
...Happy Reading...
...🦅...
"Suseno," ujar Agra, dengan santai dia menyandarkan tubuhnya, menatap lelaki paruh baya itu dengan senyum miring terukir. Sebuah korek api Zipo berlapis emas terlihat ia mainkan di tangan.
klak ... klik ....
Suara dari korek api yang di tutup dan di buka berulang, terdengar berirama di dalam ruangan yang tampak hening itu, sekaligus meningkatkan suasana mencekam yang tercipta.
Krek.
Api berwarna biru langsung keluar begitu Agra menyalakan pematiknya. Agra mengalihkan tatapannya sekilas pada api di tangannya, lalu kembali pada dua orang di depannya.
Klik.
Kembali Agra menutup korek api di tangan untuk mematikan api tersebut.
"Kira-kira, siap dulu yang mau aku berikan pelajaran? Apa ada yang mau menyerahkan diri dengan suka rela?"
Pertanyaan konyol itu, terlontar dengan salah satu alis terangkat, kepala Agra terlihat sedikit miring, dengan tatapan terbagi rata, antara kedua calon korbannya itu.
Tubuh Roman dan Suseno kembali menegang. Keduanya terdiam, tak ada yang berniat menjawab pertanyaan dari Agra, mereka benar-benar dipermainkan oleh setiap kata dan gerak Agra sejak tadi.
"Suseno, aku memberikan hak istimewa untukmu memilih, siapa dulu di antara kalian yang akan menerima permainanku lebih dulu," ujar Agra, dengan kembali menegakkan tubuhnya.
Dia terus bermain dengan kata-kata, hingga membuat semua orang yang berada di sana terasa sedikit bingung, pada apa yang diperbuat oleh Agra saat ini.
Selama ini Agra tipe ketua yang tidak terlalu banyak bermain kata, cenderung berkata sambil memulai penyiksaannya. Akan tetapi, apa yang mereka lihat sekarang, semakin membuat para anggota Black Eagle penasaran.
Lelaki paruh baya yang terlihat begitu menyedihkan itu menatap wajah Agra, walau mulutnya masih saja tertutup rapat, dengan berbagai umpatan di dalam hati.
"Tak mau menjawab kah? Baiklah berarti kamu memilih dirimu untuk menerima permainanku terlebih dulu," putus Agra, membuat Suseno langsung melebarkan matanya, menatap Agra tidak percaya.
"Ti–tidak! Aku tidak mau!" geleng Suseno sambil beringsut, memundurkan tubuhnya dengan gerakan refleks, karena merasakan suatu ancaman.
__ADS_1
Ujung bibir Agra terangkat melihat wajah ketakutan Suseno, dan wajah menegang Roman. "Lalu, apa aku harus melakukannya pada anakmu lebih dulu?" tanya Agra lagi, dengan menekan kata anakmu.
Suseno terlihat kikuk, tatapannya gusar dengan tubuh yang bergerak gelisah.
Glek
Menelan salivanya begitu susah payah,
sebelum memberikan jawaban atas pertanyaan, yang sebenarnya tidak perlu diucapkan.
"Tidak, biarkan aku dulu yang menerima semua hukuman darimu," geleng Suseno. Walau bagaimanapun dia masih seorang ayah, dia tidak akan sanggup bila melihat anak lelakinya disiksa di depannya sendiri.
Seringai di wajah Agra terlihat semakin jelas, sedangkan Roman menatap wajah Suseno dengan tidak percaya.
"Wah ... wah ... wah! Drama yang sangat menyedihkan antara anak dan ayah, aku begitu terharu mendengarnya." Kekehan kecil terdengar mengiringi ucapan penuh ejekan dari mulut Agra.
"Kamu memang tidak punya perasaan, Gra! Brengsek!" ujar Roman, sudah tidak tahan dengan semua perkataan Agra, yang terus mempermainkan perasaannya.
"Hahaha ... akhirnya kamu buka suara juga, aku kira suaramu sudah hilang karena racun itu," jawab Agra.
"Ya, aku memang biadab. Bukankah ini yang kalian mau dari dulu?" tanya Agra.
"A–apa? Kita tidak berbuat apa pun padamu," debat Suseno, ikut masuk dalam pembicaraan Agra dan Roman.
Tangan Agra mengepal kuat, dia menahan amarah yang kini mulai terpancing, manusia seperti Suseno memang tidak akan pernah mengakui semua perbuatannya, atau tidak menyadarinya. Entahlah, Agra tak mau memikirkan semua itu sekarang.
Agra kemudian melirik Edo, memberi kode agar para anak buahnya yang lain keluar dulu dari ruangan itu. Sang asisten yang sudah tahu, apa mau tuanya langsung memberikan kode pada para anak buah yang lain.
Agra mencondongkan sedikit tubuhnya, dengan bertumpu pada salah satu siku tangannya. "Ck, ck, ck ... tidak merasa bersalah ya? Bagaimana jika aku putar balikan waktu kalian untuk kembali pada masa lalu?" tanya Agra.
Edo yang mengerti dari maksud perkataan Agra, langsung mengambil sebuah laptop yang berada di atas meja.
Memasang layar itu menghadap pada Suseno dan Roman, dengan video yang mulai berputar. Kilas balik dari mulai rencana untuk menjebak Agra dengan mengirimkan Roman, untuk mendekati Agra dan menjadi teman baiknya.
"Ba–bagaimana bisa, semua ini—?" Roman bahkan tak bisa meneruskan perkataannya, karena terlalu terkejut.
__ADS_1
"Apa yang tidak bisa sang Leo lakukan? Ini hanya sebagian kecil yang bisa aku berikan untuk kalian," ujar Agra.
Kedua mata orang itu melebar, dengan jantung yang semakin berdetak kencang. Apa mungkin sang Leo itu adalah Agra? Ya ampun kenapa semua itu sampai tak mereka ketahui, bahkan di saat Agra menhebutkannya ketika di dalam pertarungan dua hari yang lalu.
Seno dan Roman merutuki diri mereka sendiri, yang telah lancang melawan kekuasaan seorang Leo. Pantas saja selama ini mereka selalu gagal, dalam usaha melenyapkan orang di depannya ini.
Video masih terus bergulir, memperlihatkan semua bukti perbuatan dan rencana yang kedua ayah dan anak itu dari awal sampai akhir.
Wajah mereka semakin pucat bagai tak berdarah, saat semua rencana mereka telah terungkap di depan mereka sendiri.
"Bagaimana? Masih bisa mengelak, kalian?" tanya Agra, begitu kumpulan video pendek yang di ambil acak dari berbagai CCTV habis dan terhenti.
"Hah, tidak usah terkejut seperti itu, aku hanya sedang mengingatkan semua perbuatan kalian selama ini. Jadi jangan menyalahkanku jika sekarang aku menghukum kalian atas apa yang kalian lakukan," desis Agra, dengan mata yang semakin menajam.
Ya, ternyata selama ini Roman mendekati Agra, hanya sebagai salah satu rencana dari mereka, itu lah yang sebenarnya terjadi selama bertahun-tahun, hingga batu saja terbongkar beberapa waktu yang lalu.
"Aku kecewa padamu, Rom. Selama ini aku benar-benar menganggapmu sebagai sahabat, bahkan saudara sendiri. Tapi, ternyata kamu hanya menganggapmu sebagai musuh dan orang yang kamu targetkan untuk dihancurkan! Hahaha ... Aku memang terlalu bodoh selama ini, karena telah mempercayai manusia berkepala ular seperti kalian!"
Agra berkata dengan tatapan menerawang jauh, melihat kilas balik ke belakang, di saat dirinya masih bersama dengan kedua sahabatnya. Bagaimana serunya kehidupan remaja mereka bertiga, sebelum fitnah itu menghancurkan seluruh kepercayaan sang ayah.
Sebenarnya, saat setiap video itu diputar kembali, Agra merasakan sesak bagai tak memiliki udara untuk bernapas, karena merasakan sakit tersayat di bagian jantungnya.
"Ed, biarkan mereka masuk, kita mulai sekarang, aku sudah terlalu lama mengulur waktu," ujar Agra.
Suseno mulai waspada saat melihat Agra mulai bangkit dan berjalan menuju kumpulan berbagai alat penyiksaan.
"Get ready, it's time to play," ujar Agra sambil mengambil sesuatu dari meja tersebut.
...🦅...
...Kayaknya yang lain juga pada kecewa nih?ðŸ¤...
...🦅...
...TBC ...
__ADS_1