Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.32 Ancaman sesungguhnya


__ADS_3

...Happy Reading...


...🦅...


Dor ....


Agra langsung mendekap Alisya dengan Edo melindungi keduanya.


"Saga!" teriak Viana dengan berderai air mata.


Jerit para tamu wanita yang terkejut akan suara tembakan itu, memenuhi seluruh isi ruangan.


Membuat kondisi pesta semakin kacau dengan kepanikan para tamu undangan yang hadir.


Edo langsung memberi kode kepada salah satu anak buahnya, untuk memulai tindak evakuasi para tamu, dari pintu samping.


Salah satu tangannya sudah dalam kondisi siaga dengan menggenggam senjata api.


Citra ....


Ya, perempuan itu yang melepaskan timah panas pada Agra. Namun, sayang sekali, tembakannya meleset.


Pergerakannya terlalu mudah di baca oleh seseorang yang sudah berlatih lama dalam dunia senjata, dan pertarungan seperti Agra.


"Akh, sial!" teriak Citra memakai dirinya sendiri.


"Loe gak bakal bisa ngehancurin keluarga gue, brengsek!" perempuan itu kembali mengamuk.


"Tu-tuan," gagap Alisya masih dalam dekapan Agra, tangannya meremas kuat jas lelaki itu, untuk meredam rasa takutnya.


"Tenang, kamu bersama denganku.'' Agra berusaha menenangkan gadis yang ia bawa dalam masalah pribadinya.


Alisya menganggukan kepalanya.


''Ini semua adalah akibat dari apa yang kamu dan Ayah kamu lakukan kepadaku dan keluargaku, dulu.''


Agra kembali memfokuskan perhatiannya pada Citra. Salah satu tangannya masih melindungi tubuh Alisya.


''Keluarga kalian sudah terlalu banyak merugikan banyak orang, dan sekarang kalian harus menerima semua hukuman atas semua yang kalian lakukan,'' ujar Agra, membagikan pandangannya pada seluruh keluarga yang sedang menjadi targetnya, kali ini.


''Ahk ... berisik, gak usah banyak ngomong loe!" Citra kembali berteriak dan hendak menarik pelatuk senjatanya kembali.


Brak


Edo langsung menendang tangan perempuan itu, hingga senjata di tangannya terlepas dan terlempar ke sembarang arah.


Asisten sekaligus kepercayaan dari Agra itu, langsung mengunci pergerakan dari Citra.


''Kamu bahkan tega menjadikan anak perempuan kamu sendiri menjadi pelindung, Tuan Suseno.''


Senyum mengejek itu terlihat sangat menyebalkan.


''Jangan senang dulu anak muda, kamu belum tau aku yang sebenarnya,'' ucap Susilo dengan kekehan yang keluar dari mulutnya.


Agra menyunggingkan sebelah bibirnya tajam, memperlihatkan seringai yang selama ini hanya ia tunjukan pada setiap korbannya.

__ADS_1


Edo dan seluruh anak buah Agra yang mengetahui arti dari seringai itu, bergidik ngeri, menanti aksi selanjutnya dari sang ketua.


''Apa yang belum aku ketahui darimu, Tuan Suseno atau ... perlu ku panggil Tuan Axton.'' dingin Agra.


Lelaki paruh baya itu, melebarkan matanya, mendengar nama yang selama ini dia gunakan di dunia bawah.


Bahkan keluarganya sendiri tidak tau tentang nama itu, kecuali anak sulungnya dari istri pertama yang sudah meninggal.


Bibir ketua dari Balck Eagle itu semakin tertarik ke atas, membentuk lengkungan tipis, melihat ekspresi terkejut Suseno.


''Kenapa? Anda terkejut, Tuan Suseno ... ah, aku lupa ... Tuan Axton. Benar bukan?" perkataan jenaka itu sangat tidak cocok keluar dari muka datarnya.


''Ck ... ck ... ck .... Sekarng siapa yang tak tau siapa?" kekehan kecil terdengar mengiringi ucapannya.


Semua perkataan Agra mampu membuat seluruh anak buahnya yang bertugas bergetar.


"Hahaha... ternyata kamu pintar juga! Aku kira kamu hanya bisa membuat masalah saja!"


Kini Suseno berdiri tegak, melangkah mendekati Agra, dengan gaya sombong dan congkak.


Tidak ada lagi, tatapan berwibawa dan ramah dari laki-laki paruh baya tadi.


Citra yang masih berada di tangan Edo dan istri Suseno yang masih duduk lemas di salah satu meja. Tampak terkejut dengan perubahan yang terjadi pada lelaki paruh baya itu.


"Hah, akhirnya kamu menunjukan siapa kamu sebenarnya," gumam Arga.


"Wah ... wah ... wah, ternyata ini anak yang kamu bicarakan itu." Agra mengalihkan pandangannya pada dua orang tamu yang maju ke depan dengan santainya.


"Dia-." Alisya mengerutkan keningnya.


Arnold dan Remon ....


Ya, dua lelaki yang merupakan ayah dan anak itu, maju ke depan dan berdiri tegak di samping Suseno.


"Heh! Reuni keluarga yang tersembunyi!" sinis Agra.


Ya, Arnold dan Axton adalah adik kakak yang tidak pernah di ketahui oleh umum. Identitas mereka tersembunyi, untuk mengelabui orang yang bisa mereka manfaatkan.


"Uh, sepertinya anak brandal ini, sudah jauh lebih pintar setelah beberapa tahun menghilang," ejek Arnold, melihat Agra dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Bruk ....


Edo mendorong tubuh Citra lumayan keras ke samping tempat ibunya duduk.


"Gadis bodoh!" gumamnya sedikit mengejek.


Ya, sekarang gadis itu bukanlah ancaman bagi Agra. Karena, ancaman yang sesungguhnya sudah menampakkan wujud aslinya.


"Dasar bajingan, brengsek!" Remon yang sudah tersulut emosi karena Alisya selalu berada di dalam dekapan Agra.


Melangkah maju, mencoba menjangkau Agra. Tetapi, Edo kembali menghalangi pergerakan lawan dari ketuanya.


Pertarungan antara Edo dan Remon pun akhirnya berlangsung sengit, mereka berdua tampak memiliki kekuatan yang hampir sama.


Agra ikut memanggil kuda-kuda.

__ADS_1


"Siap dengan pertunjukan yang sesungguhnya, sayang?!" seringai itu tampak mengerikan bagi Alisya.


"Ta-tapi aku takut," gumam Alisya, yang memang tidak pernah ada di dalam keadaan seperti ini sebelumnya.


"Ikuti saja apa yang aku lakukan padamu, dan jangan menahannya. Oke?"


Alisya mengangguk mantap.


Di saat bersamaan, sekelompok orang berbaju hitam merangsek masuk ke dalam ruang pesta dan langsung menyerang anak buah dari Agra.


Arnold dan Axton langsung menyerang Agra bersama-sama, menjadikan Agra sasaran satu-satunya dari mereka berdua.


Dengan menggandeng Alisya, Agra berkolaborasi dengan gadis itu untuk menyerang kedua lelaki paruh baya di depannya.


"Pah, tolong jaga Mama," ucap Fandy menyerahkan Viana pada suaminya.


"Bantu adik kamu, Fan!" Gerald mengangguk, kemudian merangkul sang istri dengan kedua tangannya.


Fandy langsung mengambil alih Arnold dari Agra, mereka bertarung satu lawan satu.


Agra bertarung dengan dengan penuh gaya, sehingga terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang menari, namun dengan tendangan, dan serangan mematikan di dalamnya.


Pertarungan sengit itu terus berlangsung, untung saja para tamu sudah berhasil mereka keluarkan dari dalam gedung dengan selamat.


Kini, di dalam ruangan pesta itu, hanya tertinggal para anak buah kedua belah pihak dan keluarganya.


Kondisi ruangan itu pun sudah hancur berantakan, dengan meja dan kursi yang sudah tak beraturan, bahkan beberapa di antaranya ada yang patah dan hancur karena terbentur para pertarungan.


Hidangan pesta yang seharusnya mereka nikmati, kini telah berubah menjadi sampah yang berserakan di lantai.


Sungguh pesta yang sangat menakjubkan.


Dor ...


Akh ....


Edo memegang salah satu tangannya yang terkena tembakan dari Remon.


Remon terpelanting menabrak sebuah meja yang ternyata di dekatnya ada senjata api milik Citra.


Mereka yang sedang bertarung dengan tangan kosong, langsung mengambil senjata yang sudah di sediakan di tubuh mereka.


Agra mengerinyai puas, melihat para anak buahnya kini sedang menodongkan senjata satu sama lain dengan lawan mereka, begitupun dirinya.


Dengan kondisi yang masih sangat baik, di bandingkan dengan anak buah lawan sudah banyak yang terluka parah, bahkan tidak bisa bangun lagi.


Pertarungan sejenak berhenti, mereka memanfaatkan itu dengan mengambil napas sebanyak-banyaknya.


...🦅...


...🦅...


...TBC...


...🙏😊🥰...

__ADS_1


__ADS_2