
...Happy Reading...
...🦅...
Beberapa hari belalu, kini Agra sedang berusaha mengendarai mobilnya dengan secepatnya, siang ini dia ada pertemuan bisnis di kota sebelah, dia terpaksa meninggalkan Alisya karena Edo dan Andrew sedang tidak bisa menggantikannya.
Dia baru saja menerima telepon dari Livia kalau ternyata Alisya sedang di bawa menuju rumah sakit karena mengalami pecah ketuban.
Suasana jalan yang sedang padat, membuat dia sedikit tersendat di beberapa titik. Seperti sekarang ini, dia tengah menunggu di lampu merah, sedang di depannya antrean begitu panjang.
"Sial! Kenapa bisa macet begini?" umpaatnya, memukul setir mobil untuk melampiaskan kekesalannya.
Hantinya begitu gelisah juga khawatir mengingat kondisi istrinya saat ini, dia takut akan datang terlambat hingga tidak bisa mendampingi Alisya dalam masa kesulitan seperti ini.
Sebenarnya dia sudah menyarankan untuk Alisya melahirkan dengan cara operasi cesar, sejak kehamilan Alisya belum berusia sembilan bulan. Akan tetapi, istrinya itu begitu keras kepala dan tetap memilih untuk melahirkan dengan cara normal, agar bisa merasakan bagaimana para wanita jam dulu melahirkan, termasuk mendiang ibunya.
Di tempat lain, Alisya sedang berada di dalam mobil, dia masih bersikap tenang, walau dia mulai merasakan sakit di bagian pinggangnya, akan tetapi, itu masih bisa ia tahan.
"Jangan terlalu terburu-buru, Max. Aku tidak apa-apa," ujarnya, saat merasakan mobil mereka melaju dengan kecepatan tinggi.
Livia yang berada di kursi penumpang depan ikut merasa khawatir, sedangkan Viana memegang tangan sang menantu berusaha menguatkan.
"Kamu benar-benar belum merasakan apa pun, Ca?" tanya Viana, dia takut menantunya itu menyembunyikan rasa sakitnya.
"Aku baik kok, Mah. Hanya baru sedikit panas di pinggang, itu juga masih hilang timbul. Jadi, masih bisa aku tahan," jawab Alisya.
"Sini, biar Mama usap pinggangnya, biar bisa lebih baik." Viana mengalihkan satu tangan ke belakang pinggang Alisya lalu mengusapnya perlahan.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di depan rumah sakit, Livia langsung turun dan meminta kursi roda untuk Alisya. Dia begitu sigap untuk memudahkan tuannya itu.
Belum ada drama menangis karena sakit atau merengek, Alisya masih tenang, menjalani semua pemeriksaan menjelang persalinan.
Mulai dari tekanan darah, posisi bayi, pembukaan jalan lahir dan kelengkapan lainnya. Viana terus menemani menantunya itu sambil menggerutu dalam hati, karena Agra belum datang juga. Begitupun para lelaki yang lain.
__ADS_1
Ternyata Alisya baru pembukaan empat. Dia disarankan untuk berjalan-jalan dulu agar pembukaan jalan lahir akan lebih cepat.
Livia dengan sigap memesan kamar rawat inap untuk Alisya, agar tuannya itu bisa menunggu persalinan dengan nyaman.
Beberpa saat kemudian Alisya sudah bisa menempati kamar VIP rumah sakit itu, dia berjalan di sekitar kamar dengan ditemani Viana yang bergantian dengan Livia, mereka berdua seakan takut terjadi apa-apa jika membiarkan Alisya berjalan sendiri.
Sesekali Alisya tampak berhenti dan berpegangan pada apa pun yang ada di dekatnya, saat rasa sakit kontraksi itu kembali lagi.
Beberapa saat kemudian Andini ikut datang, dengan membawa perlengkapan ibu dan anak yang dibutuhkan. Dia juga membawa berbagai makanan dan cemilan, takut Alsiya menginginkannya, juga untuk yang menemani persalinannya nanti.
Setengah jam kemudian, Agra berhasil sampai di rumah sakit tempat Alisya berada, dia langsung memarkirkan mobilnya dan berlari ke arah dalam.
Untung saja Livia sudha memberi tahunya letak kamar Alisya, jadi dia tidak perlu lagi bertanya pada siapa pun.
Brak!
Dengan napas terengah, Agra membuka pintu dengan kasar, dia langsung mengedarkan pandangannya pada setiap orang yang berada di sana.
"Sayang," gumam Agra ketika mata itu dapat melihat dengan jelas sosok yang ia cari.
"Bagaimana keadaan kamu, sayang? Ada yang sakit?" tanya Agra begitu dia sudah berada di depan istrinya itu. Dia mencium kening dan bibir Alisya sekilas lalu memeluknya tanpa peduli ada orang lain di sana.
"Lahir dengan selamat ya, Boy. Jangan terlalu membuat sakit Mama," ujar Agra beralih pada perut sang istri. Dia berbisik sambil mengelus perut istrinya itu.
Alisya mencengkram pundak Agra begitu dia meraskan kontraksi kembali. Semua itu jela saja membuat suaminya terkejut hingga mendongak untuk melihat wajah menahan sakit istrinya.
.
Setelah menunggu cukup lama dan dengan perjuangan yang melelahkan, kini pasangan muda itu berada di dalam ruang bersalin, dengan Alsiya yang sedang berjuang untuk melahirkan anak mereka.
Beberapa dokter dan perawat pun terlihat sedang bersiap, menuntun Alisya untuk mengejan.
Agra berdiri di samping istrinya, satu tanganya di genggam erat oleh Alsiya, sedangkan satu lagi mengusap kening hingga puncak kepala istrinya itu.
__ADS_1
Dia terus bergumam memberikan kata cinta dan sayang juga dukungan untuk sang istri. Hatinya ikut meraskan sakit, saat melihat istrinya berjuang sendiri demi melahirkan anak keturunannya.
Sedangkan dia tidak bisa membantu apa-apa untuk sekedar meringankan rasa sakit itu. Ingin rasanya dia berteriak dan mengamuk, mengancam dokter di sana untuk cepat menangani istrinya. Hanya saja, akal sehatnya melarang semua itu, dia yang udah banyak berkonsultasi kepada dokter setiap kali mendampingi Alisya kontrol, tahu kalau semua itu normal dan tidak bisa di redakan.
Satu jam berjuang dengan penuh dan keringat, juga air mata, kini tangis bayi akhirnya terdengar di ruangan itu. Alisya menghela napas lelah dengan senyuman di bibirnya.
Satu tetes air mata kembali keluar, setelah berhasil melewati fase yang sangat istimewa ini. Agra melihat bayi kecil mungil yang masih berlumur darah itu keluar. Dia bagaikan sedang melihat adegan slomotion, dengan suara tangis bayi sebagai background yang membuat seakan debaran jantungnya berhenti saat itu juga.
"Terima kasih- terima kasih, aku mencintaimu, sangat mencintaimu," ujar Agra sambil menciumi wajah sayu istrinya. Alisya mengangguk samar, dia kemudian mengalihkan pandangannya pada seorang bayi yang kini tengah dibawa ke arahnya.
"Kita lakukan IMD dulu ya," ujar salah satu ornag perawat yang membawa bayi mereka, dia menangkupkan bayi itu di dada Alsiya, untuk menyesuaikan diri dan mencari sumber kehidupan pertama kalinya.
Agra menempelkan telunjuknya di lengan bayi mungil itu, yang langsung di genggam cukup erat. Dia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, menatap wajah sang istri dengan penuh cinta.
'Anakku, ini anakku, darah dagingku. Penerus tahta yang telah aku raih,' gumamnya dalam hati.
"Siapa namanya?" lirih Alisya, dia memang menyerahkan pemberian nama anak pertamanya itu kepada Agra.
"Arsya Gavin Ainsley Grissham," ujar mantap Agra.
Alisya tersenyum dia mengusap pelan pipi merah anak lelakinya, lalu beralih melihat wajah suaminya kembali.
"Apa artinya, Kak?" tanyanya.
"Arsya adalah gabungan nama kita, Agra dan Alisya yang berarti singgah sana dalam bahas Arab. Gavin, berarti Elang putih atau biasa dilaksanakan sebagai sebuah kesucian, sedangkan dua nama di belakangnya adalah marga dari dua keluarga yang ada di belakang namaku saat ini. Ainsley untuk nama keluarga kandungku dan Grissham nama yang aku dapat dari ayah angkatku," jelas Agra.
Alisya tersenyum lembut. "Jadi kita panggil dia Baby Arsya, mulai sekarang?"
Agra mengangguk dengan senyum penuh kebahagiaan. Dia berjanji dalam hati untuk terus menjadi pelindung untuk dua makhluk tuhan yang kini sangat ia cintai di dalam hidupnya. Berharap kedepannya tidak ada lagi masalah besar atau ancaman untuk keluarga kecilnya.
...🦅...
...TAMAT...
__ADS_1
Terima kasih semuanya,yang sudah membaca dan memberi dukungan untuk aku🙏 akhirnya cerita ini benar-benar selesai. Jangan lupa mampir di cerita aku yang lain ya. Bisa ke aplikasi profil aku untuk tau cerita receh aku yang lainnya. Sampai jumpa di cerita lainnya👋👋🥰❤❤