
...Happy Reading...
...🦅...
Siang ini, Agra dan Andrew sedang dalam perjalanan, menuju rumah orang yang berpengaruh di daerah itu.
Mobil mewah yang mereka tumpangi mulai memasuki jalan perkampungan, dengan akses masuk lumayan kecil.
“Di mana mereka menunggu, Dad?” tanya Agra, sambil tetap fokus pada jalan di depannya.
Kali ini, seperti biasa Agra masih senang menyetir sendiri, kecuali jika sedang bersama dengan Edo.
“Di depan kamu belok kanan, tidak jauh dari sana ada lapangan, di situ mereka menunggu kita,” jawab Andrew yang berada di samping Agra, tangannya menunjuk jalanan di depannya, seraya mengarahkan.
Agra mengangguk, sambil kembali berkonsentrasi menyetir di jalanan yang hanya pas untuk mobilnya saja, dia bahkan harus berhenti dan mencari jalan yang agak besar, bila berpapasan dengan pengendara motor.
Beberapa saat kemudian Agra sudah melihat letak lapangan yang dikatakan oleh Andrew.
“Nah, itu mereka,” tunjuk Andrew pada dua orang yang duduk menunggu di sebuah pos ronda.
Agra menghentikan mobilnya tepat di depan pos itu, Andrew membuka kaca mobil, setelah kedua anak buah yang akan mengantarkan mereka menghampirinya.
“Apa masih jauh?” tanya Andrew.
“Tidak, Tuan. Hanya saja Anda tidak bisa menggunakan mobil untuk sampai ke rumah Pak Rahmat,” jawab salah satu karyawan yang merupakan pemuda kampung itu. Pandangannya menunduk dalam, dia begitu takut dengan orang nomor satu dan dua di perusahaan tempatnya bekerja.
“Kenapa?” Andrew bertanya dengan kening berkerut dalam.
“Karena Anda harus melewati gang di sana,” tunjuk orang itu pada sebuah jalan kecil yang mungkin hanya masuk satu buah motor saja, tidak jauh dari tempat mereka.
Agra yang mendengarkan percakapan ayah dan juga karyawannya mengikuti arah telunjuk orang itu, menghembuskan napas kasar saat ia bisa melihat jalan yang sangat kecil itu.
“Baiklah, di mana kita harus memarkirkan mobil?” tanya Andrew.
“Di sana, Tuan. Di bawah pohon yang lumayan besar.” Kembali orang itu menunjuk sebuah tempat di bawah sebuah pohon besar, yang berada di sisi lapangan.
Agra membuka matanya begitu lebar, astaga dia yang terbiasa parkir di area khusus dengan segala keutamaannya, sekarang harus parkir di bawah pohon besar dan di pinggir lapangan pula.
Ketua Black Eagle itu menggelengkan kepala, tak percaya dengan apa yang dia lakukan saat ini. Kenapa sekarang dia seperti sedang dikerjai oleh mereka berdua.
Andrew menatap tempat yang ditunjukkan oleh salah satu karyawannya itu dengan kening berkerut dalam.
“Tidak adakah tempat parkir yang lebih layak?” tanya Andrew kemudian.
“Ma–maaf, Tuan. Di sini kebanyakan warga tidak mempunyai mobil, jadi tidak ada tempat parkir,” gugup orang itu.
Andrew menghembuskan napas kasar, menatap kedua karyawan itu begitu tajam, hingga membuat mereka menggigil ketakutan.
“Sudahlah, Dad. Ini tidak terlalu buruk,” ujar Agra. Dia tidak mau, kalau para warga yang sejak tadi memperhatikan kedatangan merek, menjadi salah paham, ketika melihat kedua orang itu, tampak pucat oleh intimidasi Andrew.
“Arahkan mobilku ke sana!” perintah Agra, sebelum menginjak pedal gas lagi.
__ADS_1
“Astaga, beginikah wajah negara kelahiranmu, Gra?” cibir Andrew.
Selama ini dia tidak pernah masuk ke dalam perkampungan padat penduduk seperti ini, dia hanya tahu perkotaan besar, dengan berbagai kemewahan dan fasilitas nomor satu.
“Ya, mungkin?” jawab Agra acuh, mengangkat kedua bahu tanpa mengalihkan pandangannya pada sang ayah.
Ia juga tak pernah datang ke kota ini sebelumnya, hanya saja di kota besar juga banyak perkampungan seperti ini, bahkan lebih parah. Itulah yang dia ingat ketika sering bertualang bersama kedua sahabatnya dulu, sewaktu masih remaja.
Setelah berhasil memarkirkan mobil, keduanya langsung turun dari mobil itu, dengan gaya elegan dan khas pemimpin kalangan atas.
Tak ada jas yang menempel, hanya sebuah jaket bermerek dengan kaos hitam polos dilengkapi celana denim hitam dan sepatu sneakers yang pasti berharga fantastis. Tak lupa kacamata hitam yang bertengger di atas hidung mancung keduanya, menghalangi terik sinar mata hari yang menyilaukan, menambah sempurna penampilan mereka siang ini.
Para warga yang sudah berkumpul, untuk melihat penampakan pemegang tahta tertinggi, di perusahaan tempat sebagian besar warga bekerja, tampak sangat antusias.
Ya, gosip tentang kedatangan Presdir dari Leopard Corp dan anaknya ke kampung itu, sudah menyebar, hingga para warga seakan menantikan kedua orang itu.
Mata para warga melebar takjub, saat melihat kedua pria berbeda usia itu keluar dari mobil mewahnya, postur tubuh sempurna, wajah yang tampan dan kulit putih bersih, dengan dibalut pakaian bermerek, membuat mulut para warga menganga lebar.
Benar-benar penampakan manusia sempurna. Inilah yang disebut, harta, rupa dan tahta. Astaga sudahkah kedua pria ini mendapat cinta. Mungkin begitulah pikiran para warga itu, saat ini.
Agra mengangguk samar, kepada para warga yang berada di sekitarnya. Jelas saja semua itu memicu terikan histeris dari mereka semua.
“Ingat Alisya, Gra,” cibir Andrew, begitu mereka berdua berdiri berdampingan.
“Aku hanya bersikap sedikit ramah, bukan mencari wanita, Dad,” bantah Agra.
“Halah, tebar pesona, berasa artis, hah?” ejek Andrew lagi.
“Ya, itu tidak salah bukan? Memang aku memesona, lalu mau bagaimana lagi?,” ujar Agra acuh.
“Bilang saja kamu iri kepadaku kan, Dad? Karena pesonamu sudah kalah dariku?” Agra menarik ujung bibirnya tipis, hingga menampilkan garis lurus.
“Enak saja kamu ini, dasar anak tak tahu diri,” desis Andrew, menatap kesal Agra.
Kedua karyawan yang melihat dan mendengar percakapan kedua anak dan ayah di depan mereka kini dibuat bengong, tidak menyangka kalau manusia yang dikenal dingin dan kejam itu, bisa bersikap santai dan bercanda satu sama lain. Walaupun candaan mereka terdengar lebih seperti pertengkaran kecil khas orang tua dan anak.
Khem!
Agra berdeham lumayan kencang untuk menyadarkan kedua karyawannya itu.
“Eh, ma–maaf, Tuan,” ucap gugup salah satu dari mereka.
Agra dan Andrew tak menjawab, mereka hanya menatap kedua orang itu dari atas sampai bawah. Membuat yang ditatap menjadi serba salah.
“Ma–mari, Tuan. Lewat sini,” ucap orang yang sejak tadi menjawab pertanyaan Andrew.
Mengangguk samar, lalu melangkah mengikuti satu orang diantara mereka, sebagai petunjuk jalan.
Sekitar lima menit berjalan kaki, keduanya kini sudah duduk di sebuah kursi teras rumah sederhana, di depannya seorang lelaki paruh baya, mungkin umurnya tak jauh berbeda dari Andrew.
Pak Rahmat, dia adalah ketua RW dan juga orang yang sangat dihormati di daerah ini. Jasanya yang banyak, membuat semua warga begitu segan dan patuh pada setiap kebijakannya.
__ADS_1
“Selamat siang, Tuan Rahmat,” Andrew menyapa terlebih dahulu.
“Ah, jangan panggil begitu, panggil saja Rahmat, sepertinya umur kita tidak jauh berbeda,” jawab Pak Rahmat begitu sopan dan ramah.
“Oh, begitu? Baiklah, perkenalkan saya Andrew dan ini anak saya Agra.” Andrew menunjuk Agra yang duduk di sampingnya.
Agra mengangguk, sambil tersenyum tipis sebagai pembenaran dari perkataan Andrew.
“Ah, Tuan Andrew dan Tuan Agra, selamat datang di gubuk sederhana saya, maaf bila ini tidak terlalu nyaman,” ucap Pak Rahmat, sedikit berbasa basi.
“Tidak sama sekali, Pak. Kami sangat senang karena Pak Rahmat mau menemui kami,” jawab Andrew.
Pak Rahmat mengangguk sambil tersenyum, di sela perbincangan mereka, datang seorang gadis yang lumayan cantik, untuk menghidangkan minuman dan sedikit kudapan di atas meja.
Di sela menaruh cangkir teh, gadis itu tampak mencuri pandang kepada Agra, dia tampak terpesona hingga melambatkan pergerakannya.
Agra tampak acuh, dia hanya fokus melihat keadaan sekitar.
“Tidak begitu, Tuan. Justru di sini kami yang sangat tersanjung, karena Anda berdua mau berkunjung ke tempat kumuh seperti ini,” ujar Pak Rahmat, setelah gadis itu selesai mengerjakan pekerjaannya.
Andrew tersenyum, sedangkan Agra tak memperlihatkan reaksi apa pun, suasana hatinya tiba-tiba sedikit berubah, saat sudut matanya melihat gadis itu terus menatapnya dari balik jendela, bahkan dia membuka kancing kemeja bagian atasnya untuk menggoda Agra.
“Murahan!” desis Agra, pelan tetapi masih dapat didengar oleh Andrew.
Lelaki paruh baya itu melirik anaknya sekilas, melihat raut wajah yang tampak sedikit menegang.
“Sebenarnya, saya kemari ingin meminta bantuan kepada Bapak–,”
Pembicaraan itu pun berlangsung, dengan sangat lancar, Andrew dan Agra juga memberikan banyak bukti kalau isu yang selama ini beredar adalah salah. Hingga akhirnya Pak Rahmat menyetujui untuk memberikan klasifikasi kepada para warga, dan akan mengikuti arahan selanjutnya, dari pihak perusahaan.
“Maafkan kami, karena memang ini murni adalah persaingan di dalam dunia bisnis, hingga merambah dan melibatkan kalian semua. Kami akan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin,” ucap Andrew mengakhiri semua perbincangan siang itu.
“Baiklah, kalau begitu kami permisi, selamat siang.” Agra langsung memotong perbincangan kedua paruh baya itu, dia sudah sangat jengah berada di rumah itu.
Mereka bersalaman sebagai tanda perpisahan.
“Ini adalah pertama dan terakhir kalinya aku datang ke tempat ini, apa lagi harus ke rumah Pak Rahmat, tidak lagi!” tegas Agra begitu mereka masuk ke dalam mobil.
“Memang kenapa?” Andrew menatap wajah anaknya yang terlihat menahan jijik.
“Gak usah drama, Dad. Kamu pasti tahu kan apa yang terjadi di sana? Bapaknya ramah, anaknya murahan, menjijikan!” sungut Agra, sambil mulai menginjak pedal gasnya.
Andrew hanya menggeleng geli, sambil terkekeh kecil, melihat ekspresi anaknya saat ini. Ternyata anaknya itu masih anti dengan perempuan, kecuali Alisya tentunya.
Satu pekerjaan selesai, kali ini mereka tinggal menunggu kabar baik dari para anak buahnya yang lain.
Promo terakhir dari bach ini, jangan lupa mampir ya, ke karya keren milik sahabat literasi aku😊❤
__ADS_1