Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.51 Angkat Kaki


__ADS_3

...Happy Reading ...


...🦅...


Tiga hari menjelang pesta pernikahan Agra dan Alisya, kediaman keluarga Prananta di gegerkan dengan kedatangan para pria bertubuh besar dan wajah yang sangar, dengan menggunakan pakaian hitam.


“Selamat pagi, Tuan. Ada perlu apa ya?” Bi Ani yang masih bekerja dengan keluarga itu, menyambut kedatangan para lelaki yang ia kira adalah salah satu tamu Bima.


“Kami ingin bertemu dengan Tuanmu, cepar panggilkan dia!” sarkas lelaki yang berdiri paling depan.


“Ta—tapi, ini dengan siapa ya?” wanita paruh baya itu, mulai bergetar takut, mendengar suara tegas dari para tamunya.


“Panggilkan cepat, atau kami sendiri yang akan masuk untuk menemui tuanmu secara langsung!”


Tatapan tajam penuh intimidasi itu semakin membuat keberanian Bi Ani menciut. Ia langsung menganggukkan kepalanya, lalu masuk kembali ke dalam rumah, untuk segera memanggil tuannya yang masih berada di dalam kamar.


Tok ... tok ... tok ....


“Tuan, ada tamu yang mencari Anda di luar!” seru Bi Ani, di balik pintu kamar utama.


“Ada apa sih, Bi? Pagi-pagi udah ribut aja!” gerutu Janny dengan tampilan yang masih berantakan, sepertinya wanita itu baru saja bangun tidur.


“A—ada tamu yang mencari tuan, Nyonya,” jawab Bi Ani.


“Siapa sih, gak tau sopan santun, pagi-pagi begini sudah bertamu di rumah orang? Suruh saja dia kembali nanti siang atau malam, suamiku mangu tidur!” dengus Janny.


“Ma—maaf Nya, tapi, ini sudah jam sepuluh, dan saya juga tidak bisa mengusir tamunya, mereka mengancam untuk masuk ke rumah, kalau tuan tidak mau menemui,” gugup Bi Ani.


“Apa? Berani sekali mereka membuat kekacauan di rumahku, memangnya siapa tamunya?” geram Janny.


“Saya gak tau, Nyonya. Tapi, mereka laki-laki seram dan bertubuh besar,” lapor Bi Ani.


“Beneran, Bi?” Janny tampak menatap pembantunya itu, dengan wajah penasaran.


“Iya, Nya. Merka semua keliatan seperti penagih hutang, atau apa itu yang suka menjaga para orang besar?” Bi Ani tampak mengingat sesuatu.


“Bodyguard maksudmu? Halah, itu pasti hanya orang yang mau melamar kerja, atau jangan-janagn utusan dari salah satu rekan bisnis suamiku! Baiklah, suruh mereka menunggu sebentar, aku bangunkan suamiku dulu!” ucap Janny, bersemangat di akhir katanya, karena menebak itu adalah salah satu utusan dari klien penting suaminya.


“Baik, Nyonya,” angguk Bi Ani. Dalam perjalananya ke depan, wanita paruh baya itu mengumpat dalam hati, atas sikap majikan perempuannya itu, kalau saja ia tak menunggu Alisya, sudah sejak lama dia sudah mau pergi dari rumah yang dipenuhi orang gila harta seperti mereka.


“Sialahkan masuk, Tuan. Majikan saya akan segera turun,” ucap Bi Ani, membuka lebar pintu depan rumah itu, untuk memberikan para tamunya untuk masuk.


Pria yang berjumlah delapan orang itu, tampak menganggukkan kepalanya, sebelum masuk ke dalam rumah.


Bi Ani terlihat mengusap dadanya, ternyata walaupun penampilan mereka terlihat garang dan perkataannya yang kasar. Tetapi, para pria itu masih memiliki sopan santun untuk tidak membuat keributan di rumah orang.

__ADS_1


“Sebentar, saya buatkan minum dulu,” pamit wanita paruh baya itu, setelah melihat para tamunya sudah duduk dengan tenang di ruang tamu.


Tak ada yang menjawab perkataan dari Bi Ani, mereka semua sibuk memperhatikan setap sudut rumah, yang terlihat begitu mewah, dengan beberapa pajangan foto keluarga Bima. Tidak ada lagi jejak orang yang memiliki rumah ini sesungguhnya. Tak ada satu pun foto yang menampilkan bagian dari keluarga Prananta.


Beberapa saat menunggu, akhirnya orang yang mereka tunggu, menunjukkan batang hidungnya. Bima datang dengan pakaian yang sudah rapi dan wajah segar, ketahuan sekali kalau lelaki pauh baya itu baru saja mandi.


Duduk di kursi utama dengan gaya congkak dan sombongnya, membuat para tamunya mual melihat tingkahnya.


“Kalian siapa ya dan untuk apa kalian bertamu ke rumahku pagi-pagi begini?” sombong Bima, menegakkan tubuhnya, dengan pandangan menatap satu per satu tamunya.


Salah satu dari mereka yang di tunjuk sebagai ketua, tampak memajukan sedikit tubuhnya, meraih sebuah amplop yang lumayan besar dari lelaki di sampingnya, lalu memberikannya pada Bima.


“Apa ini?” Bima tampak mengernyitkan keningnya, tangannya sibuk membolak-balik amplop yang baru saja ia terima.


“Itu adalah duplikat dari kepemilikan rumah ini yang sudah beralih kepada tuan kami, mulai hari ini kalian sudah harus meninggalkan kediaman ini!” ucap tegas lelaki bertubuh tegap itu, yang tak lain adalah Max.


“Apa maksudnya ini? Aku tidak pernah merasa menjual rumah ini pada siapa pun!” Bima membanting amplop yang belum sempat ia baca isisnya ke atas meja.


“Coba baca dulu, nanti kamu akan tahu sendiri siapa pemilik rumah ini yang baru,” ucap santai Max.


Bima semakin geram, mendengar sebutan Max yang tidak memanggilnya tuan. Ia merasa terhina karena menganggap mereka hanya pesuruh rendahan.


Dengan kasar, ia mengambil amplop yang tadi dilemparkannya, membaca setiap baris kata yang semakin membuatnya termakan oleh api amarah.


“Bukti surat jua beli yang terdapat tanda tangan Anda di sana sudah jelas, bukan? Lalu apa lagi yang perlu kami perlihatkan padamu?!” Max menyilangkan kakinya angkuh, menatap Bima dengan penuh intimidasi dan seringai tipis di bibir sebagai provokasi.


“Kami beri waktu satu jam untuk mengosongkan rumah ini, bila sampai satu jam kami masih melihat batang hidungmu dan keluargamu, maka bersiaplah untuk diusir secara tidak hormat!” tegas Max, berdiri diikuti oleh para anak buahnya yang berjumlah tujuh orang.


“Kami akan berjaga di luar, bila satu jam lagi kamu belum mengangkat kaki dari rumah ini, jangan salahkan kami bila bersikap kasar!” ancamnya lagi, sebelum melangkah ke luar rumah.


Ketujuh anak buahnya, langsung menyebar, mencari posisi berjaga masing-masing, untuk mengawasi setiap gerak-gerik keluarga gila harta itu.


Bima menjatuhkan tubuhnya, merasa frustrasi dengan apa yang tiba-tiba terjadi padanya. Ke mana ia  akan membawa istri dan juga anaknya bila mereka keluar dari rumah ini.


“Akh, brengsek!” umpatnya, menyingkirkan semua gelas yang ada di atas meja, hingga semuanya jatuh dengan suara sangat nyaring.


Dalam sekejap mata, ruang tamu yang terlihat indah dan rapi, kini berubah menjadi seperti kapal pecah. Hancur tak berbentuk.


Menyandarkan tubuhnya, dengan mata terpejam dan napas memburu, pikirannya melayang, mencari letak kesalahannya, hingga ia bisa kehilangan rumahnya yang dengan susah payah ia rebut dari adik kandungnya sendiri.


“Sial, dasar bajingan!” mengangkat kepalanya saat mengingat apa yang terjadi.


Ya, beberapa hari yang lalu ia baru saja bertemu dengan orang yang akan memberinya modal untuk menutupi kerugian perusahaan. Saking senangnya, ia sampai tak membaca semua berkas secara teliti dan langsung membubuhkan tanda tangannya tanpa membaca.


Mengepalkan kedua tangannya, menahan api amarah yang mulai menguasai tubuh dan juga pikirannya, Bima mengumpat setiap kebodohannya, karena telah berbuat ceroboh, hingga kini dia dan keluarganya harus terusir dari rumahnya sendiri.

__ADS_1


“Mana Mona? Bangunkan anak itu, kita harus segera berkemas dan angkat kaki dari rumah ini!” ucap Bima sambil mengeluarkan semua emas batangan dan uang yang tersimpan di brangkas.


“Ada apa, Pah? Kenapa kita harus keluar dari rumah ini? Aku gak mau pergi dari sini, Pah!” Janny meminta penjelasan dari suaminya.


“Jangan banyak tanya, sekarang lebih baik kamu bantu aku mengemas semua ini!” ucap Bima, dengan tangan terus memasukkan harta terakhirnya ke dalam koper.


Walau belum mengerti apa yang terjadi, akhirnya Janny mau juga menuruti perkataan suaminya. Wanita itu memanggil Bi Ani untuk membangunkan Mona, lalu membantu anaknya itu berkemas.


Lima belas menit dari waktu yang sudah ditetapkan, Max masuk ke dalam rumah dan memberi peringatan pada ketiga orang itu.


“Lima belas menit lai, kalian harus sudah meninggalkan kediaman ini!” teriakkan Max menggema di seisi rumah.


Bima mengumpat, sambil terus mengemas semua barangnya, terutama apa yang bisa ia jual kembali.


Tepat satu menit sebelum waktu habis, Bima, Janny dan Mona tampak menuruni tangga dengan beberapa koper di tangannya, di tambah Bi Ani juga membawa dua koper di tangannya.


Max hampir sja tak bisa menahan tawanya, saat melihat penampilan ketiga orang itu, yang mirip seperti orang terkena gusur, atau pengungsi dadakan. Atau mungkin lebih tepatnya, orang miskin baru.


Ketiganya memandang penuh kebencian pada Max, tetapi, semua itu tidak membuat lelaki itu gentar, Max malah menyilangkan kedua tangannya di depan dada, bersandar di pilar besar, menatap kepergian mereka dengan remeh dan hina.


Melihat kepergian keluarga gila harta itu, dengan sunggingan senyum tipis di bibirnya, sebagai tanda kepuasan dalam dirinya.


“Kamu mau ke mana?” Max bertanya, saat melihat Bi Ani juga membawa tas, dan berjalan ke luar rumah.


“Bu—bukannya aku juga harus pergi dari rumah ini?” gugup Bi Ani.


“Kamu tetap di sini, memangnya siapa yang akan merawat rumah ini jika kamu pergi, heh?!” tanya Max dengan gayanya yang kasar dan terlihat acuh.


“Ta—tapi Aku.”


“Ini bukan permintaan, tapi, ini adalah perintah!” tegas Max.


Bi Ani memandang Max dengan kening bertaut dalam.


“Tuanku akan menggajimu dua kali lipat, untuk mengurus rumah ini!” sambung Max.


Akhirnya Bi Ani mengangguk lalu kembali ke belakang untuk menaruh kembali bajunya. Setelah mendengar kabar kalau dia bisa bertemu dengan Alisya, bila tetap tinggal di sini.


Agra tersenyum puas saat mendengar laporan dari Max, tentang kejadian hari ini. Dia tidak sabar untuk memberikan kejutan kepada gadis kecilnya itu.


...🦅...


...🦅...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2