisi Agra, dan dia tidak mau lagi jauh dari lelaki itu.


Agra tersenyum, lengan satunya lagi menggenggam lembut tangan Alisya untuk menyalurkan keberanian.


Entah bagaiman, sikap lembut lelaki itu membuat dirinya merasa berani. Ya, tanpa ia sadari, kini Alisya merasa tergantung kepada Agra.


"A-aku tidak mau pulang, aku mau tetap bersama dengan Agra," ucap Alisya, tegas dan mantap.


Agra menyunggingkan senyum puas dengan jawaban Alisya.


"Bagaiman, Tuan? Alisya sudah memilih saya. Sebaiknya anda tidak mengganggunya lagi, karena aku tidak akan membiarkan Anda hidup tenang bila itu sampai terjadi," ancam Agra, tajam.


'Sial! ternyata benar apa yang di katakan berita di luar, anak ini mempunyai mulut berbisa dan sangat sombong!'' umpat Bima dalam hahti.

__ADS_1


''Jangan mengumpat di depan orangnya langsung, Tuan. Bila Anda masih mau keluar dari sini dengan keadaan sehat tanpa cacat sedikitpun,'' ucap Agra dengan suara rendah, namun itu cukup membuat lelaki paruh baya di depannya bergetar.


''Apa yang anda bicarakan, Tuan? A-aku tidak berbuat apapun,'' elak Bima.


''Baiklah, sepertinya pembahasan kita sudah seesai sampai di sini. Anda tau letak pintu keluar, bukan?''' ucap Agra acuh.


''Ah, i-iya, Tuan. terima kasih atas waktunya, kalau begitu saya permisi.'' tak kapok, lelski paruh baya itu kembali mengulurkan tangannya kepada Agra.


Sayang, lagi-lagi tangannya di acuhkan oleh lelaki berparas tampan itu.


Ffftth


Edo sudah tak bisa lagi menahan tawanya, saat lagi-lagi melihat kebodohan tamu mereka saat ini.


Setelah kepergian Bima, Alisya langsung melepaskan tangan Agra yang masih asik bertengger di pundaknya.


''Kamu bilang apa tadi?! Pinjam ... minta? Kamu kira aku ini barang apa?!'' sentak gadis itu, berdiiri di hadapan lelaki itu.


''Hei, tenang dulu, okey. Aku berbicara seperti itu agar paman serakahmu itu tidak bisa memaksamu untuk ikut dengannya,,'' jelas Agra dengan nada rendah, dan pandangan lembut.


'Alisya tampak mmengerejapkan matanya, saat mendengar alasan yang di katakan oleh Agra.


''Tapi, mau Bagaimana pun, kamu tidak boleh mengatakan itu!''


Agra menghembuskan napas berat. Menghadapi wanita dengan gengsi tinggi memang susah, mereka pasti tidak mau kalah.


''Iya-iya, aku salah ... maafkan aku ya.'' Agra akhirnya memilih mengalah, dari pada kasus ini bisa menjadi panjang.


Alisya tampak tersenyum, melihat Agra yang mau mengalah untuknya.


Walau di dalam hati ia masih bertanya-tanya, tentang perubahan Agra sejak kembali dari makam kedua orang tuanya.


Sementara itu, Bima berjalan cepat dengan kekesalan yang sudah memuncak, ia tidak terima di kalahkan oleh anak muda, di tambah dia juga merasa di rendahkan oleh bos dan asistennya itu.


''Awas saja kamu Leonardo, aku akan membalas setiap penghinaan yang telah kalian berikan padaku,'' gumamnya sambil berjalan meju ke luar gedung perusahaan Leopard Corporate.


''Ini semua juga karena anak sialan itu, entah dari mana dia bisa kenal dengan lelaki sombong itu?''


"Kalau saja dia tidak memiliki kekuasaan yang besar, sudah ku habisi bocah sialan itu!"


''Awas saja jika sampai aku bisa merebutmu dari lelaki brengsek itu, akan ku jual kamu ke klub malam!' Bima menyalahkan smua yang terjadi kepadanya pada Alisya.


Padahal, semua itu adalah akibat dari sipat haus harta yang di miliki dirinya dan seluruh keluarganya.


...🦅...


...🦅...

__ADS_1


...TBC...


...🙏😊🥰🥰...


__ADS_2