Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.75 Penghianat


__ADS_3

 


...Happy Reading ...


...🦅...


“Selamat datang, sahabatku,” anak dari Suseno yang tadinya masih terduduk santai, berdiri dan melangkah menghampiri Agra.


Agra berdecih dengan senyuman sinis, menghias wajahnya. “Tak disangka, ternyata orang yang aku anggap sahabat baik, menusukku dari belakang?” ujar Agra, berdiri santai dengan memasukkan kedua tangannya pada sakunya.


“Hahaha ... lama menghilang, sepertinya sekarang otakmu sedikit lebih pintar ya,” ejek anak Suseno, berjalan pelan mengelilingi tubuh Agra, tatapannya menyapu seluruh tubuh Agra dari bawah sampai ke atas.


Agra membiarkan semua yang dilakukan mantan sahabat yang kini telah berganti status menjadi musuhnya.


Dua anggota Black Eagle yang berjaga di belakang Agra, menatap setiap pergerakan yang dilakukan ketiga orang di depan mereka saat ini. Memastikan ketua mereka akan tetap dalam keadaan aman.


“Roman.” Agra berdiri berhadapan dengan mantan sahabatnya itu, mata keduanya bertaut, seakan mengadu kekuatan.


“Ssh ... begitukah? Baguslah, kalau kamu mengakui aku pintar,” jawab Agra, dengan ekspresi mengejek.


“Brengsek!” umpat Roman, melihat Agra dengan tatapan menyala, penuh amarah.


Agra sedikit mendongakkan kepala dengan kekehan kecil dari mulutnya.


Semua orang yang ada di sana kini memfokuskan perhatiannya pada kedua mantan sahabat, yang sedang berdebat, mengalahkan mental dari lawannya.


Roman mengangkat sebelah alisnya, menatap yang dilakukan Agra dengan perasaan semakin geram.


“Ya, aku memang mengakui kamu pintar. Tapi, aku juga melihat kalau kamu masih saja menjadi seorang pengecut!”


Kekehan Agra berhenti begitu saja, menatap tajam Roman, aura di sekitarnya pun bertambah semakin mencekam.


Menarik sebelah sudut bibirnya tinggi, hingga membentuk seringai menyeramkan. “Benarkah? Memangnya apa yang kamu tau tentangku, heh?” desis Agra, menaikkan dagu tinggi, dan kembali menegakkan lagi tubuhnya. Nada suara tak tinggi, tetapi, itu berhasil membuat bulu kuduk orang di sekitarnya berdiri.


“Kamu hanya anak tak berguna, yang selalu membuat onar demi mendapat perhatian! Benar, bukan?” Roman sedikit mencondongkan tubuhnya, dengan tangan disulam di depan dada.


Agra memiringkan sedikit kepalanya, lalu menyugar rambutnya yang masih terasa lebap.


“Hah, begitukah? Sepertinya aku lupa?” desis Agra.


Di sisi lain, Suseno mulai beranjak mencoba menyelinap untuk keluar dari situasi itu.


Dor!


Semua orang tampak menatap Suseno yang kini bersimpuh di lantai karena kakinya terkena tembakan dari Agra.

__ADS_1


Pyuh!


Dengan santainya Agra meniup ujung senjata api yang sejak tadi berada di dalam jaketnya.


“Ah, Paman ... maafkan aku, ini adalah kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan,” drama Agra dimulai.


“Pah, kamu tidak apa-apa?” Roman langsung membantu Suseno untuk duduk kembali di atas sofa.


Sedangkan perempuan itu, langsung menggigil ketakutan, melihat kejadian di depannya.


“Bukankah tidak sopan, kalau Paman pergi begitu saja, di tengah acara yang sedang berlangsung?” ucap Agra, dengan senyum mengejek menghiasi wajahnya.


Roman berdiri lagi, melihat Agra dengan wajah yang sudah merah, menahan semua desakan amarah.


“Berani-beraninya, kamu melukai ayahku, dasar biadab!” raung Roman, berjalan menghampiri Agra, lalu menerjang tubuh tinggi itu dengan gerakan tak terarah.


Agra menghindar, dia tahu jelas sekarang lawannya tengah dipenuhi rasa amarah, hingga lepas kontrol dan menyerangnya tanpa perhitungan, itu justru membuat dia lebih diuntungkan.


Kedua anggota  Black Eagle sudah bersiap untuk membantu ketua mereka, tetapi, Agra langsung memberi perintah untuk tetap diam.


Pertarungan itu terlihat begitu sengit, hingga seluruh ruangan di dalam rumah itu hancur berantakan.


Menagkis, menyerang dengan bersamaan, mereka lakukan sekuat tenaga.


Dukh!


Satu tendangan di perut membuat Agra sedikit terhuyung ke belakang, dengan memegang perut yang teras berdenyut.


Roman menyunggingkan senyumnya, merasa telah berhasil membuat luka cukup parah untuk Agra, kembali bersiap untuk menyerang.


Secepat kilat, Agra menegakkan kembali tubuhnya, melakukan gerakan berputar sambil sedikit melompat, lalu memberikan tendangan pada dada dan dagu secara beruntun.,


Brak!


Uhuk!


Roman terhempas menabrak layar monitor setelah menerima tendangan tepat di dada dan dagu bagian bawahnya. Darah pun kini keluar dari mulutnya, rasa sakit bercampur panas mulai melemahkan kekuatan lelaki itu.


Agra tampak masih segar, walau ada beberapa luka yang jelas terlihat di tubuhnya. Namun, ia tetap berdiri tegak tanpa goyah sama sekali.


“Begini saja kemampuanmu, heh?” remeh Agra.


“Sudah cukup untuk bermain!” tajamnya, mengokang senjata apinya, mengarahkan pada Roman, yang kini sedang bersusah payah untuk bangun.


“Jangan!” teriak Suseno. Dia sudah tak mempunyai tenaga, karena senjata itu adalah senjata milik anak buahnya yang sudah direndam oleh racun sebelumnya.

__ADS_1


Dor!


Tak memedulikan perkataan Suseno, Agra langsung memberikan tembakan di paha Roman.


“Seharusnya kalian berpikir dulu, sebelum berurusan denganku. Aku adalah sang Leo, yang tak mempunyai hati bila menyangkut seorang musuh!” desis Agra, membagikan pandangan pada setiap orang di sana.


“Mafia kecil seperti kalian ini, hanya seperti seekor tikus pengganggu untukku .... Tak berguna!” sambungnya lagi.


Matanya beralih menatap satu-satunya orang yang belum memiliki luka sama sekali.


“Ck ... ck ... ck  ... sayang sekali, gadis sepertimu harus terlibat dengan maslah seperti ini.” Agra mencengkeram dagu perempuan itu begitu keras, hingga ujung jarinya menusuk ke dalam pipi juga dagu bagian bawahnya.


Perempuan itu berdesis menahan sakit, air mata juga mulai keluar membasahi wajahnya.


Agra meringis jijik, lalu melepaskan tangannya dengan kasar, sampai kepala perempuan itu menoleh cepat.


Menepuk tangannya, seperti sedang menghilangkan debu, dengan ekspresi begitu jijik di wajahnya.


“Aku kasihan pada Pak Rahmat, bila dia sampai tahu kalau anaknya sendiri yang menghianatinya?” Agra mengelap tangannya dengan sapu  tangan yang diberikan salah satu anak buahnya.


“Aku jadi curiga, jangan-jangan kamu bukan anak kandungnya,” ejek Agra. Satu lengannya ia letakan di dagunya, dengan jari telunjuk menyentuh bibirnya. Seperti berpikir sesuatu.


Anak Pak Rahmat itu, semakin terisak, saat mendengar perkataan Agra.


“Untung saja, kamu mempunyai seorang ayah yang begitu baik, sehingga aku berpikir dua kali untuk mengakhiri hidupmu. Tapi, setidaknya ayahmu harus tahu apa yang kamu lakukan selama ini bukan?” Agra kembali menjeda perkataannya.


Mencondongkan tubuh, hingga lebih dekat dengan perempuan itu. “Bersiaplah, karena aku mempunyai sedikit kejutan untukmu ... besok!” desis Agra


“Bawa mereka ke markas!” titahnya kemudian, kepada dua orang anggota yang sejak tadi hanya berdiri seperti seorang penonton.


Keduanya langsung bergerak cepat, menyeret dua orang yang sudah semakin lemah, oleh senjata mereka sendiri.


Agra menyeringai bengis, melirik sekilas perempuan yang kini tampak menangis tersebut di atas sofa, kemudian melangkah keluar dari rumah itu.


Satu hama sudah berhasil mereka tangkap dan musnahkan, kini tinggal bekas pertempuran di kampung itu yang perlu dibersihkan, apalagi rumah Pak Rahmat, yang sudah menjadi tempat pertarungan antara Agra dan Roman tadi.


Agra kembali ke rumah peristirahatan kembali setelah pajak sudah mulai mengintip di ufuk Timur. Gerimis sudah reda sejak tadi, kini hanya tersisa jalan yang masih licin dan udara dingin akibat gerimis semalam.


Gerimis yang menjadi saksi pertumpahan darah karena perebutan kekuasaan para orang-orang berkuasa.


...🦅...


...🦅...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2