
...Happy Reading...
...🦅...
Alisya dan Agra baru keluar dari kamar mereka, saat keduanya merasakan perutnya sudah menagih untuk diisi.
Mereka bahkan belum menyantap sarapan, akan tetapi, hari sudah menunjukan waktu makan siang.
Ah, apa mereka begitu menikmati pertemuan setelah menahan rindu beberapa hari ini, hingga melupakan waktu. Ya, mungkin itulah yang sekarang sepasang suami istri itu rasakan.
Alisya mengerutkan keningnya, saat merasakan keadaan vila yang sepi tanpa ada orang lain. Hanya ada beberapa orang penjaga yang berada di bagian luar.
"Orang-orang pada kemana, kok sepi begini sih?" gumam Alisya sambil menuruni tangga. Dia menolehkan kepalanya untuk meneliti setiap sudut rumah.
"Mereka semua sudah pergi sejak pagi tadi, sekarang hanya ada kita berdua di sini," jawab Agra santai.
Alisya mengalihkan pandangannya pada sang suami, dia memiringkan kepalanya sedikit, memicingkan mata dengan curiga.
"Maksud, Kakak?" tanya Alisya lagi.
"Ya, aku sudah menyuruh mereka semua pergi sejak pagi, agar aku bisa berduaan denganmu," Agra mengeratkan pelukannya, begitu mereka sampai di anak tangga terakhir.
"Tapi, ini bukan vila milik kita, Kak. Kakak gak bisa mengusir mereka begitu saja dari sini." Alisya menatap Agra tidak suka, tangannya ia letakan di dada suaminya itu, agar tubuh mereka tak semakin merapat.
"Siapa bilang?" tanya Agra, dia menaikkan salah satu alisnya, memiringkan kepala agar bisa leluasa melihat wajah merajuk sang istri.
Alisya mengerutkan kening, mendengar pertanyaan Agra barusan. 'Apa maksudnya berbicara seperti itu? Apa sekarang dia–" Alisya menghentikan gerutuannya di dalam hati saat dia bisa menebak apa maksud dari perkataan Agra.
"Maksud, Kakak ... ini semua milik, Kakak?" tanya Alisya dengan mata yang sudah melebar.
Agra tersenyum, kemudian mengangguk. "Istrinya siapa sih ini, kok pintar sekali?" ucapnya menoel ujung hidung Alisya.
"Kakak bohongin aku? Kenapa sekarang vila ini bisa jadi milik, Kakak?" tanya Alisya. Dia masih mencerna apa yang sedang terjadi saat ini
"Tidak, sayang. Aku baru membelinya beberapa hari yang lalu," dusta Agra.
Bisa gawat kalau sampai istrinya itu merajuk dan akhirnya tak memberikannya jatah atau malah menginginkan pulang lebih dulu, sebelum dia merasa puas bersama dengan Alisya di sini. Jadi jalan terbaik kali ini adalah tetap berbohong saja.
Keduanya kini telah berada di meja makan, di sana sudah tersedia beberapa jenis hidangan makan siang.
__ADS_1
Alisya kembali menatap Agra dengan penuh tanya. "Kalau kita cuma berdua, lalu siapa yang menyiapkan semua ini?" tanya Alisya.
"Pak Hery, dia masih ada di sini," jawab Agra, sambil mulai mengisi piring keduanya dengan berbagai makanan di sana.
Alisya mengangguk-anggukan kepalanya samar, menanggapi jawaban dari Agra.
Keduanya kini tengah menikmati makanan mereka masing-masing, menyatukan jatah sarapan dan makan siang sekaligus. Perut keduanya sudah keroncongan sejak tadi, karena aktivitas pagi hari yang cukup membuat keduanya kelelahan.
Sudah dua hari Agra dan Alisya berada di vila, keduanya menikmati waktu dengan begitu lekat, hingga kini keduanya sedang berada di dalam mobil, untuk kembali ke kota, dengan berbagai kesibukan yang menunggu.
"Sayang, kamu gak apa 'kan, aku tinggal di rumah Mama dulu?" tanya Agra, dia melirik Alisya sekilas, setelah itu kembali fokus pada jalanan di depannya.
Siang ini keduanya harus kembali ke kota, setelah Agra menerima sebuah telepon dari Andrew. Entah apa yang mereka katakan, mungkin hanya keduanya yang tahu.
"Iya, gak apa-apa kok. Lagi pula aku juga kangen sama Mama, kak Andini dan Rega. Kakak, urus saja dulu urusan Kakak," jawab Alisya.
Agra kembali melihat Alisya, dia mengusap lembut pipi istrinya lalu memberikan kecupan di bibir, dengan senyum tak lepas mewarnai wajahnya.
Berada di dekat sang istri, membuat Agra seakan bisa mengekspresikan semua perasaannya, dia tak lagi bisa bersikap kaku dan dingin bila sudah berhadapan dengan wanita miliknya itu.
Menjelang sore hari, mereka sampai di kediaman keluarga Ainsley. Agra tak ikut keluar dari mobil, karena memang dia sedang di tunggu di markas oleh Andrew.
"Iya ... Kakak, hati-hati ya, kabarin aku kalau udah sampai," pinta Alisya.
Agra mengangguk menyetujui permintaan Alisya. "Aku sudah menyuruh Livia untuk menuususlmu ke sini, sebentar lagi pasti dia sampai," ujarnya.
"Hem," Alisya bergumam sambil membuka pintu mobil, lalu keluar.
Di sana, Viana dan Andini juga Rega sudah berdiri menunggu kedatangan Alisya.
"Mah, aku titip Alisya dulu ya!" Agra sedikit berteriak, sambil melambaikan tangannya kepada keempat orang yang berdiri di samping mobilnya.
"Loh, kok Agra malah pergi lagi?" tanya Viana, begitu melihat mobil anaknya kembali pergi.
"Iya, Kak Agra katanya ada urusan lain, jadi gak bisa ikut mampir," jawab Alisya.
"Oh, ya sudah ... kita ke dalam saja yuk," ajak Viana begitu mobil milik Agra tak terlihat lagi.
Agra telah sampai di markas besar Black Eagle, dia langsung keluar dari mobilnya, lalu berjalan dengan langkah lebar sedikit tergesa menuju ke dalam.
__ADS_1
"Dad," panggil Agra, begitu dia melihat ayah angkatnya, yang tengah duduk di atas sofa single.
Lelaki paruh baya itu, mengalihkan pandangannya pada kedatangan sang anak, dia kembali menegakkan punggungnya, menatap Agra dengan begitu tajam.
Agra duduk tepat di dekat Andrew, membalas tatapan tajam ayah angkatnya dengan penuh hormat.
"Daddy, kapan datang?" tanya Agra kemudian.
"Tadi pagi," jawab Andrew singkat.
Agra mengangguk singkat, ia tahu maksud Andrew memanggilnya, itu pasti karena sampai sekarang Suseno dan Roman belum dia eksekusi, bahkan cenderung dibiarkan saja tanpa ada yang peduli.
"Apa yang kamu tunggu?" tanya Andrew, setelah cukup lama terdiam.
"Aku hanya ingin menemui istriku lebih dulu, Dad. Kamu sendiri tahu, walaupun aku biarkan mereka tetap merasakan sakitnya hukuman, karena racun itu," jelas Agra.
Andrew menatap anak angkatnya itu, ia tahu kegunaan hati Agra. Dikhianati oleh seorang sahabat yang sudah bertahun-tahun melekat dihatinya, pasti meninggalkan rasa sakit yang begitu dalam.
"Sekarang, kau sudah cukup menenangkan diri?" Jelas sekali, Andrew melihat kalau mata hitam itu sedikit bergoyang, saat ia bertanya.
"Kalau kamu ragu, biarkan aku yang menanganinya, sedangkan Suseno adalah bagianmu," Andrew kembali berbicara.
Agra terdiam, hati dan kepalanya seakan belum bisa ia satukan. Otaknya menyuruhnya untuk membalas dan melampiaskan apa yang mereka lakukan padanya, di samping itu dia juga harus tahu alasan, kenapa Roman menghianatinya, setelah semua waktu yang telah mereka lewati bersama.
Sedangkan hatinya meragu, dia takut tak bisa melakukan semua itu, bila melihat wajah mantan sahabatnya. Dia takut kalah oleh dirinya sendiri.
Dulu, di saat semua orang meninggalkannya dan menganggap remeh dirinya, sahabatnya yang selalu ada, Roman dan Luis yang terus mendukungnya, untuk tetap menghadapi semua yang dialaminya. Bayangan masa lalu itu selalu membuat pikirannya bercabang, hingga terus meragui dirinya sendiri.
Selama dua hari ini, dia berusaha berperang melawan dirinya sendiri. Meyakinkan kalau dia pasti bisa melakukan semua ini.
Sungguh, semua ini lebih menyakitkan. Memberikan hukuman bagi orang yang menghianatinya terlebih dia adalah sahabatnya sendiri, ternyata lebih sulit dari pada menghadapi sekelompok mafia kelas atas sekalipun.
...🦅...
Maaf, karena selama dua hari kemarin aku gak up, menyambut bulan Ramadhan ternyata cukup sibuk, ide juga tiba² hilang gitu aja. Aku takut kalau dipaksakan nanti gak dapet rasanya. Terima kasih yang masih mau menunggu🙏 Aku mohon jangan spam komen ya, itu menurunkan performa. Terima kasih atas pengertian kalian semua🙏😊
...🦅...
...TBC...
__ADS_1