
...Happy Reading ...
...🦅...
Di tempat lain, tepatnya di apartemen milik Agra.
Alisya duduk termenung, tangannya memegang remot televisi yang terus ia tekan, berharap ada satu acara yang menarik.
Namun, ternyata semua itu tak mengurangi rasa bosan yang ia rasakan saat ini.
Semua pekerjaan rumah sudah selesai ia kerjakan, dan sekarang dirinya bingung harus mengerjakan apa lagi.
Beralih posisi menjadi berbaring di atas sofa, mengambil pas bunga pajangan di atas meja, menatapnya sekilas, lalu menaruhnya lagi.
Fyuh ....
Helaan napas bosan, terdengar cukup berat.
"Baru sehari aku terkurung di sini, tapi sudah terasa seperti bertahun-tahun," gumam kesal Alisya.
"Aaaa ... bagaimana ini, aku bosaaaan!!!" teriak wanita itu lagi.
Beralih berdiri, dan berjalan mondar-mandir, seperti setrika yang sedang bekerja.
"Kalau aku keluar sebentar, pasti gak bakal ketahuan 'kan? Yang penting aku kembali sebelum dia pulang," gumam Alisya dengan senyum samar penuh rencana.
Berjalan cepat menuju kamarnya, untuk bersiap-siap.
Dirinya berencana untuk berjalan-jalan di area taman apartemen mewah itu.
Beberapa saat kemudian Alisya sudah keluar dengan gaun panjang di bawah lutut, berwarna coklat susu.
Berjalan dengan begitu riang, membayangkan betapa indahnya suasana taman bunga di hari yang sudah menjelang sore.
Cklek...
Alisya mematung di depan pintu, saat melihat Agra sudah berdiri di tegap di hadapannya.
"Mau kemana, Kamu?" tanya Agra, mengangkat dagunya.
"A-aku, aku gak mau ke mana-mana, aku sedang membersihkan pintu, tadi," alasan Alisya, dengan berpura-pura sedang mengelap pintu menggunakan tangannya.
"Kamu tidak pandai berbohong," desis Agra menatap tajam, gadis di hadapannya.
"Ti-tidak, aku tidak berbohong!" ucap Alisya, mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Aku tak menerima seorang pembohong, bila kamu mau keluar dari sini, pergilah!" ucap Agra, berjalan masuk tanpa melihat Alisya.
"Eh, bu-bukan begitu, Tuan!" Alisya langsung berbalik, dan mengejar langkah lebar Agra.
"Tuan, tolong maafkan aku. Aku hanya bosan di rumah, jadi aku berniat hanya mau ke bawah untuk melihat taman sebentar saja," jelas Alisya, dengan nada panik.
Dia tak tau harus pergi ke mana, jika di usir dari apartemen mewah itu.
Kalau mereka pergi pada teman-temannya, pasti dengan mudah sang paman akan menemukan dirinya.
"Kalau kamu merasa bosan, maka, pergilah, aku tak akan melarangmu. Aku gak menerima orang yang tidak bisa mematuhi isi perjanjian," ucap acuh Agra, melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju kamar pribadinya.
"Tidak, Tuan! Aku tidak akan pergi dari sini!" teriak Alisya.
'Astaga, kenapa di kaku sekali!' umpat Alisya dalam hati, mentap punggung tegap lelaki es itu, yang semakin menjauh.
Berjalan gontai menuju ke kamarnya kembali.
Menjatuhkan tubuhnya pada tempat tidur, dengan helaan napas kasar.
Kalau saja dirinya saat ini, tidak sedang membutuhkan perlindungan dari orang sedingin es itu, untuk melawan orang yang akan menikahinya, dia tidak mau berurusan dengan lelaki seperti itu.
__ADS_1
Di lain tempat Agra masuk ke dalam kamarnya, dengan wajah yang tanpa ekspresi, namun bila di perhatikan matanya memancarkan rasa kesal yang teramat sangat.
"Merepotkan!" umpatnya, membuka jas yang dibpakai dengan kasar, lalu membuang ya ke sembarang arah, dengan dengusan napas yang sangat kasar.
Menjatuhkan tubuhnya pada sofa berukuran besar di dalam kamaranya, memandang lurus denngan tatapan tajam, setajam elang.
Pikirannya tertarik pada saat dirinya di jalanan, sewaktu kembali dari kantor polisi.
Flash back...
Agra sedang mengendarai mobilnya menuju ke kantor kembali, saat ia melihat seorang wanita paruh baya sedang di hadang oleh beberapa orang preman di pinggir jalan.
"Mamah," gumamnya.
Menepikan mobil tepat di depan keributan itu.
"Apa saja kerja mereka, menjaga seorang wanita saja tidak bisa!" umpat Agra sebelum keluar dari mobil.
"Lepaskan!" sarkas lelaki dingin itu, dengan seringai keji dari wajah yang masih saja terlihat datar.
Bersandar di pintu mobil, dengan bersidekap, tatapan tajam tajamnya tertuju pada semua calon korbannya.
Aura permusuhan menguar tajam, membuat nyali lawannya menciut, walau belum bertarung dengannya.
Para preman yang berjumlah tiga orang itu, mengalihkan pandangannya pada kedatangan Agra.
Wanita paruh baya itu, mematung dengan tubuh gemetar.
Bukan lagi rasa takut yang ia rasakan, namun rasa rindu yang telah lama menumpuk di hatinya kini terasa lebih besar, mengalahkan rasa takut yang tadi sempat membuatnya merasa putus asa.
"Sagara," gumam bibir merah itu, tanpa terdengar suara dari sana.
Agra melihat gerakan samar, dari bibir bergetar wanita paruh baya di hadapnnya.
Hatinya sakit, melihat sang ibu, terlihat berantakan dengan wajah penuh rasa ketakutan.
"Siapa kau?!" tanya salah satu preman berbaju hitam dengan tato di wajahnya.
Agra mengangkat bahunya acuh.
Terlalu malas, menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting.
"Brengs*k!" umpat seorang preman dengan baju abu-abu tua, dan tubuh yang terlihat lebih menonjol di bandingkan dengan yang lain.
"Pengecut!" tekan Agra.
"Si*lan, serang dia!" perintah lelaki bertato di wajahnya, menarik mundur wanita paruh baya itu yang ternyata adalah Viana, untuk sedikit menjauh.
"Janga! Sagara ... pergi, Nak!" teriak histeris Viana.
Agra tak mendengar, dirinya langsung memang kuda-kuda, untuk menerima serangan dari lawannya.
Sebelah bibirnya tertarik ke atas.
Pertarungan dua lawan satu itupun terjadi.
Agra menangkap kedua tangan yang hendak memberikan pukulan padanya, lalu berbalik dan membandingkan kedua tubuh preman itu tanpa kesulitan.
Preman yang memegang Viana, tampak membolakan matanya, melihat kedua temannya terkapar hanya dengan sekali gerakan saja.
Bugh...
Bugh....
Agra menginjak perut keduanya...
uhuk...
__ADS_1
Batuk darah terserang dari kedua preman itu.
"Siapa, dia?" gumam preman bertato di wajah itu, mulai waspada.
Agra berjalan maju dengan langkah mantap, menghampiri Viana setelah memastikan kedua lawannya sudah tak dapat menyerangnya kembali.
"Si-siapa sebenarnya, kau?" tanya preman yang memegang lengan Viana, dengan hati yang sudah tidak tenang.
"Sang Leo," ucap Agra, dengan tatapan tajam menusuk pada lawannya.
"Sa-sang Le-leo," preman itu terlihat gemetar, begitupun kedua temannya yang mendengar jawaban dari Agra.
"A-ampuni kami, Sang Leo," ketiga preman itu langsung bersujud memohon ampun pada Agra.
"Pergi, atau Mati!" tekan Agra, setelah berada di depan Viana.
Tatapannya melembut, dengan pupil sedikit bergetar, namun wajahnya masih saja terlihat kelam.
Ketiga preman itu, berlari terbirit-birit menjauh dari tempat yang membuat napas mereka terasa sesak.
Rupanya saat ini mereka salah memilih lawan, dan mungkin sedang ketiban sial, hingga harus berhadapan langsung dengan ketua mafia yang terkenal kejam itu.
Sebuah mobil mewah lainnya baru saja sampai di belakang mobil milik Agra.
"Ketua," sapa salah satu anak buah, yang tadi di hubungi oleh Agra, sebelum keluar dari mobil.
Agra hanya mengangguk sebagai jawaban, namun tatapannya tak lepas dari wajah cantik yang sudah terlihat sedikit kerutan sebagai tanda bahwa wanita itu sudah bertambah tua.
Viana pun melihat lelaki yang sangat mirip dengan sang anak, dengan penuh rasa rindu, airmatanya jatuh tak bisa terbendung lagi.
"Jaga diri Anda baik-baik," ucap Agra, berusaha menormalakan suaranya.
"Ikutlah dengannya, dia akan mengantarmu, sampai ke rumah," sambungnya lagi, berbalik dan melangkah masuk ke dalam mobil sport miliknya tanpa melihat ke belakang lagi.
"Sagara..." gumam Viana, menatap punggung tegap sang putra dengan wajah penuh penyesalan dan kerinduan.
"Mari, Nyonya," anak buah yang tak lain adalah Max, mengulurkan tangannya mengarahkan Viana menuju mobil.
Viana mengangguk lemah, lalu melangkah masuk ke dalam mobil, yang sudah di bukakan pintunya oleh Max.
Dalam mobil berbeda, Agra meremas kuat setir mobil, melampiaskan semua emosi yang ada di dalam dirinya.
Rasa rindu yang harus ia tutupi dengan rapat, sebelum pembalasan kepada orang yang memfitnah dan selalu merendahkannya itu berhasil.
Dering ponsel mengalihkan perhatiannya.
Memasang earphone di telinga, sebelum mengangkat teleponnya.
"Hm," gumamnya.
Si penelpon yang merupakan salah satu anak buahnya, yang di tugaskan untuk mengawasi gadis itu, lewat CCTV, melaporkan sesuatu.
"Ketua, sepertinya gadis itu akan pergi dari rumah," suara dari sebrang telepon.
"Pantau terus, jangan sampai dia lolos," perintahnya, sebelum mematikan sambungan teleponnya.
Memutar balik arah tujuannya kembali ke apartemen.
Flash back off..
...🦅...
...🦅...
...TBC...
Terima kasih yang masih setia menunggu kelanjutancerita receh aku...
__ADS_1
...🙏🥰🥰🥰...