
"Happy berithday, Arsya!" teriak Alisya dan Isha ketika lelaki itu membuka pintu kamarnya. Sebuah kue ulang tahun dengan desain coklat sederhana, ditambahkan lilin angka tujuh belas di atasnya, terlihat dipegang oleh Isha.
Arsya tersenyum. Dia tatap wajah kedua orang tuanya dan sang adik yang juga sedang tersenyum padanya. Dia bahagia dan bersyukur telah berada di tengah keluarga yang sangat menyayanginya dan dia sayangi. Sejenak, Arsya rasakan ada sesuatu yang kosong dalam hatinya. Ketidakberadaan Andrew dalam pesta kejutan ulang tahunnya, tentu menjadi sesuatu yang terasa asing untuknya. Namun, sedetik kemudian, dia menutup semua rasa rindu yang melintas dengan senyuman dalam dekap hangat seorang ibu.
"Makasih, Mommy," ujar Arsya masih dengan tangan memeluk cinta pertamanya itu.
"Happy sweet seventeen, Bang." Kini giliran Isha yang mendapat pelukan dari Arsya.
"Thank you, my sister," jawab Arsya.
"Aku akan menagih janji Daddy," ujar Arsya setelah menerima ucapan selamat ulang tahun dari sang ayah.
"Yah..." Agra mengangguk-anggukkan kepalanya dengan gerakan lemas.
"Yeah!" Arsya tersenyum girang, dia acungkan kepalan tangannya ke atas, sebagai tanda kepuasan.
...🦅...
"Jadi lo mau bikin geng motor?" tanya Cakra, ketika mereka sedang merayakan ulang tahun Arsya di sebuah restoran, setelah pulang sekolah.
"Eum," angguk Arsya. Dia memanfaatkan kesempatan ini untuk mengungkapkan keinginannya membentuk geng motor bersama kawan-kawan barunya.
"Gue sih setuju aja. Tapi, gak semua anak bisa naik motor, apa lagi motor gede." Vareen yang memang sering mengikuti balapan liar dan sudah memiliki keterampilan dalam mengendarai motor pun langsung menyetujuinya.
"Gak wajibmotor gede kok, motor biasa juga bagus. k
Kita kan bukan klub motor gede," jelas Arsya. Dia tersenyum tipis ketika sudah mendapatkan satu suara. Kemudian menatap teman-temannya yang lain, seolah meminta jawaban.
"Urusan belajar motor, gue punya cara sendiri. Kita juga harus memiliki kemampuan bela diri, agar bisa membantu satu sama lain." Arsya mengungkapkan rencana selanjutnya.
"Kalau gitu, gue juga setuju." Dikta langsung menyetujui. Mengingat dia yang sering mendapat perundungan dari siswa lain, membuatnya tertarik untuk mempelajari ilmu bela diri.
"Sekarang tinggal lo berdua. Gue harap, kalian juga mau ikut," jujur Arsya. Kini tatapan ketiga cowok itu beralih menatap Cakra dan Fahri, yang belum memberikan keputusan.
__ADS_1
"Gue mah terserah Cakra. Kalau dia ikut, gue juga ikutan," jawab Fahri sambil menatap wajah Cara yang tampak mengerutkan keningnya dalam. Sahabat terlamanya adalah Cakra, dan hanya Cakra yang tahu betul keadaannya. Dia merasa tidak nyaman jika harus berpisah dari sahabatnya.
"Oke, gue ikut. Tapi, gue gak mau cari masalah. Apa lagi kalau berbau kriminal. Gue gak ikutan kalau sampai ada begituan," putus Cakra yang membuat seluruh wajah tegang yang sejak tadi melihatnya, kini terlihat mengedur.
"Yeah! Berarti mulai sekarag kita harus mempersiapkan diri untuk pembentukkan geng motor kita. Ajak juga semua teman kalian," ujar Arsya penuh semangat.
"Siap," jawab yang lainnya serempak.
Pengalaman penculikan waktu kecil, ternyata tidak membuat Arsya takut untuk berhadapan dengan para penjarah dan penjahat lainnya. Dia malah berambisi untuk terjun dan memerangi segala kejahatan dan ketidakadilan yang terjadi. Arsya sangat geram ketika melihat para geng motor yang bertindak semena-mena dan membahayakan nyawa orang tidak bersalah. Merampok, begal, jambret, atau bahkan pembunuban masal hanya demi memenuhi persyaratan masuk sebuah geng motor.
Arsya tahu tentang black eagle yang diwariskan Andew kepada ayahnya dan kini dipimpin langsung oleh Agra. Bukannya takut atau menyalahkan atas kejadian tragis dan traumatis masa kecilnya, yang diakibatkan oleh musuh organisasi yang dipimpin oleh Agra, Arsya malah merasa beruntung karena hidup di antara para petinggi black eagle. Setidaknya, jalannya menuju tujuannya akan lebih mudah, mengingat ada sang ayah dan black eagle di belakangnya.
Walaupun black eagle sudah lama tertidur, tetapi dia yakin, organisasi mafia yang dipimpin oleh ayahnya, masihlah sangat diperhitungkan di dunia bawah. Itu akan sangat menguntungkan untuknya. Dirinya juga sudah belajar banyak dari ayahnya dan para petinggi black eagle, tentang organisasi dan situasi di dunia bawah. Beberapa kali, Arsya bahkan memaksa untuk ikut dalam transaksi pejualan senjata bersama anggota black eagle. Tentu saja, tanpa izin dari sang kakek. Namun, dia tak yakin jika Andrew benar-benar tak mengetahuinya.
...🦅...
Hari-hari berikutnya setelah perencanaan itu, Arsya dan semua teman-temannya disibukkan dengan berlatih dan memepersiapkan diri untuk mendirikan geng motornya. Arsya bahkan sudah membeli sebuah rumah dengan halaman luas untuk mereka jadikan markas. Sering kali, mereka akan berkumpul di rumah itu sepulang sekolah, atau setelah berlatih. Sejak saat itu pula, Arsya dan teman-teman lainnya selalu pulang malam. Sekitar jam sepuluh malam, dia baru samapai di rumah.
Apakah Alisya todak marah? Ah, tentu saja jangan ditanya lagi. Wanita yang masih terlihat cantik walau di umurnya yang sudah tidak muda lagi itu, masih saja sering mengomelinya ketika sampai di rumah. Namun, Arsya pun sudah tahu cara meluluhkan kemarahan ibunya. Dia pun tahu, jika setiap omelan yang ke luar dari mulut Alisya, adalah bentuk dari rasa khawatir dan perhatian seorang ibu kepada anaknya. Arsya sudah mulai dapat menerimanya.
...🦅...
"Bagus. Gue setuju," Vareen langsung menyetujui.
"Niat kita mendirikan geng motor ini kan emang untuk memberikan keadilan, jadi gue rasa itu nama yang cocok," angguk Dikta juga ikut menyetujui.
"Nama yang keren, gue juga setuju." Fahri pun mengangguk setuju.
"Setuju." Cakra yang kini menjadi bahan perhatian ikut mengangguk, menyetujui nama yang sudah dipilih oleh Arsya.
Sebenarnya sebelumnya mereka sudah memiliki beberapa nama sebagai pilihan. Namun, ternyata mereka sepakat pada satu nama yaitu, Atropos.
"Berarti kita sepakat dengan nama Atropos?" tanya Arsya memastikan, yang langsung diangguki oleh empat orang lainnya.
__ADS_1
"Akh, akhirnya geng kita punya nama juga," ujar Varren sambil meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, karena sudah berjam-jam duduk hanya untuk berdiskusi masalah nama.
Malam harinya, geng motor Atropos resmi dibuka. Mereka memiliki lima inti anggota.
Arsya Gavin Ainsley Grisham, 17 tahun, sebagai ketua Atropos geng. Dia memang dingin, tetapi karena menjadi ketua sebuah geng, dia dituntut untuk menjadi pribadi yang lebih bijak dan kekeluargaan, untuk merangkul semua anggotanya.
Cakra Dikara Cendikia, 17 tahun, sebagai wakil ketua Atropos geng. Dia cenderung jarang bicara, emosian, tetapi penuh perhatian dan siap membela jika ada anggota yang ditindas. Sikapnya yang setia kawan adalah yang terbaik untuk berada di garda depan.
Fahri Malik Wardana, 17th, sebagai konsultan Atropos geng. Sifatnya yang penyebar, pintar mengamati situasi, tetapi kadang suka ngaret, membuatnya pantas berada di posisi itu.
Vareen Eza Giovano, 17th, bendahara, konsumsi, dan penyedia keperluan lainnya. Sifatnya yang periang dan nyeleneh, tetapi sangat teliti, membuatnya bertaggungjawab untuk hal-hal yang kecil tetapi sangat dibutuhkan.
Dia juga berada di belakang Dikta, sebagai asistennya dalam membuat strategi.
Dikta Emil Wijaya, 17th, sebagai ahli strategi sekaligus ahli IT di Atropos geng. Sifatnya, kutu buku, penyabar, taat peraturan, dan juga memiliki keahlian dalam menganalisa sesuatu, membuatnya berada di posisi sekarang.
Berangkat dan terbentuk dari para korban kekerasan dan kegagalan, membuat mereka memiliki tujuan untuk menghadirkan sebuah keadilan bagi para korban dari kebrutalan anggota geng lainnya.
Tidak akan mudah, bahkan mungkin menghadirkan banyak musuh sesama geng motor, tetapi mereka tidak peduli. Mereka ingin menjadikan Atropos sebagai geng motor yang berbeda. Bukan lagi tentang para pemuda yang berjiwa panas dan penuh dengan kekerasan. Tetapi, mereka ingin Atropos menjadi geng motor yang membawa rasa aman dan persahabatan, tanpa adanya kekerasan dan persaingan.
Namun, apakah itu semua akan terjadi? Mampukah lima pemuda ini membawa perubahan dalam kehidupan yang begitu keras ini? Ataukah, mereka akan menyerah dan hancur oleh tekanan juga rintangan yang begitu besar?
Tidak ada yang tahu. Mungkin, hanya waktu yang akan menjawab. Namun, untuk sekarang, mereka sedang sama masa penuh semangat untuk mewujudkan tujuannya.
__ADS_1