Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna

Mafia Story Kembalinya Anak Tak Berguna
Eps.68 Makan Malam.


__ADS_3

 


...Happy Reading...


...🦅...


Setelah menempuh waktu yang lumayan panjang, karena sempat terjebak macet di beberapa tempat, akhirnya Livia menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk, sebuah hotel bintang lima.


“Kamu gak salah tempat, Li?” tanya Alisya.


“Tidak, Nona,” jawab Alisya, menoleh sedikit melihat ke arah belakang.


Pintu penumpang sudah di buka oleh salah satu pegawai hotel yang menyambut kedatangan Alisya.


“Silakan, Nona. Anda sudah ditunggu oleh Tuan Agra,” ucapnya, membungkuk hormat, setelah lebih dulu mengucapkan selamat datang.


Alisya melirik sekilas ke arah Livia, ia masih merasa sedikit ragu di hatinya.


“Aku hanya bertugas mengantar Anda sampai di sini, Nona. Tenang saja, ada Edo yang akan mengawal Anda selanjutnya,” ucapnya, saat melihat Edo yang berjalan menghampiri mobil mereka.


Alisya melihat ke arah samping, saat mendengar ucapan dari asisten pribadinya itu, dia pun bisa bernapas lega, ketika matanya melihat kedatangan Edo.


“Mari, Nona Alisya. Saya akan mengantar Anda kepada Tuan Agra,” ucap Edo, mengulurkan tangannya untuk membantu Alisya turun dari dalam mobil.


Alisya tersenyum samar kepada Edo yang sedang membungkuk bersiap menerima uluran tangannya, kemudian matanya beralih melihat Livia dari spion.


“Terima kasih, Livia,” ucap Alisya.


“Sudah tugas saya, Nona.”


Setelah mendengar jawaban asisten sekaligus bodyguardnya itu, Alisya menyambut tangan Edo, lalu keluar dari mobil. Alisya langsung melepaskan tangannya dari Edo, setelah ia bisa berdiri tegak kembali.


“Terima kasih, Ed.” Edo mengangguk samar, sebagai jawaban.


“Mari.” Edo mengulurkan tangannya ke arah depan, agar Alisya melangkah terlebih dahulu.


Alisya mulai melangkahkan kakinya, menyusuri karpet merah menuju ke dalam hotel. Edo mengarahkannya untuk masuk ke dalam private lift yang akan membawanya menuju lantai terbatas gedung.


Sedangkan Livia, dia langsung menjalankan mobilnya setelah melihat Alisya memasuki hotel. Malam ini dia sudah meminta izin untuk ke luar dan kembali menjalankan rencananya.


Ting


Pintu lift terbuka, setelah mereka sampai di rooftop hotel bintang lima tersebut.


Alisya langsung dapat melihat pemandangan yang begitu romantis di luar sana. Suasana temaram dengan berhias lilin dan juga lampu-lampu yang sudah di tata sedemikian rupa, langsung memanjakan mata dan juga hatinya.


“Saya hanya bertugas mengantarkan Anda sampai di sini, selamat malam, Nona Alisya,” ucap Edo.


Alisya mengalihkan pandangannya, saat mereka sudah berada di depan lift, dia tak melihat siapa pun di sini, lalu Edo juga akan meninggalkannya.


“Tapi, Ed. Di sini tidak ada siap-siapa,” ucap Alisya, sedikit menahan asisten pribadi suaminya itu.


“Sebentar lagi Tuan Agra akan menemui, Nona,” jelas Edo.

__ADS_1


Alisya mengedarkan matanya, mencari keberadaan sang suami, perlahan dia pun mengangguk, walau dalam hati masih tersimpan rasa takut, mengingat kalau ini tempat yang begitu asing untuknya.


Edo membungkukkan tubuhnya sekilas pada Alisya, sebelum kembali masuk ke dalam lift.


Perlahan, kakinya melangkah menuju tempat yang terlihat begitu indah, di sana ada satu meja berbentuk persegi dengan dua kursi di sisi kanan dan kirinya.


Di atasnya ada sepasang peralatan makan yang sudah tertata rapi, walau belum ada makanan ataupun minuman di dalamnya.


Ujung jarinya ia sentuhan pada sisi meja, menyeretnya sebentar sambil berjalan ke samping, senyum di wajahnya pun tampak tak pernah pudar.


Alisya bertambah takjub, saat dirinya bisa melihat pemandangan indah seluruh kota, ketika malam hari, dari tempatnya berdiri sekarang. Kerlap-kerlip lampu terlihat begitu cantik, memanjakan mata yang melihatnya.


Angin malam yang terasa dingin, menerpa tubuhnya, hingga rambut yang terurai hampir semuanya ke salah satu sisi lehernya, tampak melayang menggelitik kulit di sekitar wajahnya.


Alisya memeluk tubuhnya, saat udara dingin terasa makin menusuk tulang, ia menggosok telapak tangannya ke bahu yang tampak sedikit terbuka.


Tubuhnya menegang ketika ia merasakan sebuah tangan kokoh melingkar memeluk posesif perutnya, sampai udara dingin pun perlahan menghilang, berganti dengan hangat tubuh seseorang yang menempel begitu lekat di belakangnya.


Hembusan napas hangat terasa di pipi, saat orang itu menaruh dagunya di atas bahu yang tak tertutup. Alisya menutup mata, menikmati harum aroma tubuh yang begitu dikenal, tangannya menangkup jari-jari yang berkait di perutnya.


“Selamat malam, sayang,” bisik Agra tepat di depan telinga istrinya, ia bahkan sempat menggigit kecil di sana.


“Malam,” gumamnya.


Alisya menyandarkan kepalanya pada bahu bagian depan sang suami, dengan mata yang masih terpejam. Menikmati irama detak jantung yang selalu terasa berlebih saat berada di dekat suaminya.


Agra melepas pelukannya, saat Alisya memutar tubuh menghadap padanya.


Alisya mengangguk. “Terima kasih,” gumam Alisya.


“Kita makan sekarang, sebelum aku tak kuat untuk memakanmu nanti,” ucap Agra, matanya mengerling mesum pada Alisya.


Wanita itu langsung bersemu merah, mendengar perkataan Agra yang terlalu frontal.


Agra merangkul pinggang istrinya, lalu membawanya menuju ke arah meja. Alisya tampak terkejut melihat di atas meja itu sudah tersaji makanan dan minuman lengkap.


“Kapan ini ada di sini?” tanya Alisya.


Agra menarik kursi untuk istrinya, tersenyum samar saat mendengar pertanyaan yang terdengar konyol.


“Baru saja, sayang. Sewaktu aku memelukmu,” jawab santai Agra, sambil duduk di depan Alisya.


“Benarkah, kenapa aku tidak tahu?” tanya Alisya lagi.


Agra mulai memotong daging steak di piringnya. Sedangkan Alisya lebih memilih untuk menikmati makanan pembuka.


“Mungkin kamu terlalu menikmati pelukanku,” jawab Agra, begitu percaya diri.


Alisya mencebik kesal, walau dalam hati ia membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya.


“Ini, aku sudah potongkan dagingnya untukmu, sayang. Kau harus makan banyak, agar kuat menghadapiku nanti.” Agra menukar piring steaknya, setelah melihat Alisya sudah menyelesaikan makanan pembuka.


Alisya tak menanggapi perkataan suaminya, dia terlalu malu untuk membicarakan masalah itu di tempat terbuka seperti ini, walaupun sebenarnya, tidak ada orang di sekitar mereka saat ini.

__ADS_1


Pikiran Alisya tiba-tiba tertuju pada permintaan sahabatnya tadi sore, ia menatap Agra yang sedang menikmati makan malam, dengan pandangan mata tak lepas darinya.


“Ada apa, sayang? Apa kamu baru menyadari kalau suamimu ini tampan, hem?” tanya Agra, mengerling jail pada Alisya.


“Idih, geer banget sih, Kak!” cebik Alisya, walau dalam hati dia tak memungkiri semua yang di katakan oleh suaminya.


Agra memang selalu terlihat tampan dan memesona di mana pun dan kapan pun dia berada. Bahkan dirinya tak luput dari pesona sang suami itu, padahal sekarang mereka sudah menikah.


“Emh, Kak. Aku mau bicara sesuatu, tapi jangan marah ya?” ragu Alisya, sambil menundukkan kepalanya. Dia bahkan menyimpan peralatan makannya, sebelum semuanya habis.


Agra mengulum senyum, melihat istrinya yang tampak gugup. Sebenarnya ia tahu apa yang akan dikatakan oleh Alisya.


“Ada apa, sayang? Bukannya saat ini kita juga sedang bicara?” Agra ikut menaruh alat makannya, lalu beralih menatap Alisya.


Alisya semakin bertambah gugup, saat melihat Agra menatapnya begitu intens.


“Akhir minggu ini, apa aku boleh pergi bersama sahabatku?” lirih Alisya, kepalanya tertunduk dalam, tak berani menatap wajah suaminya, bahkan matanya menutup rapat, bersiap menerima kemarahan Agra.


“Jadi, kamu hanya ingin mengatakan itu? Kenapa harus takut, hem? Angkat kepalamu, sayang,” ucap Agra lembut, tangannya meraih lengan Alisya yang terasa lembap oleh keringat, memeluk wanitanya dari belakang dan mengajaknya berdiri, lalu menghadap padanya.


Alisya membuka matanya, dan melihat wajah suaminya, yang sedang tersenyum hangat kepadanya.


“Kakak, gak marah?” tanya Alisya linglung.


“Untuk apa aku marah, hem? Bukankah kamu juga butuh hiburan bersama teman-temanmu?” Agra mengusap lembut pipi istrinya.


“Aku tidak akan melarangmu, asal kamu mau ikut semua peraturan yang aku tetapkan, juga tak lepas dari pengawasan Livia.”


Alisya mengembangkan senyumnya, mendengar perkataan Agra. Sebelumnya ia mengira tidak akan mendapat izin dari suaminya, mengingat selama ini dia tak bisa bertindak seenaknya. Setelah menikah, Agra sudah mengatur hampir semua kegiatannya tentu dengan berbagai aturan dan penjagaan ketat.


“Berapa hari?” tanya Agra.


“Besok sore kami berangkat, dan pulang hari minggu siang,” jawab Alisya.


Agra mengangguk, dengan menyunggingkan sebelah bibirnya. “Berarti malam ini kamu harus memberiku bekal untuk dua malam ke depan, di tambah malam sebelumnya juga,” ucapnya kemudian.


Alisya menautkan alisnya. Dia bahkan masih mencerna perkataan Agra, saat lelaki itu sudah mengangkat tubuhnya dan menyatukan bibir mereka.


Membawanya ke sebuah kamar berukuran besar, untuk menghabiskan malam mereka di sana.


Masih promo dari sahabat literasi aku ya, yang pasti keren dan bagus ceritanya. Jangan lupa mampir ya dan berikan dukungannya😊


Judul: Hei Gadis Berkacamata


Autho: Putri Nilam Sari


Blurb:


Perjalanan Eisha si gadis berkacamata dalam merubah penampilan dan menggapai impiannya dibantu Adnan seorang pria misterius dan bersikap dingin serta bermasalah di lingkungan nya.


Namun benih cinta yang tumbuh diantara mereka belum sempat mekar karena kesalahpahaman dan kejadian tak terduga.


Hingga Pertemuan tak disangka kembali memulai kisah yang belum usai, namun bagaimana dengan takdir yang memberikan kejutan bagi mereka, akankah kisah mereka berakhir bahagia??

__ADS_1


__ADS_2