Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
MS2-Bab.3 Ocehan Mommy


__ADS_3

"Young master." Seorang lelaki seusia sang ayah terlihat ke luar dari mobil mewah itu dan sedikit membungkuk di depan Arsya.


"Uncle Edo telat, mereka udah pada kabur." Seolah tahu untuk apa Edo datang, Arsya langsung menjelaskan walau tanpa ada pertanyaan lebih dulu. Jangan lupakan raut wajah tampan itu yang tampak berubah malas.


"Mereka sudah dibereskan. Mari, saya antar Anda," ujar Edo santai, sambil membuka pintu mobil bagian belakang.


"Ck!" Arsya berdecak malas sambil mulai melangkahkan kaki dan memilih duduk di bangku depan.


Dia sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini. Sejak penculikannya yang terjadi hampir sepuluh tahun lalu, Agra benar-benar tak membiarkan anak-anaknya pergi sendiri. Mereka memang terlihat bebas dari luar, tetapi sebenarnya selalu ada orang-orang yang bertugas untuk mengikuti. Itu bukan hal yang tersembunyi lagi. Baik Arsya maupun Isha sudah tahu perbuatan ayah mereka.


"Tidak ada tawar menawar jika itu tentang keselamatan kalian!" Itulah jawaban tegas yang diucapkan oleh Agra ketika Arsya dan Isha protes karena bodyguard bayangan yang disebarkan oleh ayah dan kakek mereka.


Tidak ada perlawanan atau tawar menawar, jika Agra sudah memutuskan, itu pun berlaku untuk Arsya dan Isha. Mereka tidak bisa membantah. Keduanya hanya bisa pasrah dengan sikap super protektif dari orang tuanya.


Edo menghembuskan napas pelan, menghadapi dua anak bosnya yang memiliki karakter berbeda lebih melelahkan dibanding menghadapi sifat kejam dan gila kerja seorang Agra. Pasrah, Edo memilih kembali ke kursi kemudi dan segera mengantarkan Arsya ke tempat tujuan, agar dia bisa terbebas dari anak sulung bosnya itu.


Beberapa menit berkendara, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Arsya langsung turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih.


...🦅...


"Udah siap berlatih?" tanya Cakra setelah menyambut kedatangan Arsya. Mereka semua sudah berganti baju khas bela diri. Cakra dan Fahri terpaksa berangkat duluan, setelah menerima pesan dari Arsya beberapa saat lalu. Kini mereka bertemu di depan tempat latihan bela diri.


"Ini hari pertama lo latihan di sini, kan?" tanya Fahri sambil membenarkan sabuknya yang longgar.


"Iya," angguk Arsya.


"Jangan kaget ya, kalau liat kekutan Cakra. Dia itu kalau lagi latihan suka kelepasan," bisik Fahri sambil melirik Cakra.


"Apa sih, lo, Ri?" Cakra tampak tak terima karena digoda oleh Fahri.


"Lo gak inget waktu hancurin peralatan latihan, sampe disuruh ganti rugi dan dihukum bersihin seluruh ruang latihan selama sebulan?"


"Itu kan gue gak sengaja, gak usah lo ungkit di depan si Arsya juga kali," kesal Cakra masih saja tampak merajuk. Arsya meminta Cakra merubah panggilannya menjadi Arsya. Dia tidak biasa dipanggil Gavin di IndonesiaIndonesia. Nama itu khusu jadi panggilannya di negara A.


"Gue jadi penasaran nih, gimana sih kekutan seorang Cakra Dikara?" Arsya malah tersenyum miring sambil menatap Cakra.


"Gua masih gak ada apa-apanya dibanding lo, Ar," jawab Cakra sambil menepuk pundak Arsya.


"Arsya ini adalah guru gue waktu di negara A. Dia juga yang buat gue sadar, kalau kita harus belajar bela diri, seenggaknya buat ngelindungin diri kita sendiri," jelas Cakra pada Fahri yang belum tahu keahlian Arsya sebenarnya.


"Gak usah dilebihin gitu lah, Bro. Gue gak pernah jadi guru lo ya," tolak Arsya lebih memilih merendah. Ketiga orang itu menghentikan pembicaraannya ketika sudah memasuki area latihan


Sebenarnya Arsya sudah menguasai ilmu bela diri. Dia yang dilatih sejak kecil oleh sang kakek --Andrew Grisham-- untuk belajar bela diri dan ketangkasan lainnya, sudah terbiasa berada di tengah pertarungan. Namun, demi mengisi waktu luang, dia mengikuti saran Cakra untuk masuk di perguruan bela diri bersama mereka.


Selama di dalam padepokan bela diri itu, Arsya berlagak seperti tidak memiliki keterampilan, dia benar-benar menjadi seorang pemula yang polos. Tak ada yang sadar akan keahliannya selain mungkin gurunya yang sudah mulai curiga, ketika melihat gerakannya yang sudah sempurna.


...🦅...


"Astaga! Kenapa muka kamu luka begitu, heh? Kamu habis ngapain tadi?! Mommy kan udah bilang, jangan main kekerasan, kalau luka gini kan jadi kamu sendiri yang rugi!" Alisya terus nyerocos sambil membolak-balik wajah Arsya, memeriksa kondisi anak sulungnya.


"Aku gak papa, Mom. Ini cuman luka ringan. Tadi aku gak sengaja jatuh di toilet," jawab Arsya sambil menangkap tangan Alisya yang terus menjamah seluruh tubuhnya.


"Mana ada jatuh tapi lukanya di bibir begini. Ini juga biru di tukang pipi, kayak bekas pukulan." Alisya menatap curiga anak sulungnya. Walau dia tahu pekerjaan yang digeluti oleh suaminya. Namun, jika dia bisa meminta. Alisya tidak pernah menginginkan anak-anaknya mengikuti jejak sang suami.


"Beneran, Mommy. Ini tadi gak sengaja kebentur sisi washtafel. Lagian aku mau berantem sama siapa? Tinggal di sini aja baru seminggu ... mana mungkin aku punya musuh." Arsya berkata lembut ditambah raut wajah yang polos. Dia benar-benar membalut perkataan bohongnya dengan sangat sempurna.


Alisya terdiam sebentar. Matanya masih menyorot tajam sang anak seolah tengah memastikan kebenaran perkataan sang anak. Dia menghembuskan napas kasar sebelum akhirnya berbicara dengan nada pasrah. "Ya sudah, ayo Mommy obatin dulu."


Alisya menarik tangan Arsya untuk duduk sambil meminta tolong untuk dibawakan kotak obat pada pelayanan yang ada di sana. Wanita berumur akhir tiga puluhan itu, mengobati luka sang anak dengan lembut dan telaten. Dia pastikan semuanya dilakukan dengan baik hingga luka di wajah anaknya akan segera sembuh tanpa meninggalkan bekas.


"Terima kasih, Mommy. I Love You," ujar Arsya sambil mencium pipi Alisya. Lalu beranjak menuju kamarnya.


"I love you more, Boy," balas Alisya sambil tersenyum gemas pada Arsya.


Selamat ... selamat. Semoga saja Mommy gak curiga sama alasan gue, batin Arsya sambil terus melangkah menjauhi Alisya.

__ADS_1


...🦅...


"Berantem sama siapa, Bang?" tanya Isha yang masuk ke kamar Arsya tanpa permisi. Lalu, merebahkan dirinya di ranjang sang.


Arsya menatap sang adik yang kini tampak tidur terlentang di ranjangnya. Walau terpisah lama, tetapi dia tidak pernah keberatan dengan kelakuan Isha yang suka seenaknya, dan seolah menguasai semua miliknya.


"Gak usah ikut campur, ini urusan cowok," jawab Arsya.


"Dimarahin dong sama, Mommy?" Isha merubah posisinya menjadi miring. Sorot matanya tampak bersemangat.


"Enggak."


"Hah? Lo boong kan, Bang?" Isha temoak tak percaya dengan jawaban kakaknya.


"Ya, kena omelan dikit, sih." Arsya yang tengah duduk di kursi belajar kembali memutar kursinya menghadap ke meja.


"Hahaha ... lagian, belum sepuluh hari lo di sini, udah bikin masalah aja." Isha tampak puas ketika mendengar kakaknya mendapat omelan dari sang ibu.


"Ck! Kalau lo ke sini cuman buat ngetawain gue, mending balik ke kamar sana," decak Arsya tanpa melihat adiknya yang masih asik merebahkan diri.


"Gak ah. Gak asik, di kamar sendirian," jawab Isha malas. Dia kemudian melanjutkan perkataannya setelah cukup lama terdiam. "Malam ini, lo mau ke luar lagi?"


"Enggak. Mana bis ague lolos dari Mommy, kalau ketahuanke luar lagi," jawab Arsya. Tampaknya lelaki itu sedang belajar, hingga matanya tampak fokus pada laptop di depannya, walau bibirnya terus menjawab pertanyaan Isha.


"Yah. Kirain lo mau ke luar. Bosen banget nih," keluh Isha.


"Gak ada. Mending tidur aja sana," geleng Arsya.


Arsya memang sering kali ke luar ketika malah hari. Terkadang hanya untuk mengunjungi markas atau melihat balapan liar yang dilaksanakan oleh oraganisasi jalanan. Sekedar memantau situasi dunia hitam di kota itu.


Semua itu dia lakukan karena sudah ada rencana yang akan dia lakukan ketika sudah genap berusia tujuh belas tahun, beberapa bulan lagi.


...🦅...


"Gak usah," tolak Arsya sambil melanjutkan memberikan lembaran uang kepada kasir.


"Lo gak papa?" tanya Arsya lagi sambil melihat kilas wajah Vareen. Dua hari ini, Vareen tidak masuk sekolah. Sepertinya luka yang didapat dari kejadian hari itu cukup parah.


"Gue udah gak papa, kok. Makasih ya." Varen tersenyum lebar sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Baguslah," angguk Arsya lalu mulai berjalan dari kasir setelah mendapatkan minuman pesanannya.


"Gue boleh gabung gak?" Vareen mengikuti Arysa. Dia yang merasa berhutang budi pada Arsya dan merasa jika Arsya adalah orang baik pun ingin berteman dengan penolongnya itu.


"Boleh. Lo gak ada masalah sama Cakra dan Fahri kan?" tanya Arsya sambil terus melangkahkan kakinya menuju meja yang sudah ditempati kedua temannya.


"Enggak kok," geleng Vareen penuh semangat.


Arsya mengangguk. Dia sedikit menarik ujung bibirnya sangat tipis, walau itu hanya bertahan satu detik. Bahkan mungkin tidak ada yang menyadari senyum diwajah Arsya.


Mereka pun makan siang bersama sambil diselingi percakapan antar siswa, mulai dari keluhan tentang pelajaran yang semakin sulit, atau bahkan rencana kegiatan sepulang sekolah.


Namun, pembicaraan mereka harus terganggu dengan tiga orang perempuan yang mendatanginya. Mereka adalah Celine --Ketua geng yang menyukai Arsya. Sikapnya sombong dan manja, dia menobatkan dirinya sebagai ratu kecantikan di SMSMA Bakti Yudha. Melly --Cewek tomboy yang belajar bela diri. Gayanya, sok kuat dan selalu main fisik dengan siapa saja yang berani memiliki masalah dengan mereka. Rikha --Siswa beasiswa yang gila popularitas hingga tak sungkan untuk menjadi pesuruh Celine agar tetap berada dalam pertemanan itu.


"Boleh kita gabung gak?" tanya Celine dengan penuh percaya diri. Cewek dengan baju seragam ketat dan rok yang sangat pendek itu menatap penuh minat pada Arsya.


"Kalian mau duduk di sini?" tanya Fahri yang sudah biasa menghadapi para penggoda yang ingin mendekati Cakra mau pun Arsya.


"Iya. Boleh ya. Kita gak kebagian tempat," angguk Celine dengan gaya bicara manja dan dada sengaja dibudungkan, seolah ingin sekali menarik perhatian Arsya. Matanya mengedar melihat ke seluruh kantin yang memang sudah penuh.


Namun, sayang sekali. Baik Arsya atau Cakra malah memilik sibuk dengan makanan mereka tanpa memedulikan tiga cewek yang tengah berdiri di samping mereka.


"Gue ke toilet dulu," ujar Arsya setelah menghabiskan bekal makan siang dan minumannya. Lelaki itu langsung bangkit sambil membenarkan baju seragam yang terlihat kusut.


"Eum," angguk Cakra langsung yang membuat Arsya langsung melangkahkan kakinya untuk segera pergi.

__ADS_1


"Yah, kok malah pergi sih. Gue kan mau makan bareng sama Arsya," keluh Celine sambil menatap iba pada Arsya yang bahkan tak pernah meliriknya sana sekali.


"Arsya ...." Dengan gaya centil dan suara sedikit mendayu, Celine memberanikan diri untuk menghentikan Arsya dengan menahan tangannya.


"Aku udah dateng lho, masa kamu malah tinggalin aku gitu aja sih," keluh Celine tanpa mengetahui wajah Arsya yang sudah mulai memerah akibat merasa marah dengan perlakuan Celine.


"Lepas ...." Arsya menoleh, menatap wajah Celine dengan tatapan yang tajam menusuk. Auranya berubah dingin dan sedikit mencekam, hanya dengan beberapa detik saja.


"Ayolah, Arsya. Duduk dulu, ya. Temani aku makan." Tampaknya Celine salah mengartikan tatapan Arsya hingga cewek itu masih terlihat santai dan malah merayu sambil mulai memeluk lengan Arsya.


Namun ....


Bruk!


Celine jatuh terduduk di depan Arsya, ketika cowok itu menghempaskan tangan Celine dengan gerakan yang sangat cepat, hingga Celine tidak menyadarinya.


"Gue gak suka kontak fisik," ujar lirih Arsya sebelum melangkah pergi, meninggalkan Celine dengan rasa malunya.


"Apa kalian semua? Mau gue colok tuh mata!" teriak Melly pada semua siswa yang tengah menatap Celine yang tampak sangat memperihatinkan.


"Ish, Arsya! Tega banget sih kamu, aku kan udah minta maaf, masa kamu masih marah juga!" Tak ingin malu berkepanjangan, akhirnya Celine memutuskan untuk berpura-pura jika tengah marahan dengan Arsya.


"Mereka pacaran? Kapan jadiannya?"


"Wah, kayaknya Arsya pacaran sama Celine."


"Arsya kasar banget sih sama pacarnya, masa ditinggal gitu aja."


Berbagai bisik para siswa yang tengah memenuhi kantin mulai terdengar, dan gosip tentang hubungan antara Arsya dan Celine pun menyebar dengan begitu cepat di seluruh sekolah.


Celine menahan senyumnya ketika mendengar bisik-bisik para siswa yang mengasihani dirinya dan mengira jika dia dan Arsya berpacaran.


Arsya sendiri tampan acuh. Dia biarkan kericuhan di kantin yang dibuat oleh Celine. Tak penting menanggapi wanita tidak tahu malu seperti Celine.


...🦅...


Sementara itu, di kantin yang sama, tetapi meja yang berbeda, tampak Isha dan Rumi yang tengah menikmati seporsi siomay dan es teh sebagai pendampingnya. Mereka tampak menikmati drama yang ada di depannya.


"Ck! Nasib jadi cowok sok cool ya begitu. Dideketinnya sama cewek pik me," desah Isha sambil meringis pelan. Dia jelas mendengar gosip yang terus menyebar luas dari mulut ke mulut di sekitarnya.


"Jadi mereka udah pacaran? Yah, vitamin gue sekarang udah ada yang punya."


Isha menoleh cepat, melihat wajah sang sahabat yang terlihat memelas, seolah sedang putus cinta. Dia memutar bola matanya, jengah, melihat minat Rumi pada cowok-cowok yang menurutnya ganteng. Itu termasuk Arsya.


"Mereka gak mungkin pacaran," jawab Isha. Dia menumpukan salah satu siku di meja. Telapak tangannya dia letakan di pipi, semntara satu tangannya lagi memegang sedotan es teh miliknya.


"Dari mana lo bisa tahu kalau mereka belum pacaran? Jelas-jelas tadi kita liat sendiri, gimana Arsya dan Celine saling bertatapan gitu." Rumi tidak percaya.


"Itu sih cuman rencana si Celine aja. Lo kayak gak tau sifat Celine aja," desah Isha, tidak lagi harus gimana cara menghadapi sikap Rumi. Kalau bukan sahabat, sudah pasti dia akan meninggalkannya.


"Iya, juga sih, hehehe." Rumi akhirnya mengangguk, mengiyakan ucapan Isha.


"Berarti dia masih bisa jadi vitamin gue dong, hihihi," sambung Rumi lagi sambil tersenyum kesenangan.


Isha tak lagi mau menanggapi, dia biarkan sahabatnya mengagumi sang kakak. Setidaknya dia merasa tenang, karena orang yang dikagumi Rumi adalah Arsya. Cowok yang dia tahu pasti tidak akan menyakiti Rumi, walau dia juga tidak menjamin kalau Arsya akan balik menyukai Rumi.


"Cukup jadiin vitamin aja, gak usah ngarep yang lain," tegur Isha, tak mau sahabatnya sakit hati. Dia tidak akan bisa memilih di antara Rumi dan Arsya jika sampai salah satu diantara keduanya merasa sakit hati.


"Iya, gue tau diri kok, Sha. Tenang aja," angguk Rumi, yang langsung melanjutkan menghabiskan siomay pesanannya.


...🦅...


Arsya baru saja masuk ke toilet ketika melihat Dikta --teman sebangkunya-- sedang dipukuli oleh Rico dan teman-temannya. Dikta sudah terpojok di sisi tembok dengan baju berantakan.


"Ngapain lo pada?!"

__ADS_1


__ADS_2