
Arsya menarik napas dalam, mencoba menarik semua aura positif yang ada di sekitarnya. Lalu, dia hembuskan kasar, seolah membuang rasa ragu yang berkumpul di dalam dada.
Kamu bukan pecundang Arsya! terikanya dalam hati, mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Perlahan Arsya mulai mendorong pintu kayu itu. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat aktifitas yang sedang dilakukan oleh Agra pada para pengawal bayangannya.
"Deddy!" Arsya langsung berteriak sambil berjalan cepat menghampiri sang ayah yang tengah bersiap dengan senjata api di tangannya.
Agra yang mendengar suara anak sulungnya, pun langsung menoleh ke belakang, dia tatap kehadiran Arsya dan Rega dengan sorot mata santainya.
"Baguslah. Sekarang kalian sudah datang," ujar Agra sambil menurunkan tangannya dan berdiri santai.
"Apa yang Deddy lakuin sama mereka semua?" tanya Arsya. Dia menatap satu per satu laki-laki kekar yang tampak berdiri kaku di ujung ruangan. Wajah mereka yang biasa terlihat sangar, kini berubah pucat pasi dengan seluruh tubuh bergetar menahan ketegangan yang tercipta.
Ada yang tengah memegang buah jeruk di kedua tangannya dan satu buah lagi di kepala. Atau, berdiri di tengah papan sasaran tembak yang bisa berputar. Yang lainnya, berdiri tegap sambil mengapit buah semangka di antara kedua pahanya. Laki-laki terakhir tampak berdiri kaku bagaikaan patung dengan tiga botol kaleng minuman bersoda di kedua tangan dan atas kepalanya.
Jangan tanya bagaimana wajah para lelaki kekar dan berotot itu sekarang. Sangat jauh berbeda dengan penampilannya. Mereka hanya bisa pasrah dengan sorot mata memelas, bak seekor anjing yang tercebur air. Menggigil, dengan tubuh basah oleh keringat.
"Apa yang Deddy lakukan? Mereka berbuat lalai, dan Deddy sedang menghukumnya. Apa itu salah? Apa kamu tidak diajarkan tentang sebab dan akibat di sekolah?" tanya Agra dengan rentetan kata yang sangat banyak.
Para anak buahnya bahkan sampai melongo mendengar suara santai sang ketua yang sangat jarang terdengar. Itu adalah moment langka.
"Mereka enggak salah, Dad. Aku yang menerima tantangan dari Venus geng. Aku yang salah," debat Arsya.
"Jadi, kamu mau dihukum ... menggantikan mereka?" tanya Agra santai. Salah satu tangannya asik bermain dengan senjata api berlaras pendek. Sementara matanya tak sama sekali beralih dari wajah sang anak.
"I-itu...." Arsya gelagapan. Dia takut menggantikan hukuman para perngawal bayangan, tetapi dia juga tidak bisa membiarkan mereka menerima hukuman atas kesalahan yang dia lakukan.
"Baiklah." Agra langsung mengambil alih untuk memutuskan, dia melangkah maju dan memberikan senjata api itu pada lengan sang anak.
"Bagaimana kalau kamu saja yang menghukum mereka?" tanya Agra. Kepalanya sedikit miring ke kanan dengan seringai tipis menghiasi wajah tegasnya. Dia kemudian melangkah santai menuju sebuah kursi yang tersedia tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Rega, kamu duduk di sini. Kita harus menonton pertunjukan gratis hari ini," panggilnya pada sang keponakan yang masih berdiri kaku di belakang Arsya.
Mahasiswa kedokteran di salah satu universitas bergengsi itu, terlihat masih saja gugup ketika sudah melihat senjata api, walau sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia melihat Agra bermain dengan benda itu. Lelaki berusia dua puluh tiga tahun itu, memang dekat dengan Agra, dia bahkan sering kali berlatih bela diri dan membantu mengobati luka para anak buah om-nya itu.
"Rega!" tekan Agra sambil melirik pada sang keponakan yang masih tampak menatap prihatin pada Arsya dan para pengawal bayangan.
"I-iya, Pa." Walau ragu, tetapi dia memilih menurut pada Agra.
Sementara itu, Arsya tampak berdiri gemetar. Dia masih terpaku pada benda di telapak tangannya. Tidak begitu berat, tetapi cukup melelahkan walau hanya memegangnya. Bukan setan atau perampok, tapi cukup menakutkan untuk dia genggam.
Arsya alihkan pandangannya pada beberapa anak buah sang ayah, yang menatap melas padanya, seolah sedang berkata 'Aku mohon, jangan lukai kami'
Ruangan ber-Ac itu tiba-tiba terasa panas. Bulir keringan sebesar biji jagung, terlihat di keningnya, hingga mentes membasahi sisi wajahnya.
"Astaga. Apa ini cara Deddy menghukumku? Gimana kalau sampai aku salah dan melukai mereka?" gumam Arsya sambil kembali menatap senjata api di tangannya.
__ADS_1
Perlahan, dia genggam benda kecil yang terasa begitu berat di tangannya itu. Ragu, dia arahkan benda itu ke depan. Tubuhnya pun bergerak menyesuaikan hingga posisinya terasa baik untuk menarik pelatuk.
"Apa ini tidak terlalu berbahaya, Pa?" tanya Rega yang masih merasa ngeri dengan cara Agra untuk menghukum Arsya dan para anak buahnya sekaligus.
"Berbahaya atau tidak, itu tergantung adikmu melakukannya," jawab Agra. Dia ambil gelas berisi wine di atas meja, lalu menyesapnya sedkit.
"Cepat! Kamu terlalu membuang waktu, Sya!" teriak Agra, sambil kembali menyandarakan punggungnya lalu melipat kakinya, santai.
Rega yang melihat tingkah om-nya, hanya bisa menggeleng kepala lemah. Sungguh, dia sedikit menyesal telah berada di sini sekarang. Awalanya dia datang hanya untuk menjelaskan kejadian sebenarnya tadi malam. Namun, sekarang dia malah terjebak dalam kegilaan Agra yang siapa pun ingin menghindarinya.
Walau masa pertarungan penuh darah itu sudah terjadi begitu lama, tetapi jiwa kejam dan sikopat Agra masih menetap sampai sekarang. Dan, kegilaan itu masih sering terjadi walau sudah tidak sesering dulu. Seperti saat ini contohnya.
Arsya menelan salivanya susah payah, dia tarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Mencoba menenangakan diri dan menarik konsentrasi, agar fokusnya tak akan goyah.
Kepalanya sedikit miring dengan salah satu mata menutup. Sementara kedua tangannya memegang erat senjata pemberian sang ayah, agar lebih setabil dan tak ada celah untuk meleset.
"Tigga!" Agra mulai menghitung.
Jantung Arsya semakin cepat berdetak. Dia eratkan genggaman tangabnya, dan mencoba terus memfokuskan diri pada sasaran pertamanya.
"Dua!"
Arsya bisa merasakan, telapak tangannya sudah basah karena keringat dan rasa gelisah tak terkira.
"Satu!"
Dor!
Senyum miring terlihat di bibir Agra. Dia menatap satu buah jeruk yang sudah hancur tak berbentuk. Hanya tersisa cipratan air di sekitar lengan anak buahnya.
"Semangka!" Agra memberi instruksi.
Arsya langsung mengalihkan sasaran. Dia kini bersiap melesatkan peluru pada buah semangka yang dipit kedua paha salah satu anak buah ayahnya.
Pelatuk sudah ditarik, tinggal satu gerakan melepaskan yang akan membuat timah panas melesat menuju sasaran.
Dor!
"Akh! Itu meleset." Agra mendesah. Sementara Rega tampak mengintip dari mata yang sedikit terbuka.
Satu timah panas itu hampir saja mengenai kaki anak buah Arga, jika saja Arsya bergeser sedikit lagii.
"Coba sekali lagi!" titah Agra, masih belum puas.
Arsya tampak menoleh pada sang ayah, dengan pandangan memelas sekaligus kesal. Sungguh, kini kakinya sudah terasa lemas karena kegagalannya barusan. Namun, Agra sama sekali tidak berbelas kasih, dia tidak memberikannya keringanan sedikit pun.
Arsya akhirnya memilih untuk kembali memfokuskan konsentrasinya dan bersiap untuk tembakan selanjutnya. Dan sedetik kemudian....
__ADS_1
Dor!
"Akh!"
Suara senjata api yang tengah memuntahkan isi perutnya kembali terdengar. Arsya sedikit menutup matanya ketika suara terikan terdengar.
"Yah! Bravo," ujar Agra dengan wajah puas.
Mendengar suara sang ayah, Arsya perlahan membuka matanya, dia terkejut ketika mendapati semangka di antara paha anak buah ayahnya kini telah hancur berkeping-keping. Sementara lelaki kekar yang mengapit semangka di pahanya, kini sudah jatuh terduduk dengan tubuh lemas dan napas memburu.
"Gue berhasil?" gumam Arsya, sambil tersenyum pelan. Entah mengapa, dia merasakan ada sebuah sensasi yang berbeda dalam hatinya, ketika timah panas itu tepat mengenai sasaran.
Ada sebuah semangat yang membara dan mendorongnya untuk kembali mengacungkan unjung senjara api itu ke sasaran berikutnya. Yaitu, kaleng soda.
Tak berani menembak ke arah kepala. Arsya lebih memilih melesatkan satu tembakannya pada kaleng yang berada di tangan.
Tang!
"Yeah!" Arsya berseru ketika keberhasilan kembali dia rasakan.
"Terakhir!" Agra kembali memberi instruksi.
"Tembak ke arah papan sasaran, tanpa meleset sedikit pun," sambung Agra lagi.
"Kau, putar papan sasaran!" titah Agra lagi pada anak buah yang tadi mengapit buah semangka di pahanya.
"B-baik, Ketua," angguk lelaki dengan kepala plontos. Dia bersusah payah untuk bangun. Kakinya bahkan masih tampak bergetar ketika berjalan.
Arsya meringis miris melihat anak buah sang ayah tampak sengsara karena kesalahannya.
Papan sasaran sudah mulai berputar. Arsya pun Kembali mengangkat senjata ke arah sasaran. Dia menghitung waktu yang tepat hingga akhirnya, suara senjata api kembali menggema di ruang bawah tanah.
Arsya menghembuskan napasnya sambil menurunkan tangan hingga lunglai dan jatuh di antara sisi tubuhnya. Sementara senyum tipis terlihat menghiasi wajah tampannya.
Prok, prok, prok!
Suara tepuk tangan pun menggema. Agra dan Rega tampak bangkit dari tempat duduknya, lalu mereka menghampiri Arsya.
"Good job, Boy," ujar Arsya sambil merangkul pundak sang anak.
Sementara itu, Rega membawakan minum untuk Arsya, yang langsung disambut baik oleh remaja yang sudah mandi keringat itu.
"Makasih, Bro," ujar Arsya sebelum menenggak setengah botol air mineral ukuran enam ratus milil liter, lalu menyiramkan sisa setengahnya lagi ke wajah, untuk mengurangi rasa panas di tubuhnya.
"Tuan, di luar ada nyonya sedang menunggu Anda." Ucapan dari Edo yang bahkan entah kapan masuk ke ruangan itu pun mengalihkan perhatian ketiga lelaki berbeda usia itu.
Raut wajah Agra, Arsya, dan Rega, langsung berubah kalang kabut. Ketiganya segera berjalan cepat menuju ke luar. Entah apa yang akan mereka dapatkan jika sampai Alisya tahu kalau Arsya baru saja latihan menebak dengan para anak buah Agra sebagai saarananya? Ah, membayangkannya saja sudah membuat ketiga lelaki itu lemas.
__ADS_1