
...Happy Reading...
...🦅...
Agra dan Andrew sudah berada di lapangan, tempatnya memarkirkan mobil saat pertama kali ke sini. Dia baru saja akan berbelok menuju gang, saat segerombolan orang menyerang mereka secara tiba-tiba dengan tembakan beruntun dari segala arah.
Keduanya langsung berpisah dan melindungi diri masing-masing di balik tembok perumahan warga.
Berbagai suara peluru nyasar yang mengenai tembok dan kaca jendela rumah warga, terasa mengerikan di telinga.
Agra mengganti peluru di dalam salah satu senjata apinya, menggunakan peluru asli, lalu menyerang balik beberapa penembak yang bisa ia lihat.
Suasana temaram, dengan caranya yang sangat kurang, ditambah oleh gerimis yang semakin lebat, menjadikan pertarungan itu terasa begitu luar biasa.
“Sial, ternyata mereka sudah menyiapkan jebakan!” desis Agra, dia tidak menyangka kalau lawannya kali ini cukup cerdik juga.
Dor!
Dor!
Terang!
Pyar!
Suara beruntun tembakan juga peluru, yang mengenai benda di sekitar, menggema di area tempat itu.
Beberapa penembak dari kubu lawan sudah tak bernyawa, oleh peluru dari tangan Agra maupun Andrew.
Keduanya terus berusaha menembakan peluru tepat sasaran, karena mereka tak membawa banyak stok senjata.
“Akh, sialan!” maki Agra saat pelurunya habis.
Dia kemudian menoleh pada Andrew yang masih menembak lawan, sambil sesekali bersembunyi.
Mengedarkan pandangannya melihat sekitar, siapa tahu ada jalan belakang untuk menuju tempat lawannya tanpa terlihat.
Dia kemudian melihat celah kecil antara rumah, hingga hanya bisa dilewati dengan cara berjalan miring, itu lumayan panjang dan bisa menghubungkannya pada salah satu tempat lawan berada saat ini.
Dia memberi kode pada Andrew untuk terus mengalihkan perhatian mereka, sementara dirinya akan menyerang mereka secara langsung.
Agra langsung masuk setelah mendapat anggukan dari Andrew. Dengan hati-hati dia melangkah menyusuri lorong sempit yang lumayan panjang.
Hingga sampai di ujung, dia bisa melihat banyak anggota lawan yang sedang sibuk menembak ke arah Andrew.
Memfokuskan penglihatannya, sambil terus berpikir cara dia menyerang, tanpa bisa memancing mereka semua, dia juga menghitung berapa banyak orang yang ada di sana.
Bergerak tanpa bersuara menuju orang yang berada paling dekat dengannya.
Duk!
__ADS_1
Krakh!
Memberikan pukulan di tengkuk lalu memutar kepala lawan hingga berbunyi suara patahan tulang dan memastikan kalau orang itu tak bernapas lagi.
Agra mengambil topi, yang dipakai oleh orang itu demi menyamarkan wajahnya, lalu mengambil senjata yang terjatuh begitu saja, dengan secepat kilat dia kembali menargetkan orang kedua.
Beberapa saat kemudian, dia sudah menghabisi banyak orang musuhnya, menggunakan dua senjata api yang ia rampas.
Sesekali dia juga harus bertarung dengan para penyerang, yang berada di dekatnya.
Brak!
Dukh!
Dor!
Agra berputar sambil memberikan tendangan pada dua orang yang hendak menyerangnya, hingga terjatuh menabrak tembok dan juga tempat sampah yang berada di sana, tangannya secepat kilat menarik pelatuk pistolnya, mengarah pada salah satu musuhnya yang akan menjadikannya sasaran tembakan.
Sekali gerakan tiga orang terkapar di dekatnya, pertarungan di kubu lawan, memancing semua musuhnya untuk mengarah padanya, hingga kini semakin banyak musuh yang datang.
Andrew keluar dari persembunyian dan ikut bertanding secara langsung, kali ini musuh lebih banyak, karena sepertinya mereka menyiapkan jebakannya di sini.
Andrew dan Agra yang harus melawan begitu banyak orang terlatih di sekitarnya, malah terlihat semakin bersemangat.
Agra melempar senjata apinya saat pelurunya kembali habis, lalu mengeluarkan belati dari saku jaketnya.
Cash!
Sayatan dan tusukan ia lakukan sambil melakukan perlawanan dengan beberapa orang sekaligus.
Di tempat lain yang bertempat di salah satu rumah, tiga pasang mata sedang memperhatikan pertarungan itu dari cctv yang sudah mereka pasang sebelumnya.
Dua orang lelaki yang merupakan ayah dan anak juga seorang perempuan muda, menatap serius layar monitor yang berada di depan mereka.
“Sampai kapan mereka akan bertahan dalam situasi seperti ini?” desis lelaki muda itu, saat melihat salah satu anak buahnya yang berhasil menggoreskan luka di pundak Agra, diiringi seringai mengerikan di bibirnya.
Sedangkan perempuan yang duduk di sampingnya, melihat ngeri pertarungan tidak seimbang itu, baru kali ini dia melihat orang yang begitu kuat, hingga mampu bertahan di dalam pertarungan yang melibatkan begitu banyak senjata.
Berbeda lagi dengan lelaki tua yang tak lain adalah Suseno, dia hanya duduk santai sambil menyesap rokok di tangannya, dia menganggap itu adalah sebuah tontonan hiburan untuknya.
Mereka bertiga, bahkan tidak peduli dengan pertarungan yang sedang terjadi di depan rumah itu yang sudah pasti dimenangkan oleh para anggota Black Eagle. Sedangkan para anak buah mereka sudah terkapar tak sadarkan dari.
Menyelesaikan semuanya, beberapa anggota Black Eagle langsung berlari menuju tempat pertarungan kedua ketua mereka. Sedangkan satu orang lagi tetap di sana, untuk mengawasi ketiga orang yang tak lain musuh besar mereka saat ini.
“Dekati ketua sebisa kamu, katakan kalau mereka ada di sini!” perintah orang yang tak lain adalah salah satu anggota Black Eagle senior.
Di tempat lain, Agra dan Andrew masih bertarung dengan banyak lawannya saat melihat kedatangan dari anak buah mereka. Berbarengan dengan itu Edo dan Ruhan juga sudah berada di sana.
“Ah, akhirnya mereka datang juga,” desis Agra, dia sudah sangat geram sesari tadi, karena belum menemukan pelaku sesungguhnya.
Edo langsung mengarahkan padanya dan mengambil alih lawan tuannya, sedangkan Ruhan langsung membantu Andrew.
__ADS_1
“Ketua, mereka ada di dalam rumah Pak Rahmat,” lapor salah satu anggota yang baru saja datang, di tengah pertarungan yang terus berlangsung.
Duk!
Akh!
Agra memberikan tendangan di kaki belakang seorang penyerang yang sudah ia kunci sebelumnya, hingga dia berlutut dengan membelakanginya.
Krakh!
Mematahkan tangan dan menginjak kakinya dalam sekali gerakan, hingga satu tangan dan kaki orang itu langsung tak bisa digerakkan.
Bruk !
Agra menendang punggung orang itu lalu meninggalkannya begitu saja.
“Ed, kamu ambil alih di sini,” perintahnya pada Edo, sambil merampas senjata api dari tubuh lawannya.
“Kamu! Ikut aku!” tunjuknya lagi pada orang yang memberitahukan tentang orang yang sedang ia cari saat ini.
Dor! Dor! Dor!
Agra melakukan tembakan beruntun pada setiap cctv yang terlihat di sekitar mereka.
“Akh, sialan! Kenapa ini bisa terjadi?!” teriak Suseno saat adegan di layar monitornya sudah menghilang begitu saja.
“Dia pasti sudah tahu, kalau kita memantaunya, Pah,” jawab anak Suseno.
“Akh, brengsek! Kita harus segera pergi dari sini, kalau tidak mau menjadi sasaran kemarahannya,” panik Suseno. Ia yang sudah merasakan sendiri kekuatan Agra, merasa takut berhadapan langsung dengan lelaki yang dijuluki sang Leo itu.
Wajah perempuan yang bersama mereka, langsung pias membayangkan kalau sampai dirinya harus melihat langsung lelaki yang bernama Agra.
Brak!
Belum sempat mereka bereaksi, pintu rumah itu sudah didobrak secara paksa, hingga terbuka lebar.
Seorang lelaki dengan siluet yang begitu sempurna tampak berdiri gagah di tengan pintu itu. Jaket yang terbuka menampilkan otot perut yang tercetak jelas di balik kaos hitam yang ia pakai. Bau amis darah menyengat, menyatu dengan aroma parfum Agra, menjadikan suasana langsung berubah dingin diselimuti hawa mencekam dan kelam yang dibawa oleh sosok sang Leo.
Siapa suruh membangunkan singa yang sedang tertidur, maka sekarang giliran kalian menerima akibatnya.
Di belakangnya dua anak buah berdiri tegak dengan dan awas, melindungi ketua mereka dari segala serangan.
Tersenyum miring sambil menyugar rambutnya yang basah dengan begitu santai, Agra berjalan masuk ke dalam rumah, matanya menatap tajam tiga orang calon korbannya, memberikan intimidasi untuk menjatuhkan mental lawan sebelum bertanding.
Elegan dan begitu berwibawa persis seperti seekor singa yang sudah menandai mangsanya.
“Selamat datang sahabatku!”
...🦅...
...🦅...
__ADS_1
...TBC...