Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.49 Kehebohan.


__ADS_3

...Happy Reading ...


...🦅...


Setelah makan siang bersama, Agra kembali melanjutkan pekerjaannya.


“Tuan, ini laporan yang Anda minta.” Edo memberikan map berisi laporan tentang kedua sahabat yang tadi pagi di minta oleh Agra.


Cukup lama Agra membaca setiap baris kata yang tertera dalam kertas itu.


Alisya yang masih berada di sana, tampak memperhatikan Agra bekerja.


Baginya, melihat Agra bekerja dengan serius, adalah hal yang cukup menyenangkan.


Wajah tampan lelaki itu, tampak bertambah berkali-kali lipat bila sedang fokus bekerja seperti itu.


Setelah di rasa puas dan tidak ada lagi yang dia lewatkan dari semua laporan itu, Agra mengangkat wajahnya melihat ke arah sang asisten.


“Tugaskan beberapa orang untuk mengawasi tempat itu, aku yakin saat ini Suseno juga berada di sana!” perintah Agra.


“Baik, Tuan!” jawab Edo.


“Usahakan ada dari anak buah kita yang bisa masuk ke dalam markas mereka, agar kita bisa memantau secara lebih dekat,” ucap Agra lagi.


Edo mengangguk, keningnya tampak berkerut memikirkan cara untuk mengabulkan keinginan tuannya.


“Soal itu, biar nanti kita bicarakan lagi, usahakan saja untuk terus mendekat ke dalam wilayah markas mereka!” Agra meralat perkataannya.


“Siap, Tuan! Kalau begitu saya permisi.” Edo tampak sedikit membungkukkan tubuhnya, sebelum ke luar dari dalam ruangan kerja Agra.


Setelah kepergian asistennya, Agra mengalihkan pandangannya pada Alisya.


“Maaf ya, kamu harus nungguin aku kerja dulu,” ucap lembut Agra.


Alisya menggeleng, beranjak menghampiri lelaki yang kini masih duduk di kursi kebesarannya.


“Enggak kok, aku seneng biisa nemenin Kakak kerja kayak gini.” Alisya tampak duduk di kursi depan Agra.


“Mau aku bantu, walaupun aku tidak terlalu paham dengan pekerjaan Kakak, tapi, setidaknya aku bisa membantu mengoreksi kesalahan atau membereskan berkas,” tawar Alisya.


“Oh iya, kamu kan juga pernah kerja di sini ya?” Agra baru saja mengingat kalau sebelumnya Alisya pernah kerja menjadi salah satu staf di kantornya.


“Iya, lagi pula aku juga kangen masa-masa kerja dulu,” cebik Alisya.


Bosan juga, selama hampir sebulan ini, dia hanya diam di rumah, tanpa ada kegiatan yang bisa ia kerjakan.


Agra tampak terdiam, mendengar keluhan dari gadisnya, kalau saja situasi sudah memungkinkan untuknya bisa membebaskan Alisya, dia pasti sudah membolehkannya kembali pada aktivitas biasanya.


Namun, kini situasinya masih sangat genting, apa lagi dengan keberadaan Bima yang belum bisa ia kalahkan, untuk merebut kembali perusahaan kedua orang tua Alisya.


Saat ini, Agra masih melakukan kekacauan, untuk membuat paman dari Alisya itu kalang kabut, dan mengira kalau perusahaan yang di pimpinnya akan segera bangkrut.


“Kamu kan bisa main sama Rega, atau jalan-jalan sama Kak Andini dan Mama,” ucap Agra.


Alisya tampak mengangguk lemas, tanpa mau menimpali saran dari lelaki di depannya.


“Atau kamu mau bertemu dengan rekan kerjamu di sini? Pergilah, tapi ingat, tidak ada pergi dari area kantor! Nanti aku hubungi kalau sudah mau pulang,” ucap Agra panjang lebar.

__ADS_1


“Bolehkah?!” tanya Alisya, bersemangat.


“Tentu boleh, asal jangan pernah melanggar peraturan dariku!” peringat Agra.


“Oke, aku janji gak bakalan keluar dari kantor, makasih! Emuach ....” tanpa sadar Alisya memberikan satu kecupan di bibir Agra.


Agra mematung, saat mendapat kecupan kecil dari gadisnya, melihat pintu yang kini sudah tertutup kembali, setelah Alisya keluar.


“Manis,” gumamnya menyentuh bibirnya yang masih meninggalkan rasa lembap dari bekas lipglos dari bibir Alisya.


Menggeleng geli, mengingat ini adalah ciuman pertamanya yang di curi begitu saja oleh gadis yang kini telah menjadi pemilik hatinya.


Kembali mengambil berkas yang lumayan menumpuk di atas mejanya, berusaha fokus menyelesaikan kewajibannya sebagai wakil presdir Leopard Corporation.


Sedangkan di sisi Alisya, gadis itu benar-benar tak menyadari ulahnya yang telah mencuri ciuman dari Agra.


Berjalan dengan senyum yang tak pernah pudar menghiasi wajahnya, menuju ruang kerjanya dahulu.


Sampai di sana, Alisya langsung di sambut baik oleh para teman kerjanya, mereka semua belum tahu kalau kini gadis itu adalah calon istri dari bos mereka.


“Alisya! Loe ke mana aja? Tiba-tiba ngilang tanpa kabar!” teriak Rima, saat melihat Alisya baru saja masuk ke dalam ruangan divisi mereka.


“Hai semuanya, apa kabar?” cengir Alisya, menampilkan deretan gigi putihnya.


“Loe tega banget sih, ngundurin diri gak bilang-bilang sama kita dulu, gue tanyain ke Bi Ani, dia juga gak tau loe ke mana?” cerocos Delina, menghampiri Alisya yang masih berdiri di dekat pintu.


“Iya, maaf. Gue ada maslah dikit sama om gue, jadi gue kabur dari rumah,” Alisya tampak berbisik di akhir kalimatnya, karena di sana masih banyak teman kerjanya yang mencuri pandang ke arah mereka bertiga.


“Apa?! Loe keluar dari rumah? Gue gak salah denger kan?” heboh Rima.


“Bentar deh, tadi loe bilang apa, gue ngundurin diri? Kapan?” tanya Alisya, mengerutkan keningnya dalam.


“Gak tau juga sih, tapi seminggu setelah loe gak masuk kerja, ada orang yang gantiin posisi loe. Gue tanyain sama HRD katanya loe udah ngundurin diri,” jelas Diana.


‘Pasti ini kerjaan Kak Agra deh,’ gumam hati Alisya.


“Eh, kita berdua lagi kerja ini, loe tunggu bentar ya, gue selesaikan kerjaan gue dulu, baru nanti kita ngobrol lagi!” ucap Rima, baru ingat dengan tugasnya.


“Eh iya, gue juga masih ada kerjaan dikit lagi, tunggu bentar ya!” timpal Delina.


“Mau aku bantuin gak?” tanya Alisya.


“Beneran nih, kebetulan gue lagi mumet banget nih!” sambut semangat Rima.


Akhirnya siang menjelang sore itu, Alisya habiskan dengan membantu pekerjaan para sahabat yang sudah cukup lama ia tak temui.


Sesekali mereka bertiga tampak saling bercengkerama dan bercerita satu sama lain, selama mereka tidak bertemu.


Hingga tiga puluh menit sebelum waktu kerja selesai, tiba-tiba terjadi kehebohan di luar ruangan.


“Ada apa sih, kok rame banget di luar?” tanya Alisya.


“Gak tau, tar gue liat dulu ya,” ucap Delina, beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


Namun, langkahnya tiba-tiba saja terhenti, dengan tubuh gemetar dan mata tak dapat berkedip. Pemandangan langka di depannya, membuat sahabat dari Alisya itu mematung.


Di pintu masuk, Agra berdiri tegak, penuh pesona yang tidak bisa di tolak begitu saja bagi para perempuan, Edo pun tampak mengawal sang tuan dengan siap siaga di belakang Agra.

__ADS_1


“Wa-wakil presdir,” gumam Delina, hampir tak terdengar.


Agra tak memedulikan kehebohan yang telah ia ciptakan di kantornya, matanya hanya fokus pada kursi yang berada di sudut belakang, tepat gadisnya duduk.


Sedangkan para karyawan yang bertugas di ruangan itu, langsung berdiri sambil menundukkan kepalanya.


“Selamat datang, Tuan!” ucap mereka semua, membungkuk hormat pada orang paling berkuasa ke dua di perusahaan itu.


Alisya yang masih menikmati waktunya dengan pekerjaan, tak menyadari kedatangan Agra.


Rima yang berada beberapa kursi dari Alisya, berusaha memberikan kode pada sahabatnya itu, tetapi, ternyata Alisya tak menggubrisnya.


“Waktu kamu sudah habis, yuk kita pulang,” ucap Agra lembut.


Alisya langsung mendongak melihat asal suara.


“Hah?” Alisya langsung melihat jam di tangannya.


Para karyawan yang ada di sana hanya bisa tercengang kaget, dengan sikap lembut dari Agra.


Bagaimana mungkin lelaki yang selama ini terkenal dingin dan anti terhadap perempuan, kini terlihat bersikap begitu lembut dengan tatapan memuja pada Alisya.


Rasanya mereka semua akan kehilangan kesadaran, bila sebentar lagi saja, pemandangan itu masih terlihat di depan mata.


“Kok, Kakak ke sini sih? Kan bisa telepon aja,” cebik Alisya, melihat sekitarnya yang tengah memperhatikan keduanya.


“Senang sekali ya, sampai teleponku gak kamu jawab?” sindir Agra, memperlihatkan beberapa panggilan di ponselnya yang tidak di jawab oleh Alisya.


Alisya langsung melihat ponsel yang ia simpan di dalam tas, ternyata benar saja, sudah banyak panggilan tak terjawab dari Agra.


“Maaf, ponselnya aku silent,” cengir Alisya.


Agra menghembuskan napasnya, kemudian meraih tangan Alisya.


“Ya sudah, ayo kita pulang, Mama sudah nanyain kamu terus!” Agra membawa Alisya untuk berdiri, lalu menggandengnya keluar dari ruangan itu, tanpa ada separah kata pun yang terlontar dari mulutnya pada karyawan yang lainnya.


 


... 🦅...


 


 


...🦅...


 


 


... TBC...


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2