
...Happy Reading...
...🦅...
Sore menjelang, saat ini Agra dan Alisya sudah berada di dalam kamar mereka, setelah seharian ini keduanya dibuat sibuk oleh para tamu undangan dan acara pesta pernikahannya.
Kamar hotel dengan tipe president suite itu, telah berubah sepenuhnya dari tadi pagi. Alisya bahkan sempat tak percaya kalau kamar itu adalah tempatnya menginap semalam.
Desain romantis dengan banyak taburan kelopak bunga, juga lilin aroma terapi yang memberikan efek menenangkan, membuat kamar terasa semakin nyaman.
Entah sejak kapan mereka merubah tampilan kamar itu, karena saat ia tinggal tadi pagi, kamarnya masih sama.
“Apa kamu suka, sayang?” bisik Agra, tepat di telinga Alisya.
Saat ini Alisya tengah berdiri menikmati suasana kamar, dengan Agra memeluknya dari belakang.
“Suka,” jawabnya, singkat. Menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya, Alisya memilih menutup matanya, menikmati aroma yang sangat menenangkan.
Agra mengecup puncak kepala istrinya berulang, ia ikut menikmati kebersamaannya dengan Alisya, setelah beberapa hari ini harus tersiksa karena tak bisa bertemu.
“Terima kasih,” gumam Alisya.
Agra menundukkan kepalanya, melihat wajah cantik istrinya yang masih setia memejamkan matanya. Tersenyum misterius, saat pikirannya menemukan sesuatu untuk menggoda Alisya.
“Untuk?” tanyanya.
“Untuk semua ini, Kakak sudah mau menerima aku, walaupun keadaannya sudah tidak sama seperti dulu,” ucap sendu Alisya. Ia menegakkan kembali tubuhnya, berbalik untuk melihat wajah lelaki yang telah menjadi suaminya.
Agra tersenyum, kedua tangannya menangkup wajah mungil Alisya. “Aku mencintaimu, masa lalumu, sekarang dan masa depanmu.”
Manik Alisya tampak berkaca-kaca, ia tidak pernah menyangka kalau dirinya bisa bertemu kembali, dengan anak lelaki yang sangat ia rindukan di waktu kecil. Bahkan sekarang dirinya sudah menjadi istri dari lelaki di hadapannya.
Tatapan mereka bertemu, Alisya bisa merasakan kasih sayang dan cinta yang begitu besar, terancam dari manik hitam milik Agra. Mereka mulai terhanyut oleh perasaan yang begitu menggebu, hingga tanpa sadar bibir keduanya telah menyatu.
Alisya menutup matanya, saat ia dapat merasakan betapa lembutnya Agra memperlakukannya. Satu tangan Agra beralih menuju tengkuk, Alisya agar dia bisa memperdalam pagutan di antara mereka. Menjelajah masuk ke dalam rongga mulutnya. Sedangkan satu tangan lagi, ia lingkaran di pinggang istrinya.
Alisya meremas jas yang masih melekat di tubuh suaminya, ketika ia mulai terhanyut oleh, permainan Agra.
Tubuh Alisya melemas, saat mendapatkan sensasi yang baru saja ia rasakan. Selama ini Agra tidak pernah melewati batasan, hingga ini adalah pertama kalinya mereka melakukan itu.
Napas keduanya sudah memburu, menandakan hasrat yang mulai naik, Agra baru saja melepaskan pagutan mereka setelah ia merasakan Alisya hampir kehabisan napas.
“Manis,” bisik Agra, di telinga Alisya. Hingga menimbulkan semburat merah di wajah Alisya.
“A–aku mau mandi dulu.”
Agra tersenyum, mendengar suara Alisya yang bergetar menahan gugup.
“Baiklah, aku juga sudah sangat tidak nyaman.” Agra mundur satu langkah untuk memberi jarak antara mereka.
Alisya menatap Agra sekilas, sebelum berjalan menuju meja rias, untuk membersihkan make up dan membuka hiasan rambutnya.
Agra melepaskan jas dan rompi yang melekat di tubuhnya, membuka tiga kancing di urutan paling atas, hingga memperlihatkan bulu halus di sekitar dadanya.
“Mau aku bantu?” tanya Agra, setelah dia berada di belakang Alisya. Kedua tangannya ia taruh di sisi meja rias, hingga posisi Agra saat ini, seperti sedang mengungkung gadis itu.
“Ti–tidak usah, a–aku bisa sendiri. Lebih baik Kakak mandi saja lebih dulu, sepertinya ini akan memakan waktu cukup lama,” ujar Alisya. Sekuat tenaga ia menahan rasa gugup saat melihat dada bidang Agra, dari cermin di depannya. Ditambah posisi mereka yang lumayan intim.
“Oke,” jawabnya, memberikan kecupan di kening Alisya sekilas, sebelum berlalu menuju kamar mandi.
Alisya menghembuskan napasnya, saat melihat pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. “Astaga, kenapa jantungku selalu saja tak dapat dikondisikan saat dekat dengannya?” ucap Alisya dengan tangan ia letakan di dadanya.
Wajahnya kembali merona, saat bayangan pagutan bibir yang batu saja terjadi. Rasanya bekas bibir Agra masih terasa sampai sekarang.
Ceklek
__ADS_1
Suara pintu kamar mandi terbuka, mengalihkan perhatian Alisya, ia menghentikan aktivitasnya untuk menoleh pada Agra.
Namun, ia kembali memalingkan wajahnya saat melihat Agra hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya saja.
“Cepatlah mandi, aku sudah menyiapkan air untukmu, sayang,” ucap Agra, sambil berjalan menghampirinya.
‘Tenang Alisya, dia adalah suamimu,’ gumamnya dalam hati, saat ia merasakan jantungnya kembali bertalu.
“Jangan lama, aku tunggu,” bisik Agra di telinga Alisya.
Tubuh gadis itu meremang, saat merasakan hembusan napas Agra menyentuh telinganya, apa lagi dengan wangi segar yang menguar begitu tajam memenuhi penciumannya.
Glek
Alisya menelan salivanya susah payah, melihat seringai di wajah Agra, yang terasa begitu mengerikan.
“Astaga, lama-lama aku rasa akan memiliki penyakit jantung bila terus berada di dekatnya,” gumam Alisya, saat dirinya sudah berada di dalam kamar mandi.
Bersandar di balik pintu, berusaha mengatur napas yang memburu, akibat gugup yang terlalu berlebihan.
Agra duduk di atas ranjang, sambil melihat laporan di ponselnya.
Ceklek
Alisya keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono, ia berjalan dengan menundukkan kepala, menghindari kontak mata dengan Agra.
Padahal saat ini Agra sedang terlalu fokus pada pekerjaan, hingga tak menyadari kedatangan Alisya. Terbiasa bekerja dan hidup sendiri, membuatnya tak terlalu memedulikan sekitarnya.
“Dia sedang apa sih, kok kayaknya sibuk banget?” gumam Alisya sambil mengambil baju yang berada di lemari, lalu kembali lagi ke kamar mandi.
“Bisa-bisanya dia tidak menyadari ada aku di sana!” gerutunya, sambil memakai pakaiannya di kamar mandi.
Grep
“Kak!” akhirnya terikan itu keluar juga saat Agra menggendongnya ala bridal style.
“Kenapa, hem?” tanya Agra, ia mendudukan Alisya di pangkuannya.
Alisya menggelengkan kepala, menunduk dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Posisi seperti itu membuatnya risih dan nyaman, hingga ia terus berusaha melepaskan diri, hanya saja tangan Agra yang melingkar di pinggangnya terlalu kuat.
“Diamlah, atau aku tidak akan bisa menahan diri,” desis Agra, saat merasakan bagian bawahnya yang mulai sesak, karena secara tidak langsung, Alisya sudah memberikan rangsangan pada sesuatu di bawahnya.
“Aku mempunyai sesuatu untukmu, bukalah,” ucap Agra, sambil memberikan sebuah map.
Alisya mengerutkan keningnya. “Apa ini, Kak?” tanya Alisya. Ia belum pernah melihat map itu sebelumnya.
“Buka saja, nanti juga kamu tahu,” ucap Agra, ia menaruh wajahnya di ceruk leher Alisya, menikmati wangi tubuh istrinya yang sangat ia sukai.
Alisya menggeliat menahan geli, karena aktivitas yang Agra lakukan. “Kak, geli,” gumamnya.
“Jangan harapkan aku, buka saja mapnya,” ucap Agra, dengan mata terpejam.
Alisya pun membiarkan Agra dengan kemauannya, perlahan ia membuka map tersebut. Matanya melebar saat ia membaca setiap baris kata yang tertera di sana.
“Kak, ini–?” Alisya bahkan tidak sanggup meneruskan pertanyaannya.
“Itu adalah bukti kepemilikan saham Prananta Jewelry yang sudah beralih nama menjadi namamu,” jelas Agra, ia menatap wajah bahagia istrinya.
“Anggap saja ini adalah kado pernikahan dariku untukmu,” sambungnya lagi.
Alisya menutup mulutnya, ia benar-benar tidak percaya dengan semua ini. Perusahaan yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dan telah disampaikan pamannya itu, bisa kembali lagi padanya.
“Terima kasih, Kak!” Alisya menghibur ke dalam pelukan Agra, ia sangat bahagia, dengan kado pernikahan dari suaminya.
“Tapi, itu tidak gratis, sayang,” ucap Agra, dengan seringai tipis di wajahnya.
__ADS_1
Alisya mengerutkan keningnya, saat mendengar perkataan Agra, ia langsung mengurai pelukannya, menatap suaminya penuh tanda tanya.
“Kamu harus membayar semua itu, dengan menjadi istriku, seutuhnya dan berjanji tidak akan pernah meninggalkanku,” ucap Agra.
Alisya tersenyum kembali, menganggukkan kepala tanpa ragu, tentu saja ia akan dengan suka rela untuk menyerahkan hidupnya pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu.
Agra membelai wajah Alisya, mengambil kembali map di tangannya, lalu menaruh di atas nakas.
“Aku menginginkanmu,” bisiknya, sebelum menyatukan kembali bibir keduanya.
Alisya mengalungkan kedua tangannya di leher Agra, saat lelaki itu mulai memberikan lum atan yang memabukkan.
Perlahan ia membuka mulutnya, memberikan akses untuk Agra memperdalam pagutannya.
Tangan Agra sudah masuk ke dalam baju tidur istrinya, membelai lembut punggung yang terasa sangat halus, hingga ia terhenti sebuah benda.
Tak
Mengerinyai, saat ia berhasil melepaskan benda itu. Alisya menggeliat merasakan sensasi luar biasa dalam tubuhnya.
Agra beralih ke area depan, ia berhenti di dua aset berharga milik istrinya, sedikit bermain-main di sana.
“Kak,” lirih Alisya, dengan napas yang memburu. Saat Agra mengakhiri pangutan mereka.
Agra menatap mata sayu istrinya, hasrat keduanya sudah naik dan sama-sama ingin segera mendapatkan kenikmatan.
Cup
“Aku mencintaimu,” ucap Agra, setelah memberikan kecupan di kening Alisya.
Perlahan ia merebahkan tubuh mungil istrinya di atas ranjang, hingga beberapa saat kemudian, ruangan itu sudah terasa panas oleh suara desa han yang saling bersahutan.
“Terima kasih, sayang. I love you,” ucap Agra, setelah mengakhiri permainan pertamanya.
Eh jangan di bayangin, apa lagi buat para jomblo😁 nanti jadi mau ikutan lagi🤭🤭✌
Misi-misi numpang promo, ada karya keren dari teman literasi aku. Ceritanya bagus banget loh, jangan lupa mampir ya😊
Judul: MALENA
Author: Khodijah Rahman
Blurb
"Pergi! Jangan sentuh aku! Pergi!
Malena, gadis yang mengalami trauma psikis akibat diperkosa saat usianya beru 10 tahun. Dia bagaikan mayat hidup selama hampir 3 tahun setelah kejadian itu. Hanya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya jika dia melihat orang asing terutama laki-laki.
Orang tua Malena berjuang sekuat tenaga untuk kesembuhan putrinya, hingga memutuskan pindah dari Napoli ke Firenze.
Akankah Malena sembuh total dari traumanya? Akankah Malena bertemu dengan laki-laki yang mampu menghilangkan traumanya?
...🦅...
...🦅...
...TBC...
__ADS_1