
Beberapa saat kemudian, orang yang akan memberikan perawatan untuk Alisya, telah datang ke apartemen.
Sekitar lima orang perempuan dengan keahlian berbeda di dalam dunia kecantikan, telah siap untuk mengubah seorang Alisya, agar terlihat lebih cantik lagi.
Hari ini, gadis yang bahkan tidak pernah ke salon kecuali untuk memotong rambut itu, diperlakukan bagai seorang ratu.
Perawatan mulai dari ujung kaki hingga unjung rambut ia terima, tanpa harus keluar dari apartemen itu.
Karena tidak terbiasa, Alisya merasa tidak nyaman dengan semua itu. Tetapi, apa yang di katakan oleh Edo, membuatnya terpaksa untuk mengikuti semua yang para petugas itu lakukan.
"Ikuti saja apa yang mereka perintahkan, ini semua agar Nona, terlihat cocok bersanding dengan Tuan di pesta nanti."
Ya, Alisya sadar kalau dirinya cukup jauh berbeda dengan Agra.
Kulitnya yang tidak terlalu terawat membuatnya terlihat kusam, walau semua itu tak menutupi kecantikan alami yang terpancar dari dalam dirinya.
Maka dari itu, Alisya mau untuk menerima segala perlakuan aneh dari mereka semua.
Berbagai drama terjadi di dalam apartemen Agra hari ini.
Mulai dari Alisya yang belum terbiasa dengan semua jenis perawatan hingga membuatnya takut dan sempat menolak, hingga drama ketiduran sewaktu di lulur.
Di lain tempat, tepatnya di kantor, Agra tampak sibuk di belakang meja kerjanya.
Dia mengatur semua persiapan untuk nanti malam, berkoordinasi dengan para anak buah yang bertugas di lapangan saat ini.
Semua anggota Black Eagle nampak sibuk, dengan pekerjaannya masing-masing.
Ada yang bertugas untuk mengawasi pergerakan musuh hingga menyusup ke rumahnya, ada juga yang bertugas untuk menjalankan rencana di tempat pesta berlangsung.
Max adalah salah satu dari mereka, lelaki yang sudah menginjak umur empat puluh tahun itu, bertugas untuk mengawasi berjalannya persiapan acara nanti malam.
"Max, bagaimana di sana?" Terdengar suara Agra dari Aerpods yang terpasang di telinganya.
"Siap, Tuan. Disini aman," jawab Max dengan suara sedikit berbisik.
"Bekerja dengan senyap, jangan sampai ada yang curiga dengan kalian semua."
Agra langsung menutup sambungan teleponnya.
Pukul tujuh malam Agra baru saja sampai di apartemen miliknya.
"Bagaimana dia?" tanya Agra pada Edo yang menyambutnya di pintu masuk.
"Sepertinya sebentar lagi selesai, Tuan," jawab Edo.
"Baiklah, aku ke atas dulu. Pastikan dia sudah siap bila aku turun."
"Baik, Tuan."
Agra berjalan menuju kamarnya di lantai dua, sedangkan Edo menuju kamar Alisya untuk melihat persiapan gadis itu.
Tiga pukul menit kemudian Agra keluar dari kamarnya dengan pakaian formal, yang di pesan khusus dari perancang internasional.
"Di mana dia?" tanya Agara saat Edo menghampirinya.
"Bawa dia keluar!" seru Edo pada seorang perempuan yang berdiri di depan kamar Alisya.
Agra berbalik ketika suara pintu di buka.
__ADS_1
Tak ....
Tak ....
Tak ....
Suara sepatu high heels menyita perhatian kedua pria yang berada di sana.
Deg ....
Agra melebarkan matanya saat melihat perubahan penampilan Alisya yang sangat menakjubkan.
'Cantik,' gumamnya dalam hati.
*Gambar hanya pemanis*
Kulit yang tampak begitu bersinar dengan cahaya lampu yang menyinarinya, gaun yang terlihat sangat cocok dan pas untuk tubuhnya.
Riasan yang sangat apik menambah cantik dan sempurna penampilannya malam ini.
"Bagaiman, Tuan?" tanya salah satu wanita yang di yakini adalah atasan mereka.
"Hem," angguk Agra.
"Kalian boleh pergi," ucap Agra dingin.
"Baik, Tuan." semua wanita itu membungkuk hormat pada Agra sebelum keluar dari apartemen.
"Angkat kepalamu, aku tidak suka dengan orang yang menundukan kepalanya," ucap Agra sambil berjalan menghampiri Alisya.
Agra mengulurkan tangannya di hadapan Alisya.
"Ayo, kita berangkat sekarang," ucap Agra sedikit menggoyangkan tangannya, sebagai tanda meminta Alisya menyambut uluran tangannya.
Gadis itu mengangguk lalu dengan ragu, ia menyambut tangan Agra.
Keduanya berjalan dengan menuatkan tangan, layaknya seorang kekasih.
Edo berjalan dengan tegak dan penuh waspada di belakang keduanya.
"Sebenarnya acara apa yang akan kita datangi sekarang?" tanya Alisya.
Dia sudah tidak tahan, sejak tadi hanya bisa bertanya-tanya dalam hati saja.
"Masuklah," Agra membukakan pintu mobil untuk Alisya.
Alisya melihat Agra dengan tatapan terkejutnya.
Agra mengangguk meyakinkan.
"Lalu?" tanya Alisya lagi, setelah mereka berdua berada di dalam mobil.
"Pesta ulang tahun pernikahan seorang kolega bisnis." jawab Agra, dengan pandangan lurus ke depan.
Edo duduk di samping supir, sedangkan di belakang mobil mereka ada mobil lain yang berisi para pengawal Agra.
"Tapi kenapa aku harus ikut ke pesta itu?" tanya Alisya.
__ADS_1
"Jawabanku sama dengan jawaban Edo." ucap Agra.
Alisya mendengus malas, mendengar perkataan Agra.
"Ed, kamu sudah menjelaskan apa saja yang harus dia lakukan selama di dalam pesta, bukan?" tanya Agra.
Edo melirik sekilas ke arah ketuanya itu.
"Sudah, Tuan"
Agra melihat gadis di sampingnya dengan ujung mata, lalu menyandarkan tubuh di sandaran jok.
Duduk dengan santai, tanpa menghiraukan kekesalan gadis di sampingnya, yang sedang setengah mati menahan gugup.
Ini adalah pertama kalinya Alisya datang ke dalam pesta yang sangat besar dan di hadiri oleh orang-orang besar, seperti sekarang ini.
"Tenang saja, kau hanya perlu terus berada di dekatku, maka kau akan aman dan sampai di apartemen kembali, dengan selamat." ucap Agra, dengan ekspresi yang sangat menyebalkan.
"Aku tidak pernah datang ke pesta seperti ini, jadi wajar dong kalau aku gugup sekarang!"
"Jangan seperti orang yang tidak pernah bertemu dengan orang lain sebelumnya, anggap saja mereka sama sepertimu,"
"Sekarang kamu sedang mendampingi seorang Mr.Leonard, anak dari pengusaha sukses yang statusnya jauh lebih tinggi dari mereka semua."
Agra berkata dengan nada datar, namun semua itu sukses membuat Alisya sangat kesal hingga melupakan rasa gugupnya.
"Kamu bisa bicara seperti itu, karena sudah terbiasa bertemu dengan orang-orang seperti mereka," ucap Alisya.
Agra mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya pada Alisya.
"Tuan, kita sudah sampai."
Suara Edo, mengalihkan perdebatan dua orang yang duduk di bangku belakang.
"Percaya padaku, bersikaplah seperti biasanya ... anggap saja kita sedang menghadiri pesta salah satu temanmu," ucap Agra sebelum keluar dari dalam mobil.
Alisya memperhatikan seluruh sudut di luar gedung mewah, tempat pesta itu berlangsung.
Setiap sisi gedung tersebut, tampak di jaga ketat oleh lelaki berbadan tegap, dengan para wartawan yang berjejer rapi di tempat yang sudah di sediakan untuk mereka.
Bersiap untuk mencari setiap berita yang akan mereka dapatkan, dari acara mewah tersebut.
Jepretan kilatan cahaya, dari berbagai macam kamera yang membidik dirinya, langsung menghujani seluruh tubuhnya, saat Alisya keluar bersama dengan Agra.
Bisik-bisik dari para wartawan yang membicarakan tentang kedatangannya bersama seorang Agra pun, kini mulai terdengar riuh.
Suasana di lobby gedung yang tadinya tampak tenang kini menjadi gaduh, karena pasangan yang membuat mereka semua penasaran dan juga di penuhi rasa terkejut.
"Angkat kepadamu, dan berjalanlah dengan percaya diri!" ucap Agra di sela langkahnya, menapaki karpet merah yang terbentang di tengah ruangan itu.
Tak ada yang tak terkejut dengan kedatangannya Agra dengan menggandeng seorang wanita.
Selama ini, Agra terkenal sangat anti dengan makhluk yang bernama wanita. Tetapi, kini tiba-tiba saja, ia membuat kejutan dengan menggandeng wanita ke sebuah pesta.
...🦅...
...🦅...
...TBC...
__ADS_1
Sambil nunggu aku up lagi, boleh baca novel keren karya teman literasi aku kak Zafa yang berjudul Aku dan Masa lalu.